Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Stop Human Cloning (Wahyu Aditya, @maswaditya)

Wahyu Aditya tidak percaya bahwa eksperimen terhadap manusia akan berakhir baik-baik saja. Para manusia hasil eksperimen bisa bertindak di luar kendali dan akhirnya mencelakai pembuatnya. Maka ia menyarankan agar kita menghentikan saja “human cloning” karena akibatnya akan fatal terhadap para pelaku eksperimen itu.

Dengan bentuk komedi, sebenarnya Stop Human Cloning bisa membawa ke mana saja, ke ide yang lebih berani dan kompleks. Namun tampaknya memang bukan itu tujuan film ini. Stop Human Cloning memang bicara dalam tataran yang naif dan sederhana. Karakter-karakter manusia buatan itu terlalu simplistik, satu dimensi dan masalah yang diletakkan kepada mereka juga bukan masalah yang matang.

Namun saya senang sekali pada bentuk stop motion yang dibuat oleh Wahyu Aditya ini. Menurut saya, kejenakaan menjadi elemen penting yang ada di sekujur karya ini. Jangan-jangan, kalau Nyak Abbas Akup membuat film stop motion pendek, ia akan membuatnya seperti ini. Jangan salah paham dulu dengan perbandingan ini.

Kita paham becandaan Nyak Abbas, pada film-filmnya yang populer, yang beredar di seputar paha dan dada. Logika yang Nyak Abbas gunakan juga linear dan simplistis karena ia sadar ia sedang bicara dengan para penonton bioskop kelas B-C-D di pasar-pasar tradisional yang becek di dekade 1980-an. Maka Nyak Abbas sering sekali menggunakan bahasa yang vulgar, baik bahasa dialog maupun bahasa gambar. Maka, maksud saya, karya Wahyu Aditya ini memang berkisar di wilayah karya seperti itu, sebuah kemungkinan yang sebenarnya menarik untuk dieksplorasi lebih jauh.

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Everything’s OK (Tintin Wulia)

Diantara pembuat film pendek generasi 2000-an, Tintin Wulia adalah salah seorang dari yang percaya bahwa film pendek adalah sebuah karya sendiri yang perlu ditekuni sungguh-sungguh secara tersendiri, dan bukan jalan masuk untuk membuat film panjang. Dengan komunitas Minikino yang ia bentuk di Bali, Tintin mempromosikan film pendek sebagai sebuah cara untuk “detox” dari konsumsi medium audio visual yang tak perlu. Kini ia lebih suka disebut sebagai seorang “seniman” ketimbang pembuat film pendek, karena karyanya meluas, tak terbatas pada medium film (atau video) pendek saja.


Dalam Everything’s OKini, Tintin menggambarkan salah satu masalah klasik yang begitu mudah ditemui di berbagai negara: urbanisasi dan pertumbuhan kota yang menurunkan kualitas lingkungan hidup secara drastis serta dominasi ruang oleh bangunan-bangunan besar. Penggunaan bahan-bahan sederhana pada film ini menimbulkan kesan figuratif: sebuah penceritaan yang universal dan mudah ditangkap siapa saja. Namun karya ini sama sekali tidak naïf. Judul film pendek ini memperlihatkan ironi yang ingin digambarkan oleh Tintin dan ironi yang diniatkan begini hanya bisa muncul dari kecerdasan, tidak dari kenaifan.

Selain grafis animasi yang istimewa dari kesederhanaan itu, karya ini kuat pula dari ironi yang dihasilkannya. Ironi ini bisa berarti sikap Tintin untuk menertawai diri sendiri (sebagaimana Voltaire menggunakan figure l’ingeunue untuk menertawai kebodohan prang-orang seperti dirinya) atau justru sebagai sindiran bagi kemapanan yang dihasilkan oleh sebuah “mesin besar”. Tintin mengimplikasikan ironi itu sebagai sebuah sindiran terhadap “mesin besar” tersebut sekalipun ia tak mendefinisikan apa atau siapa atau bagaimana rupa si mesin besar itu. Ia hanya menggambarkan perilaku: sesuatu yang bisa melekat pada siapa saja dalam posisi sosial politik yang bagaimana saja.

Maka Everthing’s OK adalah sebuah kerja kebudayaan, kerja seni, yaitu ketika seniman memotret perilaku secara figurative dan membiarkan penafsiran terhadap siapa pelaku itu berada di tangan penonton sepenuhnya. Terus terang saja, tak banyak seniman kita yang mampu berada pada posisi seperti ini, bisa jadi karena kenaifan mereka, bisa jadi karena memang tak ada posisi yang mereka pijak sebagai tempat memandang persoalan.

Lihat video Everything’s OK di sini: Everything’s OK (Tintin Wulia)

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Help (Firman Widyasmara, @firmanwijasmara)

Perhatikan penjelasan terhadap film animasi ini di laman Youtube ini. Kata “experimental” di sini saya rasa lebih dekat jika diganti dengan “coba-coba iseng berhadiah” ketimbang sebuah pernyataan untuk lawan kata “mapan” atau “arusutama”. Bukan saya meremehkan karya ini, tetapi kesederhanaan metode produksi animasi ini seperti menegaskan betul bahwa kebanyakan film pendek dibuat dengan semangat mencoba, tanpa beban besar. Namun menurut saya kesederhanaan karya ini bicara lebih jauh dari sekadar “iseng berhadiah”.

Bukan lantaran Help memenangkan Grand Prize pada Hellomotion jilid 2 pada tahun 2005, tapi animasi ini mampu memperlihatkan banyak hal terutama kekuatan ide dan efektivitas penceritaan. Perhatikan bagaimana cuaca berubah sesudah senyum si pemancing mengembang begitu lebar? Ini sebuah drama kecil yang asyik. Namun yang paling saya sukai adalah sikap bermain-main ketika “tangan tuhan” ikut masuk ke dalam layar dan menjadi penyelesaian masalah.

Jika ada yang berkata bahwa Help adalah sebuah karya yang berangkat dari keisengan dan tak perlu dianggap serius, saya tak terlalu ambil pusing pernyataan semacam itu. Saya lebih suka melihat karya semacam ini sebagai sebuah usaha untuk berkarya dan mencoba dengan apa yang ada: sebuah sikap kreatif yang akan selalu menemukan jalan. Maka sebelum animasi semisal “Bajaj Transformer” atau kesertaan animator Indonesia di “Sing to The Dawn” banyak dibicarakan di dunia kreatif, saya merasa salam takzim perlu diberikan pada karya seperti Help ini.