A Gay Girl in Damascus: Amina Profile (2015)

GayGirlInDamascus_Web.0Salah satu film dokumenter yang bicara tentang posisi moral lewat tradisi yang sedang terbangun: internet personality. Kebanyakan kita merasa internet personality hanya semacam permainan lucu yang konsekuensinya tipis-tipis saja. Namun film dokumenter ini melakukan penilaian moral alias moralisasi terhadap internet personality bernama Amina yang punya dampak luas dan dalam.

Ini bisa terjadi karena beberapa hal ini.

Pertama, Amina mengaku sebagai seorang lesbian yang hidup di Suriah di masa rezim Bashar al-Asad. Ia membuka identitasnya, menjadikan dirinya rentan terhadap rezim dan masyarakat Suriah sendiri. Dengan kemampuan bahasa Inggris-nya yang amat baik, ia seakan menjadi juru bicara perlawanan dan jadi ikon yang ditempatkan sedemikian rupa oleh para “penganjur demokrasi “.

Kedua, dengan posisi seperti itu, hidup Amina diletakkan dalam “kerangka” yang mirip dengan tokoh seperti Aung San Suu-Kyi di Myanmar atau Malala di Pakistan. Mereka menjadi suara yang genuine berbicara dengan bahasa lokal mengenai problem defisit demokrasi dan pentingnya perubahan sosial politik. Mereka adalah token yang tumbuh secara organik menyuarakan nilai-nilai “Barat”, seakan menegaskan nilai itu netral dan universal.

Ketiga, universalitas nilai itu jadi dasar bagi penempatan posisi Amina (atau Suu-Kyi atau Malala) untuk “menjadi contoh” bagi masyarakat lain yang dianggap belum mau menjalani perubahan. Mereka harus jadi simbol, jadi pemikir dan juru bicara yang sah mengenai transformasi sosial politik secara global.

Yang unik dari Amina adalah seksualitasnya. Selain juru bicara lain yang ada di Suriah, posisinya sebagainya lesbian juga berpeluang menampilkan sebuah kepolitikan yang lebih radikal: kaitan antara demokratisasi dengan pembebasan represi seksual. Lantaran agama secara alamiah dianggap berada di jantung hati represi politik, maka posisi Amina menjadi simbol perlawanan politik identitas dan demokrasi dalam arti luas.

Dengan posisi seperti ini, profil Amina pun dibuat oleh surat kabar terkemuka macam the Guardian.

Namun bagaimana jika Amina bukan Amina dan ia dibuat hanya untuk bersenang-senang? Bagaimana jika di belakang Amina adalah seorang lelaki Amerika paruh baya yang horny dan memakai figur lesbian sehingga ia bisa melakukan virtual sex dengan seorang perempuan bernama Sandra Bagaria yang mudah tertipu?

a-gay-girl-in-damascus-lesbian-blogger-becomes-syrian-revolt-hero.png
Amina menjadi pahlawan bagi hak-hak kemanusiaan dan demokratisasi dalam konteks Arab Spring, sebuah gelombang demokratisasi yang sempat dianggap mengakhiri sentimentalisme postkolonialisme karena membuktikan universalnya nilai-nilai demokrasi Barat.

Film dokumenter ini memperlihatkan landasan rapuh bagi tokenism seperti itu. Segala langkah peneraan atribut ketertindasan pada karakter Amina jadi berantakan ketika figur itu ternyata rekaan belaka. Daftar yang runtuh itu sebetulnya banyak, tetapi dokumenter ini lebih suka membicarakan konsekuensi dari apa yang dilakukan oleh “Amina” ini.

Sang pembuat film, Sophie Deraspe, menggambarkan, betapa perhatian yang diberikan kepada “Amina” telah membuat dunia Barat teralih dari persoanal dan figur sejati yang seharusnya mereka perhatikan. Lewat kesaksian (dan kemarahan) dari beberapa aktivis Arab Spring di Suriah dan Lebanon, kita mengetahui betapa besar tenaga dan kecemasan yang tertumpah untuk permainan ini. Posisi sang filmmaker jelas: kita diminta menghakimi posisi moral “Amina” yang telah bermain-main dengan soal amat penting demokratisasi politik bertaruh nyawa yang menegaskan universalitas moral Barat.

Konsekuensi lain yang justru menjadi inti pokok film ini adalah kisah asmara Amina. Ia berhasil menipu Sandra sehingga mereka “berpacaran” secara resmi sekalipun keduanya belum pernah bertemu langsung. Amina dalam film ini digambarkan sangat sensual. Bahkan bagi saya film ini mengobyektifikasi Amina sedemikian rupa dengan gambar artistik perempuan telanjang yang kerap muncul sebagai transisi antar sekuen. Terus terang, penggambaran perempuan telanjang ini sangat janggal, seperti hendak menegaskan manipulasi yang dilakukan oleh Amina terhadap korbannya di satu sisi, tetapi di sisi lain terjadi erotisasi dalam karakter dan hubungan kedua orang ini, seakan Sandra tak punya kehendak lain kecuali tunduk sepenuhnya pada posisi-posisi dan peran erotis itu.

a-gay-girl-in-damascus-sc-007.jpg

Maka yang luput dibicarakan oleh film dokumenter ini justru selective partisanship yang lahir dari tokenism Barat. Sang pembuat film melakukan moralisasi – penghukuman moral – terhadap posisi Amina, dan tidak terhadap media yang telah tanpa periksa menjadikannya pahlawan dan simbol perlawanan. Tentu filmmaker berhak memilih posisi moral mereka terhadap subyeknya, tapi justru itu soal penting dalam film dokumenter (dan sebenarnya juga kritikus), yaitu: tindakan moralisasi juga berlaku bagi mereka dan pilihan-pilihan yang mereka buat.

Moralisasi yang dilakukan oleh pembuat film ini tidak membatalkan integritas film ini, apalagi posisinya sebagai argumen terhadap bahaya internet personality yang dibangun secara sembarangan. Dengan sangat tepat film dokumenter ini memperlihatkan ‘share’ atau ‘like’ yang dilakukan secara pribadi di ruang privat punya dampak publik yang luas, sangat luas.

Yang jadi persoalan bagi saya adalah personalisasi persoalan. Bisa jadi penipuan dalam virtual sex memang penting, tapi ini menyembunyikan soal yang lebih besar yaitu apa sesungguhnya yang membentuk ‘publik’ itu sendiri. Jelas publik dibentuk oleh wacana yang tersirkulasi dan perhatian terhadap wacana itu, dan inilah yang seharusnya mendapat pemeriksaan lebih jauh untuk bisa melongok apa yang membuat masyarakat sekarang ini bekerja.

Montage of Heck (Brett Morgan, 2015)

image

Kembali kita berhadapan dengan mitos. Ia juga wafat pada usia 27 tahun dan dianggap single-handedly mendefinisikan satu generasi. Mungkin anggapan itu berlebihan, tapi bagi para pengagum dan pengikutnya, Kurt Cobain telah membantu turut mendefinisikan masa-masa paling kritis dalam hidup mereka. Miriplah dengan posisi nabi, pemuka agama dan kerap kali pasti lebih dari orang tua.

Kurt Cobain adalah sebuah ikon yang tak mungkin ditinggalkan ketika berbicara dekade 1990-an, sebuah era yang menjadi transisi antara dua abad. Sebuah era ketika kata-kata seperti persetan, heck, whatever menjadi semacam mantra yang bisa merumuskan sebuah perpisahan dengan dekade yang mengaitkan politik, kolektivitas dengan ideologi. Kurt Cobain adalah sebuah ikon yang melegitimasi pengabaian terhadap gagasan perubahan yang diusung bersama slogan, dan vulnerability, ketimbang machismo, sebagai sebuah archetype untuk kepolitikan baru (ingat Kuldesak?).

Inilah mungkin sebuah troupe – atau sebutlah genre – yang sedang mendapat penegasan dari film dokumenter, yang sedang melakukan mistifikasi-demistifikasi musisi-musisi yang mendefinisikan generasi. Berbeda dengan dokumenter musik yang jadi program yang banyak disajikan oleh BBC Four, troupe ini memasuki ruang intim dan mendadar informasi-informasi non-musikal ketimbang mendudukkan mereka dalam konteks perkembangan musik sejaman. Inilah era ketika Zeitgeist tak lagi dipercaya keberadaannya sebagai penentu sebuah era, dan sejarah dipersonalisasi bahkan dibuat jadi intim, dirumuskan melalui apa yang terjadi di kamar tidur dan buku diary ketimbang di jalan atau ruang-ruang publik.

Cara melihat seperti ini akan melengkapi apa yang sudah diketahui para penggemar Cobain, membuat resonansi pengalaman dalam memandang masa yang sudah lewat. Ketimbang nostalgia yang memastikan masa lalu itu tak punya relevansi lagi saat ini, pendekatan ini mengajak kembali menyusuri pengalaman itu, sambil menimbang-nimbang seperti apa masa kini seharusnya dipahami. Maka sejarah adalah mengalami kembali afeksi masa lalu di saat sekarang, ketimbang merumuskan pertentangan-pertentangan ideologis.

Dokumenter ini sendiri disusun dengan metode yang mirip dengan arkeologi media. Mirip dengan metode Antonio Somaini (berdasar inspirasi Jusi Parikka) ketika ia menemukan buku catatan harian Sergey Eisenstein ketika menjabat kepala museum di St. Petersburg. Dari serpihan-serpihan catatan itu,  Somaini melakukan inferensi – – seperti metode arkeolog yang menggunakan potongan keramik untuk mendefinisikan peradaban yang melahirkannya–  guna memperlihatkan interaksi Eisenstein dengan dunia ide yang ada di sekitarnya dan di masanya. Brett Morgan, yang mungkin tak pernah membaca buku Somaini, menggunakan metode serupa untuk memperlihatkan perkembangan Kurt Cobain sebagai pribadi yang rapuh dalam lingkungan yang intim di periode tertentu kehidupannya. Bahkan teknik animasi yang dipakai Morgan untuk menjelaskan suasana emosional Cobain mirip dengan metode Somaini untuk menjelaskan makna coretan Eisenstein dalam perkembangan intelektualnya.

Yang juga terpastikan adalah rekonstruksi lewat animasi untuk mengaksentuasi emosi, ketimbang fakta. Jika Waltz with Bashir memakai animasi sepenuh film karena rekonstruksi fakta tak bisa dilakukan lewat cara lain, maka Montage of Heck menempatkan afeksi yang berada pada posisi itu. Sebuah teknik yang mungkin sudah lebih mapan pada film fiksi.

Kini saya masih menunggu Little Girl Blue (Amy Berg, 2015) yang bercerita tentang Janis Joplin untuk melengkapi pembahasan film dokumenter dengan para musisi yang wafat di usia 27 ini. Bisa jadi lewat film itu sebuah jawaban atas pertanyaan sederhana: “mengapa sekarang” bisa membuat kita meninjau ulang kepercayaan kita pada kebenaran (yang tersalur lewat tradisi kita bersikap terhadap film dokumenter) dan mitos yang kita pegang erat-erat, bahkan ketika kita mendapatkannya secara counterintuitive.

Narkotika, negara dan kewargaan

image

Cartel Land (Matthew Heinemann, 2015)

Dari daftar pendek film dokumenter yang diunggulkan mendapat Piala Oscar, saya merasa film ini akan menang karena beberapa alasan.

Pertama, film ini menceritakan sesuatu yang dekat secara geografis dan emosional dengan publik Amerika secara umum dan anggota Academy secara khusus. Kisah film terjadi di Meksiko, tentang perdagangan narkotika. Tentu film ini relatif mudah memperoleh perhatian ketimbang para pesaingnya. Promosi yang mengasosiasikan film dokumenter ini dengan Breaking Bad dan Sicario adalah bagian dari keakraban itu.

Kedua, film ini punya posisi moral yang jelas, sekalipun ada kompleksitas dan lapis-lapis persoalan yang cukup rumit. Kisah dua kelompok vigilante di dua negara terpisah punya cukup landasan moral untuk dijatuhi simpati mengingat kisah superhero juga punya semangat pengambilalihan hak monopoli kekerasan negara berdasarkan self-righteousness. Beda kisah para vigilante di sini dengan film superhero adalah penggambaran ‘negara gagal’ dalam Cartel Land. Di film superhero, para supervillain itu memang berada di atas kualitas manusia, sehingga penyelesaian masalah harus berlandas kekuatan ukhrawi sejenis, dengan syarat para superhero ini mau patuh pada negara dan tidak menggunakan kekuatannya bertentangan dengan opini publik (ingat film Hancock?).

Pada Cartel Land, kegagalan negara digambarkan berbeda, antara Amerika dengan Meksiko. Amerika mengenal ‘wild west’ yang merupakan sebuah wilayah terisolir dari perkembangan demokrasi, sebuah wilayah transisional sebelum memasuki sebuah tatanan dengan sistem hukum dan wilayah geografis dengan rule of law. Namun Meksiko di Cartel Land digambarkan sama sekali tak punya peluang menjalani situasi transisional itu. Kelahiran superhero lokal yang berusaha memberantas supervillain harus berhadapan dengan negara dan kelemahan metode mereka sendiri yang longgar. Negara sama sekali tak bisa jadi panduan moral, bahkan posisinya menjadi bagian dari supervillain. Maka jika kewargaan Amerika pada film superhero ditentukan oleh kompas moral yang disediakan oleh negara, maka pada Cartel Land, apa makna kewargaan ketika negara melakukan kooptasi jahat dan mendomestikasi gerakan sosial yang genuine? Maka dengan posisi moral seperti ini, Cartel Land serupa dengan Sicario yang menempatkan Meksiko sebagai ‘the brown others’.

Ketiga, film dokumenter ini dibuat dengan gaya fiksi yang akrab dengan tradisi audio visual Hollywood. Cerita dibangun secara kronologis, mengikuti perkembangan karakter dan peristiwa. Misce-en-scene dibuat berdasar kesatuan ruang dan waktu, dan hampir semua sudut pandang kamera mengikuti kedua tokoh utama. Shot juga dibuat seakan berdasar motivasi karakter.

Tradisi ini relatif diakrabi penonton yang terbiasa dengan formula Hollywood dan terasa ‘lebih menghibur’, persistent seperti kata sutradara Matthew Heinemann bahwa film dokumenter “tidak harus membosankan” sekalipun itu artinya ia harus melakukan retake dan meminta para “aktor” – nya mengulang adegan ketika mereka ‘memasak’ amphetamine di dekat perbatasan.

Terlepas dari apakah film ini akan mendapat Piala Oscar atau tidak, bagi saya Cartel Land adalah salah satu film dokumenter paling mengasyikkan dan menegangkan untuk ditonton. Keberhasilan Heinemann memfilmkan ‘zona perang’ dalam keadaan konflik sedang terjadi, patut mendapat penghargaan tersendiri.

What Happened, Miss Simone (Liz Garbus, 2015)

what_happened_miss_simone
Salah satu unggulan penerima Piala Oscar tahun 2015 untuk kategori film doekumenter panjang, dengan judul yang diambil dari kutipan kata-kaya Maya Angelou. Nina Simone dicintai banyak orang tapi tiba-tiba ia seperti “menghilang” dari publik Amerika, dan film dokumenter ini menjelaskannya bahwa itu disebabkan oleh keberpihakannya terhadap gerakan hak-hak sipil dekade 1960-an, dan lagunya yang kontroversial, jujur dan brutal, Mississippi God Damn.
Kontraknya kemudian diputus karena para promotor tak mau membuat panggung mereka jadi pernyataan politik Nina dan lagunya yang judulnya mengandung sumpah serapah. Ia kemudian terpinggirkan karena suaminya yang juga sponsornya pelan-pelan meninggalkannya dan menampakkan sifat aslinya yang gemar melakukan kekerasan. Ia kemudian pindah ke Liberia dan hidup sebagai orang yang penuh beban kemarahan terhadap situasi yang dihadapinya dan kemarahan terhadap bekas suaminya.
Ia kemudian pindah ke Swiss dan bertemu teman lamanya yang lalu mencoba menampilkannya lagi. Penampilannya di festival jazz di Montreux ini menjadi pivot bagi film dokumenter ini karena memperlihatkan kompleksitas perkembangan karakter Nina dari seorang anak yang bercita-cita menjadi pianis klasik kulit hitam pertama hingga menjadi penghibur yang dikenal dengan vokal yang menggetarkan.
Diceritakan secara kronologis, dan menggunakan penuturan wawancara sebagai narasi, kisah penyanyi bernama asli Eunice Waymon ini berhasil menggambarkan bahwa kecintaan dan tragedi adalah dua sisi dari satu mata uang.
Saya cantumkan tautan konser Nina Simone di Montreux tahun 1976 ketika ia menyanyikan lagu Stars karya Janis Ian. Lagu ini seperti menggambarkan takdir dirinya sebagai seorang bintang, sekaligus menjadi self-commentary, self-pity dan pengakuan bahwa tragedi adalah bagian dari takdir itu.

Film Dokumenter 2014: Sacro GRA (Gianfranco Rossi)

Sacro GRAManusia mungkin mempengaruhi lingkungan fisik mereka, tapi film dokumenter yang lebih mirip film esei ini ingin menyatakan sebaliknya. GRA di sini adalah Grande Raccordo Anulare atau jalan lingkar utama yang mengelilingi kota Roma. Rossi memperlihatkan seakan jalan itu punya kualitas suci sehingga manusia-manusia yang hidup di sekitarnya patut untuk direkam dan disajikan kepada penonton ketika mereka menjalani kehidupan sehari-hari.

Namun keseharian orang itu bukan semata bunga rampai yang acak. Untuk subyek-subyeknya, Rosi seperti sedang membuka toko pakaian dan memilih manekin-manekin yang amat sangat tidak biasa untuk ia pajang di etalase. Orang-orang yang direkamnya adalah: seorang nelayan belut yang ngomel-ngomel dengan sebuah liputan koran tentang penangkapan belut, seorang petugas ambulan yang ibunya mulai pikun, penari erotis di rumah minum remang-remang pinggir jalan, penghuni rumah susun yang ingin jadi DJ, dan, yang paling unik buat saya: seorang perekam suara larva serangga di pohon palem. Orang-orang ini direkam ketika melakukan kegiatan keseharian mereka, tapi karena keunikan mereka, Rosi seperti sedang menyajikan sebuah karnaval dengan para peserta yang memakai kostum beraneka ragam.

Inilah narasi yang tidak sedang mengarahkan penonton untuk mengidentifikasi diri dengan karakter di dalamnya. Juga tidak usaha untuk memberi perspektif atau pemahaman tentang apa dan bagaimana dunia yang ada pada orang-orang itu (dan karenanya juga dunia kita ini) bekerja. Jika ada yang ingin diwakili oleh film ini, tampaknya Rosi ingin menghadirkan kota Roma dari wajah yang lain sama sekali dari apa yang digambarkan dalam banyak sinema tentangnya. Berbeda dengan gambaran kota Roma di The Great Beauty (Sorrentino, 2013) bahkan juga berbeda dari Roma, Open City (Rosselini, 1945), ibukota Italia ini tampil sebagai sebuah daerah pinggiran yang identitasnya tampak tak terdefinsikan.

Saya sendiri tak kelewat berminat melihat film ini sebagai bagian dari usaha merepresentasi wajah lain kota Roma. Saya merasa bahwa film ini mirip sebuah lamunan panjang tentang kenyataan-kenyataan dan orang-orang yang sulit dipahami secara selintas, tapi pada saat yang sama juga terasa akrab pada momen-momen tertentu. Bagi saya ajakan melamun yang dibawa oleh film semacam ini amat menarik, sekalipun saya tak ingin terlalu lama berada dalam keadaan seperti ini.

Catatan: film ini menjadi film dokumenter (atau non-fiksi) pertama yang meraih penghargaan Sapi Emas di Festival Film Venesia 2014 lalu.

Film Dokumenter 2014: The Iron Ministry (J.P. Sniadecki)

Iron MinistryBerangkat dari tradisi yang sama dengan Manakamana, film dokumenter ini juga mengandalkan pada efek persepsi sensori dan tema yang bersifat sehari-hari. Namun The Iron Ministry tampaknya tidak menginginkan kata ‘konsisten’ menjadi bagian dari formula yang dipakai dalam menyusun film ini, karena terasa sekali film ini begitu eklektik, campur aduk, baik secara naratif maupun dalam pengambilan dan penyusunan gambar-gambarnya. Terkadang film ini bagai pengamatan yang dalam tanpa dialog, tetapi kadang merekam percakapan yang anekdotal, bahkan sesekali si filmmaker (orang Amerika yang fasih berbahasa Cina) bertanya kepada subyek dalam filmnya bagai seorang wartawan.

Film ini menceritakan perjalanan dengan kereta api di Cina, dibuat dalam waktu 3 tahun dalam berbagai macam kereta dan perjalanan, mulai dari kereta yang kumuh dimana penumpang tidur di lantai hingga kereta mewah dengan penumpang berpakaian mentereng. Snediacki memulai dengan pengambilan gambar berlama-lama (long take), tapi ia seperti tidak sabar sendiri. Kameranya mulai bergerak dan menyapu sekitar, tiba pada benda-benda yang ‘penting’ dalam konteks cerita di atas kereta, seperti daging dan lemak binatang yang dibawa masuk ke dalam kereta, anak kecil yang meniru pengumuman kereta dengan gaya bicara formal (tapi isinya ngawur), hingga percakapan antara penumpang beragama Islam dengan penumpang lain tentang kerukunan beragama di Cina(!). Snediacki ikut serta di dalam narasi sebagai seorang yang mengamati dan bertanya-tanya, seperti sedang mengisi waktu ketika sedang melakukan perjalanan bersama dan merasa bosan karena panjangnya waktu perjalanan. Problem kelas dan komentar sosial politik muncul juga dalam berbagai adegan semisal penggambaran kereta mewah, perbandingan gerbong restorasi, dan juga percakapan para pemuda tentang reformasi di Cina dan keinginan untuk beremigrasi karena problem lingkungan hidup yang parah.

Dengan gaya yang sulit terumuskan ini, Sniadecki seperti sedang merumuskan ulang esensi mengenai apa yang dianggap “sinematik” dalam film dokumenter. Ia tak seperti Flaherty yang berlaku sebagai seorang petualang mengunjungi bangsa terpencil, eksotis dan menyajikannya dengan cara mengklaim bahwa yang direkamnya adalah faktual. Ia juga tidak mengusahakan representasi lengkap tentang Cina kontemporer lewat filmnya. Bagi saya, ia sedang memperlihatkan bahwa proses perekaman dan penyuntingan pada film dokumenter mungkin hanya bisa mencapai pemahaman yang bersifat keseharian dan hanya bisa dipersepsikan secara terbatas. Serupa belaka dengan pengalaman seorang penumpang kereta juga terbatas dan tidak konsisten.

Film Dokumenter 2014: Manakamana (Stephanie Spray, Pacho Velez)

ManakamanaFilm dokumenter ini dibuat oleh kedua sutradara yang termasuk dalam kelompok Sensory Ethnography Lab dari Universitas Harvard. Mereka mencoba untuk membuat film dengan pendekatan baru dalam merangsang sensori persepsi kita. Jika film-film Hollywood (dengan puncaknya Transformer dan film-film Michael Bay) mengandalkan pada efek sensori yang bombastis dan spektakuler serta elemen naratif yang berpusat pada penyelamatan dunia, kelompok ini mengajukan sesuatu yang sama sekali bertolakbelakang, yaitu keseharian yang diabaikan sama sekali dalam kriteria apa-apa yang dianggap ‘sinematis’ dalam pengertian sinema (Hollywood) klasik. Orang-orang yang direkam nyaris acak (atau alasan pemilihan mereka tak tersaji secara eksplisit buat kita) dan elemen naratif film ini adalah keseharian yang membuat kita bertanya apa pentingnya bagi kita untuk menyaksikan wajah-wajah orang dan percakapan sehari-hari seperti ini.

Kedua filmmaker ini menempatkan kamera secara statis dalam sebuah kereta gantung yang menuju ke kuil Manakamana, sebuah kuil di Nepal yang terletak di puncak sebuah gunung. Satu adegan tersusun dari perjalanan dari satu terminal ke terminal lain ditandai dengan layar yang menghitam sebagai transisi yang terjadi ketika kereta gantung itu memasuki stasiun dan tak ada koreksi terhadap pencahayaan sehingga layar hitam total. Maka transisi perubahan penumpang di dalam kereta seakan terjadi alamiah sekalipun dari ragam penumpang yang muncul di layar kita tahu bahwa ada pemilihan, ada editing, yang membuat pilihan jadi beragam. Perhatikan misalnya ketika beberapa ekor kambing muncul di layar sebagai subyek yang melakukan perjalan dengan kereta gantung itu. Apakah kambing dan manusia sama saja maknanya dalam persepsi sensori kita? Apakah kambing yang mengembik kaget di kereta gantung itu melonjak, harus dimaknai sama dengan beberapa anak band berambut gondrong, berkaos hitam dan sibuk ber-selfie sambil ngoceh tentang penampilan rekan mereka di pentas ini dan itu?

Saya tak ingin terlalu cepat menyebut film ini sebagai post-humanis cinema, tetapi saya setuju jika film ini menggabungkan antara manusia dengan lingkungannya (termasuk pemandangan indah di luar kereta gantung itu) sehingga membuat manusia agak tidak signifikan. Bagi saya, inilah film yang benar-benar memberi tantangan pada persepsi sensori saya karena saya dibiarkan untuk mendengar dan memandang baik-baik pada film ini, agar bisa menangkap sesuatu darinya. Catatan iseng saya, ingin juga saya menonton film dokumenter ini dalam format 3D IMAX. 🙂

Film Dokumenter 2014: The Look of Silence (Joshua Oppenheimer)

TloSSulit untuk melihat film ini terlepas dari film sebelumnya, The Act of Killing, bukan hanya lantaran film ini seperti melengkapi cerita peristiwa 65-66 dengan sudut pandang keluarga korban yang sedang mencari keadilan, tapi saya ingin melihatnya dari sudut pandang lain: posisi Joshua Oppenheimer. Jika pada The Act of Killing Joshua berlaku seperti anak kecil pada cerita HC Andersen, The Emperor New Clothes, yang sedang memberi tahu seluruh bangsa Indonesia bahwa kita sedang tidak pakai baju, maka di sini ia mengambil posisi yang lebih rentan terhadap kesenjangan pengetahuan itu. Maka bagi saya film dokumenter ini jadi terasa lebih berpeluang untuk menempatkan Joshua sebagai sang pencari ketimbang semata menyodorkan wacana bahwa ia adalah anak kecil yang innocent dan jujur adanya.

Perhatikan bagaimana para subyeknya berkata, “kalau tahu gini, saya tak mau Josh!” yang merupakan kekesalan karena Joshua mempertemukannya dengan Adi Rukun. Ini bagi saya memperlihatkan bahwa campur tangan filmmaker dalam film dokumenter ini tak kelewat disembunyikan, dan karena itulah konfrontasi Adi dengan para pelaku terjadi. Joshua lah yang melempar batu ke mayapada semula film (putative reality) agar terjadi gelombang cerita di dalam dunia film dokumenter (pro-filmic reality) ini. Hal ini tak ia tampakkan pada The Act of Killing karena jika hal itu muncul, implikasi etis dari film itu amat sangat besarnya, seperti pertanyaan ilmuwan Australia Robert Cribb (yang sudah puluhan tahun meneliti soal pembantaian massal terhadap PKI dan simpatisannya) ketika membahas film itu. Dari kedua film ini, ketimbang semata mengatakan bahwa Joshua ekspoitatif terhadap subyeknya, saya lebih suka melihatnya sebagai sebuah usulan penting berkaitan dengan film dokumenter: definisi film dokumenter tak akan pernah lepas dari problem etiknya sejak semula.

Dengan begini, film dokumenter ini bagi saya menjadi lebih menarik ketimbang The Act of Killing, sekalipun tanggapan terhadapnya tak mungkin ecstatic seperti film sebelumnya. Padahal film ini adalah tentang konfrontasi, tentang sebuah upaya untuk membuat sesuatu yang dianggap alamiah menjadi tidak alamiah lagi dan berubah selamanya. Kemudian di atas cara pandang baru terhadap dunia itu diharapkan seharusnya terbentuk sesuatu yang sama sekali baru untuk dibangun bersama. Karena jika tidak, yang ada adalah suasana sunyi senyap, dimana yang bertanya dan yang ditanya sama-sama tidak bisa mengeluarkan jawaban apa-apa terhadap konfrontasi yang terjadi. Bayangkan seandainya Einstein merumuskan teori relativitas kemudian tak ada apapun yang dihasilkan dari situ.

Maka jika The Look of Silence ingin dilihat sebagai miniatur dari bangsa Indonesia dan keadaan dunia kontemporer kita, maka sesungguhnya ada sebuah ajakan serius dari film ini – bersama-sama The Act of Killing – untuk melakukan denaturalisasi terhadap kekerasan-kekerasan berbasis ideologi dan kemudian memepertanyakan kesertaan, kediaman bahkan kerjasama kita di dalam soal-soal besar seperti itu. Jika tidak, maka kemanusiaan akan berhadapan dengan situasi sunyi senyap yang maha canggung seperti yang digambarkan pada beberapa momen penting di dalam film ini.

Film Dokumenter 2014: The Himalayan Boy and the TV Set (Thomas Balmes)

Sepintas film ini mengingatkan pada The Cup (2006), sebuah film tentang sekelompok biarawan muda di Tibet yang ngebet menyaksikan pertandingan putaran final Piala Dunia sehingga mengusahakan segala macam cara untuk menonton TV. Film ini akan mudah disimpulkan untuk masuk pada trope film seperti itu, terutama dengan latar belakang pegunungan Himalaya yang amat indah secara sinematis dan TV sebagai wakil modernisasi. Namun film ini tak sedang membuat perayaan seperti The Cup. Film dokumenter ini tidak ingin berada dalam posisi naif yang beranggapan bahwa teknologi bersifat polos tanpa dosa di tengah perayaan yang gegap gempita. Namun ada jebakan di ekstrem lain yaitu ketika teknologi digambarkan seperti mesin besar bernama Moloch, seperti pada film Metropolis (Fritz Lang, 1929) yang memakan kemanusiaan dan ketidakberdosaan anak pegununungan.

Maka untuk tak terjebak pada kedua ekstrem itu, Balmes mengajukan semacam sub judul pada film dokumenternya: Happiness alias kebahagiaan. Ia sedang mengajukan tema besar ini dalam keseharian, karena itulah pemaknaan perangkat seperti pesawat televisi dan segala kemajuan peradaban. Apakah memang kebahagiaan dibawa oleh mereka, atau kita yang terus menerus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi tanpa sungguh-sungguh bisa menikmatinya. Akhirnya dengan tema pencarian kebahagiaan ini, film dokumenter ini mengubah persoalan besar tarik menarik antara modernitas dan tradisi dalam bentuk sehari-hari berupa anak-anak yang bermain tanpa arah tanpa tujuan di padang yang luas atau atap rumah.

Film Dokumenter 2014: The Life Itself (Steve James)

Life ItselfInilah sebuah kisah yang tergolong memiliki narasi ideal film dokumenter Hollywood. Narasinya mirip-mirip dengan narasi neo-klasik yang berdasar pada: cerita tiga babak, motivational shot, editing menurut kesatuan ruang dan waktu serta tokoh utama model ideal (archetypal) yang hidupnya berjalan mirip seperti kisah from zero to hero. Ditambah dengan dedikasi dan rasa cinta sebagai pembicaraan utama, jadilah ini film yang sering diistilahkan sebagai heartwarming, film yang memberi rasa sendu dan damai di hati sesudah menontonnya.

Cinta dan dedikasi dalam film dokumenter ini kepada sinema, medium yang mungkin paling penting dan mencapai puncak kematangannya di abad keduapuluh yang baru lalu. Lewat tokoh kritikus film dari Koran Chicago Sun Times, Roger Ebert, medium itu diberi wajah personal dan kecintaan yang menggelora dan intelek pada saat yang sama. Ebert adalah salah seorang yang berada di garis paling depan dalam mencari dan merumuskan peran medium itu di dalam masyarakat. Bukan sekadar pencarian ‘nilai sosial’ atau ‘nilai kultural’ di luar makna hiburan, tapi justru dengan menegaskan bahwa hiburan itu punya nilai sosial dan kultural yang begitu penting pada saat transisi pergantian abad lalu menuju abad ini. Medium film yang dicurigai oleh orang-orang seperti pemikir aliran Frankfurt, Theodor Adorno, justru kemudian direngkuh ke dalam pelukan orang banyak, berkat orang seperti Ebert yang turut memberi makna penting bagi medium itu.

Mungkin lewat film dokumenter ini kita diajak melihat bahwa kecintaan terhadap medium itu memang begitu alamiah dan menjadi bagian sehari-hari yang tak terhindarkan. Karena di atas medium film, cinta Ebert pada film hanya bisa ditandingi oleh kecintaannya terhadap kehidupan itu sendiri.