Identitas tanpa Wilayah

postcards from the zoo 01

Sejak usia 3 tahun Lana ditinggal oleh ayahnya di kebun binatang Ragunan. Ia hidup di sana bersama binatang dan manusia-manusia yang relatif tak punya kehidupan sosial. Seluruh hidupnya dihabiskan di kebun binatang sehingga ia tak punya kenangan kolektif. Lana adalah wakil sempurna dari ketercerabutan manusia dari kenangan kolektif, salah satu landasan terpenting bagi pembentukan badan politik bernama negara bangsa. Apalagi ia bergaul dengan sejenisnya: binatang dan manusia yang tercerabut dari lingkungan asal mereka. Lana adalah contoh sempurna ketercerabutan manusia.

Lana (Ladya Cheryl) adalah tokoh dalam film terbaru Edwin, Kebun Binatang, yang lebih populer dengan judul bahasa Inggrisnya, Postcards from the Zoo. Film ini bisa jadi merupakan salah satu film terpenting di Indonesia tahun 2012, bukan hanya lantaran berhasil diputar di seksi kompetisi festival film bergengsi Berlinale, tetapi juga karena tema yang dibawanya. Film ini merupakan film pertama yang bicara dengan tegas mengenai pemisahan antara identitas manusia Indonesia dari kenangan kolektif yang membentuknya. Padahal kita tahu kenangan kolektif adalah basis pembentuk nasionalisme.

Dalam berbagai studi dan diskusi mengenai nasionalisme, kenangan kolektif selalu memainkan peran penting, karena dari gagasan inilah dibangun monumen, kepahlawanan dan segala macam milik bersama (commonalities) sebuah bangsa. Kenangan kolektif ini juga punya pasangan yang berjalan beriring yaitu amnesia kolektif: pengingkaran, penyingkiran dan pelupaan berbagai kenangan yang dianggap tidak cocok bagi kehidupan kebangsaan. Maka kenangan kolektif bukan tanpa dosa (innocent) melainkan selalu dipenuhi oleh pergulatan pengetahuan, yang jika berjalan dengan kekuasaan (dan selalu beriring dengan kekuasaan) berarti penyingkiran yang penuh darah dan kekerasan.

Dunia sinema Indonesia (selain museum dan buku sejarah) pada masa lalu menjadi salah satu wahana penting bagi pergulatan itu (McGregor, 2007). Sinema dijadikan salah satu alat untuk mewariskan “nilai-nilai 45” yang sebenarnya merupakan sebuah upaya militerisasi nasionalisme Indonesia. Dalam pandangan ini, perayaan nasionalisme seakan baru absah apabila dikaitkan dengan perjuangan bersenjata tahun 1945-1950,  dengan embel-embel pelaku utama kolonel Soeharto. Kemudian ketika peristiwa 30 September 1965 terjadi, gagasan itu diperluas dengan pembangkitan musuh bersama berupa komunisme dalam sebuah gambaran yang dimaksudkan sebagai “banality of evil” alias kejahatan kemanusiaan yang paling dangkal, lagi-lagi dengan tokoh utama Soeharto.

Eksploitasi sinema sedemikian rupa seharusnya membuat sinema berada pada titik jenuh dalam merayakan kenangan kolektif yang bertujuan untuk memobilisasi identitas nasional semacam ini. Maka dalam kerangka seperti ini, film seperti trilogi Merah Putih bagi saya adalah film yang salah waktu. Gagasan bahwa nasionalisme jadi bersuara amat lantang ketika berendeng dengan militerisme adalah sebuah gagasan negara semi militeristik Orde Baru, atau model patriotisme dangkal Amerika. Nasionalisme seharusnya juga bisa dirumuskan ulang, seperti misalnya sebagai buah dari pembentukan masyarakat sipil dalam pembentukan organisasi kebangsaan (lihat film Para Perintis Kemerdekaan, 1983, karya Asrul Sani), atau kronika kehidupan sehari-hari manusia Indonesia di seputar ketakwaan beragama (lihat Soegija, 2012, karya Garin Nugroho). Atau bahkan seperti yang digambarkan lebih jauh oleh Edwin: bebaskan identitas kita dari kenangan kolektif pembentuk nasionalisme.

Dengan identitas tanpa kaitan dengan kenangan kolektif seperti ini, Edwin sedang bermain dengan deteritorialisasi atau pembebasan wilayah dari identitas. Deteritorialisasi pada film Kebun Binatang tidak hanya terjadi pada metode produksi (nyaris seluruh dana filmnya berasal dari lembaga asing) dan distribusi (film ini tidak didistribusikan di Indonesia) tetapi juga – dan justru – pada narasinya. Berbeda dengan Garin Nugroho yang memotret Indonesia secara eksotis sebagai negeri transisional abadi, Edwin memperlihatkan bahwa teritori tidak lagi menjadi landasan penting pembentukan kenangan individu. Maka kenangan kolektif juga menjadi tidak relevan, dan nasionalisme menjadi usang serta perlu digantikan.

Gagasan ini tidak sama sekali baru terjadi pada Kebun Binatang. Setidaknya sutradara seperti Joko Anwar sudah membuat film-film (Janji Joni, Kala dan Pintu Terlarang) dengan lokasi yang pada dasarnya tidak perlu repot-repot diacu kepada lokasi tertentu di dunia nyata. Bahkan pada film terakhirnya, Modus Anomali, lokasi peristiwa sama sekali tak punya jejak dalam dunia nyata kecuali bahwa lokasi itu adalah semata-mata lokasi bagi narasi genre film yang dipilihnya. Genre, dalam kasus Joko Anwar, sudah menggantikan identifikasi teritori. Jika diteruskan, maka isu dalam film Joko Anwar bukan lagi isu terkait teritori tertentu (seperti yang terwujud dalam relevansi sosial sebuah karya) melainkan isu berupa bentuk dan gaya tertentu. Jika ingin berspekulasi lebih jauh lagi, eksplorasi isu seputar bentuk dan gaya ini telah memunculkan sebuah prioritas baru sutradara Indoensia yaitu kesadaran akan kamera yang merekam telah menggantikan relevansi sosial, tapi ini soal lain yang menarik untuk dibahas terpisah.

Kembali kepada soal deteritorialisasi, Joko Anwar telah memperlihatkan bahwa gaya dan bentuk adalah sebuah modus pencarian identitas (lihat bagaimana – menurut saya – ia gagal dalam Modus Anomali). Edwin tampak tak terlalu terbebani dengan kebutuhan mengisi ulang wilayah kosong itu (reteritorialisasi). Ia sekadar ingin dan merasa perlu memperlihatkan bahwa interaksi sosial manusia dengan identitas seperti Lana pada dasarnya adalah semacam interaksi primal dimana interaksi dibangun lewat sentuhan dan kedekatan fisik, sekalipun hal itu tak berjalan simetris. Maka bagi seorang yang mengalami sebuah dunia yang telah terantarai oleh medium dan nyaris seluruh kekaryaannya lebih mendapat apresiasi di dunia internasional, Edwin terasa amat romantis dalam memandang kemanusiaan dalam Kebun Binatang ini.

Terakhir, jika memang deteritorialisasi ini terjadi dan manusia Indonesia dicabut dari landasan pembentuk nasionalismenya, dengan apa wilayah kosong itu harus diisi? Sampai sejauh ini saya merasa jika reteritorialisasi harus dilakukan dengan bentuk dan gaya, hal itu masih terasa terlalu mewah. Mediatized world atau dunia yang hadir dalam bentuk presentasi media (bukan pengalaman fisik langsung) memang sudah merupakan tantangan besar dan kesadaran bentuk dan gaya adalah sebuah upaya menghadapi tantangan itu secara langsung. Jika harus mengambil hal itu sebagai salah satu agenda, maka saya akan mengusulkan untuk meletakkannya dalam konteks kewarganegaraan alias keanggotaan masing-masing individu sebagai bagian dari warga negara dengan hak dan kewajiban sipil mereka.

Kesadaran media adalah salah satu bentuknya, tetapi tidak sepenuhnya. Kita masih berhadapan dengan diskriminasi kewarganegaraan berdasarkan agama dan problem sektarianisme. Kewarganegaraan kita masih berurusan dengan hak dasar warga negara semisal pengusiran paksa dan pelarangan beribadah. Dalam situasi seperti ini, rasanya nasionalisme memang sudah harus digantikan sebagai aras perjuangan karena loyalitas kebangsaan tidak mampu dioperasionalisasi untuk melakukan perlindungan hukum. Maka sudah waktunya politik kewarganegaraan mengisi teritori ini dalam narasi dan kekisahan fiksi di Indonesia.

Personalized and Depersonalized Memory of Places

Short note of the Museum of Innocence and Postcards from The Zoo[1]

When I visited to the Museum of Innocence in Istanbul, one display attracted my interest more than the rests. It was display No. 32, titled “The Shadows and Ghosts I Mistook for Füsun”, taken from a chapter with the same name of the novel. It was a black and white map of Istanbul exhibited in the wall with tiny pink figures of Füsun (the novel’s heroine which is also the desired object of Kemal Bey, the protagonist) were pin up and each figure was numbered. The numbers refer to small photograph (approx. 10X10 cm) located in the periphery depicting detailed-photo of each location with the same figure of Füsun placed in. The map of Istanbul becomes dichromatic rather than simply black and white, thanks to Füsun figures.

Remnants of upperclass Istanbul are displayed in The Museum of Innocence to describe the lifestyle or the city’s particular era.

These tiny figures symbolize Istanbul in personal viewpoint of the novel protagonist, Kemal Bey. This chapter appeared after Kemal’s separation from Füsun (No.30, “Füsun Doesn’t Live Here Anymore”), and his intentional abstinence towards meeting her (No.31, “The Streets That Remind me of Her”) in which he marked Istanbul map with different colors to avoid him seeing everything that reminds him of Füsun. But Kemal’s denial was useless. Rather, he “sees” Füsun everywhere, in every occasion. Füsun “appears” in every direction he faces, while in fact Füsun is never there for him. He mistook shadows and ghosts as Füsun, as his obsession towards her grown uncontrollable. Kemal Bey, an honorable member of Istanbul’s upper class, has become obsessed with Füsun. This has distracted his view on his city. No places in Istanbul are free from Kemal Bey’s longing and obsession on Füsun. Istanbul, then, is defined as collection of places permeated with personal memories and remembrances.

This has taken me to other place, the Ragunan Zoo of Jakarta, the place of which Edwin’s[2] latest film, Postcards from the Zoo, is set. Postcards tells a story of Lana, a girl who was left alone in the zoo by his parent when she was three. Since then, Lana doesn’t have any remembrances of anything outside the zoo. The zoo becomes her world. She only meets animals and people in the same state with her: dislocated from their original habitat, whether it is the jungle or the society. In the place where the inhabitants are socially dislocated, Lana’s world becomes arbitrary. She has no attachment to any distinct socio-political world outside the zoo’s realm. Lana is a person uprooted from any social and political ground par excellence. Therefore no particular places can be attributed to her existence or remembrance of her, because nobody around her lives with social background to connect her to the world outside the zoo.

There is a slight acknowledgment to an actual place, the Ragunan Zoo of Jakarta, in the Postcards, but for me the zoo is merely a metaphor for a place where its inhabitants are socially-dislocated-creatures rather than a real zoo. In this situation, Edwin creates some short scenes in Postcards that show a total opposite to the Display No.32 of The Museum of Innocence. In those scenes Lana is placed among the impersonal zoo visitors in a “Where is Wally?”-fashion. After watching the scenes for a while, we can find Lana among the crowd, staring back to the camera, to the audience, to us. Here, the audience gazes into faceless crowd in arbitrary places only to find an impersonal character staring back at them without emotion.

This film tells a lyrical tale about the uprooted people.

The arbitrary character of the zoo has made the place in Postcards become depersonalized, detach from any connection to any personal memory. Lana is there without connection to her surrounding. She is just being there and unrelated to anybody in the film’s diegetic. No personal memory or social and political connections are relevant for her existence. On the other hand, we, the audience in that particular scene, tries to find a known face in the crowd, Lana’s face, but when it was found, we realize it has no significance to us outside the film’s diegetic. We cannot relate Lana to anything besides her uprooted-ness from anything outside her existence.

It is interesting to talk about this further in relation to contemporary Indonesian cinema because Postcards is not the first Indonesian film with intentional detachment to actual places in Indonesia. Before this, Joko Anwar’s films also come with sets that the audience should not bother to relate to actual places. Gareth Evans’ The Raid also called by Roger Ebert as “a movie whose story that can happens in any country in the world”. Questions popped up into my mind. Have places are now free from their connection to personal memory in contemporary Indonesia? Have Indonesians become uprooted individuals whose personal remembrances of places are insignificant for their existence? This triggers further question about collective memories, are they still useful for defining commonalities (such as shared-places for example) of Indonesia? Or is it the cinema has lost its function for new generation of Indonesian filmmakers in carrying ideas on personal and collective remembrances and other commonalities? This can go on limitless.

At this stage I have to be satisfied with comparison of The Museum of Innocence and Postcards from the Zoo and leave those questions unanswered. Maybe I won’t answer those questions altogether and let some younger Indonesian film critics to do that instead.


[1] I have discussed some of the thoughts here with özlem Mertel, and also with my co-visitors of the museum, Sashenka Lleshaj and Iliada Korçari. However I am responsible for whatever is written here.

[2] Edwin is young Indonesian filmmaker whose film, Blind Pig Who Wants to Fly traveled to more than 45 festivals around the world. His name also listed in the 100 future filmmakers in the book Take 100: The Future of The Film, 100 Directors (Phaidon: 2010). His latest film, Postcards from the Zoo was screened in competition section of Berlinale 2012.

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – A Very Slow Breakfast (Edwin, @babibutafilm)

Sebelum Edwin menjadi seorang sutradara yang diperhitungkan sejajar dengan nama-nama besar seperti Zhang Yimou, Billy Bob Thornton atau Miguel Gomes di seksi kompetisi Berlinale 2012 tahun ini, bakat besarnya sudah tampak pada film pendek pertamanya ini. Karya ini tergolong nyentrik dan amat kuat secara visual memperlihatkan bahwa Edwin memang seorang sutradara yang lahir dari sebuah generasi audio visual, ketimbang generasi tekstual. Elemen naratif yang dibangunnya berangkat dari premis visual demi premis visual yang ia rendengkan ketimbang premis tekstual yang cenderung untuk bercerita apatah lagi berniat menjelaskan persoalan.

Edwin memanfaatkan layar dengan sangat baik, mengatur komposisi sedemikian rupa untuk menghasilkan posisi-posisi para tokoh yang tampak “terpaksa” berada dalam posisi membungkuk untuk menegaskan bahwa filmnya adalah sebuah cara pandang menyimpang terhadap apa yang sehari-hari kita terima. Lihat pula bagaimana hubungan-hubungan antar tokoh dalam film dihadirkan secara visual. Interaksi mereka sudah salah sejak semula. Mereka seperti berada dalam satu ruangan karena kebetulan harus demikian, karena -dari suara musik senam di TV- kita tahu bahwa masing-masing punya dunia yang terpisah satu sama lain. Alangkah berhasilnya Edwin memanfaatkan perbedaan suara dalam film ini sebagai pemisah ruang mental antar tokoh-tokohnya, yang tidak kebetulan adalah anggota-anggota satu keluarga. Ia memang ingin bicara tentang keterpisahan dunia anggota keluarga yang demikian jauh, lebih dari sekadar apa yang diakui dipermukaan.

Pada A Very Slow Breakfast ini Edwin, seperti pada film-filmnya yang lain, membahas keluarga atau menjadikan keluarga sebagai lokus pembahasan tema-tema yang diangkatnya. Seperti sempat saya singgung dalam lema sebelumnya yang membahas empat film pendek Edwin, A Very Slow Breakfast ini seperti sedang membagikan sebuah kenangan pedih tentang keluarga dan akhirnya muncul semacam penjelasan kenapa Edwin seperti tidak percaya sama sekali pada keluarga. Kegiatan sarapan sebagai rutinitas yang diasumsikan penuh keceriaan dan matahari pagi, justru ditampilkan sebagai sebuah kegiatan penuh tekanan dan muram.

Hingga kini, saya merasa A Very Slow Breakfast sebagai film Edwin yang paling kuat, paling ekspresif dan paling dalam bicara tentang dirinya dan pengalamannya. Apa yang disajikannya pada Babi Buta sudah tampak di sini: elemen visual sebagai pengganggu kenyamanan penonton. Lihat bagaimana ia memanfaatkan ketombe, extreme close up terhadap rokok yang dinyalakan dan pengambilan gambar dari selangkangan sebagai upayanya mengganggu cara pandang mapan kita dalam menikmati karya audio visual. Memang ada novelty atau kebaruan yang patut dianggap penting dalam film ini, tetapi bagi saya A Very Slow Breakfast tidak berhenti di situ: belum pernah saya melihat sebuah keluarga digambarkan dengan satir sepahit (dan seefektif) ini dalam sebuah film Indonesia.

Katalog Keluarga Milik Edwin

Kara berangkat untuk menunaikan balas dendamnya kepada makhluk langit bernama Ronald McDonald

Anak perempuan itu bernama Kara. Mungkin sepuluh tahun umurnya. Ia masuk ke restoran McDonald dengan membawa parang dan dendam. Ia pandangi sejenak patung Ronald McDonald yang sedang duduk, sebelum ia bacokkan parang majal di tangannya. Seorang petugas yang sedang mengawal ulang tahun anak-anak melihat polah Kara. Petugas itu tak menghentikan. Kara yang kelelahan malah diberi segelas minuman. Ia terkulai lesu di sisi patung yang selalu tersenyum lebar mirip dengan tokoh Joker yang diperankan Jack Nicholson di film Batman garapan Tim Burton itu.

Potongan adegan itu berasal dari film pendek Edwin yang terkenal,Kara, Anak Sebatang Pohon. Film berdurasi 9 menit ini berhasil lolos seleksi untuk diputar di seksi Director’s Forthnight di Festival Film Cannes, Perancis. Keberhasilan Edwin ini membawa namanya diperhitungkan sebagai salah satu pembuat film berbakat di negeri ini. John Badalu, direktur Q Film Festival dan programmer film, memasukkan Edwin sebagai salah satu sutradara muda berbakat Asia Tenggara dalam tulisannya di buku Kandang dan Gelanggang, Sinema Asia Tenggara Kontemporer (Jakarta, 2007). Dari keempat film pendek yang sudah dibuatnya, nama Edwin sudah banyak disebut, paling tidak di kawasan Asia Tenggara dan beberapa festival terkemuka di Asia.

Edwin lahir pada tahun 1978 di Surabaya. Ia seorang keturunan Cina, dan itu menjadi soal besar baginya. Dalam film panjang pertamanya, Babi Buta yang Ingin Terbang (selanjutnya akan disebut Babi Buta saja), ia mengambil tema sensitif itu. “Ini soal identitas,” kata Edwin dalam sebuah percakapan dengan saya pada akhir bulan Agustus 2007. Padahal Edwin membuat film itu dengan bayangan di kepala bahwa mungkin saja Babi Buta merupakan satu-satunya film panjang yang bisa ia buat. Keterbatasan modal membuat ia belum membayangkan apakah ia akan mampu membuat film panjang lagi nanti. Betapa pentingnya tema itu baginya, sehingga kemungkinan kesempatan tunggal itu ia gunakan untuk mengungkapkan mengenai soal identitas ini.

Babi Buta dibuat oleh Edwin dengan bergerilya. Dengan modal seadanya, ia berhasil menyelesaikan film itu. Kini Babi Buta sudah diputar sesekali di sana sini dalam pertunjukan khusus. Film ini menjadi salah satu film yang paling ditunggu di tahun 2008 oleh paraprogrammer festival film di berbagai negara Asia. Mungkin kita akan bisa menyaksikannya di pertunjukan-pertunjukan khusus dan bukan di bioskop komersial.

Sementara itu, Edwin sudah menyelesaikan empat film pendek. Film-film ini sudah beredar di berbagai festival dan jadi bahan pembicaraan di festival-festival tersebut. Keempat film itu adalah: A Very Slow Breakfast (2003), Dajang Soembi Perempoean Jang Dikawini Andjing(2004), Kara, Anak Sebatang Pohon (2005) dan A Very Boring Conversation (2006). Sambil menantikan Babi Buta, mari kita lihat keempat film pendek Edwin.

Keluarga

Keempat film pendek Edwin mengambil tema atau terjadi pada lokus sentral: keluarga. Keluarga dalam film Edwin tak pernah sempurna. Keluarga sama sekali jauh dari konsep yang diasumsikan ideal yang kita pikirkan selama ini. Pertama, keluarga ideal identik dengan bentuk tertentu. Bicara keluarga di Indonesia tak bisa dilepaskan dari sosialisasi intensif di masa Orde Baru tentang keluarga ideal: ayah-ibu dan dua anak (laki-laki dan perempuan sama saja, yang penting kasih sayang. Ingat kampanye ini?). Hal ini berada dalam kepala banyak orang Indonesia dan relatif belakangan saja orang tua tunggal lebih banyak muncul dalam film Indonesia (lihat tulisan saya, “Single Parent dalam Sinema Indonesia” di harianKompas, 29 Mei 2005).

Kedua, keluarga ideal diasumsikan menjalankan komunikasi yang baik dan penuh saling pemahaman. Keluarga selalu berkumpul di momen-momen tertentu seperti sarapan atau makan malam dan di kegiatan bersama itu mereka berbincang dari hati ke hati, bercengkerama dan bersenda gurau untuk membangun saling paham sesama mereka. Faktor kegagalan komunikasi dan membangun harmoni inilah yang menjadi pusat perhatian Edwin dalam film-filmnya.

Bentuk keluarga tak ideal ada pada Kara, Anak Sebatang Pohon. Kara adalah anak sebatang kara yang ibunya mati (dibunuh?) tertimpa patung Ronald McDonald. Demikian pula padaAVery Boring Conversation, keluarga hanya terdiri dari ibu dan anak perempuan yang tinggal berjauhan. Ketika keluarga tampil dalam bentuk utuh: ayah+ibu+anak, pastilah keluarga itu bermasalah. Pada Dajang Soembi, Perempoean Jang Dikawini Andjing, sang ayah adalah seekor anjing dan hal itu menjadi pangkal tragedi dalam film. sedangkan pada A Very Slow Breakfast, keluarga memang utuh dalam bentuk, tapi komunikasi mereka adalah semacam mimpi buruk.

Dunia yang penuh tekanan

Pada A Very Slow Breakfast (selanjutnya disebut Breakfast saja). Keluarga memang terdiri dari ayah-ibu dan anak, tetapi komunikasi mereka bagai mimpi buruk. Masing-masing mereka bagai memakai selubung gelap yang tak mungkin dimasuki oleh yang lain. Mekanisme rutin seperti sarapan menjadi siksaaan satu sama lain karena terasa sangat menghimpit dada.

Edwin tampak seperti ingin membagikan pengalaman yang menyakitkan tentang keluarga dalam film pendek pertamanya ini. Pada pagi hari seperti itu, tak tampak cahaya matahari. Ruangan temaram karena terhalangi oleh bidang miring seperti tangga yang memakan porsi besar dari layar film. Apapun bidang miring itu, ia memberi tekanan sangat besar pada keluarga dalam Breakfast. Tekanan ini demikian besarnya hingga membuat anggota keluarga sarapan dengan posisi badan membungkuk. Kecerahan pagi hari di waktu sarapan adalah nonsens besar!

Juga suara. Suara sebagai wakil komunikasi verbal dalam keluarga tak pernah ada. Karena ruangan diisi oleh suara sayup-sayup dari TV yang menyiarkan acara kebugaran. Suara itu begitu asing dan seakan berasal dari dunia lain. Namun sang ibu mengikutinya dengan patuh dan hikmat bagai sedang melakukan sebuah ritual suci. Dan suara pagi adalah dominasi sebuah dunia lain yang masuk tanpa ijin dan memisahkan anggota keluarga dalam selubungnya masing-masing. Dengan cerdas Edwin menggunakan suara sebagai pemisah antara dua dunia yang sama sekali berbeda: dunia perempuan (menjaga tubuh dan berolah raga) dan dunia laki-laki (jorok dan tak sehat: merokok di pagi hari).

Di film ini, Edwin seperti sedang berada di sebuah sudut yang diam dan menangis. Ia seakan sedang membagi luka yang dalam yang tak bisa ia katakan dan hanya bisa dibagikan. Tak ada dialog dalam Breakfast, seakan film ini memendam rasa marah, dendam, dan tangisan diam-diam. Sekalipun dalam sebuah bentuk keluarga yang utuh (ayah+ibu+anak), komunikasi di dalam keluarga terasa menyakitkan. Dunia mereka saling terpisah dan saling tak peduli. Jika ada interaksi antar mereka, maka itu menyangkut soal uang. Maka itulah tampaknya dunia dalam Breakfast menjadi sangat menyakitkan.

Keluarga adalah kesalahan

Keluarga sebetulnya tampil lebih kelam pada film pendek kedua Edwin, Dajang Soembi: Perempoean yang Dikawini Andjing (selanjutnya disebut Dajang Soembi saja). Film yang skenarionya ditulis oleh Daud Sumolang ini dibuat dengan format film bisu hitam putih. Film disyut dengan kecepatan rendah sehingga gerakan dalam film itu terpatah-patah, mirip film seperti era film bisu. Inter-title atau teks di sela-sela gambar mengantarkan cerita dengan musik di seluruh tubuh film. Pada Jiffest 2005, film ini diputar dengan pertunjukan musik livesebagaimana pertunjukan film pada masa film bisu.

Cerita legenda Sangkuriang pada Dajang Soembi sendiri sudah menyediakan stok untuk mempertanyakan konsep keluarga. Bayangkan bahwa sebuah keluarga dibentuk oleh ibu dan anak manusia tapi dengan ayah seekor anjing. Maka film ini memang memungkinkan Edwin untuk menghadirkan sebuah logika keluarga yang bukan sekadar tak konvensional tapi menimbulkan pertanyaan subversif. Ia bertanya tentang asal-usul pembentukan keluarga dan tentu saja kemudian konsekuensinya.

Bayangkan bahwa keluarga ini adalah sebuah keluarga hasil bestiality. Maka hubungan di dalamnya menjadi demikian aneh. Anak lelaki bernama Sangkoeriang itu jatuh cinta dan suka secara seksual pada ibunya. Sang ayah, anjing itu, mencoba mengantar anak lelakinya pada sebuah ritus pasasi. Tapi di tengah jalan, sang anak melihat perselingkuhan. Anjing itu tertarik pada seekor babi betina. Maka ketika pembunuhan terjadi, itu adalah turunan dari asal-usul pembentukan keluarga: bestiality tadi.

Alangkah celakanya keluarga dalam film ini, dan Edwin menghadirkan teror yang tak tanggung-tanggung. Pernyataannya demikian kerasnya sehingga ia menjadi seperti sedang berteriak. Keluarga bukan sekadar nonsens tapi malahan salah sama sekali. Ia sudah keliru sejak pembentukannya. Tanpa kejijikan, ia menyajikan semacam kanibalisme yang menakutkan di akhir cerita. Kehalusan perasaan dan ketersudutan Edwin akibat luka yang ia tampilkan pada Breakfast hilang di Dajang Soembi; dan yang tampil adalah kemarahan yang naif dan agak buas. Nasib keluarga masih sama: celaka. Dengan mengikuti logika ceritaDajang Soembi, maka ignorance tokoh Dajang Soembi yang sembarangan mengucapkan sumpahlah yang berbuah pada konsekuensi semacam ini.

Kapitalisme?

Pada Kara, Anak Sebatang Pohon (selanjutnya disebut Kara saja), keluarga pun secelaka itu, dalam bentuk yang berbeda sama sekali. Keluarga adalah semacam impian tentang dua orang memadu kasih di tepi sebuah danau. Pemandangan begitu indah dan tawa di mana-mana. Langit cerah, rumput hijau dan senyum sepasang manusia di dalamnya bagai menggambarkan bahwa ada kualitas imortal pada keindahan yang terkandung pada keluarga.

Sampai tragedi itu terjadi. Kelahiran sang anak adalah kematian bagi ibu. Ada campur tangan sesuatu yang ilahiah –dari atas– yang bernama Ronald McDonald. Salah satu ikon terbesar kapitalisme itu hadir dalam keluarga itu dengan demikian memaksa. Bahkan di taman surgawi demikian, senyum palsu Ronald McDonald yang khas mendatangkan kematian bagi keluarga. Tepatnya bagi pemberi kehidupan; bagi ibu.

Edwin menjadi sangat pahit di sini. Ia tak menangis diam-diam di sudut sambil mengalami seperti pada Breakfast, ia tak berteriak marah-marah seperti pada Dajang Soembi, ia berubah faktual pada Kara.

Kara dalam Kara digambarkan terisolasi dari interaksi sosial. Ia hidup dalam sebuah dunia fidausi yang tenang. Namun interaksi sosial Kara bagai tak memberi pilihan. Kamera (media?) yang menempatkan Kara sebagai fokus adalah sebuah gangguan bagi kubah kenyamanan Kara. Gangguan kubah kenyamanan itu membuatnya mempertanyakan kehidupan: sebab keberadaannya di bumi sekaligus pada saat yang sama kematian ibunya. Dan karena ia lahir bersamaan dengan “pembunuhan” ibunya, maka sebuah pembalasan dendam jadi niscaya.

Terhadap apa? Kapitalisme? Edwin memang terlihat marah pada kapitalisme, bahkan ia juga marah pada exposure terhadap sebuah kenangan buruk. Dengan penggambarannya yang demikian faktual, Kara tampak naif bersikap terhadap –katakan namanya adalah– kapitalisme. Apakah kisah hidup Edwin, kebahagiaan masa kecilnya, diinterupsi oleh kapitalisme itu dan ia mendendam serta sadar bahwa dendamnya sia-sia? Apapun itu, dengan antarannya yang naif dan faktual, kesia-siaan pada Kara menjadi istimewa karena keberanian (atau kenaifan?) Edwin bersikap.

Tapi apa yang Edwin bisalakukan di depan kapitalisme? Bagai Kara, ia pun harus lunglai karena tak ada yang berubah. Bagai filsafat eksistensialisme, Kara menawarkan nihilisme pada tingkat subteks-nya. Buat apa cerita macam mitos Sisifus dibuat jika cerita itu sendiri bagai batu berguling lagi ke kaki gunung? Atau pada kasus Kara, yaitu ketika keluarga firdausi abadi itu merupakan bagian sebuah siklus kehidupanyang akan berulang?

Dunia yang bekerjap

Edwin tampak melonggarkan sikapnya pada AVery Boring Conversation (selanjutnya disebutConversation saja). Ia masih bermain dalam sebuah keluarga. Kali ini, keluarga dalam bentuk orang tua tunggal. Kisahnya adalah Eva, seorang ibu paruh baya, dan anaknya yang berada di luar negeri. Pacar sang anak membantu Eva untuk membuka alamat email di http://www.yahoo. com, agar Eva lebih mudah berkomunikasi dengan anaknya. Terjadilah percakapan yang sangat membosankan.

Percakapan itu adalah tentang identitas. Sebagaimana lazimnya membuka sebuah alamat email baru, Eva diminta mengisi data pribadi. Alangkah membosankannya memenuhi keharusan seperti itu, karena sesungguhnya siapa yang membutuhkan data pribadi dalam sebuah dunia maya? Atau, siapa yang sebenarnya gembira melakukannya? Edwin sedang bicara tentang sebuah dunia baru, dunia yang tak mudah dikenali oleh sebuah generasi seperti Eva. Memudahkan? Tampaknya bukan itu soalnya karena Edwin membawa Eva dan penonton memasuki sebuah dimensi baru.

Perempuan paruh baya dan laki-laki muda itu asik mengisi formulir data pribadi si perempuan sampai akhirnya lampu ruang tempat mereka bekerja tiba-tiba berulah. Lampu itu mengerjap-ngerjap. Terus demikian sampai tiba-tiba percakapan itu berubah. Percakapan mereka terasa jauh seakan mereka sedang berada di sebuah ruang yang lain, dunia yang lain, dunia entah apa.

Percakapan itu kehilangan aspek riilnya. Lalu hubungan Eva dan calon menantunya bertransformasi. Jadi apa? Entahlah. Edwin menyiratkan adanya semacam keintiman di sana. Ajakan Eva agar si lelaki kembali lagi membantunya dengan email terlalu tendensius untuk ditafsirkan sebagai fakta kering. Apakah Edwin sedang berbicara tentang semacam penabrakan tabu seksual?

Conversation terkesan main-main dengan keluarga. Edwin tampak nakal memandang hal-hal yang menjadi konstituen keluarga. Bentuk keluarga memang tak sempurna, dan komunikasi di dalamnya terasa aneh dan berjarak dengan kenyataan. Namun Edwin bercanda dengan itu semua, dan melepaskan kemarahan atau luka yang mendalam atau nihilisme pada film pendek keempatnya ini.

Apakah ada tekanan yang diangkat pada Conversation? Apakah karena Conversation terjadi dalam sebuah realitas yang bekerjap-kerjap antara nyata dan tidak? Inilah sebuah dunia dengan kemungkinan bermain-main, karena dalam Conversation, indetitas adalah semacam isian di formulir pendaftaran ketika membuka alamat email. Adakah dunia virtual membebaskan? Bisa jadi Edwin sedang melihat sebuah kemungkinan yang lain sama sekali dari karya-karyanya sebelumnya.

Apakah keluarga masih relevan?

Dengan keempat film pendeknya ini sesungguhnya Edwin sedang membuat daftar pertanyaan tentang relevansi keluarga dalam konteks memberi kebahagiaan bagi para anggotanya. Ia memang tampak tak menjadikan kebahagiaan itu sebagai imperatif dalam keempat film pendeknya ini, tetapi itulah implikasi dari gambaran yang ia hadirkan. Keluarga dalam film-film Edwin memang terlalu besar perannya dalam memberikan kepahitan hidup; atau seluruh kepahitan hidup berangkat dari sebuah lokus yang bernama keluarga.

Edwin memang tak menarik persoalan ini lebih jauh ke konteks sosial atau konteks politik secara sengaja, kecuali pada Kara yang pernyataannya sangat keras terhadap sebuah ikon ekonomi-politik tertentu. Namun sesungguhnya dengan meletakkan katalog yang diberikan Edwin dalam konteks kehidupan bersama, bisa saja kita bertanya: apakah keluarga relevan bagi kehidupan bersama ketika ia sudah gagal menghasilkan individu-individu yang baik?

Jika kita meminjam pertanyaan-pertanyaan Edwin ini untuk keluarga Indonesia kontemporer, maka sesungguhnya kita sedang berhadapan dengan sebuah pembalikan keluarga dari ilusi akan konsep keluarga yang harmonis. Jika selama Orde Baru keluarga selalu digambarkan sebagai sebuah lokus ideal penghasil manusia-manusia “Indonesia seutuhnya”, maka dalam film-film Edwin, ilusi itu sedang dibongkar habis-habisan, karenanya ia dipandang sinis atau ditertawai.

Rutinitas keluarga yang membentuk suasana harmoni itu malahan jadi sumber persoalan dalam Breakfast. Dalam Dajang Soembi, pembentukan keluarga sudah keliru sejak semula dan pastilah implikasinya akan mengerikan. Dalam Kara, kapitalisme bahkan bisa menjangkau kehidupan surgawi keluarga dan menghasilkan bencana bernama nihilisme. Sedangkan dalamConversation, keluarga adalah semacam olok-olok di depan sebuah realitas baru: kehidupan virtual. Maka “manusia Indonesia seutuhnya” sebaiknya dilupakan saja jauh-jauh; bahkan istilah itu jika masih digunakan adalah sebuah anakronisme besar-besaran.

Dengan daftar pertanyaan ini, Edwin sedang menyusun sebuah katalog keluarga Indonesia kontemporer. Tentu dari sebuah sudut pandang yang sangat personal. Meskipun demikian, pertanyaan-pertanyaan Edwin ini menjadi relevan terhadap konsep keluarga dan segala persoalan yang melingkupinya. Ia seperti sedang membuka sebuah kotak Pandora bagi sebuah institusi dasar yang masih terus dipercaya oleh bangsa Indonesia saat ini.

Inilah sebuah personal filmmaking yang mengejutkan. Keberanian Edwin dalam membuka kotak Pandora dirinya sendiri sesungguhnya telah turut juga membawa pertanyaan besar bagi bersama.

Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono: Bagian VIII – Kritik Film di Indonesia Bukan Cuma Jelek, Tapi Parah!

Joko Anwar kesal pada kritik film yang ia temui di suratkabar. Ia percaya kritik film penting, tetapi mengapa ada yang justru ia sebut membodohi? Mengapa pula ia tetap punya harapan tinggi pada kritik film? Di sisi lain, mengapa bagi Edwin, kritik membuatnya berhati-hati dan mempertanyakan apakah ia masih perlu membuat film?

Joko Anwar : (Kepada Eric sasono) Sekarang gue tanya lu balik boleh nggak? Boleh dong..

Eric Sasono : Iya, boleh.

Joko Anwar : Kritik film itu adalah yang sangat penting di perfilman. Tadi elo nanya Edwin soal sparring partner.Gue kira bakal ngomong ke situ..

Eric Sasono : Nggak jadi karena Edwin belum pernah dikritik..

Joko Anwar : Karena sparring partner yang paling bagus adalah kritik film

Edwin : Netral kan dia..

Joko Anwar : Artinya apa? Kritik film ini sudah harus jadi orang yang minimal seimbang dengan filmmaker atau lebih pintar karena they have to study film. Karena begitu elo jadi filmmaker, yang elo pelajari adalah teknik. Dari segi segi estetik waktu lo kurang. Seharusnya ada sesuatu yang mem-back up itu. Kritik film Indonesia parah! Bukan cuma jelek, parah! Elo tahu nggak kayak Kompas, on the record, Kompas!! (Joko mendekatkan mulutnya ke alat perekam dan mengeraskan suaranya) Dan itu akhirnya bikin susah karena membodohi. Kalau menurut lo gimana?

Eric Sasono : Gue belum lama sampai menulis surat ke redaksi Kompas.

Joko Anwar : Yang dibilang science fiction?

Eric Sasono : Ya. masak Bourne Ultimatum dibilang science fiction? Apakah yang nulis resensinya nggak tahu? Apakah editornya nggak tahu? Menurut gue, mereka give film critic a bad name, dan gue nggak rela. Penulis itu juga salah mengartikan Kala. Dia juga memakai kata ‘negro’ pada tahun 2006. Pokoknya banyak sekali lah. Dan itu bisa jadi ikutan dari semua kondisi yang kalian gambarkan. Penonton yang masih film buff-baru. Filmmaker-nya di bawah tekanan. Mereka sendiri juga adalah produk dari sebuah sistem kerja yang tidak respectfull terhadap film. Bahwa mereka tidak pernah membuat usaha ekstra misalnya untuk memahami film. Menurut gue bukan hanya film. Problem juga sama di seni rupa juga begitu, teater dan sebagainya. Semua. Tapi film sangat nyata karena film kan selalu mempunyai exposure lebih. Mass appeal. Dan kalau seni rupa ada kritikus dari luar. Tapi mereka menganggap enteng film. Bukan berarti bahwa film harus berat. Tapi bahwa lo harus ada respek dan passion. Itu yang menurut gue hilang. Tidak ada passion mereka sebagai penonton film. Problem lain lagi adalah pemahaman storytelling, pemahaman bahasa. Bahwa film juga kan grammar. Dan pemahaman itu parah.

Joko Anwar : Yang paling parah justru Kompas! Ini on the record lho ..

Edwin: Iya, gagap semuanya. Saya sih nggak pernah baca koran, nggak nonton TV. Saya lebih percaya internet. Maksudnya ya yang kayak model-model youtube gitu, yang memang personal. Buat saya mereka bisa lebih dipercaya. Bahkan seperti National Geographic juga gitu. Seharusnya kita bisa punya akses internet lebih cepat.

Eric Sasono : Elo mengharapkan apa peran kritikus? Apa yang lo bayangkan ketika membaca sebuah review?

Joko Anwar: Setiap gue membaca sebuah review dari luar negeri, apakah di majalah atau di internet, kayak rottentomatoes atau metacritic.com; bukan cuma filmmakernya yang dapat sesuatu. Bahkan gue sebagai penonton juga merasa: I see. Karena terkadang sebagai filmmaker lo merasa: it doesn’t work out. Kenapa ya? Karena kalau misalnya lo ajak ngomong gue sama Edwin ya kita kayak gini. Ya secara verbal kita nggak bisa ngomong.We can do it with the movies. Jadi kalau cari jawaban secara verbal what went wrong, itu susah. Harapan adalah hal itu datang dari film critic, what doesn’t work, why doesn’t work. I don’t care about it should’ve been done like this. Tapi gue perlu: why doesn’t work. Itu yang gue pikirin. Misalnya di RumahFilm ada beberapa kritik tentang ending film gue. Mereka bilang this .. this and this. Apapun itu, apakah elo setuju atau tidak dengan itu, elo sebagai filmmaker juga harus membuka diri. Dan jangan nolak, tapi itu semua harus diproses. Kalau gue, gue proses, dan pasti ada benarnya. Kritikus film yang baik adalah kritikus yang bisa membantu filmmaker menempatkan dirinya ada di mana.

Eric Sasono: Menurut elo gimana Win? Kritik film. Elo mengeluh film lo belum pernah dikritik. Apakah akan membantu dengan melihat kritikus yang sekarang ada?

Edwin: Pasti sih kebayangnya akan jadi sebuah input dari orang luar yang netral, yang tidak subyektif terhadap filmmaker atau filmnya sendiri. Pastinya akan membantu. Penting.

Eric Sasono: Joko bilang kritik yang baik yang bisa memberi tahu filmmaker dimana tempatnya. Buat elo apa Win?

Edwin: Ya, supaya jadi lebih hati-hati aja bikin film. Saya sih berharap ada kritik yang akhirnya bisa membuat saya berpikir: masih perlu nggak bikin film? Apakah saya berada di tempat yang benar sekarang ini?

Eric Sasono: Gitu ya? Masih se-eksistensial itu problem lo ya?

Edwin : Kalau elo sampai kapan jadi kritikus? Perlukah ada kritik terhadap kritikus?

Eric Sasono : Perlu. Perlu karena kritik pertama ya pembaca lah. Dan kritikus harus siap dikritik seperti halnya dia mengkritik film. Dan buat gue sendiri jadi kritikus kan kayak semacam kecelakaan, kalau gue mau jujur. Karena awalnya, elo tahu lah gue pengen jadi filmmaker, tapi merasa bahwa gue nggak berbakat.

Joko Anwar : Elo pengen jadi filmmaker?

Eric Sasono : Awalnya..

Edwin : Dia pernah bikin film pendek.

Eric Sasono : Ya, bikin film pendek. Gue ngerasa gagal. Merasa bahwa ada yang lebih berbakat lah..

Joko Anwar : Kenapa elo berhenti?

Eric Sasono : Ya gue merasa ada yang lebih berbakat aja ketimbang gue..

Joko Anwar : Elo mencoba dengan cukup nggak, sebelum elo memutuskan untuk berhenti?

Eric Sasono : Mungkin terlalu banyak batasan. Dan itu bisa jadi tekanan yang bikin gue nggak pede. Bikin gue nggak lepas bikin film dan itu..

Joko Anwar : Elo udah nonton film pendek gue kan? Sejelek itu! Hehehe..

Eric Sasono : Gue nggak cukup pede. Nggak cukup deterministik, nggak cukup konsisten untuk jadi filmmaker..

Joko Anwar : Menurut gue, elo terlalu cerdas.

Eric Sasono : Taik lu!

Joko Anwar : Maksud gue gini. Elo terlalu cerdas secara verbal. Filmmaker tuh biasanya idiosinkratik, man. Seseorang yang verbalnya oke banget, udah nggak butuh lagi. Lo dengan tulisan sudah bisa membuat orang: wow! Gitu lho..

Eric Sasono : Itu juga kan proses sebetulnya. Dan akhirnya gue merasa bahwa di situ passion gue lebih sampai. Gue ngerasa nemuin bahasa gue sendiri. Tadinya gue juga berpikiran untuk jadi novelis, nulis cerita, nulis fiksi. Sempat menulis skenario. Gue nyoba di Brownies dan gue merasa nggak ada challenge lagi. Gue sempat ditanya ketika menang kritikus terbaik DKJ 2005. Ada yang nanya: lo mau jadi penulis skenario atau penulis kritik? Gue merasa pertanyaan itu nggak perlu ditanyakan pada posisi gue waktu itu. Ya gue jawab, kalau ada pertanyaan yang memaksa, baru gue jawab pertanyaan itu. Kalau belum dipaksa oleh keadaan, gue belum akan menjawab. Belum lama ini satu skenario yang gue tulis tahun 2003 mau dibeli orang..

Joko Anwar : Terus, lo bilang?

Eric Sasono : Akhirnya gue bilang gue nyumbang cerita aja deh. Jadi diambil sama orang lain..

Joko Anwar : Judulnya?

Eric Sasono : Belum, belum jadi. Belum produksi. Kalau gue nulis scenario, mungkin gue harus berhenti nulis kritik..

Joko Anwar : Gue sekarang bikin film dan bikin kritik. Sinema Indonesia. Hehehe..

Eric Sasono : Garin masih. Sutradara dan kritikus film..

Edwin : Menurut elo film-film yang eksistensialis sekarang ini masih relevan nggak?

Eric Sasono : Mungkin gue nggak nyebutnya eksistensialis.. Mungkin pada dasarnya gini. Sekalipun Joko bilang dia sudah selesai dengan dirinya sendiri, tapi ada sesuatu dari dalam dirinya yang muncul dan keluar dalam film-filmnya kan? Somehow soal personal ini muncul. Ini soal ketika porsi personalnya besar banget, seperti film-film lo Win. Gue bisa ikut ngerasain sakit nonton Very Slow Breakfast. Buat gue justru mungkin jangan-jangan film-film seperti itu yang long lasting. Kalau Joko bilang harus ada ko-eksistensi, gue percaya film-film seperti yang lo buat itu menyumbangkan sesuatu. Belajar dari Malaysia lah. Mereka mulai dari Uwee Haji Saari dan sampai akhirnya Amir Muhammad dan kawan-kawan. Mereka memberikan sesuatu buat penonton film Malaysia. Itu kan muncul dengan adanya kelompok yang konsisten melahirkan karya-karya seperti itu.

***

Percakapan kemudian ditutup dengan obrolan lebih santai tentang berbagai hal. Tentang Joko yang sedang menyiapkan sebuah filmnya yang judul sementaranya mengandung frasa 24-frames. Ia juga teribat dalam reality show, On the Lot, sebuah reality show yang menguji ketrampilan sutradara muda berbakat. Juga tentang Edwin yang bercerita bahwa ia masih terus berkutat dengan penyelesaian Babi Buta yang Ingin Terbang.

Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono: Bagian VII – Filmmaker Indonesia: Gontok-Gontokan sih Nggak, Tusuk-Tusukan Iya!

Edwin dan Joko Anwar di Tornado Coffee, Kemang, 31 Agustus 2007

Sisi storytelling masih menjadi masalah besar film Indonesia. Itukah sebabnya mengapa Joko Anwar mengaku terus mencari formula yang bisa membuat penonton Indonesia going gaga? Lalu mengapa Edwin berkeras bahwa orang Indonesia memang gagap mengekspresikan apa yang ada dikepalanya? Kita juga bisa ikuti mengapa Joko dan Edwin berani menyebut bahwa di negeri ini banyak filmmaker punya aura jahat.

Eric Sasono: Gue mau ngomong storytelling ya. Dalam soal storytelling pertanyaan buat kalian beda-beda. Kalau buat lo Jok, pertanyaannya soal re-invention dalam konteks film Indonesia yang sudah lo definisikan. Seperti apa lagi re-invention itu?

Joko Anwar : Lho, kalau ngomong Indonesia sebenarnya gue sebagai filmmaker berbeda sama pendapatnya Edwin. Kalau dia merasa sebagai filmmaker di jaman sekarang ini it’s not very favorable buat dia, buat guefavorable. Karena kita belum menemukan formula yang bisa membuat penonton Indonesia merasa going gaga. Kalau Hollywood udah ada formula yang bikin mereka going gaga. Blockbuster, Harry Potter and the stuff. Kalau Thailand ada sendiri yang bikin mereka going gaga. India jelas, songs and dance. Indonesia belum ada. Di situ pencarian yang menurut gue sangat menarik sebagai filmmaker yang berada di jaman sekarang. Jaman dulu tahun 1980-an ada Sundel Bolong contohnya, itu bikin kita going gaga.Beranak dalam Kubur, Dono Kasino Indro. Karena belum ada banyak sekali film luar yang mempengaruhi otak penonton. Kalau sekarang sudah banyak sekali going on di kepala penonton. Lantas formula dalam film Indonesia apa? Belum ada. Makanya gue sekarang sebagai filmmaker merasa excited.

Eric Sasono: Justru menurut lo ini saat puncak gitu ya?

Joko Anwar: Saat yang baik untuk mencari itu.

Eric Sasono : Dengan dua film lo, merasa nemu sesuatu nggak?

Joko Anwar : Belum!

Eric Sasono : Belum?

Joko Anwar: Belum, tapi I’m proud of it! Sekalipun setiap gue nonton film gue pasti ngeliat kesalahan. Kalau misalnya film gue diputar di festival gitu, gue begini (Joko menutup wajah dengan tengannya). Tapi apakah dua film ini sudah jadi film yang gue cari-cari? Belum.I want to find that, man! Gue mau mencari film yang benar-benar…. Bisa sebagai medium atas apa yang ingin gue katakan dan jadi sesuatu yang enak untuk ditonton dan dialami.

Eric Sasono : Kalau di box-office kita ada Sherina, AADC..

Joko Anwar : Sherina, AADC itu kasusnya seperti Dono Kasino Indro dulu. At that time bagus, tapi kalau misalnya dilakukan sekarang, kita sudah sangat terbuka sekali. Accessibilitas kepada film-film di seluruh dunia.

Eric Sasono : Maksud lo pada waktu itu penonton belum sadar film?

Joko Anwar : Belum banyak referensi..

Edwin : Jadi menurut lo kalau AADC dibuat sekarang belum tentu laku?

Joko Anwar : Mmmm.. belum tentu. Tapi itu tidak mengurangi value film itu. Karena film itu dibuat untuk masanya dan berhasil.

Eric Sasono : Kalau lo Win, merasa storytellinglo itu bagian dari proses nggak sih, dalam konteks lo sebagai orang Indonesia?

Edwin : Oh iya. Kalau saya lihat sendiri ya film-film itu menceritakan sesuatu yang abstrak atau susah dijelaskan dengan kata-kata. Gagap gitu. Dan orang Indonesia itu kan gagap sebenarnya, kalau saya lihat. Orang Indonesia itu gagap untuk mengekspresikan apa yang ada di kepalanya dengan sangat clear.

Joko Anwar : Orang Indonesia iya. Dan itu wajar sekali. Emang kita sudah lama disuruh diam kok. Wajar aja. Nggak usahlah ngomong penonton. Scriptwriter aja masih begitu. Begitu kita ngomong, enak kita ngomongnya. Tapi begitu harus nulis, berhadapan dengan keyboard: switch! Perbedaan bahasa lisan sama bahasa tulisan..

Eric Sasono : Lo merasakan kegagapan itu ketika mengerjakan dua film lo? Orang yang bekerjasama dengan lo? Atau penontonnya?

Joko Anwar : Itu nggak gue anggap kesulitan ya. Gue merasa itu advantage. Kan film itu akan lebih berhasil jika sebuah society yang masih sangat, katakanlah, belum terbuka, ketika mereka menonton, film lo berhasil membuka ruang-ruang di kepala. Itu successful. Daripada kalau misalnya gue bikin film di sebuah society yang sudah gape bikin film, impact-nya nggak akan sebesar kalau gue bikin di Indonesia.

Edwin : Sebenarnya tuh kalau lihat film-film lo yang dua itu sebenarnya elo bikin film untuk film..

Joko Anwar : Banyak yang bilang itu dan gue harus setuju walaupun sebenarnya nggak sengaja. Karena memang dasar gue adalah membuat film untuk memberikan efek yang sama sebagaimana film-film yang gue tonton memberi efek ke gue. Gue memang sangat worship film. Meskipun dia nggak bisa menimbulkan bau. Hehe. Film itu harus apa? Harus fun. Sebuah film itu harus fun dengan levelnya sendiri-sendiri. Padahal gue menganggap film seperti The Last Picture Show bukan film komedi yang bikin penonton hahaha, tapi so fun. Irreversible atau I Stand Alone yang sangat depresif menurut gue pantes. Setuju nggak lo?

Eric Sasono: Ilustrasinya?

Joko Anwar: Ilustrasinya gini. Banyak film Indonesia itu mean spirited. Apa ya bahasa Indonesianya?

Eric Sasono: Berniat jahat?

Joko Anwar: Bukan berniat jahat. Spiritnya tuh jahat. Setuju gak lo? Seakan-akan bilang ‘gue hukum nih’ penonton dengan nonton film itu. Setuju nggak lo? (Joko menyebut satu judul yang dianggapnya mean-spirited itu, tapi ia meminta agar judul film itu jangan ditulis)

Edwin: Auranya jahat.

Joko Anwar: Exactly! Auranya jahat. Dan kecenderungan ini sangat luar biasa lho di Indonesia.

Edwin : Karena situasinya juga sih. Aura filmmaker-filmmaker kita ini jahat.

Joko Anwar : Elo merasa nggak beberapa waktu yang lalu film independen semuanya tentang apa? Tentang drugs. Dibikin seperti… kayaknya penonton mau dilempar durian ke mukanya, gitu. Duar!! Kecenderungannya gitu. Kayaknya dia merasa bahwa apa yang ingin dia sampaikan tidak akan kesampaian kalau dia tidak menyampaikannya dengan jahat.

Eric Sasono : Hehehe..

Joko Anwar : Coba film Stanley Kubrick, Clockwork Orange, itu film yang sangat sadis, sangat gila. Tapi nggak mean spirited gitu. Lo ngerasa nggak?

Edwin : Bukan ini sih. Tapi ketika seluruh sistem yang berkait sama film Indonesia itu punya kecenderungan ke aura yang jahat…

Eric Sasono : Maksudnya dorongan pasar?

Edwin : Segala macam. Semua. Filmmaker, pembuatnyalah, kritikusnyalah, ke penontonnyalah, industrinya sendiri apa pemegang kekuasaannya. Mean spirited gitu. Tak bersahabat.

Eric Sasono : Tidak bersahabat?

Joko Anwar : Jadi mereka bikin film itu bukan untuk something to celebrate. Menurut gue seharusnya ada something to celebrate. Ekstremnya lihat Ratatouille misalnya. Sekarang gue ada di sini, dan gue melakukan semua ini karena kecintaan sama film..

Edwin : Lo ngerasa ketika bikin film ada sesuatu yang seharusnya nggak lo pikirin gitu kan? Kayak tekanan-tekanan yang nggak perlu ada, gitu kan?

Joko Anwar : Banyak banget..

Edwin : Ada tekanan gitu waktu gue bikin film. Ya di satu sisi sih kalau orangnya kuat bisa aja mencuekin gosip. Salah satu tekanan itu ya gosip-gosip. Itu yang paling kelihatan jahatnya..

Joko Anwar : Tapi gue gak tahu ya. Di beberapa negara filmmaker sangat dekat. Di sini? Saling gontok-gontokan nggak sih?

Edwin : Gontok-gontokan sih nggak. Tapi tusuk-tusukan dari belakang sih iya. Kita bisa rasain auranya. Ada yang berdarah nih!

Joko Anwar : Yang paling salah di Indonesia sebenarnya ini. Semua orang merasa bahwa everbody else is competition. Salah.It’s wrong! Salahnya apa? Masih bodo-bodo semua! Saingan sama Ang Lee. Jangan sama Joko Anwar, sama Edwin..

***

Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono: Bagian – VI Saya masih Mencoba Memfilmkan Bau

Joko Anwar merasa di era kini hampir mustahil untuk bisa meraih invention baru di film. Semua praktis telah ditemukan. Tapi, menyumbang re-invention masih dimungkinkan. Lalu apa re-invention yang digagas Joko? Mengapa pula ia sangat menyukai film-film yang memprovokasi? Film seperti apakah itu?

Eric Sasono : Win, Lo ngelihat craftmanship nggak dari film-filmnya Joko?

Edwin : Ada usaha ke arah sana.

Joko Anwar : Ada usaha. Haahhaha! Berhasil enggak, nomor dua.

Edwin : Ada. Storytelling jelas. Lo sebagai penulis, penulis yang bagus. Lo bikin film Janji Joni itu, terhiburlah yang nonton film itu. Paling itu kan maksud lo bikin film itu? Maksudnya, Joko dan cintanya terhadap film selalu kelihatan di dua filmnya. Dari Janji Joni ada passion film. Statemen-statemennya tentang film, itu ada semua. Pada Kala juga, tapi dalam bentuk yang beda. Meminjam istilah Joko, genre-bending. Itu menarik banget. Kalau saya menjadi seorang Joko memang itu yang paling asik. Ketika kita sudah tahu semua struktur yang benar bagaimana. Ayo dong kita main-main dengan ramuan yang tadinya baku itu. Jadinya dia tahu posisinya dimana dalam film-filmnya itu..

Eric Sasono : Jadi lo juga bisa ngeliat bahwa ada statement yang diucapkan Joko dalam film-filmnya?

Edwin : Mmm.. statement sih lebih ke sesuatu yang bukan personal. Tapi lebih tentang film. Tentang passion. Tentang sekelilingnya gitu. Belum kelihatan sih sesuatu yang personal dari dia. Maksudnya sih mungkin ada. Tapi nggak asiklah dibahas. Enakan ngebahas bagaimana teknik-teknik dia untuk menceritakan, untuk memain-mainkan genre noir di Kala? Sama orang-orang sekolahan Kala dilihat sebagai film noir yang salah. Padahal sebenarnya ya memang salah. Karena dia memang bermaksud merusak genre noir.

Joko Anwar : Satu hal yang sering diucapkan teman-teman ketika gue bikin Kala. Mereka bilang, bahkan mereka bikin di blog mereka, film itu another movie of Joko that would be misunderstood. Tapi selalu ada resiko itu ketika elo memutuskan untuk tidak memakai easy way. Sebenarnya kalau mau ditanya apakah ada yang personal dalam film-film gue? ada beberapa. Tapi per part kayak adegan Kala pertama kali ketika elo liat ada payung-payung dari atas ada seseorang datang berlari dari kanan ke kiri, itu adalah statement gue. I will not take easy. Ada beberapa orang yang hujan mereka jalan pakai payung. Mereka jalan dari kiri ke kanan. Kan kita biasa baca dari kiri ke kanan. Gampang ngelihatnya. Begitu kita baca dari kanan ke kiri, nggak biasa gitu. Mungkin film gue lebih dinikmati di Arab. Hahahaha… Dalam Janji Jonigue juga masukin personal statement gue. Bagaimana posisi gue di film, ada di situ. Kala juga seperti itu. Mungkin personalnya di situ. Cuma, karena film sebagai sebuah karya seni yang selalu dinamis, tidak akan terus berjalan kalau tidak ada yang breakthrough. Orang-orang Hollywood yang sekarang besar kayak Scorsese, Coppola, Spielberg, adalah orang-orang yang membuat industri film mereka terus bisa berjalan. Itu karena mereka breakthrough. Itu film untuk industri perfilman. Sebagai filmmaker itu juga sangat butuh itu. Karena sebagai filmmakerlo nggak bisa lepas dari keharusan untuk me re-invent. One of the true nature of filmmaker adalah re-invent.

Edwin : Joko keren lah.

Eric Sasono : Re-invent apa nih?

Joko Anwar : To invent sudah nggak mungkin dan mungkin sound ambisius tapi untuk me re-invent, untuk make it fresh sama seperti industri yang lain lah. We need to fresh stuff gitu. Hal-hal yang segar sangat dibutuhkan. Misalnya dulu ada hip-hop, ada metal. Tiba-tiba masuk Linkin Park. Musik apa ini? contohnya begitu. Industri berjalan karena ada Linkin Park. Penjualan CD naik lagi, apresiasi naik lagi. Tadinya ada yang bilang ini stuck, gitu. Karena itu bukan hanya true nature-nya filmmaker doang, tapi true nature of human..

Eric Sasono : Elo ngeliat film-film kayak filmnya Edwin akan ngasih sumbangan ke proses re-invent itu?

Joko Anwar : Exactly! Itu dia yang paling gue suka. Ketika orang mengambil keputusan membuat film mungkin sekadar sok jago. Atau mungkin sekadar eksperimental tanpa dasar. Dia jelas. Seperti Kara misalnya. Sering gue omongin di forum-forum. Bikin film pakai seluloid ketika bagian Kara. Ketika bagian McDonald, sekalipun gue nggak setuju dengan yang dia katakan, bahwa McDonald sebagai predator, he puts McDonald dalam konteks yang peyoratif. Mungkin gue nggak setuju sama itu, tapi gueadmire his statement. Karena he states something! Karena gue nonton film bukan mau jadi seorang penonton yang agreeable.

Edwin : Gue setuju..

Joko Anwar : Tapi gue ingin di-provoke. Pikiran gue mau di-provoke. Gue pengen tahu apakah ini benar, apakah yang selama ini gue pikir salah? Film-film dia itu will be like that. Babi Buta will be like that. Will provoke people. Makanya gue bisa menghargai Nagabonar Jadi 2 ketimbang elo (kepada Eric – red) menghargainya karena di situ gue nggak setuju sama Dedi Mizwar talking about nationalism dan whatever bullshit itu tapi it makes me think. Is it the right way, is it yang bisa bilang lebih bener deh, apakah lebih penting? Jadi gue bisa menghargai film itu walaupun gue nggak setuju sama penempatan posisi dia. Bagaimana sebuah film bisa menciptakan itu kalau nggak ada sesuatu yang ingin disampaikan, whatever it is. Apakah itu gagasan, apakah itu pertanyaan.

Eric Sasono: Lo ngeliat nggak, adanya limit dalam statement seorang sutradara dalam karya-karyanya?

Joko Anwar: No! nggak ngomongin limit sih. Sebenarnya kita coba ke teknis. Itu yang gue benci: limit. That’s why I break it.

Eric Sasono: Di sisi lain kan maksud guesome people should’ve known better. Beberapa orang seharusnya tak mengatakan hal yang tak dimengertinya.

Joko Anwar: Ada. Adapretensiousness happen ketika he doesn’t know what he’s talking about. Karena penonton adalah kamera. They don’t lie. Camera don’t lie. Kalo misalnya aktor yang nggak sincere, nggak bagus keliatan di kamera. Sama kayak film juga. Begitu dia trying to be something yang bukan dia atau mengatakan sesuatu secara palsu atau nggak sampai ke situ, keliatan. Tapi bener yang lo bilang. Ada limitnya kalau dalam konteks itu. Tapi sometimes orang bisa mengatakan sesuatu yang outrageous kalau misalnya he can find the way to do it. Kalau pada jamannya mungkin film Lolita. Ada yang salah. Misalnya, sorry to say, film I Love You Om. He’s trying to saysomething tapi dia nggak tahu caranya.

Edwin: Mau nambahin aja. Itu tadi Kara dalam pemilihan media, film dan video. Itu idenya Sidi (Saleh) sebagai kameraman. Dia menerjemahkan bagian belakangnya itu dengan video. Nah, balik ke teknis dan hubungannya sama limit. Limit di technical itu menurut lo udah pol banget atau masih ada batasannya? Kalau saya sendiri masih agak mencoba. Sampai sekarang tuh masih nyoba bagaimana caranya menimbulkan bau. Karena menurut saya keterbatasan film itu adalah ketika kita pengen mencium bau, itu nggak bisa real banget. Nah, lo apa Jok?

Joko Anwar: Lihat nggak lo, film Scracth Card. Filmnya John Waters..

Edwin: Atau lo punya cara lain nggak untuk menimbulkan bau?

Joko Anwar: Nggak pernah mikir itu, man..

Eric Sasono : : Punya kebutuhan itu?

Joko Anwar : Nggak. Karena film kan sight and sound. And smell, hehehe… Smell-nya, smell bioskop. Tapi bener yang gue bilang alangkah beruntungnya bapak-bapak kita ketika invention masih sangat sedikit. Jadi people do it all the time, happens all the time. Ketika mereka pertamakali meletakkan kamera di atas kereta api, kamera jalan. Itu track pertama, track movement pertama. Oh my god. Ketika Hitchcock track in zoom out, Oh My god. Sekarang gue udah nggak ngeliat lagi kemungkinan itu terjadi. But sometimes people came with something. Sudah lama nggak ya?

Eric Sasono: Irreversible kayak gitu? Mungkin invensinya lebih luas, nggak hanya sebatas teknis tapi juga storytelling.

Joko Anwar: Iya. Irreversible, bisa. Atau Memento.

Edwin: Tapi saya pengen tahu banget gimana caranya orang bisa ngerasain bau itu dengan tool yang kita punya sekarang ini. Nggak usah nyiptain alat-alat baru lagi. Karena kalau kita ngomongin moment yang didokumentasikan, memotret realita lewat film, bau kurang dieskplor sampai sekarang.

Eric Sasono: Tak cukup hanya dengan sight and sound?

Edwin : Maksudnya kalau kita mau mendokumentasikan kehidupan kita, tiap hari kita membaui sesuatu kan? Saya selalu membayangkan film itu gunanya untuk mengingat apa-apa yang pernah kita rasakan. Kalau misalnya nanti 10 atau 20 tahun lagi saya nggak bisa ngebau, gitu, nah bau itu gimana caranya nih sekarang. Saya butuh banget..

Joko Anwar : Emang nggak cukup dengan ekspresi. Ketika film American Pie, misalnya, ketika dia tiba-tiba mengambil coklat yang ternyata tai itu..

Edwin : Nah sekarang kalau lo lupa bau tai gimana?

Joko Anwar : Hahahahaha… Mungkin kalau ngomong sama Arya Kusumadewa nyambung ya. “Tuhan beri aku kentut..”

Eric Sasono : Mungkin soal kenangan. Bahwa film membangkitkan kenangan. Bukannya kenangan terletak pada scene? Kalau buat gue sendiri misalnya film lebih banyak pada scene..

Joko Anwar : Karena kita ngomongin bau literally. Kalau nggak literally sih gue ngerasain bau dalam film all the time. Ketika film itu hujan, gue bisa ngerasain bau hujan..

Edwin: Karena gini ya. Maksudnya kita kan ngerespon semua di otak. Bau itu kan di otak. Sebenarnya cuma alat doang. Mustinya ada cara supaya men-trigger sel-sel di otak untuk menciptakan sensasi bau.

Joko Anwar : headline lo tuh: Edwin mencari invension bau. Hehe..

***

Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono: Bagian – V Investor Sudah Bertanya “Kok Si Ini Bisa…”

Gelombang baru perfilman Indonesia, belakangan memunculkan fenomena film-film murah dan laku. Apa dampak trend ini bagi filmmaker?

Edwin : Kali ini ngomong bikin film cepat kayak Rudi (Sujarwo – red). Dia bikin kayak gitu gimana? Berapa hari tuh? Berapa juta? Bagaimana menurut lo?

Eric Sasono : Pertanyaan soal moda produksi ini buat beberapa orang sudah mulai mengganggu. Karena sudah jadi benchmark. Produksinya murah dan laku. Tuh lihat, penontonnya banyak. Mengganggu, karena beberapa investor sudah bertanya ‘kok si ini bisa..’

Joko Anwar : Itu kekhawatiran yang gue rasakan juga. Alumni FFTV IKJ pernah bikin diskusi sehari judulnya film instan. Itu diadakan karena kekhawatiran seperti yang gue bilang tadi. Beberapa sudah khawatir karena sekarang ada benchmark baru yang sudah sangat rendah, sehingga mereka yang ingin bekerja dalam situasi yang katakanlah lebih proper, dengan bayaran yang lebih manusiawi merasa ter-challenge, merasa terganggu. Apa sih bahasanya? Terancam! Seharusnya sistem produksi itu dipilih setelah kita lihat filmnya apa dan dipilih yang cocok untuk film itu. Kalau misalnya ada orang yang bilang bahwa film disyuting 7 hari tidak benar, gue tidak setuju. Karena tergantung mau bikin film apa. Ada orang yang bikin film satu hari. Russian Ark misalnya, syutingnya cuma satu hari karena one take.

Edwin : Tapi juga nggak 700 juta (rupiah)..

Joko Anwar: Blair Witch Project… itu 200 juta.

Edwin: Tapi juga bukan buat mainstream, komersil.

Joko Anwar: Maksud gue, lo mau bikin film sistemnya seperti apa, syutingnya sesuai dengan filmnya, gitu. Kayak film Little Shop of Horror tahun 1968 misalnya, syuting cuma dua hari, modalnya juga kecil, box-office dan dianggap sebagai milestone film horror. Bersama Blair Witch Project, Little Shop dianggap film yang sangat jenius. Sekarang masalahnya di Indonesia sistem produksi film sesuaikah dengan filmnya? Sistem produksi yang digunakan, film instan itu, apakah sudah sesuai dengan film yang diproduksi? Jadi kalau ditanya benar atau salah? Salah! Seharusnya yang dipertanyakan bukan sistem produksinya tapi apakah cocok dengan film yang akan dibikin. Kalau kita lihat, film yang dibikin itu sebenarnya film dengan lokasi banyak, membutuhkan persiapan besar, sehingga syutingnya juga seharusnya lebih proper. Masalahnya kan di situ. Sekarang masalah kedua, masalah kekhawatiran orang-orang yang ingin bekerja dalam situasi yang lebih proper. Kalau menurut gue kita nggak bisa khawatir dengan adanya benchmark baru ini. Kalau menurut gue, sebagai filmmaker apapun posisi lo, expertiselo, lo harus membuat diri loindispensable. Jadi tidak bisa tidak, orang harus makai lo. Kalau misalnya ada art director yang satu produksi minta 100 juta (rupiah) sementara sekarang muncul anak-anak yang bisa dibayar hanya dengan 5 juta dan hasilnya sama, lalu salah siapa? Art Director itu nggak bisa membuat dirinya sangat bagus sekali sehingga harus makai dia. Kalau menurut gue, you have to make yourself indispensable.

Eric Sasono : Soal kualitas sumberdaya manusia…

Joko Anwar : Kita harus pakai Edwin, gak bisa kalau nggak pakai Edwin. Tapi dia mahal. Ya gimana dong, dia bagus dan kita butuh yang seperti itu. Jadi, orang harus pakai expertiselo. Karena memang hanya lo yang bisa ngelakuin itu..

Eric Sasono : Buat lo Win, apa produk-produk film instant yang lo tunjuk sebagai ‘keramaian palsu’ film Indonesia?

Edwin : Kalau buat sisi industri sih seru pasti. Tapi bukan, bukan masalah itu. Mungkin ke depannya akan ada semacam pijakan bareng-bareng, entah etika atau apa, yang bisa menjawab itu dengan lebih fair…

Eric Sasono : Win, guengedengerlo ngomong itu sebagai kru. Sekarang bagaimana lo sebagai filmmaker melihat sistem produksi seperti itu?

Edwin : Saya nggak pernah berada pada posisi itu. Maksudnya saya bukan kru yang dibayar, belum pernah menjadi itu. Film-film saya, saya cari dananya sendiri. Sampai sekarang ini belum pernah di posisi yang Joko ceritain tadi..

Eric Sasono : Iya, maka sebetulnya lo nggak terlalu khawatir juga mungkin..

Edwin : Sekarang memang belum kesentuh jadi nggak terlalu keganggu banget. Karena nggak ngerasain kan. Tapi nggak tahu kalau berikutnya saya mau bikin film yang untuk pasar..

Joko Anwar : Mungkin kalau Edwin sudah sampai di pertanyaan: ‘apakah gue harus hidup dari film’ baru kerasa…

Edwin : Iya.

Joko Anwar : Lo sekarang hidup dari mana?

Edwin : Ya video klip..

Joko Anwar : Nah, kalau kayak gue, hidup gue dari film. Gue nggak bikin iklan, nggak bikin video klip..

Edwin : Tapi video klip pun juga ada gitu-gituannya. Maksudnya kalau mau disamain bisa aja..

Joko Anwar : Itu masalah yang bakal dihadapi nanti kalau misalnya terbentuk asosiasi. Jaman sekarang okelah kalau kita mau bikin asosiasi dengan segala concern-nya. Fine. Tapi it’s not the end of the story. Pasti muncul masalah. Pasti. Masalah duit aja yang paling gampang. Karena salah satu yang diurus asosiasi biasanya adalah standar bayaran. Orang yang masuk asosiasi produser harus bayar sekian. Pasti orang mikir lah..

Eric Sasono : Jok, soal cari duit dari film. Lo sebut ada director for hire dan ada katakanlah director with statement. Banyak orang beralasan jadi director for hire dengan alasan dia lagi nyari duit sehingga akhirnya berada dalam posisi itu. Lo sendiri merasa bisa bertahan dengan statemen-statemen lo terus dalam bikin film?

Joko Anwar: Seperti gue bilang, si director for hire seharusnya mereka co-exist. Kita membutuhkan mereka. Tapi mereka harus… they have to make it with craft. Gue pengen tetap di sini. Makanya gue bikin production company. Make film for mass. Mungkin bukan gue yang nge-direct. I will produce it. Gue yang nulis. Tapi make it with craft. I’m very positive sama film Indonesia. Gue yakin kok. Tapi kita harus aktif. Gue harus aktif. Mungkin kedengarannya seperti bullshit, tapi gue seperti itu.

Edwin: Craftmanship yang gimana nih yang kurang?

Joko Anwar: Everything! Sekarang yang paling kurang menurut gue adalah kesadaran bahwa bahwa everything about teknik di film adalah storytelling. Kan selama ini orang selalu menaruh di pundak scriptwriter untuk storytelling. Padahal yang namanya camera movement, whatever itu semua storytelling. Craftmaship in what? In storytelling. Jadi bukan asal supaya kameranya dibikin keren segala macam. If it doesn’t tella story kamera bergerak satu mili pun don’t do it.

Eric Sasono: Lo ngelihat film-filmnya Edwin bagaimana?

Joko Anwar: Oh, Edwin adalah salah satu filmmaker yang sangat gue respek di Indonesia

Edwin : Taiklu!

Joko Anwar : Serius. Serius.

Eric Sasono : Kenapa?

Joko Anwar : Karena dia bisa membuat film-film yang seperti gue bilang tadi. Satu gel gitu. Kalau misalnya Edwin kita ibaratkan bikin kue, dia bikin gel gitu. As a whole, it’s very inspiring. Dan kalau gue lihat, dia punya storytelling walaupun dia nggak menyadari itu. Mungkin sangat intuitif tapi pemilihan medium apa segala macam itu storytelling..

Eric Sasono : Gue nanya sebaliknya. Win, lo ngeliat film-filmnya Joko gimana?

Edwin : Janji Joni dan Kala?

Eric Sasono : Iya.

Edwin : Copy paste aja dari jawaban Joko. Hehehe. Joko… anjing. Anjinglah Joko..

***

Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono: Bagian – IV Mereka Menonton Cenderung Untuk Mencari-cari Kesalahan

Setiap Sutradara memiliki rujukan kenangan sendiri. Edwin memulai dengan melahap film-film Hollywood. Sementara Joko Anwar menggilai film-film kunfu. Mengenai penonton film Indonesia sekarang? Joko menyebutnya mirip orang kaya baru, atau lebih tepat film buff baru. Tapi, apa alasan Joko menyebut penonton film Indonesia melek film sekadar judul?

Joko Anwar: Root film lo apa sih Win?

Edwin: Root film?

Joko Anwar: Maksudnya film-film yang lo tonton..

Edwin: Hollywood lah pasti.

Joko Anwar: Hollywood?

Edwin: Dari kecil nonton Hollywood lah. Film pertama kayak Jaws, Steven Speilberg, Indiana Jones, Rocky. Terus mulai bosan. Mulai ada Oscar. Kok yang menang Oscar nggak pernah saya tonton ya? Mulailah nonton Godfather, Silence of The Lamb. Ya udah trus mulai banyak sih tontonan. Animasi juga, Walt Disney. Sampai sekarang gue nonton animasi. Terakhir Ratatouille. Nonton film-film yang ribet sesudah sekolah film. Tapi nggak bisa dikaitkan deh. Sekarang ini saya bekerja lebih seperti kumpulan dari semua yang pernah saya tonton itu. Tapi lebih alam bawah sadar yang bekerja. Susah sih njelasinnya. Kadang-kadang nggak berhubungan apa yang kita pernah tonton dengan apa yang kita bikin. Beda bagian otak kayaknya..

Joko Anwar: Root film gue, film-film kungfu, film b-movie dan sekarang bikin film ya seperti itu.

Edwin: Waktu sebelum bikin film saya pernah nulis. Waktu SMA lah. Kan waktu itu belum kepikiran bikin film atau nulis. Ada cerita-cerita dan tulisan-tulisan sehabis nonton film atau baca komik. Kalau sekarang saya lihat tulisan-tulisan itu, sebenarnya juga nggak sama juga dengan yang ditonton masa itu. Jadi yang saya tonton cuma jadi trigger aja. Kalau film-film itu menjadi motivasi untuk membuat sesuatu sih iya. Kalau lagi nulis, susah ingat sama film yang pernah saya tonton…

Joko Anwar: Wah kalau gue sih all the time ..

Edwin : Saya gampang lupa sama apapun sih..

Eric Sasono : Buat lo penonton itu apa Jok?

Joko Anwar : Penikmat yang baik. Penting banget. Gue bikin film buat penonton.

Eric Sasono : Yang lo bayangkan penonton film Indonesia seperti apa?

Joko Awar : Penonton film Indonesia ini mirip orang kaya baru. Bedanya, penonton film Indonesia ini film-buff baru. Kita dulu susah untuk mengakses film. Film cuma yang diputar di bioskop karena kita tidak punya sistem distribusi video yang baik. Jadi terbatas tontonan kita. Tiba-tiba, muncul teknologi VCD yang lebih oke, lalu DVD yang memungkinkan semua film jenis apapun dari negara manapun bisa masuk ke Indonesia lewat DVD bajakan. Jadi gue pro-bajakan nih sekarang. Sebab penonton bisa mengakses itu semua. Terus ada semacam sindrom film-buff baru, mereka merasa diri mereka paling pintar, tapi sebenarnya nggak.

Eric Sasono : Jadi lo nggak percaya bahwa penonton Indonesia melek film?

Joko Anwar : Melek film sekedar judul. Mereka tahu filmnya, judulnya apa. Gue sering baca milis-milis, forum-forum, discussion board — kafegaul misalnya — kalau lo baca komentarnya lucu-lucu gitu. Lo bisa ketawa-ketawa sendiri karena mereka tahu judul, tapi begitulah… Misalnya mereka tahu film ini bagus karena ini itu. Tapi mereka bisa dibilang masih sangat artifisial. Apapun, mereka berpengaruh besar sama perfilman, karena penonton adalah faktor yang sangat besar. Attitude mereka itu menjadi faktor penting. Begitu mereka kena sindrom film-buff baru, mereka menonton film cenderung untuk mencari-cari kesalahan. Jadi mereka selalu menempatkan diri di atas sebuah film. Padahal kalau lo mau mengambil sesuatu yang bagus dari film, mengambil manfaat dari pergi ke bioskop atau menyetel VCD, lo harus menempatkan diri setara dengan film itu. Lo masuk ke film itu mencari tahu what is that movie all about .

Eric Sasono : Dengan dua film lo ini, apakah lo bisa –katakanlah– mengarahkan penonton film Indonesia ini?

Joko Anwar: Mungkin terdengar arogan tapi that’s what I am doing right now. Itu yang bakal terus gue lakuin. Karena dari kecil, pendidikan yang gue dapat itu dari film-film yang gue tonton. Kalau gue masuk ke bioskop I want to love that film, dan gue dapat pendidikan tentang hidup, everything about it. Juga tentang how to treat people, how to deal with emotion dari film-film yang gue tonton. Tapi, begitu kita menempatkan diri di atas film, kita masuk ke bioskop untuk mencari kesalahan. Sekarang sindrom ini bukan cuma menjangkiti penonton biasa. Yang menulis kritik di koran di majalah semua seperti itu. Paling parah buat kritikus film ketika mereka kena sindrom film-buff baru. Mereka merasa tahu semuanya. Mereka nggak bakal dapat apa-apa. Dan mereka nulis!

Eric Sasono : Buat lo Win, lo sudah bikin empat film pendek. Menurut lo penonton film lo siapa sih?

Edwin : Nggak tahu..

Eric Sasono : Nggak tahu?

Edwin : Kalau yang datang itu sih kebanyakan anak-anak SMA…

Eric Sasono : Mereka ngasih komentar? Ada yang paling lo ingat dari komentar-komentar itu?

Edwin : Biasanya pertanyaan dan komentar mereka ada hubungannya sama logika. Misalnya di Kara. Patung Ronald McDonald itu jatuh dari mana? Terakhir ada yang nanya: ada anak kecil mukul-mukul Ronald McDonald pakai pedang di McD kenapa nggak distop sih, malah dikasih minuman? Semacam yang logis-logis begitu lah.

Joko Anwar : Nah, itu karena penonton film Indonesia masih melihat film per part. Padahal kalau nonton film kita harus menikmati the whole experience. Bukan cuma anak SMA, yang tua juga begitu. Mereka masuk untuk scrutinize… terutama film Indonesia. Karena berpikir film Indonesia bodoh-bodoh mereka masih berpikir di mana nih kesalahannya. Coba lihat film Barat, ‘wah, film ini keren banget’ dan mereka nggak mencoba untuk mencari kesalahan. Mereka melihat film Indonesia juga melihat sutradaranya. Beberapa sutradara Indonesia punya previlege atau mungkin anti-previlege, gue nggak tahu. Ketika mereka bikin film sesampah apapun mereka dipuji. Ada beberapa filmmaker kita yang gitu. (Film) ini bagus banget karena yang bikin si ini, si ini… (Eric sasono dan Edwin meminta Joko menyebut nama. Joko menyebut nama, tapi ia minta bagian itu off the record)

Joko Anwar : (bertanya ke Edwin) Seperti apa sih kritik film bagi lo?

Edwin : Kritik. Nggak ada sih yang ngritik. Perlu sih perlu.

Eric Sasono : Lo mengharapkan reaksi seperti apa sih dari penonton?

Edwin : Sudah biasa dapat reaksi begitu, nggak ada harapan lagi. Kalau Joko kan melihat: posisi penonton kita bagaimana, dia tahu. Dan dia berusaha mengajar mereka untuk pelan-pelan mengerti. Joko mau mengerti mereka, mereka mau mengerti Joko, ngobrollah mereka. Kalau saya sih nggak..

Eric Sasono : Nggak berusaha?

Edwin : Nggak. Susah, kayaknya. Nggak nyampe..

Eric Sasono : Kalau dibilang onani gimana?

Edwin : Ya nggak papa sih. Onani enak juga. Hahahahaha.. Sampai sekarang pun orang nggak akan onani kalau nggak enak..

Joko Anwar : Gue lebih suka onani lho, daripada sama orang. Tapi bukan film. Film gue nggak onani.

Edwin : Aku nggak terus-terusan lah. (Film) yang kedua pengen juga kayak Joko..

Eric Sasono : Tapi mungkin gini, pertanyaannya diubah. Lo merasa punya sparring partner nggak dalam film-film yang lo hasilkan? Atau dalam proses. Di luar kru ya..

Edwin : Di kru jelas ada ya. Makanya pakai kru yang sama. Kita tumbuh bareng lah. Di luar kru jarang banget kalau nggak bisa dibilang nggak ada, kali.

Eric Sasono : Festival punya arti nggak buat lo?

Edwin: Festival itu nyenengin di awal-awalnya. Saya merasa dihargai. Tapi ternyata sama juga. Dalam soal penonton sama juga. Tapi minimal, mereka di festival itu memberikan semangat untuk: ‘nggak papa, lo bikin film kayak gitu nggak papa’.

Joko Anwar : Sebenarnya festival film itu pentingnya buat seorang filmmaker adalah untuk sadar bahwa mereka nggak sendiri dan ruang bermain mereka bukan cuma di Indonesia doang. Mengunjungi festival menurut gue adalah pengalaman yang bikin kita humble. Karena bertemu banyak filmmaker yang bagus-bagus dan filmmaker yang keren-keren. Jadi kita nggak sombong dan kita bisa terpacu. Kalau kita nggak kemana-mana, kita cuma bikin di sini, apalagi kalau di negara sendiri dipuji-puji, ya sudah, putus. You are so good and you are so crap, nggak sadar!

Edwin : Ada sih partner in crime dari festival. Kita bisa kenal ada yang sama kayak kita. Punya masalah yang sama dan diskusinya, walaupun kecil, tapi punya arti. Kalau dari Malaysia ada Tan Chui Mui. Dari Filipina ada Joe Torres. Karakternya beda, filmnya beda tapi ada yang sama, kayak punya teman. Senang kalau ngeliat dia ngapain, atau sekarang lagi bikin film baru apa, pengen tahu apa yang lagi dikerjain. Kalau di sini ada Ifa (Ifansyah – red).

***

Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono: Bagian III – Wawasan Penonton dan Wawasan Filmmaker Timpang

Film dan perfilman Indonesia selalu menarik dibincang dan diperdebatkan. Tapi mengapa Edwin mengatakan film Indonesia tak ada, sementara Joko Anwar ngotot mengatakan sudah ada? Bagaimana pula dua sutradara ini memandang rekor film-film di box-office? Juga apa alasan Joko ngotot menyebut film yang totally escapism diperlukan?

Joko Anwar : Gue ada satu pertanyaan. Lo kan sekarang ini filmmaker yg sedang bikin film Indonesia. You do it in this country, man. Lo punya kekhawatiran nggak sih tentang film Indonesia, tentang perfilman Indonesia?

Edwin: Ada sih. Maksudnya gini. Perfilman Indonesia kan yang nyiptain kita sendiri. Itu sesuatu yang nggak ada sebetulnya. Istilah doang.

Joko Anwar : Lo ngomongnya masih kayak Slamet Rahardjo… ”film Indonesia emang sudah ada”? Sutralaaah ada, udah!!

Edwin : Ngga ada, Jok..

Joko Anwar : Ada lah! Suster Ngesot kan film Indonesia. Film Indonesia kan film yang dibuat…

Edwin : Dibuat orang Indonesia? Iya. Tapi, maksud lo perfilman kan?

Joko Anwar : Iya! Lo punya nggak kekhawatiran? Kalau gue punya…

Edwin : Nggak, nggak ke film. Perfilman Indonesia kalau memang masih kayak gitu tadi, bakal terus ada. Orang akan tetep bikin film.

Joko Anwar : Kekhawatiran gue begini… Gue ngomong dalam konteks director yang have something to say kayak Riri Riza, Nia Dinata. Mereka nggak akan bikin film seandainya mereka nggak punya sesuatu untuk dikatakan. Sementara ada director for hire. Buat gue Garin Nugroho masih director for hire, karena Opera Jawa juga dibuat … (Joko tak menyelesaikan kalimatnya. Film Opera Jawa memang dibuat untuk memperingati 250 tahun kematian Wolfgang Amadeus Mozart – red). Gue terus terang kepingin ada industri film di Indonesia. Karena industri akan memastikan semua orang yang terlibat tetep bisa bikin film, apakah mereka director for hire ataukah yang have something to say. Mereka harus bisa co-exist. Kalau kita lihat Hollywood misalnya. Mereka punya film yang totally escapism, tapi juga ada filmmaker yang punya something to say. And somehow mereka subsidi silang. Film-film yang escapism ini they still well made , masih bisa dihormati sebagai film. Nah di Indonesia, jalur yang escapism ini they are so bad. Dan kayaknya peningkatan wawasan film penonton dan wawasan pembuat filmnya timpang banget. Penontonnya makin lama semakin pinter karena pilihan makin banyak, DVD bajakan makin bagus, sementara filmmaker kita nggak. Gue takut kalau ini mati, kita bakal balik ke jaman dulu lagi tahun 1990-an. Coba, kebangkitan film dimulai dari apa? Dimulai dari komersil! lihat Petualangan Sherina, Ada Apa dengan Cinta. Tahun 1960-an ketika film Hollywood sangat boring orang lari dari bioskop. Nggak ada lagi yang mau nonton film. Orang-orang lalu menciptakan blockbuster. Ada yang bikin film dengan gaya mereka tapi tetap menarik penonton. Orang-orang kayak Steven Spielberg mungkin sekarang dilihat sebagai mainstream filmmaker. Tapi tahun 1971-1972 dia dilihat sebagai pionir ketika baru pertamakali bikin film blockbuster Jaws. Juga Martin Scorsese, Francis Coppola dengan film-filmnya. Film-film komersil yang memulai semua ini. Nah, kita ini komersilnya nggak jalan. Tahun ini coba. Film apa yang huge success?? Nggak ada! Kecuali mungkin Nagabonar Jadi 2. Bukan Bintang Biasa yang didesain sebagai film yang sukses nggak laku karena suatu hal. Padahal promonya gila-gilaan. Kekhawatiran gue cuma itu.

Edwin : Buat Joko kekhawatirannya masuk akal karena dia melihat bahwa film itu ada karena ada yang nonton. Dan kalau begitu berarti bisa dihitung. Jelas takarannya: semakin banyak yang nonton, eksistensi film itu jadi lebih gede.

Joko Anwar : Oke, gue koreksi sedikit. Perfilman itu eksis kalau ada penonton. Tapi bukan per film. Jadi kalau misalnya ada satu film target audience-nya memang kecil ya nggak papa juga.

Edwin : Tapi kan lo bilang tadi, semua dimulai dari yang komersil? Berarti komersil ukurannya box office lah, apa lah..

Joko Anwar : Iya maksud gue gini. Gue sekarang berada di jalur ini. Tapi gue butuh orang yang diseberang gue untuk bagus juga.

Edwin : Kenapa lo butuh mereka bagus?

Joko Anwar : Seperti gue bilang. Salah satu nggak bakal bisa maju kalau yang lain nggak maju juga.

Edwin : Kalau refer ke Hollywood sih memang begitu kondisinya..

Joko Anwar : Dimana-mana..

Edwin : Misalnya taruhlah nggak ada lagi yang bikin film, terus tiba-tiba ada satu film. Cuma filmnya Garin doang gitu, kayak tahun 1995-an. Itu film ada! Film Indonesia tuh ada..

Joko Anwar : Iya ada.. Tapi orang yang mau bikin film sangat terbatas. Gak semua bisa.

Edwin : Tapi film Indonesia tetap ada kan? Tadi kan pertanyaannya takut kalau film Indonesia itu nggak akan ada lagi?

Joko Anwar : Nggak. Gue takut akan kembali ke jaman itu lagi. Sekarang mau nggak mau kita harus kembali ke hakikat film sebagai sebuah karya seni yang membutuhkan banyak duit..

Edwin : Gue lihat sekarang kan film komersil ini jadi lebih nggak maju-maju di Indonesia… gitu ya?

Joko Anwar : Commercial filmmaking..

Edwin : Ya, commercial filmmaking lagi stuck banget. Nggak ada peningkatan dan nggak bener… Kalau lo boleh milih, kayak gini terus atau hilangin aja yang ini?

Joko Anwar: Nggak bisa!

Edwin: Nggak. Harus milih. Lebih enak mana begini terus — sampai seumur hidup lo — atau mendingan nggak ada semuanya terus yang nongol yang kecil-kecil aja?

Joko Anwar: Gue milih bakal berusaha untuk masuk ke sisi yang komersil. Karena gue pikir itu bagus. Makanya sekarang gue punya rencana sama Richard Oh bikin film untuk mass-market tapi dibikin dengan kompeten.

Edwin: Oke. Terus kalau lo lihat film-film di sebelah lain, film-film yang non-komersil itu, lo lihat sudah bagus?

Joko Anwar: Nah, kalau film yang di sebelah situ, parameternya agak susah-susah. Karena itu art movie, susah ngukurnya..

Edwin: Tapi keberadaan mereka..

Joko Anwar : Kalau menurut gue, sekarang jangan.

Edwin : Jangan?

Joko Anwar : Jangan.

Eric Sasono : Seberapa besar sih Win arti penonton buat film-film lo?

Edwin : Ya senanglah kalau mereka ada. Tapi gini. Film itu tidak dibuat untuk mereka pada awalnya. Susah gitu membayangkan siapa yang bakal menonton film saya, misalnya Babi Buta..

Joko Anwar : Terus lo bakal mencoba nggak? Misalnya kelak dalam perjalanan bikin film lo mikir penonton? Misalnya lo bikin Babi Buta karena ada yang ingin lo sampaikan. Pertanyaan atau apalah, itu lo coba untuk lempar sampai ke penonton nggak? Dengan kata lain, mencoba supaya penonton dimudahkan untuk bisa ngakses film lo.

Edwin : Sudah pernah dicoba sih, tapi susah banget Jok. Susah banget dalam arti seperti menebak-nebak beribu-ribu, berjuta-juta karakter orang gitu. Film Babi Buta itu awalnya dari sesuatu yang personal, sesuatu yang pribadi, kok sekarang jadi buat orang lain. Maknanya kok berkurang rasanya. Terus ya sudah… kita balikin lagi. Sepanjang kita yang bekerja mengerti filmnya, beres. Kru kita kecil tapi punya keunggulan. Bisa ngobrol terus-terusan. Itu aja yang terus di-maintain. Jadi mereka bekerja karena sudah tahu apa yang mereka kerjakan. Kita semua tahu karena kita tahu apa yang harus kita kerjakan. Pernah suatu masa kita meeting untuk membayangkan kita jadi penonton, atau memikirkan penonton gitu. Berubah semua yang kita rencanakan, jadi kehilangan nyawanya.

***