Mencatat Film Indonesia 2014

Perjalanan Mada adalah sebuah perjalanan trayek tunggal, dari seorang hedonis yang bersenang-senang dengan penuh resiko, menjadi seorang bertakwa sepenuhnya
Perjalanan Mada adalah sebuah perjalanan trayek tunggal, dari seorang hedonis yang bersenang-senang dengan penuh resiko, menjadi seorang bertakwa sepenuhnya

Tak mudah bagi saya untuk mencatat film-film Indonesia di tahun 2014. Pasalnya, tentu saja karena sebagian besar waktu saya di tahun itu dihabiskan di Inggris. Saya nyaris tak memiliki akses untuk merasakan apa yang dirasakan oleh para penonton film Indonesia di bioskop-bioskop di sini.

Namun saya tidak sama sekali terputus hubungan dengan film Indonesia. Ada beberapa hubungan yang masih terjadi. Setidaknya berita dari internet dan media sosial memberi sedikit gambaran tentang apa yang terjadi dan sedang dirasakan, sekalipun jelas ada bias yang amat kentara pada kedua media itu. Internet, sekalipun kini mungkin merupakan sumber berita yang amat penting di Indonesia, tak mampu menangkap gairah dan semangat yang terjadi dalam interaksi langsung. Keramaian dan pembicaraan banyak hilang dalam kebijakan editorial. Media sosial lebih berguna untuk menangkap semangat dan gairah dan lebih banyak spontanitas dituangkan di dalamnya. Namun informasi yang saya terima penuh dengan bias.

Hubungan lain yang masih ada antara saya dan film Indonesia adalah melalui sutradara dan produser, atau distributor perorangan. Mereka terkadang berbaik hati mengirimkan tautan film mereka di internet (terutama di situs Vimeo yang masih diblokir di Indonesia) yang terproteksi dan saya bisa menontonnya dengan kata kunci. Kebanyakan film-film itu saya tonton di laptop dan sendirian, tetapi sesekali saya tonton di TV besar (60 inch) bersama satu dua orang lain. Jelas pengalaman menonton seperti ini jauh dari optimal. Namun ini tetap lebih baik ketimbang tak menonton film-film Indonesia sama sekali.

Hubungan terakhir, saya sempat pulang ke Indonesia beberapa pekan di bulan Agustus/September, lalu bulan Desember ini. Selama kepulangan ini saya menyempatkan diri untuk ke bioskop untuk menonton film, terutama film Indonesia atau menghadiri undangan gala premier (hanya sekali karena pada dasarnya saya kurang suka gala premier). Namun sialnya, selain film-film yang ingin saya kejar sudah lewat, karena pada dasarnya saya tidak rajin menonton seluruh film Indonesia. Saya memilih beberapa film saja yang saya rasa bisa membawa pengalaman yang berbeda dari yang sudah-sudah, atau memilih film yang saya anggap dikerjakan dengan serius. Akhirnya memang ada faktor selera juga yang turut menentukan.

Dengan segala macam soal ini, saya mencatat film-film di tahun 2014. Tak bisa sebagimana yang sudah-sudah semisal membuat urutan film terbaik dalam setahun itu. Jika ada film-film yang saya bahas agak panjang, mungkin tak terhindarkan juga keinginan saya untuk berbagi tontonan yang saya anggap amat menarik secara estetik buat saya di tahun lalu. Namun secara umum saya akan mengubah catatan ini berdasarkan tema dan hal-hal yang lain paling menarik bagi saya sepanjang tahun ini, dan itu bisa apa saja. Dengan segala keterbatasan itu dan catatan yang agak acak, silakan Anda simak.

Bagian 1: Islam dalam film

Saya punya perhatian khusus pada film-film bertema Islam. Selain beberapa tulisan di forum-forum diskusi dan seminar, saya juga sebenarnya sedang dalam tahap menyelesaikan satu buku tentang film Islam di Indonesia dari masa ke masa. Film yang saya bahas dari Tauhid (Asrul Sani, 1964) hingga ? [Tanda Tanya] (Hanung Bramatyo, 2011). Saya berencana meneruskannya hingga pembahasan film-film tahun 2014 (bahkan mungkin 2015). Tahun ini bagi saya penting karena ini merupakan tahun dimana film-film Islam tampaknya sedang melaju dengan mengendarai momentum baru.

Sebelum bicara soal momentum ini, saya ingin mengingat sedikit ke belakang soal film Islam ini. Dalam sebuah percakapan di tahun 2009, seorang kritikus film asal Singapura setengah meledek saya menyatakan bahwa perhatian saya pada film Islam berlebihan. Menurutnya, ini adalah sebuah trend pasar yang akan segera menghilang tahun depan. Saya membantah dengan menyebutkan fakta adanya film-film bertema Islam 80-an, dan menyatakan bahwa ada sesuatu yang lebih besar ketimbang arus di permukaan bernama komersialisasi agama. Perbincangan itu tak tuntas, tapi soal ini terus jadi pikiran.

Apa nama arus di bawah permukaan itu, tak mudah untuk dirumuskan dengan singkat. Ariel Heryanto dalam buku terbarunya menyebut arus itu adalah post-Islamisme, sebuah revisi terhadap hasrat untuk mewujudkan Islam ke dalam bentuk badan politik (atau dikenal dengan Islamisme). Post-Islamisme ini tidak berbentuk tunggal dan memiliki spektrum amat beragam, termasuk beberapa variannya menanggalkan hasrat badan politik Islam itu, dan lebih percaya pada bentuk-bentuk yang lebih diterima masyarakat luas yang lebih sekuler. Beberapa menyebutnya jalan kebudayaan. Maka budaya populer adalah ruang amat terbuka untuk itu[1].

Saya melihat argumen Ariel Heryanto sedikit membantu saya untuk melihat apa yang saya katakan sebagai momentum itu. Islamisasi dan post-Islamisasi memang sedang terjadi secara global. Namun post-Islamisme itu sebuah fenomena yang bisa dibilang baru, padahal saya berpendapat ada sesuatu yang tak tampak yang sedang diam-diam menuliskan riwayat hidup umat Islam di Indonesia, dan film adalah salah satu manifestasinya. Maka saya ingin menggunakan catatan tahun 2014 ini untuk mencari tahu apa yang ada di balik permukaan itu.

Saya melihat film Islam di tahun 2014 dipenuhi kecenderungan lintas nasional, agak sama dengan film-film Indonesia lain.

Di tahun 2014, saya menonton 99 Cahaya di Langit Eropa 1 & 2 serta Haji Backpacker. Inilah momentum yang menurut saya mengikut pada sebuah momentum baru: hasrat lintas nasional. Seperti halnya film-film Indonesia pada umumnya, dan juga pada buku-buku perjalanan (travelog) yang sedang melanda toko-toko buku belakangan ini, perjalanan keluar negeri sedang menjadi topik yang amat digandrungi. Ledakan buku catatan perjalanan ini luar biasa. Seorang akademisi asal School of Oriental and African Studies (SOAS) London yang berspesialisasi ‘penggambaran British-ness dalam literatur Indonesia-Malaysia’ kewalahan ketika datang ke Indonesia tahun ini dan melihat tumpukan buku-buku itu seperti bukit kecil.

Perjalanan, terutama ke “luar negeri” ke tempat-tempat yang baru dan asing memang sudah menjadi hasrat yang selalu hidup di Indonesia, dan di berbagai belahan dunia lain. Dalam film Indonesia, sampai sejauh ini saya rasa saya harus mencatat dua film yang terpenting dalam hal ini: Catatan si Boy (Nasry Cheppy, 1989) dan Ayat-ayat Cinta (Hanung Bramantyo, 2008). Saya tak ingin membahas terlalu panjang keduanya, tetapi dari kedua film ini tampak jelas bahwa ‘luar negeri’ menjadi bagian dari identitas mereka serta bagaimana posisi anak-anak muda kelas menengah ini dipandang oleh sekitarnya. Namun perbedaan besarnya, jika pada Si Boy, luar negeri itu adalah Amerika, maka pada Fahri, luar negeri itu adalah Al Azhar, Mesir. Saya pernah membandingkan keduanya di ulasan saya tentang Ayat-ayat Cinta di tahun 2008, dan saya anggap ulasan itu masih relevan.

Yang menarik justru adalah perkembangan ‘luar negeri’ bagi Muslim Indonesia. Jika “pusat” ziarah Muslim tadinya adalah Tanah Suci Mekah, maka kini berubah. Pada film Tauhid (1964) – yang kini mungkin bisa digolongkan sebagai sebuah road movie – ziarah ke Mekah menjadi semacam sarana untuk mencapai hidayah (pencerahan?) yang bersumber dari gabungan antara debat rasional dengan pemberian ilahiah terhadap Muslim yang memang berniat baik. Perjalanan fisik dalam Tauhid menjadi cermin bagi perjalanan spiritual dan intelektual sekaligus, dengan Mekah sebagai tujuan. Dalam berbagai film yang lebih populer, Mekah juga menjadi sebuah acuan untuk asumsi yang tak perlu dipertanyakan lagi mengenai ketakwaan beragama. “Sudah ke Mekah” atau “sudah pergi haji” menjadi semacam norma umum yang menempatkan seseorang dalam status sosial yang amat berbeda dengan orang kebanyakan.[2]

Ayat-ayat Cinta telah menggeser (atau meluaskan?) ziarah ke negeri Arab lainnya yaitu Mesir, dan ini bukan persoalan geografis semata. Ayat-ayat Cinta menggeser sedikit makna ketakwaan. Jika sebelumnya ketaatan beragama adalah soal status karena melakukan ziarah, Ayat-ayat Cinta menambahnya dengan pendidikan. Tambahan ukuran ini penting guna menggeser otoritas ketakwaan yang tadinya hanya ditentukan oleh status yang sifatnya ‘tradisional’ dan seremonial, menjadi kemampuan dalam berargumen dalam bidang agama. Maka tokoh seperti Fahri jadi wakil Muslim Indonesia transnasional yang siap memasuki kancah perdebatan kontemporer, semisal yang ia lakukan di kereta dengan orang Mesir yang memukulnya. Bahkan , posisi Fahri seperti ini dipandang sebagai alternatif Islam transnasional asal Indonesia yang mampu menandingi Islam transnasional yang bernuansa terorisme yang diperkenalkan oleh penulis Olivier Roy (2004), misalnya (lihat Lukens-Bull, 2010). Tak urung menurut saya, hal ini juga yang membuat Susilo Bambang Yudhoyono ketika itu membawa para diplomat untuk melihat film ini sebagai pameran model Islam Indonesia yang mampu menjadi “jembatan peradaban” (seperti tema pidatonya di Harvard ketika itu).

Momentum lintas nasional yang sedang membesar ini, menurut saya sedang memasuki tahap baru, yaitu pembentukan sebuah subyektivitas yang berbeda dari yang selama ini. Memang mudah saja mengamati film seperti 99 Cahaya di Langit Eropa atau Haji Backpacker sebagai sebuah wujud keminderan postkolonial yang selalu mencari afirmasi pada pusat-pusat tertentu yang dianggap amat penting. Namun bagi saya, kritik itu harus dilengkapi dengan catatan lain tentang kehendak “ziarah” yang merupakan hasrat penting yang tumbuh beriringan dengan perkembangan komunitas yang terbayangkan bernama negara nasional, seperti yang dicatat oleh Benedict Anderson.

Bagi Ben Anderson, ziarah (antara lain dan terutama ke motherland alias negara kolonial yang pernah menjajah) merupakan sebuah perangkat penting dalam menciptakan sebuah kesadaran baru di lingkungan orang-orang negara jajahan. Tidak seperti kritik orientalisme yang melihat penegasan batas-batas antara “luar” dan “dalam” melalui wacana, menurut saya ada aspek material yang penting dalam perjalanan lintas batas itu, dimana para pelintas ini – beriring dengan kapitalisme dunia cetak – kemudian menjadi para penganjur bagi sebuah komunitas yang seakan utuh dan jelas untuk dibayangkan bersama (perhatikan bahwa organisasi pertama yang menggunakan kata “Indonesia” untuk nama mereka didirikan di Belanda oleh orang-orang yang belajar di sana). Ziarah memainkan peran amat penting dalam konteks pembentukan komunitas terbayangkan ini, bukan hanya kapitalisme cetak yang memungkinkan munculnya yang “vernakular” alias ungkapan sehari-hari yang mampu melampaui batasan-batasan aristokrasi lama.

Tentu Ben Anderson bicara tentang nasionalisme, sebuah bentuk kesadaran yang unik yang tumbuh dalam situasi yang khusus. Menerapkannya ke dalam kesadaran transnasional Muslim adalah sebuah kesembronoan luar biasa. Namun sejauh ini saya hanya ingin meminjamnya dengan menempatkan posisi perjalanan fisik pada kegiatan “ziarah” sebagai sebuah hasrat yang tak semata keinginan kelas menengah untuk menjadi keren dalam kategori-kategori sosial politik yang baru berkenaan dengan pengalaman postkolonial. Menurut saya, bisa jadi ada semacam kebutuhan pembayangan Muslim sebagai komunitas transnasional, global (dan tentu saja pada saat yang sama berbasis nasional) yang sedang tumbuh pada kaum Muslim saat ini. Tentu ini amat perlu ditinjau lagi dengan hati-hati. Namun sedikitnya saya melihat setidaknya ini ekuivalen dengan keinginan bermotif sekuler untuk menjadi bagian dari manusia global yang juga sedang mengalami peningkatan besar-besaran. Namun pada Muslim, keinginan itu muncul dengan penandaan situs-situs geografis dengan cara yang didefinisikan sendiri. Alih-alih melihat Paris sebagai semata Louvre atau Eiffel (sebagaimana yang ada pada ziarah yang sekuler), 99 Cahaya menandai Paris sebagai kekaguman Napoleon terhadap Islam, misalnya, seberapapun dianggap rapuhnya hal semacam itu.

Karena dalam penandaan yang baru ini, soalnya memang bukan semata fakta, melainkan subyektivitas yang sedang mengalami pembentukan lewat sebuah komunitas yang dibayangkan itu. Yang menarik dari ziarah ini adalah, sekalipun sifatnya kelas menengah (hanya dilakukan oleh yang mampu atau terdidik), ia tetap bisa menjadi tumpuan pembentukan subyektivitas yang mudah diakses siapa saja dan terutama oleh yang tak mampu melakukan ziarah. Maka alih-alih memandang hasrat ziarah itu sebagai sebuah keminderan post-kolonial, saya melihatnya sebagai sebuah bagian penting dari pembentukan komunitas yang terbayangkan yang bisa menjadi bagian dari subyektivitas Muslim di Indonesia yang tampaknya juga memiliki minat untuk menjadi Muslim lintas batas.

Dalam cara pandang seperti ini (dan bukan cara pandang artistik), maka Haji Backpacker bisa jadi film yang menarik karena sedikitnya karena tiga hal. Pertama, ia menegaskan sebuah trayek yang berbeda dalam menuju Mekah ketimbang rute yang lazim, seperti yang digambarkan oleh Tauhid (Asrul Sani 1964) yang relatif “aman” dan berbau intelektual. Haji Backpacker mengubah rute perjalanan haji dan perjalanan spiritual menjadi sebuah perjalanan yang tidak aman (tak menjamin tujuan tercapai, bahkan tak punya motif relijius sejak semula) dan cenderung acak. Sang tokoh berjalan melalui Thailand, China hingga Pakistan. Haji Backpacker menegaskan keberadaan peradaban Islam di wilayah-wilayah yang relatif tak dikenali sebagai wilayah “tradisional” Islam seperti Timur Tengah. Ia telah membantu dalam mempopulerkan peradaban Islam yang kurang dikenal selama ini, menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan ‘nasional’ yang berbeda-beda, karenanya mampu menjamin keamanan dalam mengusung identitas transnasional.

Kedua, karakter utama dalam Haji Backpacker adalah seorang transnasionalis sejati. Ia sudah “membakar kapal” dengan Indonesia akibat sebuah luka masa lalu (apapun luka itu) dan memutuskan untuk menjadikan seluruh muka bumi menjadi rumahnya (atau persinggahannya). Yang paling menakjubkan dari tokoh ini adalah kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan baru yang membuatnya menjadi transnasional sejati. Rasanya, selain tokoh Alit di film 6.30 (Rinaldi Puspoyo) yang amat kosmopolitan dan tak ingin pulang, baru kali ini lagi seorang Indonesia (dan Muslim) bisa digambarkan seperti ini. Bandingkan tokoh ini dengan Azzam (Ketika Cinta Bertasbih) yang mencari makan dari komunitas Indonesia (dengan berjualan bakso) di Mesir, ketimbang memanfaatkan ilmu agamanya untuk mencari nafkah dalam masyarakat Mesir sendiri. Apakah Muslim Indonesia sedang mencapai fase kosmopolitan yang belum ada presedennya?

Ketiga, dan tak kalah pentingnya adalah perjalanan spiritual itu sendiri. Film ini, sekalipun dianggap “mencari tuhan tanpa teriakan”, tetapi ia sedang menegaskan satu hal, yaitu sebuah kepatutan sosial politik (political correctness) yang baru, dimana perjalanan spiritual hanya bisa berjalan linear satu arah: dari hedonisme menuju pada ketakwaan penuh. Silakan bandingkan ini dengan berita-berita seputar pesohor yang meninggalkan kehidupan main band demi agama dan hal-hal semacam itu. Terjadi naturalisasi yang menegaskan bahwa perjalanan spiritual memang harus linear dengan trayek tunggal. Ketika seorang bintang film atau penyanyi tak lagi berjilbab, tak mungkin sang penyanyi itu mengklaim ia sedang menjalani ‘perjalanan spiritual’ dan pemberitaan tentangnya pun cenderung dipasang dalam kerangka seakan ia mengalami “kemunduran” dalam hidupnya.

Maka jika Ayat-ayat Cinta memperkenalkan sebuah trayek relijiustitas dari ‘non-Muslim pengagum Islam kemudian menjadi Muslim’, maka Haji Backpacker menegaskan sebuah trayek yang penting: posisi Muslim kosmopolitan hedonis menjadi Muslim kosmopolitan taat, dengan penekanan pada trayek tunggal linear ini. Inilah peran besar dari film seperti Haji Backpacker, yang menumpang pada momentum terkait dengan hasrat ziarah tadi. Namun di saat yang sama, film ini juga menegaskan sebuah titik pijak baru yang bisa dipakai untuk mencapai momentum baru, yaitu dengan melakukan kristalisasi terhadap kepatutan sosial politik yang saya sebut di atas tadi.

Satu hal lagi soal film Islam ini sama sekali belum terumuskan dan baru saya pungut dari trailer film Hijab, karya terbaru Hanung Bramantyo. Film ini memang belum bisa dilihat sepenuhnya, tetapi trailer itu sudah memperlihatkan hal yang menurut saya cukup penting, berkait dengan kepercayaan diri Muslim dalam dunia kontemporer. Saya tak ingin terlalu cepat juga membahas film ini (karena memang belum menontonnya dan mungkin belum selesai), tetapi trailernya dan beberapa pemberitaan soal film ini memperlihatkan hal penting dalam perkembangan wacana Islam di Indonesia. Film ini seperti amat santai dengan motivasi spiritual dalam sebuah perilaku yang biasanya dilekati makna agama yang amat kental: jilbab. Jika posisi Islam selama ini apologetik – setidaknya defensif – dalam kaitannya dengan lingkungan sekitarnya, maka Hijab seakan melepaskan posisi defensif itu. Artinya, tak perlu ada penjelasan soal “ketakwaan” para tokoh untuk menempati posisi protagonis[3].

Bandingkan misalnya karakterisasi yang muncul pada Hijab seperti yang ditampilkan oleh trailer itu dengan para tokoh film Islam sebelumnya. Dalam film Islam sebelumnya, para tokoh perlu diletakkan dalam posisi ketakwaan tertentu mereka ketika berhadapan dengan berbagai hal seperti kehidupan demokrasi modern (Al Kautsar [1977], Titian Serambut Dibelah Tujuh [1959 dan 1982]), atau perjuangan emansipasi dan nasionalisme (Para Perintis Kemerdekaan [1982]), atau bahkan budaya konsumen dan transnasionalisme dalam kapitalisme kontemporer (Ayat-ayat Cinta [2008]). Saya membayangkan sifat defensif ini hilang, dan Islam bisa berjalan alamiah di sebuah lingkungan kapitalisme kontemporer zonder pelekatan kualitas ketakwaan di dalam tokoh-tokohnya. Terus terang, Hijab membuat saya mengantisipasi sebuah level yang baru lagi. Apakah ini yang sedang kita tuju pada 2015? Saya menantikannya.

Inilah catatan saya tentang tema Islam pada film-film Indonesia di tahun 2014. Selanjutnya saya akan menyebut hal-hal yang saya anggap penting tahun ini dan mungkin di tahun mendatang.

————————

[1] Argumen Ariel Heryanto ini tentu saya perlakukan tak adil, karena sebetulnya jauh lebih kompleks daripada itu. Saya sedang menerjemahkan bukunya, dan jika terbit tahun depan bisa jadi buku ini akan jadi salah satu buku paling menarik tahun depan tentang budaya populer di Indonesia.

[2] Sebetulnya ada hal menarik soal Mekah sebagai tempat pelarian dalam film Lari Ka Meka (Lari ke Mekah), yang kemudian diganti menjadi Lari Ka Arab. Posisi Mekah adalah tempat pelarian bagi seorang Indonesia yang melakukan kriminalitas kecil di tanahnya sendiri! Namun menurut catatan Misbah Yusa Biran (2009), judul ini diprotes karena dianggap membuat buruk status kota Mekah, sehingga judul itu diubah menjadi Lari Ka Arab, menetralkan posisi tanah suci umat Islam itu. Persoalan ini menggambarkan bahwa Mekah sejak lama menempati posisi khusus dalam keberagamaan Muslim, termasuk di Indonesia.

[3] Perhatikan bahwa absennya hal ini juga bisa ditemukan pada film 3 Doa 3 Cinta (Nurman Hakim) yang mencatat dengan baik kehidupan dan model ketakwaan pesantren. Sepintas saya menduga memang ada jalur berbeda dalam estetika “Islamisasi” (amat modern dan mencoba masuk ke wilayah yang secara tradisional tidak ‘Islami’ seperti fashion dan iklan shampoo) dan estetika “pesantren” (yang lebih terakulturasi). Apakah Hijab sedang menuju sebuah akulturasi baru? Jika ya, terhadap apa? Ini mungkin spekulasi berlebihan.

Pertanyaan Retoris Hanung Bramantyo

"?" adalah judul sementara film ini. Produser film ini menyambarakan pemberian judul film ini dengan hadiah total 100 juta rupiah!

Anda pikir Anda sanggup menghadapi fakta? Tunggu sampai Anda menonton ?(Tanda Tanya), sebuah film yang mencoba menghadirkan fakta sementah-mentahnya tanpa prasangka. Seperti kata tagline film itu, “Masih pentingkah kita berbeda?”, film ini mencoba untuk mengubah fakta itu menjadi sebuah pertanyaan penting bagi kehidupan bersama kita sebagai bangsa. Terlalu banyak hal yang sudah kita alami bersama yang memperlihatkan bahwa keragaman negeri bernama Indonesia ini sedang diguyah dan sebuah gagasan baru tentang Indonesia yang monolitik tanpa wilayah abu-abu sedang dipromosikan besar-besaran. Ini sebuah pertanyaan serius.

Tapi, tunggu dulu. Saya ingin menilik kalimat saya sendiri, terutama pada frasa “fakta sementah-mentahnya tanpa prasangka”. Benarkah film mampu bertindak seperti itu? Rasanya tidak. Bahkan film dokumenter yang mengaku diri sebagai hasil rekaman dari kehidupan nyata, tidak pernah mampu menjalankan peran seperti itu. Penempatan kamera, sudut pandang, editing, dan sebagainya, merupakan pilihan-pilihan bebas hasil konstruksi dan rekonstruksi. Apatah lagi sebuah karya fiksi, seperti sebuah film cerita yang sedang kita bicarakan ini. Maka sebelum sampai pada pembahasan lebih lanjut, marilah kita bersepakat dulu bahwa film cerita tidak dan tak akan pernah mampu menghadirkan fakta apa adanya. Ia merupakan sebuah hasil dari rangkaian pilihan yang tersedia. Maka film cerita dianggap sebagai representasi, yaitu cara pembuat film menyajikan gambaran tentang kenyataan.

Representasi ini, mudahnya, adalah hasil dari rangkaian pilihan yang diambil oleh pembuat film guna menyatakan sesuatu. Dan pilihan itu tentu sangat tergantung pada orang yang memilih. Maka ketika sang pembuat film berkata: “ini seperti kenyataan yang saya lihat”, terkandung di dalamnya keterbatasan pandangan, pengalaman, dan sebagainya. Jangan lupa bahwa penonton juga bisa menjawab “ah, kenyataan yang saya lihat tidak begitu.” Nah, jika demikian –inti dari racauan panjang soal representasi ini– adalah baik penonton maupun pembuat film jangan sama-sama mengaku paling sah memiliki kenyataan. Karena ketahuilah, wahai manusia, bahwa kenyataan yang kita alami itu sudah pasti terbatas.

Kita kembali pada film yang judulnya disayembarakan senilai seratus juta rupiah ini.

Sebagai rangkaian pilihan yang dibuat oleh Hanung Bramantyo dalam film keempatbelasnya ini (selama delapan tahun membuat film layar lebar) saya takjub pada keterampilan teknis Hanung pada film ini. Saya bisa melihat bagaimana kemampuannya dalam mengarahkan penempatan kamera, mengatur ritme editing, menempatkan musik, merendengkan simbol, memutuskan penataan set, hingga mengarahkan pemain sudah mencapai tingkat di atas mahir.

Dalam sebuah workshop penyutradaran yang saya moderatori, Hanung menyatakan bahwa seorang sutradara harus mampu menempatkan kamera yang membuat pemain filmnya jadi tampak menarik di layar. Lihat bagaimana keterampilan Hanung ini diwujudkan dalam membuat Revalina S. Temat di film ini jauh lebih cantik ketimbang film-filmnya sebelumnya. Hanung sudah mampu menggunakan elemen-elemen teknis untuk mencapai efek penceritaan seperti yang ia inginkan secara optimal.

Nah, apa yang sesungguhnya diinginkan oleh Hanung Bramantyo?

Sudah jelas dari judul film maupun tagline, ia ingin bertanya. Benarkah? Bagi saya, pertanyaan Hanung itu retoris, alias pertanyaan yang tak perlu jawaban. Coba jawab tagline film “masih perlukah kita berbeda?”. Cuma ada 2 jawaban:

1)     perlu bagi yang politically correct dan merasa Indonesia memang masih harus berbeda, dan;

2)     tidak, bagi yang menginginkan di Indonesia hanya ada satu jenis suku, satu jenis agama, satu jenis orientasi seksual, ataupun satu jenis satu jenis yang lain, atau pandangan monolitik.

Perlukah saya bertanya Anda termasuk yang mana?

Saya tak merasa perlu, tapi Hanung merasa perlu karena ia terganggu pada fakta yang ia lihat, yaitu pada orang-orang golongan dua: orang yang sedang berusaha menjadikan Indonesia menjadi negeri yang monolitik, negeri yang hanya terdapat satu jenis kategori bagi berbagai jenis manusia yang hidup di dalamnya. Dan dalam hal ini, monolitisasi yang sedang digugat Hanung itu adalah monolitisasi dalam hal agama. Jelas hal ini memprihatinkan, dan rasanya memang menjadi bahan helaan napas serta urutan dada banyak orang.

Saya tidak akan tak bersetuju pada fakta yang dipandang Hanung itu, tapi bagi saya, pertanyaan seperti itu memang pertanyaan yang menyulitkan banyak orang. Ketaknyamanan itu bukan semata karena mereka tak setuju pada fakta yang disajikan oleh Hanung. Ini dia sebab-sebabnya, menurut saya.

Pertama: soal dualisme
Tidak semua orang rela ditempatkan dalam situasi pertanyaan dualistis seperti itu. Saya bukan termasuk yang tak rela. Tapi, kalau saya mencoba menempatkan kaki saya di sepatu orang-orang yang dianggap monolitik itu, bisa jadi yang mereka inginkan bukanlah menghilangkan keragaman. Bisa jadi yang mereka inginkan adalah semata menjalankan agama yang mereka percayai. Bagaimana bisa? Mari kita bandingkan dengan satu film lain, yaitu 3 Doa 3 Cinta karya Nurman Hakim.

Film Nurman itu bercerita tentang seorang anak pesantren yang terbujuk untuk menjadi pengebom bunuh diri. Mengerikan! Teroris! Tentu saja, kita bisa mengategorikan anak muda belasan tahun itu sebagai teroris. Namun alih-alih menghakimi macam itu, Nurman mencoba mencari tahu: apa sebabnya tokoh dalam filmnya memilih hidup yang bodoh seperti itu. Nurman menjelaskan latar belakang ekonomi dan keputusasaan serta dorongan untuk menjadi orang lebih saleh yang membuat anak muda itu nyaris mengambil keputusan bodoh itu.

Terus terang saja, bagi saya, penjelasan Nurman ini klise sekali. Tapi, setidaknya, Nurman berusaha menjelaskan adanya satu motivasi tertentu. Apakah dalam film Hanung tak ada usaha untuk menjelaskan? Oh, Hanung memang berusaha menjelaskan motivasi Soleh (Reza Rahadian) kenapa akhirnya menyerbu restoran Cina tempat istrinya bekerja. Namun perhatikan: Hanung tak menjelaskan dari mana asal usul kemarahan massa yang ikut dengan Soleh. Juga perhatikan adegan di awal ketika tiga orang berpeci mengata-ngatai “Cino” kepada Ping Hen tanpa alasan. Satu hal yang tampak: massa (bahasa lainnya adalah “umat Islam”) bertindak secara otomatis –tanpa komando, tanpa penjelasan motivasi– melakukan kekerasan.

Apakah umat dalam film Hanung ini “tak pantas” untuk dipahami? Rasanya kok kejam, ya. Nurman saja bersedia mencoba memahami pengebom bunuh diri terkutuk itu, kenapa Hanung tak mau memahami umat yang jangan-jangan hanya ikut-ikutan? Ah, tiap sutradara memang punya sikap dan pandangan berbeda, tapi ini yang penting: kalau memang Hanung bertanya, pertanyaannya bagi saya belum menukik dalam, ke pertanyaan “mengapa”. Padahal dalam prinsip jurnalistik, hipotesa penelitian, dan kerja seniman, pertanyaan “mengapa” justru adalah pertanyaan yang paling sulit dijawab. Pertanyaan Hanung memang retoris, bukan sebenar-benarnya pertanyaan.

Kembali ke umat yang bertindak otomatis ini, saya ingin bandingkan soal ini dengan film yang menggambarkan umat melakukan kekerasan pada dua film Indonesia lain: Titian Serambut Dibelah Tujuh dan Al Kautsar, keduanya ditulis Asrul Sani dan disutradarai Chaerul Umam.

Pada kedua film lawas ini, umat juga melakukan serangan fisik terhadap tokoh utama film, tapi kedua film menggambarkan adanya satu atau sekelompok kecil orang yang mengarahkan, memprovokasi, dan mengambil keuntungan dari kekerasan itu. Umat tak otomatis mengambil jalan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Dengan perbandingan ini, bisakah saya simpulkan bahwa Hanung ingin menyatakan “sekarang umat tak perlu ada provokator lagi untuk melakukan kekerasan”?

Saya, sebagai seorang yang ingin optimis terhadap bangsa Indonesia dan umat Islam di Indonesia, tak akan menyatakan hal sedemikian. Bagi saya, segala kekerasan yang dilakukan umat itu karena adanya pengorganisasian oleh orang-orang yang mengambil keuntungan, baik secara politik, sosial, maupun ekonomis. Tak heran kalau Buya Syafii Maarif, dalam wawancara di majalah Madina, berkomentar bahwa “kekerasan kini dijadikan mata pencarian.” Menurut saya, inilah yang dimaksudkan oleh Buya, dan bukannya umat yang ngebet dengan kekerasan, atau mau saja disuruh merobohkan rumah ibadah orang lain lantaran imbalan nasi bungkus dan ongkos metro mini.

Orang-orang anonim ini diajak Soleh untuk menyerbu restoran Cina milik Tan. Motivasi mereka menyerbu -tak seperti Soleh- tak terlalu jelas.

Kedua: strategi visual Hanung

Penyebab kedua ketidaknyamanaan terhadap pertanyaan retoris Hanung itu terletak pada strategi visual film ini. Ketika bertanya retoris, tentu Hanung sudah punya jawabannya, karena memang demikianlah karakter pertanyaan retoris. Fungsi utamanya adalah menggugah (atau menggugat?) dan bukan karena tidak tahu.

Kita pastikan dulu satu hal: pertanyaan Hanung yang berbunyi “masih perlukah kita berbeda” itu tentu dalam soal agama, karena di sepanjang film, hadir gambar-gambar perbedaan agama itu. Perbedaan itu hadir lewat simbol-simbol yang ditampilkan dengan gaya Hanung: dramatis, bahkan cenderung melodramatis.

Melodramatis yang saya maksudkan adalah adanya aksentuasi atau penekanan makna penting gambar lewat sudut pengambilan gambar, efek slow motion atau time-laps, tata cahaya, jukstaposisi atau perendengan simbol secara mencolok (gereja, mesjid, kepala babi di latar depan restoran, dan sebagainya), bahkan insinuasi atau pengaitan fakta secara tak langsung dari simbol yang disajikan. Untuk yang terakhir ini, muncul dalam adegan penusukan terhadap pendeta di depan gereja yang sedang mengawasi umatnya untuk masuk ke rumah ibadah. Hanung menggambarkan dua orang bersepeda motor melaju dan tiba-tiba menusuk sang pendeta. Sekalipun kisah film ini digambarkan terjadi di Semarang, tak urung orang akan mengaitkan penusukan ini dengan peristiwa penusukan terhadap panitua gereja di Ciketing, Bekasi yang ramai sekali dibincangkan di media, terutama di media-sosial seperti Twitter.

Strategi visual Hanung ini sudah sejak semula membuat pertanyaan yang diajukannya jadi sangat dramatis. Mungkin tak kelewat berlebihan jika saya katakan vulgar dalam pengertiannya yang luas. Saya cukup sadar bahwa film ini memang dibuat untuk orang banyak sehingga harus bicara dalam bahasa vulgar dan bukan bahasa halus atau subtle.

Saya bukan sedang mempromosikan elitisme (yang gemar pada subtlety) ketimbang popularisme medium film, melainkan sedang mencoba melihat akibat dari vulgarisme itu pada penyajian cerita film. Vulgarisme ungkapan itu tentu diperlukan Hanung untuk penyajian drama yang penuh pergolakan yang keras, penuh point-of-no-return bagi tokoh-tokohnya, termasuk di dalamnya pergolakan keras antara tokoh protagonis dengan tokoh antagonis.

Tujuannya jelas: poetic justice, di mana keadilan akhirnya ditegakkan sesudah rangkaian drama mengharu biru, dan kita terhanyut juga menontonnya bukan? Namun yang terpenting adalah: vulgarisme Hanung ini membuat filmnya menjadi seperti etalase yang dihias cantik dan amat sangat menarik, tetapi konflik di dalamnya –hitam putih tokohya– jadi dramatis. Drama ini –sebagaimana gambaran peruntuhan sokoguru mesjid si filmSang Pencerah– membuat film ini berhasil mengharu biru dan menghanyutkan penonton. Tapi dari strategi visual semacam itu terbentuk sebuah hal penting: kerangka visual yang tegas tentang posisi hitam putih para tokoh. Dualisme yang saya bicarakan pada poin sebelumnya menjadi tegas.

Ketiga: usulan Hanung
Soal ketiga kenapa pertanyaan retoris Hanung ini menyebabkan ketidaknyamanan adalah karena Hanung memang tak sedang berusaha memahami, tapi sedang menyatakan pemahamannya seperti yang ia katakan dalam wawancara dengan Lisabona Rahman dan Iwan Setiawan di situs Film Indonesia. Dalam wawancara itu, jelas Hanung menyatakan (dan ini menjadi judul tulisan): “Inilah Islam yang saya pahami”.

Sampai di sini, saya ingin ingatkan tentang representasi di depan tadi dan di sinilah poin terpenting kenapa saya bicara tentang representasi. Film ini, oleh Hanung, dibuat sedang menampilkan: inilah Islam. Ia menggambarkan para pemenang dalam film itu adalah Suryo (Agus Kuncoro), seorang Muslim yang berperan sebagai Sinterklas, Soleh yang akhirnya bisa memahami sikap dan pilihan istrinya bekerja pada orang beragama lain, Ping Hen (Rio Dewanto) yang akhirnya masuk Islam dan sebagainya. Satu inti yang jelas dari para tokoh ini: para pemenangnya adalah orang-orang beragama yang memandang bahwa “semua agama itu baik dan sama-sama menuju Tuhan” sebagaimana disampaikan dalam solilokui tokoh yang diperankan Rika (Endita) di awal film.

Menurut saya, jika Hanung ingin merepresentasikan bahwa Islam memang beranggapan bahwa “semua agama itu baik dan sama-sama menuju Tuhan”, maka wajar jika representasi yang dilakukannya dimusuhi oleh sebagian umat Islam. Lagipula, ingat bahwa sisi lain representasi ini (para antagonis yang “kalah”) adalah orang-orang yang berpandangan monolitik (lihat tokoh Glen Fredly) atau bodoh (umat Islam yang merusak properti orang lain semata karena orang itu membuka toko di hari kedua lebaran). Menurut saya, ada hal penting berkaitan dengan representasi yang dilakukan oleh Hanung ini.

Begini.

Tentu saja Hanung bersandar pada fakta (yang dilihat, dialami, atau dibacanya, atau diyakininya) bahwa Islam memang seperti itu adanya. Namun, bukankah kita tak sedang adu fakta? Karena tentu ada orang yang menafsirkan Islam (atau Katolik atau Buddha atau agama apapun) sebagai pemegang lisensi tunggal atas Kebenaran, dan ini adalah fakta juga. Ada fakta yang beradu, tapi ada yang lebih penting lagi sehubungan dengan cara Hanung dalam membaca dan menampilkan masalah.

Apa yang dibaca Hanung sebagai penyebab persoalan kekerasan atas dasar agama di Indonesia adalah cara beragama yang keliru. Seandainya mereka beragama dengan cara yang digambarkan oleh Hanung melalui tokoh-tokoh dalam filmnya (beranggapan semua agama menuju kebenaran) tentu kekerasan atas nama agama itu tak perlu timbul. Inilah gagasan yang ditampilkan oleh Hanung.

Keunggulan utama agama, yaitu monopoli Kebenaran, oleh Hanung digambarkan sebagai masalah, karena hal itu digambarkan bermuara pada kebencian. Padahal monopoli Kebenaran itulah yang jadi “selling point” agama sehingga ia bisa mendapat jutaan atau milyaran penganut. Dan monopoli Kebenaran dan kebencian itu dua hal yang terpisah. Monopoli Kebenaran itu sifat alamiah agama sejak semula dan itu membuat orang yakinterhadap agama yang dianutnya. Manusia memang tak bisa mencapai kebenaran sejati dan mungkin mereka tahu itu, tapi orang tetap bisa yakin, kan? Nah, Hanung sedang menggambarkan bahwa pemenang dalam film-filmnya adalah yang melepaskan keyakinan bahwa agamanya adalah satu-satunya Kebenaran.

Dengan demikian, pemecahan Hanung terhadap soal ini adalah pemecahan yang sifatnya relijius, bukan sosial atau politik. Saya membayangkan hal ini akan sangat sulit tercapai, karena akan bertentangan dengan hubungan paling dasar antara agama dengan pemeluknya. Bagi saya, soal ini seharusnya dipecahkan secara sosial dan politis, yaitu pada pembangunan institusi yang mampu menyalurkan dan menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh perbedaan tanpa melalui jalan kekerasan. Keragaman, atau –duh, kata ini– pluralisme sebagai fakta sosial memang seharusnya diatur oleh lembaga sosial dan politik.

Saya ingin mengutip Kyai Haji Mustofa Bisri yang dalam tweet-nya (ya, ini kyai ber-Twitter di akun @gusmugusmu) bahwa ada pluralisme yang sebaiknya tak dikembangkan yaitu pluralisme relijius. Pluralisme relijius ini adalah menyatakan bahwa semua agama itu benar, padahal seharusnya yang dibutuhkan buat negeri ini adalah pluralisme sosiologis. Pluralisme sosiologis ini (ini kata-kata dari saya, bukan dari @gusmugusmu) menyatakan: tak peduli jika kau mengaku diri paling benar dunia akhirat, yang penting kau bisa berdampingan hidup dengan orang lain yang berbeda pandangan denganmu secara sopan dan bertatakrama. Jika kau melanggarnya, ada negara yang akan menghukummu.

Inilah inti kehidupan bernegara yang saya bayangkan akan direpresentasikan oleh Hanung guna menjawab pertanyaannya, ketimbang soal “Islam yang saya kenal”. Saya berharap orang tak perlu mengubah keyakinannya untuk bisa sepakat bahwa di negeri bernama Indonesia ini orang berbeda agama bisa hidup berdampingan dengan tenang dan damai. Jika Hanung memang memenangkan tokoh-tokoh yang menganggap semua agama benar, ada soal yang lumayan besar dalam ending filmnya.

(Buat yang belum menonton, saya akan membocorkan akhiran film ini. Baca at your own risk!)

Sikap Ping Hen kepada ibunya tak sekeras kepada ayahnya. Gambaran tipikal kekakuan hubungan ayah dan anak lelakinya?

Masuk Islam

Tokoh antagonis di film ini, Ping Hen, akhirnya masuk Islam sesudah perjuangan “berdarah-darah” membela kepercayaannya sendiri; termasuk menentang sikap dan kebijakan ayahnya. Ayah Ping Hen, Tat Sun (Hengky Soelaiman) ini seorang pengusaha restoran Cina yang bijak sekali: ia taat beragama, menghormati dan mengingatkan karyawannya yang Muslim agar sholat dulu pada waktunya, memisahkan alat masak bagi Muslim dan non-Muslim serta lain-lain. Dari mana kebijaksanaan Ayah Ping Hen didapat?

Ayah Ping Hen sudah tua, sehingga kita bisa menyimpulkan: ia belajar dari pengalaman. Pengalaman macam apa? Kita tak tahu sampai ketika sang ayah itu sakit dan restoran tetap buka pada hari kedua lebaran, serta Ping Hen tak lagi memisahkan alat masak “halal” dan “haram”. Pada saat itulah restoran diserbu oleh umat Islam (yang otomatis marah tadi) dan Ping Hen akhirnya tahu rasa: restorannya rusak, dan nyawanya terancam.

Persis sesudah huru hara itu, Ping Hen mengambil buku Asmaul Husna yang tergeletak di lantai. Ia membuka-buka buku itu lantas wajahnya berubah seperti tersadar akan sesuatu. Apa yang ia sadari ketika itu? Kebenaran Islam? Ping Hen dapat hidayah? Tentu bisa dibaca demikian, sekalipun, dalam pandangan saya, sulit rasanya buat orang yang nyawanya baru saja terancam oleh sekelompok orang tertentu, tiba-tiba berubah sikap langsung menganut kepercayaan kelompok orang yang hampir saja membuatnya mati itu. Saya membayangkan seorang anggota Viking (para fanatikus klub sepakbola Bandung, Persib) tiba-tiba berubah menjadi anggota Jakmania (para fanatikus klub sepakbola Jakarta, Persija) sesudah lolos dari keroyokan mereka.

Uh, maaf untuk analogi tak pantas ini karena agama berbeda dengan sepakbola (sekalipun buat beberapa orang keduanya tidak berbeda). Dalam agama tentu ada hidayah yang bekerja di luar akal manusia untuk bisa menjelaskan. Ya, saya juga percaya hidayah karena pernah mengalaminya secara langsung. Ketika itu saya di SMA… –oh, maafngelantur….

Baiklah, dalam agama memang ada hidayah; tapi ini kan film. Artinya, ia bisa dibaca dengan cara berbeda seperti diniatkan oleh pembuatnya. Katakanlah film ini ber-subtitledan ditonton di Vanuatu, di mana orang sama sekali tak tahu konsep hidayah (contoh bisa apa saja, dan Anda bebas membuat contoh). Apa yang terbaca? Menurut saya, yang terbaca adalah ini:

Orang Islam yang gemar kekerasan itu menyerbu, sementara Ping Hen sudah diingatkan oleh ayahnya (yang sudah berpengalaman). Sesudah bencana itu terjadi, Ping Hen menemukan buku milik orang Islam dan tersadar: kenapa saya tak mengikuti kata-kata ayah? Ia tentu berpengalaman dengan orang Islam ini. Maka Ping Hen pun mengambil langkah lebih cerdas ketimbang ayahnya: ia masuk Islam.

Ini langkah hebat, karena dari langkah ini ia bisa mendapat banyak keuntungan: pertama, restorannya tak akan lagi diserang karena sudah ia alihkan ke restoran halal. Pasar bagi restorannya akan semakin jelas, sehingga ia bisa mempertahankan captive market-nya maupun meluaskannya. Ini langkah dagang yang hebat. Kedua, bekas pacarnya yang cantik itu kini menjanda, dan perempuan itu hanya mungkin menikah dengan seorang Muslim. Nah, dengan masuk Islam, peluang Ping Hen jadi terbuka, kan?

Saya tahu, pembacaan seperti ini jahil sekali, tapi bukan sama sekali tak mungkin. Apalagi di sekujur film Hanung menyarankan bahwa semua agama sama-sama menuju kebenaran, lantas kenapa tidak memeluk agama yang paling menguntungkan secara sosial, politik, dan ekonomi? Toh, agama tak menjanjikan Kebenaran tunggal?

Saya rasa Hanung tidak sedang memandang Islam dengan cara pandang seperti itu. Ia sedang menggambarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta). Islam, bagi orang yang sungguh-sungguh mencari keyakinan, akan membawa kebaikan akhirat, dan tentu juga dunia. Ping Hen adalah “bukti”-nya, menurut Hanung dalam film ini.

Apapun, satu hal yang jelas bagi saya, akhiran Hanung untuk Ping Hen ini senada belaka dengan akhiran bagi tokoh lain. Soleh mungkin gugur dalam tugas, tapi ia gugur dalam kebanggaan (ketimbang gugur sebagai penganggur) dan namanya diabadikan sebagai nama pasar. Suryo mulai dikenal namaya sesudah berhasil memerankan tokoh Yesus dan akhirnya mulai menjadi aktor terkenal. Rika juga berbahagia dengan pilihannya pindah agama dan kemungkinan berjodoh dengan calon aktor terkenal.

Maka ber-Islamnya Ping Hen adalah bagian dari happy ending tadi, menegaskan bahwa pertanyaan retoris Hanung “masih pentingkah kita berbeda” harus dijawab dengan: “masih”. Karena hanya dengan itu hidup bisa berbahagia. Inilah representasi fungsi agama dalam pandangan Hanung dalam Tanda Tanya.

Bisa juga akhiran bahagia ini dipandang dengan cara lain semisal ini: jangan lupa bahwa semua ini hanya film, hanya rekonstruksi yang saya lakukan demi menceritakan sesuatu kepada Anda. Film ini memang semacam hiburan saja, dengan latar belakang sosial yang kuat dan pandangan yang jelas, Anda tak keberatan bukan?

Anda tak keberatan?