Matematika Cinta Beda Agama


1
Nasehat saya tentang film ini: tak perlu menghubung-hubungkan judul dengan jalan cerita karena kita akan dibuat bingung: 3 hati itu milik siapa, buat apa ada 2 dunia dan kenapa hanya satu cinta. Entah kenapa para pembuatnya mengubah judul awal Komidi Puter menjadi 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Mungkin lantaran judul terakhir ini dianggap lebih mengundang penonton, lebih komersial. Tapi buat saya judul dengan angka-angka itu cenderung terlihat canggih ketimbang Komidi Puter yang sederhana dan mudah diucapkan dalam percakapan sehari-hari (soal ini penting kalau mau mengandalkan pemasaran ‘dari mulut ke mulut’ yang selama ini dianggap ampuh dalam mendongkrak angka penonton).

Mungkin angka-angka itu ada kaitannya dengan tema film ini yaitu kisah cinta beda agama dengan latar belakang etnis dan budaya. Plot film ini mungkin memang berkisah tentang cinta segitiga (3 hati) dalam 2 agama / budaya berbeda (2 dunia), dan akhirnya kembali pada cinta yang satu (hmm, ada bau monoteisme di sini). Tapi siapa yang mau membuat hitung-hitungan begitu sebelum menonton? Mungkin ada, tapi pentingkah? Namun kalau saya coba memahami, saya bayangkan tentu sulit membuat judul film yang menggambarkan adanya problem keberagaman budaya agama dan etnis dalam jalan ceritanya. Dan karena kisah cinta beda agama dan keragaman itu jadi andalan, maka muncullah matematika pada judul film ini.

2
Sejak lama latar belakang etnis, budaya dan agama yang beragam menjadi bahan baku bagi kisah fiksi, termasuk film cerita di Indonesia. Dahulu, setahu saya paling sedikit ada dua pendekatan utama para pembuat film dalam menceritakan keragaman di Indonesia ini. Pendekatan pertama adalah dengan memberi saluran (katarsis) keragaman dan perbedaan-perbedaan yang merupakan potensi konflik itu (lihat bagaimana konflik macam ini begitu banyak terjadi belakangan ini?). Pendekatan ini dilakukan, misalnya, oleh Nyak Abbas Akup. Caranya adalah dengan bercerita tentang tokoh-tokoh komikal dan stereotip dari berbagai latar belakang budaya sebagai bahan lawakan dan ejekan. Tujuan pendekatan ini adalah untuk mengajak penonton menertawakan diri mereka sendiri. Pendekatan ini bagai morbid humor atau humor yang mencoba mendamaikan diri dengan bencana semisal kematian, justru untuk menjadi sarana pelepasan yang melegakan. Morbid humor dipercaya jadi sarana mangkus untuk menerima kenyataan ketimbang dipendam dan dibiarkan hingga jadi bisul kronis.

Dengan pendekatan ini, penonton (terutama kelas pekerja) diajak saling mengejek diri sendiri guna menyalurkan potensi konflik dari keragaman etnis, budaya dan agama (oh, agama di Indonesia jarang dijadikan bahan olok-olok ketimbang soal etnis. Beda dengan Inggris yang punya seri Monty Phyton yang puas sekali mengolok-olok agama Kristen). Nyak Abbas bukan yang pertama melakukan olek-olok etnis dan suku ini. Di tangannya, film justru menjadi perluasan dari apa yang sudah dilakukan oleh para pelawak panggung dan televisi era 1980-an seperti Jayakarta Group atau D’Bodors yang jelas-jelas menggunakan stereotip dan olok-olok etnis dan suku sebagai bahan lawakan mereka.

Pendekatan kedua adalah pendekatan yang menceritakan keragaman itu sebagai bagian komentar – atau kritik sosial dan budaya. Pendekatan ini melihat bahwa keragaman itu merupakan sebuah hal kompleks yang harus dijalani oleh manusia Indonesia. Pendekatan kedua ini menceritakan orang-orang yang harus bersiasat dengan beragam identitas yang berkumpul dalam diri mereka. Orang-orang itu harus tawar-menawar demi mempertahankan kelangsungan hidup bersama. Situasi ini dijadikan bahan humor pahit alias ironi serta kritik oleh sutradara seperti Sjumandjaja yang terkenal dengan film-film berlatar budaya Betawi (lihat filmnya Si Doel Anak Modern dan Pinangan).

3
Keragaman sosial budaya relatif tak tampak pada film Indonesia pasca Soeharto. Para pembuat film Indonesia kini tak terlalu memperhitungkan keragaman latar belakang etnis dan budaya sebagaimana beberapa nama yang disebut di atas. Beberapa film bahkan menanggalkan latar belakang sosial apapun untuk membentuk drama yang bersandar pada aspirasi individual semata. Keadaan sekitar tak kelewat dipedulikan, dan film Indonesia sekarang lebih senang membuat cerita yang berpusat pada aspirasi (baca: capaian psikologis dan material) orang per orang yang khas milik kelas menengah.

Capaian psikologis individu biasanya digambarkan sebagai hasil dari pertentangan antara keinginan dan kebutuhan dari tokoh utama dalam film. Sang tokoh biasanya mengejar keinginan tetapi di tengah jalan sadar bahwa sebenarnya yang harus ia ikuti adalah kebutuhan, yang sifatnya alamiah. Contoh terbaik dari hal ini adalah film Nagabonar (jadi) 2. Di film ini, Nagabonar, ingin membuat anaknya jadi seperti dirinya; tapi ternyata ia terbentur pada kenyataan bahwa yang ia butuhkan adalah mengubah pandangannya sendiri agar tak tergilas oleh jaman yang sudah berubah (sekalipun penggambaran tak sadar film ini tetap menggambarkan anak Nagabonar, Bonaga, adalah tiruan dari Nagabonar sendiri). Yang terpenting dari capaian psikologis ini adalah pentingnya perubahan cara pandang tokoh utama film seiring jalannya cerita.

Capaian kemajuan ekonomi (baca : hidup makmur) jarang tampil apa adanya. Aspirasi macam itu, biasanya dilapisi oleh motivasi yang di permukaan tampak mulia. Salah satu perkembangan yang jelas belakangan ini adalah penggabungan antara keinginan hidup makmur dengan pencapaian kesalehan agama. Ini bisa dibilang merupakan hal yang khas pada film-film Indonesia pasca Soeharto (lihat penjelasan mengenai hal ini dalam tulisan saya, “Film Islam Indonesia Dewasa Ini: Jualan Agama atau Islamisasi?” dalam buku yang diedit oleh Ekky Imanjaya, Mau Dibawa Kemana Sinema Kita? [Jakarta: Salemba 4, 2010]).

Lihat film Ketika Cinta Bertasbih (Sutradara: Chaerul Umam) sebagai contoh. Film ini menggabungkan kesalehan dengan keinginan hidup makmur (plus soal perjodohan) sebagai perjuangan utama tokoh film ini. Bahkan film Kun Fayaakun (sutradara: Guntur Novaris) jelas sekali menyarankan sang tokoh utama menjalani kesalehan agar berhasil meraih kekayaan dalam kehidupan di dunia.

Maka kembalinya keragaman latar belakang sosial budaya (dan agama) pada 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta ini adalah sebuah usaha yang tergolong istimewa. Film ini hadir beriring dengan beberapa film lain yang tak lagi menghindar dari situasi keragaman sosial-politik-budaya negeri bernama Indonesia dan menghadapinya, lalu menjadikan latar belakang yang kompleks itu menjadi sumber drama dan konflik.

4
Diadaptasi dari 2 novel cerkas karya Ben Sohib, Da Peci Code (jelas mencandai novel Davinci Code yang terkenal itu) dan Rosid dan Delia, film ini menggambarkan kompleksitas keberagaman negeri bernama Indonesia. Penggambaran kompleksitas, yang menjadi keunggulan film ini, tampak pada hal-hal berikut:

Pertama, film ini berangkat dari pemahaman yang kadung diterima umum bahwa bangsa Indonesia sebagai “bangsa yang relijius”. Gagasan ini tak jelas-jelas amat, dan jika dilihat baik-baik (sebagaimana dilakukan oleh akademisi Krisna Sen dalam melihat salah satu sifat penting manusia dalam film Indonesia) gagasan “bangsa yang relijius” ini merupakan sebuah gagasan yang sebenarnya lebih banyak berkembang pada masa Orde Baru. Relijiusitas yang dimaksud bersifat terbatas, yaitu pada kesalehan individu (ibadah mahdloh atau ibadah murni) dan praktek filantropi (bersedekah). Kedua hal ini dianggap sebagai sebuah bagian dari pembentukan pribadi ideal.

Gagasan “bangsa yang relijius” seperti ini perlahan kini melemah lantaran dua hal. Hal pertama, ada perluasan makna relijiusitas itu ke dalam bentuk-bentuk gerakan sosial dan politik yang berusaha mewujudkan moralitas agama menjadi kebijakan politik di tingkat lokal, katakanlah “syariatisasi”. Tanda hal ini adalah banyaknya peraturan daerah yang berbau-bau syariah sepanjang tahun 2003-2008 (mungkin hingga kini). Hal kedua, belakangan banyak gerakan radikal yang menggunakan kekerasan untuk menerapkan satu versi ajaran agama. Ini menyebabkan gagasan Indonesia sebagai “bangsa yang relijius” dalam pengertian keberagamaan yang moderat tampak menghilang dalam representasi berbagai media, termasuk dan terutama media film.

Film 3 Hati ini memperlihatkan bahwa pemahaman Indonesia sebagai “bangsa yang relijius” dalam pengertian yang moderat masih bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya, masih ada dasar sosiologis kuat untuk penggambaran hal itu. Orang-orang dalam dalam film ini menjalankan agama yang relatif moderat, tak berusaha mengubah ajaran agama menjadi kebijakan politik dan tak pula memaksakan penafsirannya sendiri. Memang ada pemaksaan kehendak, tapi hal ini terjadi antara ayah dengan anak, sesuatu yang pada dasarnya merupakan sebuah bentuk inisiasi lembaga keluarga berbasis tradisi. Konflik ayah-anak dalam hal ini terjadi, dugaan saya, karena adanya pelemahan terhadap tradisi tersebut dan ritus pasasi (rites of passage) yang tak berjalan baik. Ini kerap terjadi akibat modernisasi dan perubahan sosial yang lebih luas. Maka pemaksaan kehendak sang ayah terhadap Rosid jangan dikelirukan seperti pemaksaan FPI untuk membubarkan Q Film Festival, misalnya.

Kedua, film 3 Hati memperlihatkan sikap kritis terhadap pemaksaan penafsiran terhadap agama, sekalipun sikap kritis itu terarah pada percampuran antara tradisi dengan agama, dan bukan terhadap kecenderungan syariatisasi tadi. Namun sikap kritis ini tetap penting mengingat secara keseluruhan sikap kritis terhadap otoritas (termasuk otoritas keluarga) menghilang pada film-film Indonesia era pasca Soeharto. Dan alih-alih sekadar sok kritis, 3 Hati menyajikan hal ini sebagai proses tawar menawar budaya yang harus dijalani oleh orang per orang di Indonesia.

Film ini, dengan menggunakan pendekatan karikatural sebagaimana yang dipakai Sjumandjaja, mempersoalkan urusan memakai peci sebagai bentuk tawar menawar budaya (dan agama) guna menetapkan identitas seseorang, karena identitas seseorang sejak semula memang tak pernah tunggal. Pendekatan ini berhasil dengan tepat menertawai pandangan kolot dan tak toleran yang dimiliki oleh generasi tua dan pewarisan (apa yagn dianggap sebagai) ajaran agama yang sering dilakukan secara taklid buta alias tak kritis.

Ketiga, percampuran etnis, budaya dengan agama dalam film 3 Hati ini memperlihatkan sebuah sifat kosmopolit masyarakat Indonesia dalam berbagai kelas sosial. Kita bisa lihat bahwa keluarga Rosid (Reza rahadian) jelas sekali merupakan keluarga keturunan Arab yang sudah berakulturasi dan menggunakan dialek Betawi sebagai bahasa sehari-hari. Sementara itu Delia (Laura Basuki) digambarkan berlatarbelakang Sulawesi Utara dan bercakap dengan bahasa Indonesia yang bercampur Bahasa Inggris untuk ungkapan-ungkapan sederhana. Mereka berasal dari kelas sosial berbeda, dimana keluarga Rosid adalah pedagang kecil di sebuah pasar tradisional, sedangkan keluarga Delia digambarkan berlatar kelas menengah atas dengan rumah berpagar besi dan berhalaman luas serta dengan mudah mengirim anak mereka bersekolah di Amerika. Film ini menggambarkan bahwa kedua kelas sosial berbeda itu dan menjalani hidup yang sama kosmopolitannya. Hal ini menggambarkan sebuah latar belakang Indonesia sebagai hasil dari kosmoplitanisme yang pada masa kini tampak berusaha diingkari, dengan pandangan bahwa ada sesuatu yang “asli’ dan “murni” Indonesia (atau Islam) serta mengabaikan kenyataan bahwa pembentuk Indonesia itu sejak semula sudah bersifat multi faset.

Keempat, seiring dengan kecilnya ambisi untuk menggambarkan pencapaian individu, film ini tidak menjadikan sekolah – tepatnya perguruan tinggi – sebagai sebuah prasyarat bagi ukuran keberhasilan pencapaian hidup. Tokoh Rosid berpendidikan SMA dan memiliki pandangan luas terhadap keadaan sekitarnya, bersikap kritis dan terlibat secara sosial dengan berbagai persoalan di sekitarnya. Bandingkan dengan film seperti Sang Pemimpi dan Ketika Cinta Bertasbih yang menekankan pendidikan tinggi sebagai sarana untuk mencapai keberhasilan hidup. Film 3 Hati berbeda dengan dua film itu dalam dua hal. Pertama, seperti dibilang di atas, pendidikan tinggi bukan hal terpenting bagi tokoh utama film ini. Rosid malahan mendapatkan kemajuan dari aktivisme (ia aktif di sebuah organisasi non-pemerintah) dan berkesenian (ia pembaca deklamasi dan pengagum Rendra). Kedua, ketimbang hidup makmur dan naik kelas sosial, 3 Hati mengusulkan bentuk kemajuan lain manusia Indonesia yaitu penyadaran politik dan pendidikan kewargaan.

Yang menarik dari perbedaan pendidikan, status sosial dan kehidupan ekonomi Rosid dan Delia adalah kembalinya kisah cinta beda kelas sosial, sejak film-film Rhoma Irama – Ricca Rahim. Inilah kembalinya kisah cinta beda kelas sosial dan beda tingkat pendidikan yang dijadikan persoalan tanpa tokoh laki-laki (selalu kelas lebih rendah) perlu menjalani pendidikan tinggi agar bisa sejajar dengan perempuan cantik dan kaya yang cinta padanya, seperti digambarkan pada novel dan film Ketika Cinta Bertasbih.

Maka kisah cinta Rosid dan Delia tak semata sebuah komedi romantik, sebuah genre yang mengawinkan antara roman – kisah cinta yang tak sampai – dengan komedi. Unsur komedi, sejak cerita ini berbentuk novel , diijadikan sebuah strategi untuk melakukan sublimasi terhadap sebuah tema yang penting : kisah cinta beda agama.

5
Pada era pasca Soeharto, 3 Hati merupakan film kedua yang bercerita tentang kisah cinta beda agama sesudah film Cin(T)a karya Sammaria Simanjuntak yang beredar pada tahun 2009. Bukan kebetulan bahwa kedua film hadir pada waktu yang berdekatan. Kisah cinta beda agama merupakan sesuatu yang mudah ditemui pada kehidupan sehari-hari, tapi sangat sedikit diangkat menjadi topik dalam film. Ini terjadi karena kisah cinta beda agama merupakan salah satu tabu yang diketahui secara luas, tapi jarang sekali dibicarakan secara terbuka di media. Maka bersama dengan Cin(T)a, film 3 Hati sudah membuka tabu itu dan membicarakan cinta beda agama dan konflik yang diakibatkannya sebagai sesuatu yang sudah seharusnya dibicarakan secara terbuka.

Sebenarnya film Ayat-ayat Cinta (sutrarada Hanung Bramantyo) juga bicara soal cinta beda agama, yaitu cinta antara Maria Girgis (Carissa Putri) kepada tokoh utama film, Fahri (Fedi Nuril). Namun AAC tidak mempersoalkan perbedaan agama tersebut, karena film ini justru menggunakan perbedaan itu untuk menekankan keunggulan salah satu agama dibanding yang lainnya. Dalam film itu Maria Girgis, penganut Kristen Koptik, akhirnya masuk Islam, dan kisah cinta beda agama itu tak menjadi persoalan sama sekali. Film berakhir dengan baik, dan akhiran film menutup segala macam perdebatan mengenai perbedaan agama ini tanpa menyisakan pertanyaan sedikitpun.

Dalam hal ini, posisi 3 Hati jadi bertolak belakang dengan AAC dalam soal memecahkan masalah kisah cinta beda agama itu. Film 3 Hati menghadirkan sosok Nabila yang dengan mudah menjadi pemecahan bagi tokoh Rosid. Latar belakang Nabila (etnis Arab dan Muslim) sangat cocok bagi Rosid. Nabila juga sangat cantik (diperankan dengan sangat baik oleh Arumi Bachsin yang bertransformasi dari perannya di Putih Abu-abu dan Sepatu Kets) dan menyukai deklamasi Rosid sehingga ia bisa menjadi peluang bagi Rosid menghindari konflik dengan orangtuanya, dan film akan berakhir baik bagi semua (oh, kecuali bagi Delia yang sudah berkorban menolak rencana orangtuanya sekolah ke Amerika).

Namun alih-alih memilih jalan mudah itu, film 3 Hati justru menantang gagasan mememangkan harmoni sebagai pemecahan kisah cinta beda agama ini. Dengan jitu film ini menggambarkan bahwa keluarga adalah faktor terpenting dalam struktur konflik cinta beda agama ini, dan film ini melawan tradisi memenangkan keluarga dengan mudah. Sayang sekali bahwa resolusi yang berani ini harus dicemari oleh caption di penghujung film yang menyajikan pemecahan yang instan terhadap persoalan yang sudah susah payah dibangun. Tampaknya masih ada kilasan ketidakpercayaan para pembuat film ini bahwa para penonton mampu menyikapi persoalan ini dengan dewasa.

Saya percaya para pembuat film ini punya hitung-hitungannya sendiri dalam membuat film mereka. Sejauh ini, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta telah berhasil meraih Piala Citra sebagai film Indonesia terbaik tahun 2010. Predikat ini bisa jadi dipertanyakan mengingat film Sang Pencerah (sutradara Hanung Bramantyo) disingikirkan oleh komite seleksi FFI dengan alasan “akurasi sejarah” yang lemah. Sekalipun demikian, jelas film ini merupakan salah satu film terpenting tahun 2010 karena keberaniannya menabrak tabu, sekaligus tetap sublim atau halus pada saat yang sama.

Strategi komedi film ini memang mampu membawa tema yang tergolong berat dan sensitif dengan sukses tanpa menjadikannya melodramatis. Sebuah melodrama mungkin akan menguras emosi dan bisa jadi lebih laris. Namun pendekatan komedi telah membuat drama menjadi proporsional dan tidak ada penghitam-putihan yang mengorbankan karakter sehingga menjadi jahat dan mudah dibenci. Alih-alih, elemen penghalang (adversaries) dalam plot film ini dikenakan berbagai stereotip (typecasting) untuk menimbulkan efek karikatural yang berguna sebagai bahan lelucon, terutama pada tokoh ayah Rosid. Pilihan komedi ini akhirnya memang berhasil melakukan sublimasi atau menghaluskan konflik.

Dengan pilihan komedi begitu, entah kenapa judul film ini harus menghadirkan matematika yang cenderung rumit itu? Sekali lagi tercium bau ketidakpercayaan diri para produser untuk menjadi lebih sederhana, karena materi film ini cukup menjual bagi berbagai kalangan. Dengan pemasangan bintang yang tepat (saya suka sekali akting Laura Basuki di film ini yang tampak begitu alamiah, seakan tak ada kamera di hadapannya) dan jalan cerita mengalir seperti ini seharusnya pembuat film ini berani memasang judul yang lebih sederhana. Mungkin tepatnya: lebih apa adanya. ***

Tulisan ini untuk suplemen DVD film 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta yang diterbitkan oleh Jive Collection. Versi yang terbit di sini adalah versi yang sudah diedit dari versi suplemen tersebut.

3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta. 2010. Sutradara: Benny Setiawan. Produser: Pemain: Reza Rahadian, Laura Basuki, ArumiBachsin. Mizan Production.

Mencatat Film Indonesia di tahun 2010

Belakangan semakin sulit bagi saya untuk membuat daftar “film terbaik” karena rasanya tak adil membandingkan film satu dengan lain bagai sebuah kontes kecantikan atau seperti lomba lari. Setiap film tentu punya anasir dan masing-masing unsur itu tentu bekerja dalam ranah yang berbeda bagi penonton berbeda. Maka jika ingin membuat perbandingan antar film, hal yang paling jauh saya bisa lakukan adalah otentisitas pengalaman menonton ketimbang membandingkan anasir semisal sinematografi, editing dan sebagainya. Memang sih, otentisitas menonton itu kelewat subyektif tapi toh saya merasa sejauh ini saya sudah lumayan banyak menonton film untuk ikut memasukkan soal-soal teknis tadi dalam penilaian otentik tidaknya dalam menonton film. Misalnya, saya bisa memberi contoh. Ketika menonton sebuah film saya merasa bisa menebak apa kira-kira shot berikutnya dari film itu. Bahkan komposisi dan ritme editing juga sudah bisa saya perkirakan sebelum terjadi. Ini termasuk pengalaman menonton yang sangat tidak asyik dan tidak otentik, mudah terulangi. Hal semacam ini sebenarnya mengurangi kenikmatan menonton, tapi sudahlah. Mungkin saya dikutuk hingga hal seperti itu tak terhindarkan.

Kembali ke soal penilaian, maka ketimbang menilai mana yang paling baik di antara film-film yang saya tonton tahun 2010, maka saya memutuskan untuk mencatat saja, khusus untuk film-film Indonesia. Ada alasan lain kenapa saya hanya mencatat saja.

Tahun ini saya merasa agak kesulitan kalau membuat peringkat, sekalipun daftar semacam itu ada juga gunanya. Setidaknya bagi saya untuk bersenang-senang. Tahun ini keberatan saya terhadap film-film Indonesia, terutama yang saya tonton di bioskop, jauh lebih besar ketimbang rasa gembira ketika menontonnya. Maka saya berpikir ketimbang memilih “mana yang terbaik”, saya memutuskan untuk membuat daftar berdasar “mana film yang paling bergairah untuk saya catat”. Ini semacam daftar peringkat juga, tapi tentu bukan peringkat berdasar pencapaian kesempurnaan melainkan peringkat berdasarkan interaksi film-film itu dengan saya.

Oh, dan saya tak membedakan antara film dokumenter dan fiksi. Ini dia daftar catatan saya:

9.      Minggu Pagi di Victoria Park (Sutradara : Lola Amaria)

Filmmaking sebagai laku turisme ? Tentu saja. Sejak Nanook of The North tahun 1929, filmmaking selalu membawa keterpesonaan terhadap sesuatu yang jauh di sana, sekalipun apa yang disajikan sebenarnya hanya kisah hidupnya sehari-hari. Sayang sekali bahwa Lola Amaria masih menjadikan sebagian subyek filmnya dengan cara pandang seperti ini, padahal ia sudah pergi jauh dengan determinasi tinggi membuat film ini. Ia masih merasa perlu menyajikan hal sehari-hari subyeknya sebagai tontonan untuk menciptakan sensasi aneh terhadap yang asing, bagai sebuah curiosity cabinet a la abad kesembilanbelas. Mungkin penonton Indonesia masih berada pada tahap seperti itu : penonton curiosity cabinet ? Puluhan tahun lalu Nya Abbas Akup sudah mengatakan hal itu, dan tak kelewat salah rasanya jika ada yang berubah.

8.      Ampun DJ (Sutradara : Agus Darmawan)

Saya tercengang pada fakta bahwa kamera dalam film ini bisa masuk ke tempat-tempat intim semisal kamar mandi, menandakan adanya sebuah kepercayaan besar dari para subyek terhadap pembuat film ini. Inilah sebuah observasi yang sangat sungguh-sungguh terhadap para subyek film tanpa ada prasangka apapun kecuali sang kamera itu sendiri. Tentu bisa ada salah sangka terhadap kamera terutama bahwa ia melakukan gazing, tapi itu selalu resiko sebuah filmmaking, bukan? Perhatikan bahwa pengabaian terhadap basa-basi teknis sudah membuat film ini menjadi wakil dari cara tutur film Indonesia era new media yang sudah memasukkan hal keseharian dan “tak penting” sama patut ditontonnya dengan drama.

Eh, tapi tunggu dulu, benarkah film ini tanpa prasangka? Inilah kelemahan utama film ini yang membuatnya jadi gagal total: kenapa fakta-fakta menarik yang sudah bicara banyak itu harus dibenturkan dengan slogan-slogan dangkal seperti “kota budaya” dan “kota pelajar”? Bagi saya, karya ini jadi kekanak-kanakan, padahal tanpa lirik rap menggurui dan slogan-slogan itu, seharusnya Ampun DJ berpeluang untuk menjadi salah satu film Indonesia paling kuat tahun ini.

7.      Sang Pencerah (Sutradara: Hanung Bramantyo)

Film ini bukan yang pertama mengangkat tema pembaruan Islam, tapi inilah film yang paling punya sikap tegas terhadap keadaan kontemporer yang dihadapi Indonesia, terutama pasca Soeharto.  Ini kredit yang tinggi mengingat kritik politik bagai lama absen dalam film Indonesia. Kritik tegas ini, diiringi dengan production value yang jauh di atas rata-rata merupakan sesuatu yang sulit untuk ditemui tahun ini. Sayang saja bahwa film ini bersandar pada stereotip guna memudahkan persoalan dan pencernaan penonton – argumen yang selama ini juga dikembangkan oleh para pembuat opera sabun a la Indonesia alias sinetron. Bukan hanya tokoh utama film ini yang terasa bersifat satu dimensi, persoalan yang dihadapinya juga terasa datar dan terlalu dipermudah demi pemahaman instan. Tentu jika topiknya cinta monyet, tak apalah, toh dalam kasus seperti itu kita tahu penonton memang sekadar cari mimpi. Tapi apakah penonton juga cari mimpi ketika menonton film dengan tema pembaruan Islam? Rasanya tidak, dan dalam konteks ini saya terpaksa menyatakan tawaran pembuat film ini jadi tak bijak dalam jangka waktu yang lebih panjang. Untuk tahun ini, saya mencatat Sang Pencerah, tapi dalam jangka waktu lebih panjang – sejarah film Indonesia misalnya – saya akan mengunggulkan film semacam Titian Serambut Dibelah Tujuh atau Para Perintis Kemerdekaan atau Nada dan Dakwah sebagai film pembaharuan Islam favorit saya.

6.      Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (Sutradara: Dedi Mizwar)

Ada yang namanya sikap politik dan sinema tentu saja bisa menjadi salah satu penyaluran terpenting bagi hal itu. Dedi Mizwar, seorang yang pernah mencalonkan diri menjadi presiden, paham betul bahwa sinema adalah alat kuat  pembawa gagasan dan keprihatinan. Ia punya konsep jelas bahwa film adalah alat komunikasi dan sebaiknya dalam berkomunikasi, film tak salah dalam menyampaikan pesan. Maka film ini menjadi semacam khotbah, semacam teriakan yang mengandung vulgarisme pada pesan yang disampaikannya itu. Bukan sekadar tak keberatan, tapi memang efek itulah yang ingin disampaikan oleh Dedi Mizwar dari kisah tentang generasi muda dan jalan buntu harapan akibat segala sesuatu seperti salah tempat dan salah kelola ini. Untungnya Dedi tak mengorbankan cerita dan tak lupa pada rumus-rumus penguras emosi, sekalipun pen-zhohir-an beberapa pesannya terasa jadi ganjalan serius bagi kelancaran film ini dalam bertutur.

5.      Metamorfoblues (Sutradara : Dossy Omar)

Sayang sekali bahwa beberapa bagian terpenting film documenter ini sudah muncul di film Generasi Biru yang beredar tahun lalu. Maka saya tak lagi kelewat terkejut dengan pendadaran fakta tentang para Slanker yang sudah jadi subkultur yang hidup berurat berakar dengan sangat dalam, mungkin jauh lebih dalam ketimbang akar lembaga-lembaga politik kita. Namun dengan faktor kejutan yang berkurang, Metamorfoblues masih berhasil membawa saya menjadi seorang turis yang sabar dan dipenuhi rasa ingin tahu tentang apa itu Slankers dan bagaimana ia hidup serta menjadi daya hidup bagi banyak orang di negeri bernama Indonesia. Sutradara Dossy Umar berhasil dengan mulus mentransfer energi itu keluar layar, kepada penonton terutama karena ia tak berhenti di permukaan, tak puas dengan anekdot. Ia mencoba memahami mengapa para Slankers itu percaya dan ia berhasil membawa keyakinan itu keluar layar.

4.      Working Girls (Sutradara: Sammaria Simanjunta dan Sally Anom, Yosef Anggi Noen, Daud Sumolang dan Nita Nazyra C. Noer)

Para sutradara dalam film ini mampu membuktikan bahwa film yang diniatkan menjadi film kampanye selalu punya peluang mengatasi “niat propagandis” media ini dan bersikukuh bahwa manusia punya cerita yang kaya nuansa dan unik pada masing-masing kasusnya. Inilah kekuatan sinema yang sejak lama membuatnya terus mampu bertahan dari godaan untuk mendangkalkan persoalan dan turut serta mengabdi pada “tendens” yang kelewat kontekstual dan sempit. Para perempuan pekerja dalam film ini seperti diberi hidup oleh para filmmaker di kumpulan ini karena keberanian mereka – lagi-lagi – untuk menjadi observer alias pengamat yang baik, sabar dan ingin tahu. Maka momen-momen kecil ketika fakta kecil terungkap mampu membelokkan pandangan kita yang sudah ajeg terhadap banyak hal. Salut!

3.      Belkibolang (Sutradara: Agung Sentausa, Ifa Isfansyah, Tumpal Tampubolon, Rico Marpaung, Anggun Priambodo, Azhar Lubis, Wisnu Surya Pratama, Edwin, Sidi Saleh).

Jika sampai ada omnibus Gue Cinta Jakarta sebagaimana Sawasdee Bangkok yang mengambil insipirasi dari Paris J’taime atau I Love New York, maka Belkibolang adalah versi alternatifnya, kalau tak mau dikatakan sebagai sebuah sub-versi narasi tentang Jakarta yang dibangun oleh pandangan arus utama. Belkibolang atau “belok kiri boleh langsung” bisa dibaca sebagai sistem berlalulintas Jakarta sekaligus memberi konotasi “kiri” yang melawan “kanan” yang berkonotasi mapan. Film ini memang mampu menabrak langsung beberapa tabu. Ifa Isfansyah sengaja membuat kisah palindrome yang akhirnya mengajukan struktur elipisis  murni ketika peristiwa dan waktu tak terbedakan, dan film bisa dipandang dari “segala arah”.  Edwin sekali lagi (sesudah Dajang Sumbi) membuat pemeran utama perempuan dalam filmnya bugil, kali ini untuk merangsang adrenalin dan berspekulasi terhadap ketidakyakinan penonton. Maka jika “kanan” adalah sinema yang mapan lewat tema dan cara tutur yang seperti tak terganggu gugat, maka Belkibolang menegaskan bahwa penonton bisa belok ke “kiri” tanpa ragu dan menunggu.

2.      3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (Sutradara: Benny Setiawan)

Terlalu banyak catatan kaki yang membuat film ini kelewat penting untuk diabaikan. Pertama, film ini berlawanan dengan arus film Indonesia semasa yang mengidentikkan kesuksesan dengan bersekolah di perguruan tinggi atau jadi kaya. Film ini santai saja memandang aspirasi semacam itu dan berusaha untuk melihat sebuah alternatif tokoh archetype dalam film Indonesia yang bersifat etnis (ketimbang nasional), berpendidikan SMA (ketimbang perguruan tinggi) dan seorang (semi-) aktivis (ketimbang apolitis). Kedua, film ini mengedepankan sifat kosmopolitanisme Indonesia tanpa banyak cingcong, sebagai sebuah fakta yang harus dihadapi oleh setiap individu dalam merumuskan identitasnya. Identitas individu adalah proses negosiasi yang konstan dan film ini dengan tepat memberi gambaran itu. Ketiga, film ini adalah komedi yang segar dan dikerjakan dengan akting yang sangat mulus, membuat para tokoh di dalamnya bukan saja mudah untuk dipercaya, tapi bisa bikin penonton dengan tulus menjatuhi simpati. Maka catatan saya terhadap film ini sebetulnya tidak banyak dan saya menikmati film ini, terutama pada akting Laura Basuki yang bagi saya tahun ini menjadi salah satu pemain yang paling tak sadar (less-conscious) akan keberadaan kamera.

1.      On Broadway #1 (Sutradara: Aryo Danusiri)

Berisi 41 menit shot tunggal tak terputus tentang sebuah ibadah sholat Jumat di sebuah basemen di Broadway, New York. Karya ini menunjukkan bahwa apa yang menjadi latar belakang dari penempatan kamera itu sama pentingnya dengan apa yang ada di dalam layar. Maka terhubunglah teks dan subteks film ini. Mudah sekali untuk tergoda menghubungkan kota New York, Islam, pembangunan mesjid di ground zero dan segala sirkus liputan media dengan film ini, dan terus terang saja subteks itu terbaca juga. Namun bagi saya, On Broadway #1 punya sebuah titik berangkat yang lebih dari sekadar semata respons terhadap problem kontemporer semacam itu. Bagi saya, peristiwa apa saja bisa hadir dalam layar seperti ini, tetapi, pertama, film ini menegaskan bahwa gagasan peletakkan kamera sejak pertama sudah merupakan sebuah laku kreatif dan kedua, perekaman yang dilakukan menegaskan bahwa penonton diajak untuk menikmati peristiwa dan membebaskan diri memberi tafsirnya sendiri atas peristiwa itu. Sebuah sinema murni? Mungkin saja secara teori film ini bisa digolongkan begitu, tapi pesona yang muncul dari menyaksikan peristiwa itu terurai dalam durasinya bagai menyaksikan sebuah bunga mekar untuk mencapai kesempurnaannya. Tentu tak cocok bagi pendamba drama dan penikmat film Michael Bay. Namun dari film semacam ini kita seperti diingatkan bahwa peristiwa punya semacam hidupnya sendiri dan bagaimanapun intervensi pembuat film dalam menghadirkannya kembali punya keterbatasan yang amat serius. Dan itu patut dinikmati dengan sukacita.