Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono Bagian II – Apa Bener-Bener Dapat Duit “Suster Ngesot” itu?

Film-film layar lebar Indonesia sekarang ramai bermunculan mengisi layar beragai bioskop. Tapi, Edwin justru merasa perfilman Indonesia kini sedang sangat sepi. Ia merasa kehilangan film Indonesia yang inspiratif dan asyik ia nikmati sebagai bocah. Mengapa ia menghubungkan senyapnya keragaman dalam film Indonesia dengan masuknya Joko Anwar sebagai sutradara?

Joko Anwar: What do you think about Indonesian films?

Edwin: Film Indonesia? Sebenarnya sih saya nggak banyak nonton film Indonesia sekarang-sekarang ini, juga beberapa beberapa tahun belakangan.

Joko Anwar : Tahun 2007 ini saja deh misalnya

Edwin : 2007 ini saya nonton film apa ya? Keliatannya film Indonesia ramai, tapi ramainya itu apa ya, kurang enak gitu lah. Maksudnya ramainya terlalu dibuat buat. Kayak orang pengen ramai-ramaiin aja. Ramai tapi gak penting..

Joko Anwar : Kebanyakan nggak ada yang bisa dirayakan dari film-film Indonesia. Nothing to celebrate about, begitu maksudnya?

Edwin : Maksudnya, kalau ramai tahun 70-an, 80-an, waktu saya masih kecil, masih begobegonya dan belum tahu banyak, film (Indonesia-red) itu sesuatu yang sangat inspiratif. Asik untuk diikuti. Tapi sekarang nggak. Justru mungkin awal-awal film Indonesia setelah reformasi itu asik untuk diikutin. Mulai dari Garin (Nugroho), Nan (Achnas), trus ada Petualangan Sherina, enak gitu ngikutinnya. Tapi setelah lo masuk di saat yang rame banget, berkurang keberagaman tiba tiba. Padahal ramai kan? Suasananya tiba-tiba jadi sepi lagi, kayak semu gitu..

Eric Sasono : Karena Joko masuk, gitu?

Edwin dan Joko : Hehehehe..

Joko Anwar : Gue masih belum nangkep. Kenapa dengan zaman dulu, zaman si Garin dan segala macem…

Edwin : Gimana nggak rame, ada film seks, ada film Dono, ada film Teguh Karya yang ribet begitu, film mistiknya juga asik. Juga ada drama yang standar-standar aja kayak Roy Marten, Rano Karno. Tapi konsisten. Orang banyak merasakan ada keberagaman. Nah sekarang ini (film Indonesia-red) ramai tapi nggak berteriak apapun. Mereka tuh kayak nggak punya suara. Kita-kita ini, sekarang ini meramaikan buat apa? Untuk merayakan apa sih keramaian-keramaian ini? Kenapa orang bikin film? Mau duit doang? sebenernya saya juga bertanya, apakah benar-benar dapet duit si “suster ngesot” itu? Seberapa sih dapet duitnya..

Eric Sasono : Win, lo nggak nanya Joko, apa yang mau dia katakan dengan filmnya?

Edwin : Jok, kenapa sih lo masuk ke film disaat yang, menurut saya sebenernya…

Joko Anwar : Gue? lo juga masuk kan sama-sama gue..

Edwin : Nggak dong. Saya kan masih lebih muda. Maksudnya, saya belum bikin film Jok. Masih sering banget ditanyain, kapan bikin film beneran? Nah lo kan sudah pernah bikin film beneran. Janji Joni itu tahun berapa?

Joko Anwar : 2005

Edwin : Nah 2005. Ingat nggak Jok, kira-kira barengan sama film apa di tahun itu?

Joko Anwar : Jomblo, Apa Artinya Cinta , Gerbang 13, macam-macam …

Edwin : Tapi pada saat itu yang saya tonton cuma Janji Joni dan Gie. Apa Artinya Cinta saya nonton sambil ngeganja. Jadi buat seneng-senengan. Ngga cukup berhasil…

Joko Anwar : Jadi lo nggak banyak nonton film Indonesia? Kalau gue, semua gue tonton

Edwin : Jomblo aja gue nggak nonton..

Joko Anwar:Jomblo nggak nonton?

Edwin : Jomblo gue nggak nonton. Filmnya Hanung saya cuma nonton yang pertama, Brownies. Itu aja.

Joko Anwar : Bagus nggak?

(Edwin menjawab, tapi meminta jawaban untuk pertanyaan ini off-the record).

Edwin : Lo kan masuk di jaman itu. Perasaan lo gimana? Masuk di saat masih agak enak lah. Saya ngeliat tahun 2005 itu masih asik. Tahun 2006, 2007 itu saya sudah mulai agak-agak malas.

Joko Anwar : Kenapa malas? Lo bilang film Indonesia begini, begini, begini, tapi lo ngga nonton semua, gimana dong?

Edwin : Saya nonton film emang feelingfeelingan saja sih Jok. Yaa nggak tahu, mood waktu itu nggak enak untuk nonton film..

Eric Sasono : Kembali ke pertanyaan Edwin. Bagaimana perasaan lo Jok, masuk ke film pada waktu film Indonesia sedang tak terlalu baik lah..

Joko Anwar : Nggak ada masalah…

Edwin : Lo dengan kondisi tahun itu merasa film Indonesia akan bagus-bagus saja? Soalnya saya melihat tahun 2000 itu dengan semangat. Tahun 1998 sudah pengen masuk IKJ, sekolah film. Kalau saya pengen sekolah lagi di tahun 2002, saya nggak bakalan milih sekolah film. Mungkin kayak dulu aja, seneng-senengan nonton film, nggak pernah pengen bikin film. Tapi karena pas timing-nya, di tahun 1998 dan 2000-an itu, wah asyik nih, seru nih film kayaknya. Maka saya masuk sekolah film.

Joko Anwar : Kalau gue memandang film Indonesia secara atmosfir mungkin. Gue nggak pernah menganggap ini sebagai kondisi yang menyenangkan. Dalam artian ada sesuatu yang bisa di-celebrate apakah itu film yang komersil kaya Harry Potter atau film-film independen. Kan (film Indonesia) nggak ada yang kayak gitu. Untungnya di Indonesia itu sesekali ada yang membuat gue senang. Paling nggak ada sesuatu yang bisa membuat gue masuk ke bioskop nonton film-film indonesia. Tahun 2005 ada Realita Cinta dan Rock ‘n’Roll. Terus apa lagi ya? Pokoknya tahun itu ada beberapa film yang bikin gue seneng di bioskop. Bukan berarti filmnya film yang bagus tapi at least ada satu perasaan di dalam diri gue yang terwakili untuk mencari sesuatu yang bisa bikin guecelebrate. Dengan segala kekurangannya, Nagabonar Jadi 2 buat gue sangat entertaining dan juga well made. Lalu ada The Photograph yang worth watching, yang gue nggak ngerasa down dengan film-film yang bikin down… di atas bantal… hehehehe…

Edwin: The Photograph sih saya nonton…

***

Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono: Bagian I – Lewat Film Saya Bisa Bikin Puzzle

Di De Doelen, Rotterdam 2009

Tiga tahun lalu saya mengusulkan untuk mewawancara Joko Anwar dan Edwin. Namun ketika saya hubungi, Joko Anwar mengusulkan agar bentuknya saling tanya saja ketimbang wawancara. Maka jadilah percakapan tiga pihak yang pernah saya terbitkan di http://www.rumahfilm.org ini.

Ketika percakapan itu saya lakukan, saya berangkat dari alasan bahwa kedua sutradara muda ini memang berbakat. Namun saya tak menyangka bahwa dalam 3 tahun mereka sudah menjadi bakat-bakat yang juga diperhitungkan oleh sinema dunia. Film ketiga Joko Anwar, Pintu Terlarang, menjadi salah satu dari 100 film pilihan dekade 2000-2008 dari majalah Sight and Sound, sebuah majalah film bergengsi terbitan British Film Institute, Inggris. Filmnya yang lain, Kala, menjadi peraih penghargaan tertinggi bahkan ketika harus bersaing dengan film buatan sutradara terkenal Jepang, Takashi Miike.

Edwin dengan satu film panjang juga membuat jejak yang lumayan panjang. Filmnya, Babibuta Yang Ingin Terbang, berkeliling di 46 festival dengan berbagai penghargaan. Terakhir, nama Edwin masuk dalam buku Take 100: 100 New Directors and The Future of Films terbitan Phaidon yang menempatkannya bersama banyak pembuat film lain dengan nama besar seperti Bong Joon-Ho atau Carlos Reygadas.

Maka meninjau kembali percakapan yang terjadi 3 tahun lalu itu adalah sebuah tinjauan terhadap catatan kreatif dan lingkungan yang telah melahirkan mereka serta komentar mereka terhadap hal itu. Banyak pernyataan yang bisa dilihat jejaknya kini, dan mungkin nanti.

Di Tornado Coffee, Kemang, Jakarta, tempat para pekerja film sering berkumpul, 31 Agustus tahun lalu Joko Anwar bertemu dengan Edwin. Ditemani Eric Sasono, redaktur RumhFilm keduanya berbincang seru tentang ide, pencarian cerita, identitas, juga tentang director for hire. Joko memulainya dengan bertanya pada Edwin:

Joko Anwar :Kenapa lo milih Babi Buta yang Ingin Terbang sebagai film panjang pertama lo. Juga kenapa baru sekarang lo bikin feature?

Edwin : Tiba tiba ada perasaan kalau misalnya setahun atau dua tahun lagi sesuatu terjadi dan saya nggak bisa bikin film lagi, kira-kira harus bikin film apa? Apa sih yang paling saya pengen. Ternyata nongol lah cerita tentang babi buta yang ingin terbang ini; sebuah cerita yang sebagian besar, hampir 90%, adalah tentang pertanyaan-pertanyaan saya mulai dari kecil sampai sekarang. Tentang identitas lah

Joko Anwar : (Identitas) Sebagai?

Edwin : Sebagai… sebagai Edwin. Sebagai manusia yang kebetulan ternyata keturunan Cina. Terus juga banyak banget pertanyaan-pertanyaan yang waktu kecil kita ngga bisa tanya. Seperti: kok dilemparin batu? Kenapa? Kok yg lain nggak dilemparin batu?

Joko Anwar : Pernah dilemparin batu?

Edwin : Pernah.. pernah..

Joko Anwar : Karena lo Cina?

Edwin : (Edwin mengangguk) Karena adik saya keliatan Cina. Saya nggak pernah dilempari, karena nggak pernah keliatan Cina dari dulu. Adik saya tuh tampangnya Cina banget. Dia sebenarnya yang dilemparin, tapi karena kita pulang sekolah bareng, jadinya ya gitu..

Joko Anwar : Terus, korelasinya sekarang apa? Itu nggak terjadi lagi dong sekarang?

Edwin : Iya, mungkin aja sekarang nggak terjadi lagi. Tapi tetep akan nggak selesai-selesai kalau misalnya saya nggak terlalu tahu jawabannya apa. Jadi sampai film ini jadi kayaknya masih ada sesuatu yang belum selesai. Kalau misalnya film ini nggak dibikin, nggak enak bangetdeh rasanya. Jadi memang lewat film inilah saya jadi bisa bikin puzzle dari segala macam pertanyaan-pertanyaan. Misalnya kenapa dilemparin batu? atau kenapa waktu SD kita disuruh nulis milih warga negara Indonesia, pribumi, atau warga negara asing? Itu pertanyaan-pertanyaan yang nggak bisa dijawab sama orang tua dari dulu. Sekarang ini saya bisa konsentrasi untuk cari tahu kenapa semua begitu. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tapi kenapa ini terjadi, bagaimana itu bisa mempengaruhi personality seseorang.

Joko Anwar : Dapat nggak jawabannya dari bikin film ini?

Edwin : Minimal sih. Jawaban bulatnya tetepribet, tapi minimal ada sesuatu yang keluar. Bisa dibahas. Seneng bisa ngobrol sama anggota tim lainnya. Sama Dede misalnya, dia Cina juga. Sama Sidi (Sidi Saleh, sinematografer di film Edwin, red.) walaupun dia bukan Cina, tapi dia ternyata juga punya masalah karena dia Arab gitu. Walaupun masalahnya sepele-sepele tapi ternyata dia juga punya yang kayak gitu-gituan. Maksudnya, sesuatu yang tidak bisa didiskusikan selama berpuluh-puluh tahun ternyata sekarang pelan-pelan mulai enak untuk diomongin.

Joko Anwar : Film ini kan budgetnya terbatas. Sekarang kebanyakan orang menyikapi keterbatasan budget dengan menggunakan medium video ketimbang film seluloid, sementara lo masih tetap pakai film 35 milimeter. Kenapa? Pertimbangannya apa?

Edwin : Balik lagi ke tadi, di awal. Misalnya kita nggak bisa bikin film lagi, mau bikin film kayak apa? Yang pasti saya sih milih pakai film.

Joko Anwar : Kenapa?

Edwin : Itu alasan yang sangat romantis sebenernya. Saya tahu sekarang kalau mau bikin yang kayak indie-indiean begini ya memang agak-agak nggak realistis. Tapi untuk sesuatu yang menurut saya punya nilai personal tinggi, kayaknya perlu diperjuangkan untuk mendokumentasikan semua pertanyaan-pertanyaan – proses kerja ataupun proses pencarian diri kita ini – dengan sesuatu yang paling maksimal. Bukan bilang bahwa video itu nggak maksimal, tapi bagaimanapun film itu punya semacam image dialah yang paling pol. Jadi kita pengen ini didokumentasikan.

Joko Anwar : Dengan kata lain lo bilang bahwa film lebih superior daripada video?

Edwin : Bisa dibilang begitu. Maksudnya apapun yang kita shoot dengan film, itu punya nilai romantis yang lebih lah…

Joko Anwar : Provokatif nih…

Eric Sasono : Lo punya kekhawatiran nggak Jok, bahwa lo nggak bisa bikin film lagi?

Joko Anwar : Mmm…nggak!

Eric Sasono : Kenapa?

Joko Anwar : Mungkin karena membuat film sekarang gampang ya. Film gue setelah ini aja gue pikir untuk dibikin pake video, syuting gerilya. By the way kenapa musti khawatir?

Eric Sasono: Pertanyaannya gini deh. Seandainya lo punya kesempatan sekali lagi saja untuk bikin film. Akan seperti apa film itu?

Joko Anwar : Nggak akan mempengaruhi plan gua. Sekarang di Indonesia – diseluruh dunia juga sebenarnya – ada 2 jenis director. Yang pertama director for hire, sutradara yang mengerjakan film karena dihire untuk mengerjakan film…

Edwin : Seperti siapa?

Joko Anwar : Banyaklah…

Edwin : Nama dong nama…!

Joko Anwar : Banyaklah! Misalnya seseorang dipanggil sama produser untuk bikin film, mmmm (dia tanya) berapa budget? Satu M? oke gue bikinin, ceritanya apa? Nah kan ada yg kayak gitu. (Kategori) Yang kedua itu director yang tak akan bikin film kalo tidak datang dari dalam dirinya sendiri. Dia lebih punya something to say gitu. Nah, gue kebetulan termasuk tipe yang kedua. Bukan berarti yang pertama lebih jelek dari yang kedua…

Edwin : Emang lebih jelek..

Joko Anwar : Iya sih… hahaha..

Joko Anwar : Oke, gue kan udah punya plan, film ketiga gue apa, film keempat apa, film kelima apa. Pertanyaan lo tadi nggak bakal mempengaruhi plangue. Kalau misalnya sekarang gue cuma punya kesempatan bikin satu film lagi, ya gue bikin film ketiga gue.

Eric Sasono : Nggak ada tema esensial yang harus lo sampaikan, seperti Edwin dengan persoalannya?

Joko Anwar: Film-film gue lebih merupakan reaksi sosial gue terhadap hal-hal yang terjadi disekitar gue. Kalau Edwin kan masih dalam dirinya nih, ada something inside yang harus dikeluarin. Kalau gue, I made peace with myself, hehehe. Jadi masalah personal searchinggue sudah selesai. Jadi sekarang lebih ke reaksi sosial, semua film gue kaya gitu. Janji Joni dan Kala sangat jelas reaksi sosialnya.

Eric Sasono: Gue mau tanya berkaitan dengan Kala dan pernyataan lo bahwa itu adalah reaksi sosial. Adegan homo di film Kalague rasa esensial banget buat lo, dan lo harus mengatakan hal itu dalam film ini. Gue merasa kalau itu sesuatu yang dalam sebetulnya. Buat gue itu adalah statement yang esensial dari film itu. Lo nggak nganggep itu sebagai sesuatu yang personal?

Joko Anwar : Mmm…sebenarnya nggak personal sama sekali. Sekarang kan kebanyakan orang memaksakan nilainya ke orang lain, dan parah. Indonesia sangat parah menurut gue. Pertanyaan gue adalah bagaimana jika orang yang akan menyelamatkan lo adalah orang yang mempunyai nilai berbeda dari lo. That’s it! Kenapa gue masukkan kalau si tokoh Ratu Adil ini homoseksual? karena pada waktu itu nggak bisa nyari yang lain lagi dan menurut gue itu yang paling gampang tanpa mengambil waktu banyak dari film itu.

***