Maryam: dimana Tuhan, dimana Tuan?

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar

saya sedang keluar

(Sapardi Djoko Damono)

Maryam

Terlalu banyak hal di dunia yang diputuskan oleh manusia tanpa melibatkan Tuhan. Beberapa orang dengan sadar memilih untuk begitu, beberapa karena terpaksa.

Kita bisa melihat bahwa tokoh dalam film pendek ini, Maryam, pergi ke gereja karena terpaksa.

Maryam, biasa dipanggil Iyam, bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga. Pada malam Natal, majikannya pergi dengan membawa koper. Ia ditinggal di rumah, menemani adik sang majikan yang mengalami perbedaan perkembangan kejiwaan. Sang adik ini, seorang laki-laki kira-kira berusia 30-an, memaksa untuk diantar ke gereja ikut misa Natal. Maryam yang memakai jilbab ini pun tak dapat menolak. Berangkatlah ia menemani adik sang majikan ke gereja, ikut mendengar khotbah misa Natal dan bernyanyi lagu rohani.

Permainan makna pun dimulai. Sutradara Sidi Saleh memang suka bermain-main di wilayah ini. Film sebelumnya berjudul Fitri, juga seputar hari raya dan maknanya bagi orang-orang yang menjalaninya. Maryam juga asyik bermain-main dengan simbol-simbol relijiusitas seperti ini. Lihat saja judul film ini. Maryam adalah Bahasa Arab untuk perawan Maria, ibunda Yesus Kristus, tapi di Indonesia, nama Maryam bisa saja nama seorang muslimah, tanpa perlu disoal sama sekali.

Dengan lihai, Sidi memperlihatkan keasingan dan ketidaknyamanan Maryam yang salah tempat itu. Jilbabnya jadi perkara, yang segera bisa ia atasi, tapi tidak dengan hatinya. Sepanjang misa berlangsung, wajah resahnya bercerita amat banyak. Tentang pribadi yang sedang merasa di persimpangan: antara keimanan di satu sisi dan kepatuhan pada majikan di sisi lain.

Benarkah soalnya adalah kepatuhan seorang pembantu rumah tangga pada majikannya? Soal ini amat menarik bagi saya, tapi itu akan dibahas belakangan.

Soal persimpangan relijiusitas antara keimanan dan hubungan sosial seperti ini salah satu soal paling menarik dibicarakan di Indonesia. Film Indonesia, semisal ? (Tanda Tanya) dan Cinta Tapi Beda yang keluar dari sentuhan tangan Hanung Bramantyo, membicarakan hal seperti itu habis-habisan. Premis kedua film panjang ini dan Maryam sebenarnya sama: sulit sekali, bahkan mustahil, menempatkan keimanan untuk steril dari hubungan sosial yang menuntut manusia Indonesia untuk berbesar hati merelakan sebagian perwujudan keimanan mereka. Namun Maryam dan kedua film yang saya sebut tadi memperlakukan tema ini dengan amat berbeda.

Maryam adalah contoh perlakuan halus terhadap tema amat sensitif itu. Penyuntingan pada Maryam amat berhati-hati menempatkan hati manusia sebagai arena pertarungan antar simbol-simbol agama. Sisipan-sisipan semisal patung Yesus yang ditempatkan pada saat adegan misa, berhasil menekankan pada kegundahan hati tokoh utama kita.

Perhatikan pula latar belakang di sekitar dua orang tokoh ini. Kerumunan dalam film ini tampak tak terlalu peduli, tapi dengan jeli Sidi memanfaatkan lirikan mereka sebagai sebuah pantulan bagi suasana hati Maryam. Kerumunan itu, bagi Maryam, jadi semacam hakim bagi posisi keimanannya. Orang-orang itu melirik tanpa kata-kata sama sekali, mungkin juga tak peduli-peduli amat, tetapi, Maryam tetap merasa bahwa ia sedang dipersalahkan karena berada di gereja dan ikut misa Natal. Maka dalam soal relijiusitas, Maryam memperlihatkan dengan amat jitu: pertarungan terbesar keimanan itu ada di dalam hati manusia. Tentu kehidupan sosial bikin tekanan besar terhadap pertarungan itu.

Benarkah demikian adanya? Saya menangkap satu lapisan konflik lagi yang menambah warna pada pertarungan itu. Hal ini ditampilkan oleh Sidi Saleh dengan amat halus, dan bagi saya, inilah yang membuat Maryam menjadi begitu indah. Maryam sedang hamil, dan siapa ayah dari anaknya itu?

Film ini tak menyodorkan jawaban amat jelas, dan jawaban jelas sama sekali tak diperlukan. Karena kita bisa lihat, tak perlu untuk jadi jenius bahwa ada hubungan-hubungan yang lebih dalam ketimbang apa yang dipercakapkan (kalau memang pertukaran kata-kata itu bisa dibilang percakapan) oleh para tokoh dalam film ini. Kita bisa melihat bahwa ada rahasia dibagikan, ada semacam kode yang dipertukarkan, ada perasaan yang bisa terasakan hingga keluar layar.

Sidi tidak mengeksplorasi perasaan itu jadi bahan roman picisan. Ia setia pada penceritaan yang elusif, menghindar dari kejelasan dan sentimentalisasi. Maka sah saja jika kita bertanya agak jauh: apakah ini kisah cinta yang terhalang keimanan? Ataukah ini soal-soal yang tak kita pernah pahami yang memang lebih dalam ketimbang keimanan?

Saya rasa Anda harus menonton sendiri film ini karena ulasan saya ini tak akan bisa menggantikan perasaan yang tumbuh ketika menonton Maryam.

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Stop Human Cloning (Wahyu Aditya, @maswaditya)

Wahyu Aditya tidak percaya bahwa eksperimen terhadap manusia akan berakhir baik-baik saja. Para manusia hasil eksperimen bisa bertindak di luar kendali dan akhirnya mencelakai pembuatnya. Maka ia menyarankan agar kita menghentikan saja “human cloning” karena akibatnya akan fatal terhadap para pelaku eksperimen itu.

Dengan bentuk komedi, sebenarnya Stop Human Cloning bisa membawa ke mana saja, ke ide yang lebih berani dan kompleks. Namun tampaknya memang bukan itu tujuan film ini. Stop Human Cloning memang bicara dalam tataran yang naif dan sederhana. Karakter-karakter manusia buatan itu terlalu simplistik, satu dimensi dan masalah yang diletakkan kepada mereka juga bukan masalah yang matang.

Namun saya senang sekali pada bentuk stop motion yang dibuat oleh Wahyu Aditya ini. Menurut saya, kejenakaan menjadi elemen penting yang ada di sekujur karya ini. Jangan-jangan, kalau Nyak Abbas Akup membuat film stop motion pendek, ia akan membuatnya seperti ini. Jangan salah paham dulu dengan perbandingan ini.

Kita paham becandaan Nyak Abbas, pada film-filmnya yang populer, yang beredar di seputar paha dan dada. Logika yang Nyak Abbas gunakan juga linear dan simplistis karena ia sadar ia sedang bicara dengan para penonton bioskop kelas B-C-D di pasar-pasar tradisional yang becek di dekade 1980-an. Maka Nyak Abbas sering sekali menggunakan bahasa yang vulgar, baik bahasa dialog maupun bahasa gambar. Maka, maksud saya, karya Wahyu Aditya ini memang berkisar di wilayah karya seperti itu, sebuah kemungkinan yang sebenarnya menarik untuk dieksplorasi lebih jauh.

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Aku Dengan Nina (Dinda M. Djunanda, @djunanda)

Film dengan pendekatan found footage ini jelas mengacu pada video porno Bandung Lautan Asmara yang pernah jadi berita besar itu, terutama pada adegan-adegan di dalam kamar hotel. Coba dengarkan nama hotel yang disebut oleh tokoh dalam film ini yang konon kabarnya merupakan hotel tempat terjadinya perekaman video yang judulnya sering dikaitkan dengan sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung itu. Masih kurang? Referensi adegan seks dan “menghilang” seperti jin itu juga merupakan acuan jelas ke sana.

Terlepas dari acuan-acuan ke Bandung Lautan Asmara, pendekatan found footage seperti ini selalu punya dampak menghadirkan kenyataan yang segera, atau immediate reality pada karya audio visual. Karya seperti ini selalu berpretensi bahwa apa yang direkamnya adalah kenyataan, bukan kenyataan rekaan sebagaimana karya yang dibuat secara profesional dengan kematangan teknik yang tinggi. Dengan demikian, maka gambar-gambar dengan komposisi “asal jadi” dan editing yang kasar justru dipakai untuk meyakinkan penonton bahwa peristiwa yang ada dalam rekaman itu sungguh terjadi dan bukan arahan sutradara belaka. Bahkan di laman Vimeo ini disebutkan bahwa video ini adalah “Sebuah rekaman yang ditemukan tidak sengaja oleh seorang mahasiswa di daerah jakarta timur.”

Strategi found footage ini memang sukses besar sesudah The Blairwitch Project menggunakannya. Dengan sengaja film itu tidak memberitahu di awal film bahwa kisah di dalamnya hanya fiksi. Akibatnya demikian banyak yang tertipu oleh film tersebut karena menganggapnya sungguh-sungguh merupakan perburuan 3 orang mahasiwa film yang sedang berusaha merekam praktek sihir di sebuah bukit di Burkittsville, Maryland. Sesudah itu found footage diterapkan dalam berbagai film dengan berbagai genre seperti District 9 (Alien), Rec dan Paranormal Activity (horor) hingga Chronicle (superhero). Efek yang diharapkan dari film found footage adalah pengalaman visual yang dekat, dan terutama bagaimana para penonton “tak terjaga” akan perkembangan plot yang sebelumnya dianggap semata-mata sebagai sebuah kegiatan sehari-hari yang tidak dramatis.

Kembali pada Aku dengan Nina, catatan menarik ada pada “komentar” si pembuat film terhadap kamera. Dinda, sang laki-laki pada film ini, begitu sensitif ketika ia dikonfrontir oleh Nina agar menjual saja kameranya ketimbang mengorbankan Nina sedemikian rupa. Dinda meradang dan memukul Nina dan memaksa Nina untuk menyatakan cinta padanya. Apakah kamera berarti harga diri seorang laki-laki pembuat film?

Akhiran film ini menyimpulkan sebuah hubungan laki-laki perempuan yang eksploitatif, dan ketika dilakukan atas nama cinta, membuat kita bertanya: apakah cinta itu? Kesan seperti ini yang ingin didapat oleh Dinda M. Djunanda sekalipun bagi para pembela hak asasi manusia atau para aktivis anti domestic violence, yang terjadi dalam film ini adalah pelanggaran serius terhadap hak perempuan.

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Bedjo Van Derlaak (@EddieCahyono)


"Aku cinta pada negeriku, tapi tak ingin itu jadi alasan membunuh". Bedjo Van Derlaak menyusun sebuah pertemuan tak terduga yang menghasilkan semacam makian terhadap perang.

Film yang berlatarbelakang perang, biasanya justru merupakan film yang anti perang. Lewat penggambaran perang, para pembuat film biasanya ingin menggambarkan bahwa perang tak punya kebaikan dan membuat manusia harus membunuh manusia lain tanpa alasan yang sungguh-sungguh mereka pahami. Sutradara yang kerap sinis pada glorifikasi perjauangan bersenjata dan kekerasan seperti Stanley Kubrick atau Oliver Stone menggunakan film berlatar perang dengan cara seperti ini. Usmar Ismail sedikit banyaknya juga memperlihatkan tragedi kemanusiaan pasca perang dalam film-filmnya.

Namun film berlatar perang di Indonesia umumnya, biasanya malahan merupakan glorifikasi dari kepahlawanan, yang amat sering keliru. Beberapa film seperti Janur Kuning dan Serangan Fajar misalnya, bahkan menempatkan Kolonel Soeharto sendirian sebagai pahlawan yang sedemikian penting yang menentukan tetap tegaknya Indonesia sebagai satu bangsa. Film berlatar perang memainkan peran sangat penting dalam kepolitikan Orde Baru, terutama dalam mendukung penerimaan terhadap fungsi sosial politik (selain fungsi pertahanan keamanan) TNI di Indonesia, yang dikenal sebagai dwi-fungsi.

Bedjo Van Deerlak lebih dekat dengan tradisi para sutradara sinis Amerika ketimbang pada posisi film-film propaganda. Setting film ini adalah pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 ketika tentara Belanda kembali lagi ke Indonesia dalam bentuk NICA, dan bergabung dengan tentara sekutu. Dalam sebuah pertempuran di garis depan, seorang anggota TNI bernama Bedjo bertemu dengan seorang tentara NICA bernama Heinrich Van Derlaak. Di tengah-tengah mereka adalah seorang ibu yang tepat sekali sedang akan melahirkan anaknya.

Terus terang saja, bangunan cerita macam ini amat sangat mengingatkan saya pada cerita pendek karya Nugroho Notosusanto berjudul “Bayi” yang ada dalam kumpulan Hujan Kepagian. Pertemuan tak terduga dua tentara dari dua kubu berbeda di tengah gubuk dengan ibu yang akan melahirkan itu sepenuhnya sama. Namun ada beda sikap antara cerita Bedjo Van Derlaak ini dengan “Bayi”, persis seperti perbedaan antara kubu para sinis para pembuat film anti perang dengan kubu film perang-propaganda di Indonesia. Bedjo Van Derlaak tampak sinis pada perang dan beranggapan bahwa perang bisa saja menjadi hal terburuk yang mungkin terjadi pada manusia. Sedangkan, Nugroho Notosusanto, ideolog terpenting dwi fungsi ABRI dalam buku sejarah, museum yang lalu diturut oleh para pelaku budaya populer Orde Baru, mengangkat cerita “Bayi” bagaikan sebuah “karangan khas penuh human interest” pada perjuangan politik bernama perang.

Dalam soal pembuatan film, Bedjo Van Derlaak termasuk kerja istimewa yang mungkin dilakukan oleh sebuah komunitas film. Bagaimanapun film ini adalah period piece, dimana kostum dan properti syuting harus diusahakan dengan cara istimewa, tak bisa memakai pakaian dan barang-barang sehari-hari. Lagipula ini film perang, butuh ledakan dan tembak-tembakan. Ini menunjukkan kapasitas produksi yang tinggi dari Four Colors Film, komunitas film Yogyakarta yang telah menghasilkan dua sutradara film layar lebar:  Ifa Isfansyah dan Eddie Cahyono.

Bagi saya, Bedjo Van Derlaak serupa belaka dengan Harap Tenang Ada Ujian, sama-sama memperlihatkan bahwa komunitas Four Colors FIlm memang merupakan gerakan arus pinggir yang satu saat akan masuk ke, alih-alih menyediakan tandingan bagi, arusutama.

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Pabrik Dodol, Ari Rusyadi (@arirusyadi)

Dengan cepat semacam romantisme dualisme ekonomi terbaca pada perendengan dua metode produksi dodol ini. Satu adalah produksi rumahan yang berskala ekonomi kecil, sedangkan satu lagi adalah model produksi pabrikan yang modern dengan skala ekonomi dan pasar yang lebih besar. Awalnya saya berharap bahwa Ari Rusyadi tidak sedang menampilkan dualisme model ekonom JH Boeke yang menandang Hindia Belanda terbagi dalam dua model produksi yang sama kuatnya: industri rumahan yang tak mengenal pembagian kerja dan abai terhadap ekspansi pasar (dan komunitas sebagai penopangnya), dan industri modern dengan mesin produksi dan manajemen yang kaku (dan masyarakat terorganisir sebagai landasannya). Namun ternyata romantisme Ari Rusyadi bahkan berjalan hingga ke aspek lain; perhatikan baik-baik.

Musik film ini juga mengandung dualisme: musik ritmis yang riang dan berkesan akrab dalam model produksi tradisional dan musik industrial yang kaku, dingin bahkan sedikit mengerikan dalam model produksi modern. Perhatikan juga senyum mengembang dan candaan para pekerja di pabrik tradisional di satu sisi serta suasana repetisi yang dramatis untuk menekankan sifat “moloch” mesin yang sudah tampil sejak film Metropolis-nya Fritz Lang (1927).

Saya juga ingin mencatat editing film ini yang amat taat menganut continuity ruang dan waktu model Hollywood pada bagian pertama dan kedua ketika masing-masing pabrik dodol itu direndengkan. Susunan close-up dan establish shoot memperlihatkan adanya kesatuan ruang-waktu yang padu dan kaku. Namun pada bagian tiga ketika kedua model produksi ini digabung, montase yang muncul juga mengesankan model montase menjelang klimaks film pada model neo-klasik Hollywood ketimbang montase yang asosiatif.

Namun saya amat menyukai ritme editing film ini, selain komposisi gambarnya yang luar biasa. Maka secara keseluruhan, pabrik dodol adalah sebuah tamasya audio visual yang manis dan menyenangkan.

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Yasujiro Journey (@faozanrizal, 2005)

Ini percakapan saya dengan Faozan Rizal alias Pao seputar film Yasujiro Journey ini:

Pao: Saya mau bikin film panjangnya 62 menit, tapi yang pentingyna cuma menit pertama dan menit terakhir. Di tengah-tengah, penonton boleh pulang melakukan hal yang lebih penting dalam hidup mereka. Boleh makan, boleh sholat, terserahlah!

Saya: emangnya ada film begitu?

Pao: di menit pertama, ada caption: “Di tahun 1942, seorang pilot pesawat tempur Zero Jepang jatuh di gunung Bromo. Pilotnya, Yasujiro Yamada, selamat tapi tak pernah ditemukan. ” Lalu diujung film ada caption lagi “Enampuluh tahun kemudian, cucu si pilot, Yasujiro Yamada mencari kakeknya ke gunung Bromo. Ia juga menghilang dan tak pernah ditemukan”. Jadi yang penting cuma di awal dan di akhir film.

Saya paham bahwa omongan itu bercanda karena film Yasujiro Journey ini tentu saja penting untuk diikuti dari awal sampai akhir. Tapi begitulah sikap Faozan Rizal terhadap sinema: sinema tak lebih penting ketimbang hidup itu sendiri. Yasujiro Journey sendiri sempat diputar di Pusan tahun 2005, dan menjadi bagian dari sebuah seksi yang ganjil di Singapore International Film Festival yang diberi tajuk Unofficial Retrospective of Faozan Rizal. Ternyata film ini tetap dianggap penting oleh orang lain, tak seperti candaan Pao di awal itu.

Premis cerita film ini memang terletak di caption di awal dan akhir itu, tetapi apa yang terjadi hingga membentuk durasi 48 menit film ini (tidak jadi 62 menit seperti yang direncanakan semula), bagi saya adalah kekuatan sinema dalam menciptakan misteri yang terus tinggal di benak penonton jauh sesudah film ini selesai disaksikan. Faozan Rizal berangkat dari premis visual yang sama dengan sutradara yang dikaguminya, Yasujiro Ozu (darimana nama Yasujiro itu ia dapat) yaitu bahwa apa yang terjadi di luar layar sama pentingnya dengan apa yang terjadi di layar. Maka Yasujiro Journey dipenuhi oleh gambar-gambar yang diambil dalam waktu panjang hingga subyek-subyek di dalamnya seakan bicara tentang apa yang tidak tampak di layar. Saya menikmati sekali proses ini.

Saya paham tak semua menikmati proses seperti ini dan memandangi Nobuyuki Suzuki sebagai Yasujiro Yamada mencari apa yang sejak semula tak ada adalah kegiatan yang sia-sia. Lebih dari separuh penonton film ini keluar ketika ia dputar di Jiffest tahun 2005. Saya tak akan terlalu menyalahkan mereka. Namun saya sendiri amat terkesan pada film ini, terutama pada perkembangan “pencarian” Yasujiro sepanjang film, terutama pada adegan ketika ia tiba di tepi danau. Sikapnya berubah seakan siap untuk menemukan sesuatu di dalam danau itu. Suara-suara bisikan entah darimana itu juga memberi kesan bahwa ia seperti sedang memasuki dimensi lain pencariannya. Seperti halnya saya tergerak oleh kemampuan Edwin menyusun elemen visual pada film-filmnya, Yasujiro Journey bahkan telah mengajak saya ke tingkat lebih jauh: memberi saya misteri dan pertanyaan yang mendalam tentang manusia dan pencarian dalam hidupnya.

Hingga kini Pao bekerja menjadi penata kamera untuk film-film layar lebar. Ia banyak bekerjasama dengan Hanung Bramantyo dan telah menghasilkan banyak film. Dari penghasilannya di film, ia mengumpulkan uang untuk syuting film-filmnya. Jika film komersial yang mencari untung saja sulit mendapat investor, terbayang pula kesulitan untuk film-film semacam Yasujiro Journey ini.

Maka hingga kini belum banyak film yang ia hasilkan sebagai sutradara. Ia sudah membuat beberapa karya lain: Aries dan Fugu yang ia jadikan sebagai bagian trilogi, bersama-sama dengan Yasujiro Journey ini. Kini ia sedang merekam Opera (Tanpa) Soekarno, sebuah karya eksperimental yang menceritakan penggalan akhir hidup Soekarno.

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Harap Tenang, Ada Ujian (@isfansyah)

Ujian, sepakbola dan gempa bumi menjadi keseluruhan elemen yang membentuk cerita. Bisa jadi kisah ini sebuah parodi, bisa juga sebuah film anak-anak yang segar.

Bakat Ifa Isfansyah sebagai pembuat film layar lebar sudah tampak pada film pendek ini. Ia amat terampil menguasai penyampaiak elemen naratif dengan efisiensi yang tinggi sekaligus juga menjadi milik khas medium film. Ia tidak verbal dan boros dialog. Ia lebih suka menggunakan elemen suara dan gambar untuk menyusun sebuah informasi yang tiba kepada kita tanpa terlalu kita sadari sampai akhirnya informasi itu maju ke depan sebagai bagian dari plot. Inilah ukuran saya untuk menyatakan soal bakat Ifa sebagai pembuat film layar lebar (lihatlah Sang Penari kalau masih tak percaya)

Perhatikan bagaimana ia menjadikan kecintaan terhadap sepakbola sebagai dalam latar belakang cerita ini. Cerita ini ditanam dengan efektif lewat secara sepintas lalu (bisa diacu pada film Mirror karya Jafar Panahi dari Iran) tetapi pada saat yang sama punya peran signifikan dalam plot (pada Mirror, pertandingan sepakbola sebagai referensi durasi, pada film ini, sebagai sebuah lingua franca antar bangsa – yang sayangnya tak nyambung).

Bahkan teknik penceritaan Ifa ini bagi saya sedikit eksesif mengingat begitu banyak informasi audio dan visual yang bertumpuk-tumpuk (lihat pengambilan gambar dengan benda-benda di latar depan untuk menimbulkan kesan “kedalaman”) dalam film ini. Namun untungnya Ifa tak ingin bercerita terlalu banyak. Materi yang dimilikinya memang sederhana dan pengembangan yang dilakukannya tergolong masih bisa diterima (perhatikan: ujian sambil membawa kandang musang? hehehe..).

Namun dari itu semua, yang paling mengena bagi saya memang cerita dari film ini. Semangat untuk memparodikan situasi sampai dengan amat telak. Katakanlah film ini adalah semacam metafor bagi sebuah sikap kekanakan yang tak mau periksa terlebih dulu alias apriori terhadap keadaan sekitar, terlebih ketika itu sesuatu yang asing dan disampaikan secara dogmatis dan disampaikan dengan cara mengulang-ulang bagai mantra tanpa kita paham apa maknanya. Mirip seperti anak sekolah dasar menghapal bahan ujian. Perilaku curiga dan sikap bermusuhan yang kekanak-kanakan macam ini tentu sudah jadi konsekuensi yang pasti muncul.

Namun film ini juga bisa dibaca tidak sebagai perumpamaan seperti itu. Film ini cerita anak-anak yang polos saja yang senang bermain dan asyik dengan pikiran sendiri. Mana bisa orang dewasa seperti saya masuk ke dalam pikiran seperti itu dan kemudian menghakimi bahwa pikiran itu keliru? Dalam keadaan wajar, bukankah kita akan iri melihat betapa sebuah dunia bisa terbangun utuh sedemikian dan hidup adalah semacam perluasan dari permainan yang tidak kita ketahui batas-batasnya?

Bagaimanapun film ini dibaca, saya ingin Anda yang belum pernah menontonnya untuk meluangkan waktu Anda sejenak untuk film ini, di sini: Harap Tenang, Ada Ujian (Ifa Isfansyah).

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Free As A Bird (Dessy Darmayanti)

“Satu!”, berkali-kali si Q-Bong mengulang signposting ini dan tidak beralih ke angka “dua!”, pertanda ada yang keliru dengan cara kerja otaknya. Ia sedang mabuk, dan mewawancara orang mabuk bukanlah sebuah standar kerja jurnalisme yang baik. Dalam standar kerja wartawan, narasumber harus sadar, sehingga apa yang dikatakannya (jika punya implikasi hukum) bisa ia pertanggungjawabkan. Dengan cepat kita sadar beda terbesar antara sebuah film (atau video) dokumenter dengan kerja jurnalistik pada karya Dessy Darmayanti ini. Karya Dessy sama sekali tak memerlukan verifikasi dan tak juga berkeinginan menjadi cermin bagi keadaan masyarakat. Kerja film dokumenter paling dasar adalah ini: merekam!

Apa yang direkam oleh Dessy adalah sebuah peristiwa sehari-hari dan “biasa”. Tak diperlihatkan sama sekali kenapa Q-Bong harus direkam dan rekaman itu disajikan kepada kita, penonton.Penyajian Q-Bong bukan untuk mencapai keterwakilan masyarakat.  Ia ditampilkan lebih mirip dengan ilustrasi. Ilustrasi apa? Gaya hidup? Sebuah sub-kultur? Saya memilih untuk tak repot-repot menjelaskannya, lebih suka apabila melihat bagaiman Dessy melakukan perekaman.

Bagi saya, karya ini adalah sebuah penghampiran tanpa pretensi yang asyik dan menyenangkan. Dessy tidak menyembunyikan dirinya sebagai ‘orang luar’ yang datang ke “komunitas” penongkrongan di depan Circle K itu dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan dasar tentang “budaya minum minuman keras” yang biasa dilakukan oleh Q-Bong dan teman-temannya. Tidak ada teori yang rumit atau pendalaman psikologis atau mantra-mantra lain semacam itu. Ini adalah sebuah penghampiran sederhana terhadap apa yang dilihat di tepi jalan dengan rasa penasaran dan ingin tahu yang akhirnya membuat seseorang mengambil kamera dan merekam yang ada di sekitarnya. Sebuah sikap yang pernah direkam oleh sebuah cerita pendek Lupus berjudul “Things are Better Left Unsaid“.

Terus terang saja, dengan kekuatan utama perekaman yang nyaris spontan seperti ini, tak ada kedalaman, tak ada pemahaman terlalu jauh. Karya ini sketsa saja, berisi pernyataan-pernyataan yang performatif, tak bisa pula diujikan: apa benar Q-Bong tak main drugs, misalnya? Bisa saja video dokumenter ini jadi menarik lantaran sifat curiosity cabinet alias keantikan tokoh Q-Bong dalam memberikan jawaban-jawaban. Bisa jadi kita masih menertawakan sesuatu yang “asing” dalam karya ini.

Namun sikap tulus Dessy dalam merekam membuat kita paham bahwa menertawakan keasingan tak selalu dosa. Dunia ini terlalu rumit untuk dipahami dengan satu cara saja dan memang ada cara lain untuk memahaminya. Tak perlulah kita ngotot mengubahnya, bahkan tak perlu juga berkeras bahwa kita akan selalu paham cara hidup orang lain, karena jangan-jangan kemampuan kita memahami juga punya batas. Maka ketulusan sikap seperti yang ditampilkan seperti video ini saja jangan-jangan sudah bisa menyelamatkan banyak nyawa dalam keadaan kehidupan bersama kita sekarang ini.

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Everything’s OK (Tintin Wulia)

Diantara pembuat film pendek generasi 2000-an, Tintin Wulia adalah salah seorang dari yang percaya bahwa film pendek adalah sebuah karya sendiri yang perlu ditekuni sungguh-sungguh secara tersendiri, dan bukan jalan masuk untuk membuat film panjang. Dengan komunitas Minikino yang ia bentuk di Bali, Tintin mempromosikan film pendek sebagai sebuah cara untuk “detox” dari konsumsi medium audio visual yang tak perlu. Kini ia lebih suka disebut sebagai seorang “seniman” ketimbang pembuat film pendek, karena karyanya meluas, tak terbatas pada medium film (atau video) pendek saja.


Dalam Everything’s OKini, Tintin menggambarkan salah satu masalah klasik yang begitu mudah ditemui di berbagai negara: urbanisasi dan pertumbuhan kota yang menurunkan kualitas lingkungan hidup secara drastis serta dominasi ruang oleh bangunan-bangunan besar. Penggunaan bahan-bahan sederhana pada film ini menimbulkan kesan figuratif: sebuah penceritaan yang universal dan mudah ditangkap siapa saja. Namun karya ini sama sekali tidak naïf. Judul film pendek ini memperlihatkan ironi yang ingin digambarkan oleh Tintin dan ironi yang diniatkan begini hanya bisa muncul dari kecerdasan, tidak dari kenaifan.

Selain grafis animasi yang istimewa dari kesederhanaan itu, karya ini kuat pula dari ironi yang dihasilkannya. Ironi ini bisa berarti sikap Tintin untuk menertawai diri sendiri (sebagaimana Voltaire menggunakan figure l’ingeunue untuk menertawai kebodohan prang-orang seperti dirinya) atau justru sebagai sindiran bagi kemapanan yang dihasilkan oleh sebuah “mesin besar”. Tintin mengimplikasikan ironi itu sebagai sebuah sindiran terhadap “mesin besar” tersebut sekalipun ia tak mendefinisikan apa atau siapa atau bagaimana rupa si mesin besar itu. Ia hanya menggambarkan perilaku: sesuatu yang bisa melekat pada siapa saja dalam posisi sosial politik yang bagaimana saja.

Maka Everthing’s OK adalah sebuah kerja kebudayaan, kerja seni, yaitu ketika seniman memotret perilaku secara figurative dan membiarkan penafsiran terhadap siapa pelaku itu berada di tangan penonton sepenuhnya. Terus terang saja, tak banyak seniman kita yang mampu berada pada posisi seperti ini, bisa jadi karena kenaifan mereka, bisa jadi karena memang tak ada posisi yang mereka pijak sebagai tempat memandang persoalan.

Lihat video Everything’s OK di sini: Everything’s OK (Tintin Wulia)

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Alam: Syuhada (@Hanifrancajale)

Inilah sebuah film dokumenter yang berangkat dari permainan makna ketimbang dari usaha untuk merekam sebuah realitas. Siapa anak bernama Alam ini yang tampak dipilih secara acak dan tak bisa kita anggap sebagai anak yang mewakili orang-orang segenerasinya? Apa pula usaha si pembuat film yang hanya merekamnya dalam satu kesempatan di sebuah angkot dan membiarkan anak itu bicara semaunya tanpa diberi konteks? Mengapa gambar-gambar jalan raya tampil begitu saja di film ini tanpa ada landasan estetika? Ini karya apa?

Namun kurator dan seniman Hafiz Rancajale cukup paham bahwa permainan makna ini akan menyebabkan munculnya “pembacaan”, termasuk dari orang-orang seperti saya. Bayangkan pernyataan bahwa anak seperti Alam ini bercita-cita mati syahid, karenanya ia ingin menjadi tentara. Bukankah ini perayaan tautan-tautan makna ketimbang sebuah representasi kenyataan? Bagaimana mungkin Tentara Nasional Indonesia (atau ABRI pada masa lalu) bisa diidentikkan dengan makna “mati syahid”? Bukankah bagi para pengejar “mati syahid” di Indonesia, TNI justru bermakna “thogut” yang patut diperangi dengan kekerasan?

Pembacaan-pembacaan macam ini tak urung akan muncul melihat Alam: Syuhada, yang bisa membuat karya ini berjalan-jalan cukup jauh ke berbagai festival. Bagaimanapun, karya ini lahir dalam sebuah konteks bernama Indonesia, sebuah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, dan lokasi terjadinya salah satu peristiwa terorisme internasional terbesar sesudah penabrakan menara kembar di New York, Amerika Serikat. Maka ke-syahidan Alam dan segala akan tertaut pada fakta-fakta itu. Dengan kecerdasan pentautan makna, Hafiz tak perlu jauh-jauh ke pelosok dan repot mengikuti hidup orang lain. Ia cukup bermain-main dengan makna dan sebuah karya terbentuk karenanya.

Saya tak akan merayakan pentautan makna semacam ini sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang mengejar fakta. Bagi saya, ada peluang untuk melihat karya semacam ini sebagai sarana memperlihatkan kemampuan manusia sebagai makhluk simbolis. Bukan hanya pada subyek yang direkam, tetapi lebih kepada si perekam, Hafiz, yang perlu juga dipandang sebagai makhluk yang sedang bermain-main dengan simbol itu. Perhatikan baik-baik bagaimana Alam menjawab pertanyaan Hafiz di angkutan umum itu. Apakah anda yakin bahwa Alam tidak sedang mempermainkan Hafiz dengan jawaban-jawabannya? Ketika yang penting hanya tautan-tautan makna, maka bisa saja kita membacanya demikian, bukan?