Identitas tanpa Wilayah

Sejak usia 3 tahun Lana ditinggal oleh ayahnya di kebun binatang Ragunan. Ia hidup di sana bersama binatang dan manusia-manusia yang relatif tak punya kehidupan sosial. Seluruh hidupnya dihabiskan di kebun binatang sehingga ia tak punya kenangan kolektif. Lana adalah wakil sempurna dari ketercerabutan manusia dari kenangan kolektif, salah satu landasan terpenting bagi pembentukan badan […]

Personalized and Depersonalized Memory of Places

Short note of the Museum of Innocence and Postcards from The Zoo[1] When I visited to the Museum of Innocence in Istanbul, one display attracted my interest more than the rests. It was display No. 32, titled “The Shadows and Ghosts I Mistook for Füsun”, taken from a chapter with the same name of the […]

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – A Very Slow Breakfast (Edwin, @babibutafilm)

Sebelum Edwin menjadi seorang sutradara yang diperhitungkan sejajar dengan nama-nama besar seperti Zhang Yimou, Billy Bob Thornton atau Miguel Gomes di seksi kompetisi Berlinale 2012 tahun ini, bakat besarnya sudah tampak pada film pendek pertamanya ini. Karya ini tergolong nyentrik dan amat kuat secara visual memperlihatkan bahwa Edwin memang seorang sutradara yang lahir dari sebuah […]

Katalog Keluarga Milik Edwin

Anak perempuan itu bernama Kara. Mungkin sepuluh tahun umurnya. Ia masuk ke restoran McDonald dengan membawa parang dan dendam. Ia pandangi sejenak patung Ronald McDonald yang sedang duduk, sebelum ia bacokkan parang majal di tangannya. Seorang petugas yang sedang mengawal ulang tahun anak-anak melihat polah Kara. Petugas itu tak menghentikan. Kara yang kelelahan malah diberi […]

Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono: Bagian VIII – Kritik Film di Indonesia Bukan Cuma Jelek, Tapi Parah!

Joko Anwar kesal pada kritik film yang ia temui di suratkabar. Ia percaya kritik film penting, tetapi mengapa ada yang justru ia sebut membodohi? Mengapa pula ia tetap punya harapan tinggi pada kritik film? Di sisi lain, mengapa bagi Edwin, kritik membuatnya berhati-hati dan mempertanyakan apakah ia masih perlu membuat film? — Joko Anwar : […]

Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono: Bagian VII – Filmmaker Indonesia: Gontok-Gontokan sih Nggak, Tusuk-Tusukan Iya!

Sisi storytelling masih menjadi masalah besar film Indonesia. Itukah sebabnya mengapa Joko Anwar mengaku terus mencari formula yang bisa membuat penonton Indonesia going gaga? Lalu mengapa Edwin berkeras bahwa orang Indonesia memang gagap mengekspresikan apa yang ada dikepalanya? Kita juga bisa ikuti mengapa Joko dan Edwin berani menyebut bahwa di negeri ini banyak filmmaker punya […]

Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono: Bagian – VI Saya masih Mencoba Memfilmkan Bau

Joko Anwar merasa di era kini hampir mustahil untuk bisa meraih invention baru di film. Semua praktis telah ditemukan. Tapi, menyumbang re-invention masih dimungkinkan. Lalu apa re-invention yang digagas Joko? Mengapa pula ia sangat menyukai film-film yang memprovokasi? Film seperti apakah itu? — Eric Sasono : Win, Lo ngelihat craftmanship nggak dari film-filmnya Joko? Edwin […]