Politik Hal Ihwal dan Film Dokumenter

 

maxresdefaultDALAM akhir pekan mendatang, sebuah film dokumenter seputar pemilihan presiden yang baru lalu akan diputar di bioskop. Judulnya Yang Ketu7uh, karya sutradara Dandhy Dwi Laksono dan Hellena Y. Souisa. Film dokumenter ini tampaknya ingin mendayung di atas arus mitos. Pertama mitos tentang angka tujuh sebagai angka yang istimewa. Selain judulnya Yang Ketu7uh, film dokumenter ini juga kebetulan merupakan film dokumenter ketujuh yang pernah tayang secara komersial di bioskop. Sebelumnya ada: Student Movement in Indonesia (Tino Saroengallo, 2002), The Jak (Andibachtiar Yusuf dan Amir Pohan, 2007), Pertaruhan (Lucky Kuswandi, Ucu Agustin, Iwan Setiawan, Ani Ema Susanti dan Muhammad Ichsan, 2008), The Conductors (Andibachtiar Yusuf, 2008), Setelah 15 Tahun (Tino Saroengallo, 2013) dan terakhir Jalanan (Daniel Ziv, 2014).

Mitos yang kedua adalah mitos yang bersumber dari sosok Sukarno. Film dokumenter ini dibuka dengan gambar pidato Sukarno dan rakyat yang berlarian menuju lapangan ingin mendengarkan apa kata pemimpin mereka itu. Salah satu mitos terkuat seputar Sukarno adalah ia merupakan pemimpin yang demikian dicintai rakyatnya, dan ia pun mengaku diri sebagai penyambung lidah rakyat. Mitos kedekatan itu pula yang tampaknya ingin dikejar oleh dua orang calon presiden dalam pemilihan presiden langsung 9 Juli lalu. Tak heran sejarawan John Roosa, di situs daring Mandala (http://asiapacific.anu.edu.au/newmandala), menganalisa Prabowo Subianto dan Joko Widodo sebagai semacam perwujudan dari Sukarno dalam soal hubungan diri mereka sebagai pemimpin dengan rakyatnya.

 

Politik Hal Ihwal

Pemilihan presiden tahun ini memang dianggap yang paling emosional, karena kedua calon mampu membuat banyak orang tergerak untuk mendukung masing-masing calon. Keduanya merasa memiliki dukungan besar dari rakyat dan maju ke tampuk tertinggi kekuasaan, demi rakyat. Dalam berbagai variasinya, keduanya mengaku amat peduli dan sepenuhnya mengabdikan diri untuk rakyat.

Tapi pertanyaannya: rakyat yang mana?

Jawaban atas pertanyaan itu menjadi premis utama film dokumenter keluaran rumah produksi Watchdoc yang bekerjasama dengan lembaga riset Katadata ini. Kedua sutradara bekerja bersama 19 orang videographer, berusaha untuk mengejar sebuah target naratif yang relatif sederhana: bagaimana sesungguhnya politik di mata rakyat dalam keseharian hidup mereka? Dengan mengikuti 4 orang tokoh utama, film dokumenter ini mencoba memperlihatkan bagaimana politik mewujud dalam kehidupan sehari-hari ‘rakyat biasa’. Keempat orang itu adalah Nita, buruh cuci di Tangerang; Amin, seorang petani Indramayu; Suparno pekerja bangunan serabutan di Galur, Jakarta Pusat; dan Sutara, tukang ojek yang mangkal di Tanah Tinggi, Jakarta Pusat.

Keempat orang ini diikuti kesehariannya, dicaritahu apa saja mimpinya, seperti apa aspirasi politiknya dan siapa presiden pilihannya. Dalam rangka mencari tahu ini, kamera mengikuti keempatnya, mengunjungi kawasan tempat mereka tinggal, bahkan masuk ke kamar tidur mereka dan mengurusi urusan mereka. Dari situ kita tahu Nita ingin punya baju bagus seperti baju milik orang lain yang biasa ia cuci. Kita paham bahwa Amin harus bercocok tanam di tanah negara, semata supaya ia bisa bertahan hidup karena lahan pertanian sudah tak ada. Juga Sutara yang harus tiga kali bolak balik untuk mengantar anaknya sekolah. Dengan agak panjang lebar, film ini memberi kesempatan pada masalah-masalah itu untuk terungkap. Terwujudlah premis film dokumenter ini: inilah hal ihwal yang seharusnya menjadi urusan para politisi yang mengaku menjalankan amanat rakyat itu.

Sebagai perwujudan premis tadi, politik menjadi masalah keseharian. Tak peduli bagaimana Prabowo berpidato dengan berapi-api di atas panggung, juga bagaimana Joko Widodo disambut antusias massa di Gelora Bung Karno pada saat konser dua jari, politik akhirnya adalah urusan hal ihwal dalam hidup sehari-hari keempat orang ini. Politik adalah hal ihwal, bukan sekadar klaim atau misi dan visi.

Hal ini, seperti yang dinyatakan oleh sosiolog Prancis, Bruno Latour, adalah ding politik atau politik hal ihwal yang seharusnya menggantikan real politik. Dalam ding politik, kehidupan politik harus selalu terkait dengan hal ihwal (baik kongkret maupun abstrak) yang harus diurus dan diselesaikan, bukan soal kenyataan politik kerap berubah jadi pemujaan berlebih terhadap prosedur, atau bahkan menjadi basis tawar menawar politik yang tak ada hubungannya dengan hal ihwal tadi. Maka sebagaimana para politisi, menonton film dokumenter ini adalah mencoba untuk memahami urusan orang lain, yang belum tentu menjadi urusan kita secara langsung. Sekalipun hal seperti ini tak baru-baru amat, belum banyak tontonan di bioskop yang menghadirkan hal seperti ini bagi penonton Indonesia.

Berhasilkah film dokumenter ini membangun argumen bahwa hal ihwal dalam film itu memang penting bagi kehidupan bersama? Dalam hal ini, saya punya dua catatan. Pertama, mereka asyik dengan rincian panjang hal ihwal yang jadi masalah bagi Amin, sang petani Indramayu. Dengan penjelasan panjang lebar seperti itu, tentu pertanyaannya: apakah masalah Amin lebih penting ketimbang yang lain? Saya rasa Anda harus menilai sendiri apakah soal kurangnya lahan pertanian lebih penting ketimbang mimpi punya baju bagus.

Catatan kedua adalah berubahnya tempo film di penghujung, ketika pemilu presiden sudah memperlihatkan hasil. Tiba-tiba muncul potongan demi potongan gambar orang-orang yang berkumpul di depan TV di berbagai kota menyaksikan hasil penghitungan pemilu. Apa yang sudah dibangun untuk memperlihatkan hal ihwal tadi, berubah jadi semacam sketsa tentang politik sebagai sebuah pesta rakyat Indonesia. Film ini kembali kepada jargon ketimbang mempertahankan politik sebagai urusan hal ihwal yang menjadi premis utama film.

Namun demkian, film ini sudah berhasil menghadirkan hal penting: mengubah hal ihwal orang per orang menjadi bersifat publik, yaitu ketika masalah individu dianggap menjadi bagian dari urusan banyak orang yang belum tentu berkaitan langsung dengan mereka. Inilah tonton yang tak biasa Anda temui di layar bioskop, dan saran saya, ikutilah sendiri bagaimana para pembuat film ini membangun argumen mereka.

 

Tentang Publik dan Film Dokumenter

Bagaimanapun itulah salah satu fungsi utama film dokumenter: menjadikan hal ihwal tertentu menjadi bersifat publik. Di negara maju seperti Amerika, Inggris, atau Jepang, stasiun televisi banyak menjalankan peran itu, terutama stasiun TV yang didanai oleh dana publik. Stasiun TV seperti BBC atau Channel 4 di Inggris, mengudarakan secara rutin seri dokumenter yang mewujudkan konsep-konsep kehidupan sosial dan politik dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pula stasiun seperti PBS di Amerika, dengan program Independent Lens yang penuh dengan program dokumenter berkualitas.

Tak jarang satu seri dokumenter memicu diskusi publik berkepanjangan seperti Benefit Street (2014) di Channel 4, Inggris, yang menggambarkan kehidupan para penerima tunjangan sosial yang tinggal di jalan James Turner Street di kota Birmingham. Seri dokumenter itu jadi perdebatan lantaran dianggap menyatakan para penerima tunjangan ini sebagai ‘orang miskin yang malas’. Surat kabar The Guardian merasa penggambaran itu bisa dijadikan amunisi bagi kaum konservatif untuk mengajukan pengurangan subsidi dan tunjangan, padahal kedua hal itu adalah watak utama negara kesejahteraan yang didukung surat kabar tersebut.

Contoh ini memberikan gambaran mengenai peran film dan program dokumenter dalam kehidupan publik. Peran itu bisa masih berbeda dengan apa yang ada di Indonesia. Perdebatan publik yang dipicu oleh film di Indonesia lebih banyak terjadi pada film fiksi, berupa tepat atau tidaknya representasi yang dihadirkan oleh pembuat film, seakan kreasi pembuat film harus taat pada kenyataan. Masalahnya, apa yang disebut sebagai kenyataan sesungguhnya amat tergantung pada persepsi. Maka penggambaran yang dianggap keliru bisa dipandang sebagai penghinaan, seperti, misalnya, yang terjadi pada perdebatan seputar film Cinta Tapi Beda (Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra, 2013). Sebagai pengingat, film itu dianggap menghina lantaran, antara lain, menggambarkan orang Minang sebagai pemeluk agama Kristen.

Film dokumenter Yang Ketu7uh ini mungkin tak akan memicu perdebatan seputar pemilu presiden lalu, karena apa yang disajikan bukan hal yang kontroversial, semisal film The Act of Killing (Joshua Oppenheimer dan Anonim) yang beredar di bawah tanah tahun lalu. Namun ada juga saatnya media film mengampu diskusi penuh kesadaran tentang apa sesungguhnya yang memang perlu bagi publik. Sudah saatnya juga film dokumenter seperti ini diberi kesempatan lebih besar untuk memegang peran itu.***

 

Yang Ketu7uh. Dokumeter.

Sutradara: Dhandy Laksono. Ko-sutradara: Hellena Y. Souisa. Produksi: Watchdoc.

Tulisan ini pertamakali dimuat di Harian IndoProgress: http://indoprogress.com/2014/09/politik-hal-ihwal-dan-film-dokumenter/ (23 September 2014)

 

Tentang ekosistem bagi produk pinggiran

img-20160612-wa0007.jpg

Catatan Sheffield 6

Mengapa ada delegasi Indonesia di Sheffield Documentary Film Festival 2016, sedangkan tidak ada film Indonesia yang diputar di sini, maupun ikut menjajagi pendanaan*?

Saya, Amanda Marahimin, Suryani Liauw, dan Alia Damaihati berangkat dengan dana gabungan. British Council membayari untuk penginapan dan allowance. dan Bekraf memberi Mandy, Suryani dan Alia biaya perjalanan, dan saya membeli tiket kereta sendiri.

Selain kami, ada Levina Wirawan dari British Council yang bertugas memfasilitasi kami selama di Sheffield, dan dua orang dari Badan Ekonomi Kreatif Fajar Hutomo (Deputi Akses Pendanaan) dan Hanifah Makarim (Kepala Sub Direktorat Dana Masyarakat).

Sependek ingatan saya, rasanya baru pertamakali ada rombongan Indonesia datang ke sebuah festival film dokumenter dalam jumlah sebesar ini sebagai satu rombongan, tanpa ada film yang diputar ataupun masuk dalam pitching forum. Mandy membenarkan hal itu. Para pelaku film dokumenter biasanya berkeliling festival secara pribadi, dengan dana hasil pencarian sana sini.

Lalu mengapa British Council mau membayari sebagian perjalanan ini?

Jane Showell dari British Council di London mengatakan bahwa keputusan itu diambil sesudah mendengarkan masukan mengenai posisi film dokumenter yang selama ini berada di pinggiran. Mengingat film dokumenter termasuk dalam bidang yang tercantum pula di dalam nota kesepahaman antara Pemerintah Inggris dan Indonesia, maka ia merasa perlu mendukung kegiatan terkait film dokumenter.

Selain itu, British Council sendiri memiliki agenda yang ia lihat sangat cocok dengan festival di Sheffield ini. Jane menyebut perhatian utama terhadap tema perkembangan teknologi digital, akses bagi kaum difabel, dan keterlibatan kaum muda sebagai prioritasnya dan ia melihat kuatnya beberapa proyek yang dipajang di Alternate Reality di Sheffield 2016 sangat tepat untuk kebutuhan itu. Secara khusus ia menyebut proyek virtual reality berjudul Note on Blindness (tentang perjalanan seorang secara pelan-pelan menuju kebutaan) dan In My Shoes (tentang pengalaman seorang pengidap epilepsi). Ia melihat kemungkinan membawa kedua proyek itu ke Jakarta untuk ditampilkan. Jane berharap akan muncul proyek yang berkaitan dengan penggunaan teknologi digital dan terkait akses terhadap difabel dari kunjungan ke Sheffield ini.

image

Sedangkan Fajar Hutomo dari Bekraf menyatakan keberangkatan mereka yang utama adalah untuk mempelajari sistem pendanaan film dokumenter, dan sejauh yang ia jelaskan pada saya, ia mengaku mempelajari bagaimana membangun ekosistem untuk film dokumenter.

“Sejauh ini yang terpenting adalah membangun ekosistem. Jika ada dana dari pemerintah, itu akan menjadi seed capital agar ini tumbuh bisa menjadi industry. Bagaimana agar pasokan talent terjamin, terus ada dan terus meningkat kualitasnya, juga mereka bisa bertemu dengan pasar. Juga eksebisinya. Itu yang perlu kita bangun agar bisa menghidupi diri sendiri,” kata Fajar.

Fajar sendiri mengaku bahwa Bekraf siap untuk memberikan dukungan lebih besar. Ini diperlihatkan dengan keterlibatan mereka di festival ini, serta dukungan dana perjalanan bagi anggota delegasi dari Indonesia. Sedangkan untuk membantu mengerahkan pihak yang akan terlibat dalam ajang seperti pitching forum film dokumenter, Bekraf akan segera bisa melakukannya tahin ini.

“Bagaimana suasana yang ada di sini bisa ditangkap di Indonesia. Ada pitching, mentoring, master class, itu akan sangat membantu,” kata Fajar.

Menanggapi pernyataan Bekraf, produser film dokumenter Suryani Liauw menyatakan bahwa sebagai pekerja film dokumenter ia merasa sudah mengerjakan tugasnya.

“Kami di Indocs membuat program Dare to Dream untuk memilih filmmaker dan mendatangkan mentor untuk produksi dan pendanaan. Sekarang tinggal menunggu Bekraf menjalankan peran untuk mendatangkan para pendana ikut dalam pitching forum di kegiatan kami,” kata Suryani.

Mandy Marahimin mengakui inisiatif dari Bekraf ini penting dan patut dihargai. Namun ia mengingatkan bahwa masalah film dokumenter di Indonesia sangat rumit. Film yang bisa diproduksi dengan baik belum tentu bisa mendapat distribusi dan apresiasi yang memadai.

“Padahal itu penting agar filmmaker bisa membuat film lagi tanpa tergantung akses yang disediakan pemerintah terus menerus,” katanya.

Terlebih lagi, Mandy mengungkapkan penonton Indonesia yang tidak terlatih menonton film dokumenter.

“Jangankan untuk menonton film dokumenter seperti yang ditayangkan di Sheffield, bahkan untuk film fiksi saja, mereka mungkin akan kesulitan lantaran kebiasaan terpapar tontonan di televisi Indonesia yang bahasa visualnya terlalu kasar.”

“Banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan,” ujar Mandy.

———
*) Proyek Daniel Ziv yang berjudul Hijab Nation terpilih secara resmi untuk dijajakan di meatmarket untuk mencari pendana. Dan ia berangkat dengan dana sendiri untuk keperluan ini.

Catatan kemungkinan konflik kepentingan: British Council membayar untuk hotel dan memberi allowance selama saya di Sheffield. Selain itu, saya adalah salah satu anggota board of directors In-Docs yang tidak terlibat dalam operasional langsung, tetapi turut memberi masukan terhadap program In-Docs.

Where to Invade Next?

wheretoinvade
Ini film Michael Moore yang paling saya suka (image credit: comingsoon.net)
Catatan dari Sheffield 5
Film Michael Moore sudah seperti sub-genre tersendiri dalam film dockmenter. Genre mengandalkan pada keakraban elemen tertentu, dan ini membentuk antisipasi. Maka melihat apa yang ada dalam film Michael Moore sebelumnya, penonton akan bisa berhadap pada munculnya pembuat film berbadan tambun yang sangat self-centred dan berlagak jadi pahlawan ini. Dan ini tidak selalu berarti buruk.
Where to Invade Next serupa belaka dengan film Moore sebelumnya, tetapi dengan kelokan yang tak terduga. Di film ini, Moore “mengambil alih” tongkat komando dari tangan militer Amerika yang perkasa, karena, seperti digambarkannya, segala intervensi mereka justru membuat Amerika semakin keblangsak. Akhirnya mereka menyerahkan kepada Moore, dan ini seperti jadi puncak self-centred dan self-importance Michael Moore, dalam skala jauh lebih besar dibandingkan film-film sebelumnya.
Namun di sinilah film berkelok menjadi kisah yang ironik dan simpatik. Moore sengaja menginvasi negara-negara “dunia pertama” di Eropa (plus Tunisia) untuk mengambil hal-hal bermanfaat dari negeri itu untuk diterapkan di Amerika. Maka ia berkeliling dunia, mulai dari Italia, Prancis, Norwegia, Jerman, Slovenia hingga Tunisia.
Moore bermain dalam dua tataran. Di tataran pertama, tentu saja ia bermain stereotype pada masing-masing negara itu. Dijadikannya stereotype itu bahan humor yang ringan dan menekankan bahwa political correctness bukan segalanya, dan kita masih punya ruang untuk bercanda soal stereotype dengan nada yang positif.
Tataran kedua, ia lebih serius. Moore mengambil satu dua karakter dan kebijakan negara itu yang membuatnya mencolok dan membandingkannya dengan keadaan di Amerika. Untuk Italia, ia melihat betapa murah hatinya perusahaan di Italia memberi cuti berbayar bagi karyawannya. Ia mewawancara pekerja dan pemilik perusahaan soal ini dan terkaget-kaget betapa mereka sama-sama menganggap liburan demikian penting demi kesejahteraan dan kemajuan bersama.
Tentu ia membandingkan dengan Amerika, dimana perusahaan tidak memberi sama sekali cuti berbayar untuk liburan. Apabila bisa dapat cuti liburan dua minggu setahun, itu sudah istimewa. Dan orang-orang Italia yang ia ceritakan terbengong-bengong menerima fakta sedemikian. Liburan bagi mereka adalah pembentuk kebahagian, maka jika itu dicabut, hilanglah kebahagiaan dan makna hidup mereka.
Dari Norwegia ia mengambil sistem penjara yang amat longgar dan demikian manusiawi. Bahkan untuk penjara dengan tingkat keamanan maksimum, Norwegia membiarkan para penghuninya memegang sendiri kunci kamar mereka dan bekerja dengan bebas di dapur termasuk memegang pisau dan sebagainya.
“Ini pisau untuk memasak, bukan senjata,” kata salah seorang penghuni penjara membecandai Moore ketika ia bertanya kenapa mereka dibolehkan memegang pisau sementara di penjara Amerika hal itu sama sekali mustahil.

Lalu satu demi satu ia menjelajahi negeri-negeri itu dan memberi gambaran rinci kebijakan mereka yang tergolong luar biasa bagi ukuran Amerika. Dua hal penting ikut ia ceritakan. Pertama, itu semua tidak terjadi begitu saja, melainkan dari proses politik yang tidak selalu mudah. Tunisia, misalnya. Di negeri itu, perempuan bukan cuma punya hak politik penting, tetapi mereka memiliki hak untuk mendapatkan aborsi yang disubsidi oleh pemerintah. Alasan untuk itu, dengan pilihan aborsi, perempuan bisa lebih baik mengendalikan tubuhnya sendiri dan mendapatkan dukungan negara untuk itu. Dengan demikian, perempuan bisa mengejar aspirasinya dan tidak hanya jadi pelengkap bagi keluarga, karena perempuan sudah lengkap sebagai manusia dengan sendirinya.

Where to Invade
Michael Moore menjawab pertanyaan dalam screening di Sheffield Documentary Festival. Seorang penonton bertanya: kenapa tidak memasarkan film ini sebagai “film feminis” karena kenyataannya film ini demikian. Moore menjawab, ia tak ingin begitu karena wacana seorang mendapat privileged dari dunia yang patriarkis, ketika ia mengambil “posisi korban” orang akan cenderung melihat itu sebagai strategi marketing yang tidak substansial. Biar saja penonton yang langsung menilai seperti itu.
Moore menggambarkan bahwa proses politik yang membuat Tunisia mencapai hal itu bukan sesuatu yang mudah. Sesudah revolusi Tunisia yang dipicu oleh pembakaran diri Mohamed Bouazizi dan tumbangnya pemerintahan otoriter, ada upaya kelompok konservatif mendominasi politik dan mendomestikasi perempuan. Kaum perempuan lalu turun ke jalan dan melakukan protes keras besar-besaran. Ini membuat kelompok konservatif yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin memutuskan untuk mengundurkan diri, dan ini jadi kunci perubahan politik yang lebih terlembaga di Tunisia. Sesudah itu, kaum perempuan mendapat tempat yang terhormat dalam politik dan masyarakat Tunisia.
Kedua, Moore juga memperlihatkan bahwa Amerika sedikit banyak punya andil dalam hal-hal positif di masing-masing negara. Misalnya, untuk penjara yang demikian longgar di Norwegia, sang kepala penjara mengatakan mereka mengambil idenya dari konstitusi Amerika. Jelas ditulis di sana. Lantas untuk pengejaran dan pemenjaraan terhadap para bankir yang menyebabkan krisis di Finlandia, mereka mempekerjakan seorang konsultan Amerika untuk itu. Semua yang ditemui Moore mengakui bahwa Amerika bangsa yang besar dan mereka banyak belajar dari Amerika. Dan mereka bingung kenapa Amerika tidak mau belajar dari diri mereka sendiri.
Maka film ini adalah gambaran ketaklukan dan kerendahhatian Amerika – dan Michael Moore. Tentu saja apa yang digambarkannya hanya yang postif belaka dan tidak memperlihatkan kompleksitas persoalan masing-masing negara yang pasti jauh dari gambaran karikatural yang dihadirkannya. Namun Moore tahu ia bicara kepada siapa. Ia bicara kepada bangsa Amerika yang begitu mudah berpuas diri, merasa diri paling besar dan hebat, padahal dilihat dari luar, bangsa itu sedang menuju kebangkrutannya dan membuang sendiri cita-cita besar mereka.
Film ini pun jadi sangat positif dan tergolong rendah hati. Yang juga mengejutkan adalah film ini sangat feminin, bahkan mungkin feminis. Para perempuan di film ini bukan hanya digambarkan sebagai mandiri, tetapi juga menjadi pemimpin yang memimpin dengan sensibilitas jauh lebih besar ketimbang laki-laki. Salah seorang tokoh dalam film ini mengatakan: jika perempuan hanya ada satu, itu hanya token untuk kepentingan maskulin yang agresif, jika ada dua mereka minortas, tetapi ketika mereka tiga atau lebih, di situlah peran perempuan yang sesungguhnya.
Maka bagi saya, inilah film terbaik Michael Moore, setidaknya yang paling saya nikmati. Film ini mungkin dimaksudkan untuk bicara dengan keras kepada orang Amerika. Moore menggambarkan para penontonnya di Amerika menonton film ini dengan mulut menganga karena kaget dan tak tahu semua fakta-fakta sederhana itu. Film ini mungkin berhasil memerangi sikap abai orang Amerika.
Sekalipun demikian, saya berpendapat film ini bisa memerangi sikap abai dimana saja, dan mempromosikan perilaku dan sikap yang masuk akal yang sederhana dan bisa dilakukan siapa saja, dimana saja tanpa peduli latar belakang mereka. Moore dengan jitu memperlihatkan hilangnya hal itu dari Amerika dan betapa penting dan mendesak upaya untuk mengembalikannya.
———–
Catatan kemungkinan konflik kepentingan: perjalanan saya ke Sheffield Doc Fest yang memutar film ini dibiayai oleh British Council Indonesia

Tak ada wilayah abu-abu untuk political filmmaking?

Talk Sheffield
Diskusi Viva La Revolucion! Citizen Journalism and Political Filmmaking di Sheffield Docs
Catatan Sheffield 4
Judul diskusi Viva La Revolucion! Citizen Journalism and Political Filmmaking, dan pembukaan dari moderator mengenai diskusi ini cukup tegas: Ini diskusi tentang political filmmaking, maka tidak ada wilayah abu-abu, kata moderator Steve Presence dari Radical Film Network (radicalfilmnetwork.com). Yang dimaksudkannya, perbincangan dalam diskusi ini diharapkan bicara mengenai film yang dibuat untuk kepentingan politik, maka implikasinya adalah: beropini, berpolitik, bahkan berpropaganda adalah bagiannya.
Salah seorang pembicara, Shaun Dey dari Reel News berkata dengan tegas bahwa kelompoknya adalah organisasi politik yang menggunakan film sebagai bagian dari perjuangan. Ia menerima ‘pesanan’ dari berbagai kelompok sosial politik yang berjuang untuk mengkampanyekan kepentingan politik mereka, terutama dalam keadaan konflik. Maka, sebagaimana dalam hidup, ketika kita menghadapi konflik maka kita harus memilih dengan tegas dan jika perlu melupakan subtlety.
“Misalnya ketika membuat film untuk serikat pekerja bangunan, kami memperlihatkan hasil kerja mereka yang masih bagus dan kokoh, sekalipun kami tahu banyak pekerjaan mereka yang tidak begitu. Tapi untuk apa itu digambarkan. Ini kan propaganda,” kata Shaun yang sangat tidak apologetik sama sekali mengenai posisinya.
Aris Chatzistefanou dari Infowar (www.info-war.gr) punya posisi serupa, tetapi dengan Bahasa yang lebih halus. Film-filmnya menggambarkan mengenai krisis di negerinya, Yunani, sebagai wakil dari gambaran lebih luas ketimpangan struktural yang sedang terjadi di dunia kontemporer ini, terutama Uni Eropa yang ia anggap tak punya minat memakmurkan negara anggotanya. Ia ingin filmnya menjadi semacam explainer, alat penjelas lebih luas mengenai persoalan-persoalan ekonomi dunia yang disebabkan oleh korporasi dan politisi.
Film-film kelompok Infowar dibuat dengan kualitas tinggi, karena umumnya para pegiat di sana tadinya adalah para profesional yang bekerja di media-media besar semisal BBC World Service, Al Jazeera dan sebagainya. Namun krisis besar yang menghantam negeri itu membuat mereka kehilangan pekerjaan. Para wartawan yang punya pengetahuan mendalam mengenai persoalan dan ketrampilan teknis yang memadai ini kemudian merasa perlu berbuat melawan apa yang mereka anggap kesewenang-wenangan struktural itu dengan membuat film-film dokumenter, dibantu oleh mereka yang masih bekerja. Akibatnya, semakin banyak dari mereka yang berhenti bekerja dan mendedikasikan diri sepenuhnya pada kegiatan ini.
Cassie Quarless dan Usayd Uonys berbeda. Mereka berkolaborasi untuk mendokumetasikan gerakan perlawanan kaum muda kulit hitam di London dalam film berjudul Generation Revolution (www.genrevfilm.com). Gerakan perlawanan ini adalah gerakan perlawanan jalanan yang berdemonstrasi dan mengungkapkan pandangan mereka dengan cara konfrontatif. Bentrok dengan polisi sering terjadi, dan umumnya menekankan pada masih adanya institutional racism di Inggris Raya serta ketimpangan ekonomi yang makin menganga di ibukota.
Satu pembicara lagi adalah Alisa Lebow dari University of Sussex. Ia membuat sebuah ‘meta-documentary’ tentang revolusi di Mesir. Proyek berjudul Filming Revolution (www.filmingrevolution.org) ini berbasis situs web, berisi wawancara dengan puluhan pegiat demokrasi di Mesir yang merekam pengakuan dan berbagai proses politik yang terjadi di Mesir. Proyek Alisa sendiri lebih mirip dengan pembuatan arsip digital tentang revolusi Mesir. Secara format, apa yang dibuatnya belakangan masuk dalam kategori ‘interactive documentary’ yang sepenuhnya berisi database dengan platform berupa situs web dengan menggunakan desktop komputer.
Alisa lebih halus dalam sikap politik dan sebagai seorang akademisi, ia tidak setegas Shaun dalam mengungkapkan posisi politiknya, sekalipun ia tidak menyembunyikan keberpihakannya pada para pegiat ini – sebagian dari mereka adalah kolaboratornya. Ia sempat menyebutkan kemungkinan bahaya yang bisa saja menimpa mereka mengingat database ini juga berarti posisi mereka yang terbuka untuk diketahui pihak berwenang Mesir dan bisa digunakan untuk melawan mereka ketika keadaan berubah.
Dari para pembicara berlatarbelakang seperti ini, diskusi mengarah pada dua pokok utama yang saling berkait: penonton dan pendanaan. Sejauh apa penonton penting bagi karya mereka, dan bagaimana dengan aspek pendanaan: apakah terkait dengan penonton atau tidak.
Shaun menyebutkan baginya, yang terpenting adalah penonton yang tepat. Bisa saja filmnya Cuma mendapat 4000-an hit di YouTube, tetapi jika sebagian besar mereka adalah orang yang terlibat langsung (misalnya anggota serikat buruh bangunan), maka film itu akan bermanfaat bagi mereka untuk ikut aksi semisal pemogokan dan sebagainya. Belum lagi ketika film itu dibawa keliling dan dipertontonkan secara langsung. Ratusan orang bisa terlibat. Dari pengakuan Shaun, dari salah satu kegiatan nonton bareng di Australia yag dilakuan oleh serikat buruh bangunan di sana, terkumpul dana sumbangan hampir £8.000 sebagai bentuk solidaritas terhadap perjauangan buruh bangunan di Inggris Raya. Inilah penonton yang berarti bagi Shaun.
Aris menyebutkan 6,5 juta view untuk film-film karya Infowar, dan ini belum termasuk siaran di TV dan nonton bareng yang dilakukan di seluruh Yunani. Aris sendiri menganut prinsip yang agak heroik. Katanya, “Film-film ini dibuat oleh manusia. Dan saya percaya, apa yang dibuat oleh manusia, harus gratis bagi manusia,” katanya yang disambut tepuk tangan pengunjung diskusi.
Soal pendanaan? Baik Aris dan GenRev berangkat dari crowd funding. Bagi GenRev, crowd funding efektif untuk dua tujuan. Selain memelihara independensi dalam muatan, crowd funding juga berarti memperluas diskusi sebelum mediumnya sendiri jadi dan siap diedarkan. Dengan demikian, gagasan yang dibawa sudah bisa lebih dulu keliling dan jadi bahan pembicaraan sebelum akhirnya benar-benar terwujud.
Crowd funding adalah perwujudan semangat kolektif, bagi Aris. Selain metode pengumpulan uang sebagaimana crowd funding umumnya, Infowar juga mengandalkan tenaga para professional yang bersedia bekerja tidak dibayar untuk proyek-proyek mereka.
Alisa mendapatkan dana dari funding akademis. Dengan dana itu, ia mempekerjakan asisten dan bisa memberi imbalan bagi kolaboratornya di Mesir. Ia melakukan pengumpulan data dan pembuatan situs webnya selama dua tahun dan diharapkan akan menghasilkan sebuah buku dari proyek ini.
Shaun secara tegas menyebut organisasinya, sebagaimana organisasi politik, mengandalkan sumbangan dari anggota. Sumbangan mereka berbeda besarnya, mulai dari £3 hingga yang jauh lebih besar, karena sifatnya yang sukarela sebagaimana organisasi politik lainnya. Maka semua pekerjaan pembuatan filmnya relatif dilakukan secara sukarela untuk kepentingan politik mereka.
Tentu pertanyaan mengenai dilemma antara ‘kebenaran’ dan ‘propaganda’ muncul, sekalipun ini dijawab dengan jelas oleh Shaun mengenai keberpihakan. Ia menyatakan kebenaran yang dianutnya fungsional, karena sebagian besar filmnya memang dibuat dalam kondisi konfrontasi, dimana kelompok yang ia dukung sedang menghadapi organisasi yang lebih besar dan mapan seperti pemerintahan atau korporasi raksasa. Maka itulah Shaun mengibaratkan film dokumenter sebagai hidup itu sendiri: pilihan harus dibuat.

Alternate Reality

VR - In My Shoes
In My Shoes: Dancing with Myself (Jane Gaunlett), proyek virtual reality yang menghadirkan sudut pandang orang yang mengalami langsung serangan epilepsi ketika ia sedang duduk di restoran bersama seorang temannya. Sebuah potensi besar VR untuk membangkitkan empati.
Catatan Sheffield 3
Alternate Reality merupakan sebuah seksi di Sheffield Doc Fest, yang berkaitan dengan format baru proyek dokumenter yang berkembang bersama perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi hanya dalam hal produksi dan sirkulasi, melainkan juga medium yang digunakan, platform penyajian dan akhirnya turut pula mempengaruhi definisi medium itu sendiri.
Di Sheffield 2016, Alternate Reality bukan hanya memajang proyek menggunakan teknologi terbaru seperti penggunaan platform ipad dan virtual reality seperti Oculus Rift, tetapi juga adanya ajang pertemuan seperti pitching ide, market, distribusi dan sebagainya untuk para pelaku (kreator, produser, pendana) yang mirip dengan film dokumenter konvensional.
Apakah ajang pertemuan untuk format baru ini serupa dengan market untuk dokumenter konvensional? Saya sempat menanyakannya kepada Karolina Lidin dalam sesi mentoring delegasi Indonesia dengan tokoh yang bertanggungjawab mengembangkan market di Sheffield ini menjadi salah satu yang paling penting di Eropa. Ia menyatakan market untuk teknologi baru ini (interactive documentary, virtual reality dan sebagainya) masih baru dan masih belum menemukan bentuk. Perbincangan utama di kalangan pelaku adalah: apakah bentuk baru ini sebaiknya digabung saja dengan bentuk dokumenter konvensional di bawah naungan istilah “content”, ataukah keduanya dibiarkan terpisah dan punya logika masing-masing? Yang jelas, Google hadir di market untuk model baru ini, sekalipun saya tidak mengikuti secara persis apa yang berkembang di sana.
Lantas bagaimana dengan soal estetika proyek-proyek dokumenter Alternate Reality yang dipertontonkan di Sheffield ini?
Saya sempat menonton 3 karya yang dibuat dengan virtual reality, dan mengikuti satu bentuk interaktif yang dibuat tablet.
John Lennon: Bermuda Tapes adalah proyek yang dibuat untuk tablet. Ia memanfaatkan rekaman yang dibuat oleh John Lennon dalam perjalanan ke Bermuda ketika ia mendapat inspirasi untuk albumnya, Double Fantasy. Berdasarkan rekaman itu, dibuatlah proyek interaktif tentang John Lennon di Bermuda. Sebagaimana situs web tradisional, proyek ini bisa dinikmati secara linear, tetapi bisa juga tidak. Pengguna bisa melompat-lompat antar kategori, bahkan ikut serta menanam pohon di taman virtual yang ada di proyek itu.

Proyek interaktif ini seperti perwujudan cabaran Lev Manovich (1998) tentang database sebagai bentuk simbolis dalam medium kontemporer dimana data didahulukan ketimbang aspek naratif. Dalam gagasan ini penonton (atau pengguna?) membentuk naratif sendiri berdasarkan algoritma yang tersedia.

VR - Easter Rising
VR dan dokumenter tampak sangat akrab. Apakah lantaran pengalaman yang dihadirkan oleh dokumenter dasarnya bukan ilusi tetapi aktualitas sehingga penonton lebih mempercayai kredibilitasnya?
Inilah beda utama dengan tiga karya virtual reality (VR) yang saya lihat. Pada tiga karya VR ini, elemen naratif disediakan oleh pembuat film, tetapi dengan tingkat interaktivitas yang lumayan, terutama karena penggunaan kamera 360 derajat. Dengan kemampuan menangkap gambar yang memenuhi seluruh ruang pandang kita, maka tengokan ke kanan-kiri-atas-bawah bisa dimanfaatkan untuk mendukung elemen naratif itu.
Proyek berjudul Invisible (Darren Emerson), menggunakan ruang virtual untuk menceritakan kisah para tahanan imigrasi di Inggris Raya. Emerson menghadirkan aula tahanan yang luas, dan posisi kita sebagai salah seorang yang dikelilingi oleh para tahanan yang seakan bertanya tentang posisi mereka sebagai orang-orang yang tercabut haknya – akibat kebijakan pemerintah Inggris yang tak menetapkan batas waktu penahanan migran di sana. Beberapa di antara para migran itu tak selamat dalam perjalanan, terutama ketika menyebrang laut, dan Emerson menggunakan kedalaman (kita harus mendongak untuk melihat “permukaan” laut) di atas kepala dan melihat “tubuh-tubuh” yang tenggelam ke dasar laut.
Mayoritas gambar di Invisible adalah live action, tetapi dengan skala yang raksasa bagi ukuran yang biasa kita lihat. Hasilnya adalah situasi yang terasa serba menekan karena skala yang tak lazim itu membuat kita kehilangan orientasi karena ukuran yang serba raksasa.
Proyek kedua yang saya tonton, Easter Rising: Voice of a Rebel (Oscar Raby), juga linear. Kisahnya mengenai pemberontakan orang Irlandia terhadap Inggris Raya di tahun 1916, dari pengalaman Willie McNieve. Cerita berpusat pada perang lima hari dalam pengambilalihan kantor pos (GPO) yang menjadi pusat komunikasi Inggris Raya saat itu. Dibuat dengan animasi dengan imaji digital tiga dimenasi yang agak kasar, proyek ini penuh dengan upaya memasukkan kita ke dalam suasana saat itu, termasuk dengan narasi yang memberi arahan kemana sebaiknya kita memandang. Bagi saya, karya ini tak terlalu istimewa, kecuali di beberapa bagian kita seakan diminta melihat ke balik tembok, dan lalu sadar tak ada apa-apa di sana.
Karya ketiga yang saya tonton, In My Shoes: Dancing with Myself, menjadi pengalaman paling menarik dalam Sheffield Doc Fest sampai sejauh ini. Karya Jane Gaunlett ini mengisahkan tentang dirinya yang mengidap epilepsi sesudah mengalami kecelakaan sepeda. Proyek ini ditampilkan di sebuah co-working space yang disewa untuk diubah menjadi seperti restoran kecil. Sebelum duduk, kita disodori menu, sekalipun tak ada yang bisa dipesan dari menu itu.
Narasi bercerita tentang serangan epilepsi yang dialami Jane dalam peristiwa yang sangat sehari-hari ketika ia bertemu dengan temannya di sebuah restoran di London. Cerita berjalan sangat biasa, tetapi kita bisa mengikuti beberapa keganjilan. Misalnya dari perbedaan antara suara-suara di dalam kepala Jane dengan apa yang ia katakan, menceritakan kelelahan mentalnya menghadapi situasi yang harus ia hadapi.
Beberapa kali ia memejamkan mata (sambil menarik napas panjang untuk menenangkan diri) ketika sedang bercakap-cakap. Sampai ketika layar gelap, lalu terang lagi dan ia sudah dikelilingi orang-orang yang memandanginya dengan cemas. Selama 20 menit ia tak sadarkan diri dan tak bisa mengingat apa yang terjadi. Proyek ini berhasil menghadirkan pengalaman dari tangan pertama penderita epilepsi – yang bagi saya membuka kemungkinan menarik untuk mentransfer pengalaman-pengalaman mental yang tak biasa.
Yang mungkin paling menarik dari Alternate Reality ini justru adalah akrabnya medium dan platform baru ini dengan film dokumenter ketimbang film fiksi. Bagi saya, salah satu penjelasannya adalah klaim film dokumenter terhadap ‘kebenaran’. Dokumenter adalah proyek yang berangkat – seperti kata pelopor dokumenter John Grierson – dari ‘actuality’ dan diperlakukan secara kreatif. Maka perangkat baru ini adalah bagian dari kreativitas tersebut.
Dengan klaim terhadap aktualitas, dokumenter memiliki keunggulan di hadapan penonton karena mereka mengharapkan mendapatkan semacam ‘kebenaran’ ketika menonton, dan bukan manipulasi terhadap emosi. Maka kisah yang menceritakan pengalaman semacam In My Shoes – yang mungkin sudah bertaburan di dalam film fiksi – mendapat pemaknaan berbeda karena itu semua dihadirkan bukan sebagai ilusi.

Penulis yang tidak “continuity”

Author-The-JT-LeRoy-Story_poster_goldposter_com_2-539x800
Bagaimana seorang penulis bisa menjadi selebritas? Apakah fabrikasi yang terjadi memang ‘alamiah’ atau berdasar sebuah mesin yang dirancang dan dijalankan dengan rumit? Lantas, apakah buku yang ditulisnya memang punya kualitas yang layak menjadikannya tokoh yang sebegitu banyak dibicarakan? (image credit: goldposter.com)

Catatan dari Sheffield 2

Saya termasuk yang tidak banyak piknik di dunia susastra sehingga tidak paham kabar yang beredar begitu luas mengenai JT LeRoy, seorang penulis yang berbagi panggung dan mendapat rekomendasi dari megabintang seperti Bono, atau Courtney Love.

Bukunya juga dibuat film – diperankan oleh Asia Argento – dan ia punya kredit menulis skenario film Elephant karya Gus Van Sant yang mendapat penghargaan Palem Emas – film terbaik – di festival film Cannes tahun 2003.

Maka ketika menonton film berjudul Author: JT LeRoy Story di Sheffield Doc Fest ini saya melongo beberapa kali. Kisah LeRoy ini punya kompleksitas luar biasa. Saya tak akan menceritakan rinciannya karena hal itu akan amat mengganggu jika Anda berniat menonton film ini. Saya juga tak menyarankan Anda meng-Google nama itu – jika belum pernah mendengarnya dan berniat menonton film ini. Pengungkapan misteri LeRoy memang menjadi bagian utama yang membuat film dokumenter ini menarik.

Pengungkapan itu dilakukan dengan cara yang unik. Film dokumenter ini dibagi ke dalam tiga babak. Tiga babak itu tetap mengikuti aturan: pembuka, tengah dan penutup, tetapi dengan shot, adegan – dan terutama editing – yang tidak sama dengan aturan tiga babak Hollywood yang dasarnya pemeliharaan kesatuan ruang-waktu. Jika Anda pembaca buku penulisan skenario karya Syd Field, maka film dokumenter ini jauh sekali dari bangunan adegan berlandas motivasi ala buku itu.

Mengingat kompleksitas kisah ini dalam kehidupan nyata, tampak ada kesengajaan dari sutradara Jeff Feuerzig untuk memberi kita pijakan untuk bisa memisahkan fakta yang sudah difabrikasi dengan apa yang “sesungguhnya terjadi”. Pilihan yang mungkin sengaja dibuat agar penonton yang tak tahu kisah tentang LeRoy bisa mengikuti apa yang sebenarnya terjadi.

Yang menarik bagi saya sebenarnya justru adalah bagaimana fabrikasi itu sendiri terjadi. Feuerzig tidak memperlihatkannya. Penjelasan yang dibuatnya sangat sederhana dan satu arah saja, dari perspektif tokoh utama dan itulah yang jadi “kebenaran” di film ini. Padahal menarik sekali melihat bagaimana kultisme terhadap seorang penulis bisa terbangun hingga ke tingkat yang tak terbayangkan sedemikian rupa.

Mungkin kenaifan itu disengaja. Karena di sisi lain, Feuerzig tampak sibuk dengan aspek artistik film itu, dan menurut saya ini penting. Ia menghadirkan percakapan telepon yang direkam dalam kaset – mungkin sebagai penanda zaman ketika persoalan berkembang – tetapi juga sebagai bantahan terhadap teknik editing continuity. Tokoh utama film ini sempat berkata bahwa “JT LeRoy bukanlah continuity”, dan menurut saya berdasarkan itulah Feuerzig menyusun kisah LeRoy.

Sebagaimana dikenal dalam film dokumenter, editing yang dipakai sama sekali bukan berdasar continuity editing (yang utamanya bertujuan memelihara kesatuan ruang dan waktu) melainkan editing secara tematis.

Cerita dibagi dalam tema-tema yang agak bersifat kronologis, dengan wawancara dari tokoh utama film menjadi jangkar cerita. Lalu Feuerzig mengisinya dengan berbagai ilustrasi untuk menjelaskan plot. Ia mengambil dari berbagai sumber, mulai dari rekaman wawancara kaset seperti yang bilang di atas, animasi, potongan film, kliping dan sebagainya. Hasilnya adalah kolase medium tentang JT LeRoy yang berhasil membangun cerita secara kronologis.

Saya termasuk orang yang gemar pada film dokumenter yang bisa memperlihatkan bahwa kebenaran itu penuh komplikasi dan upaya menghadirkannya lewat film dokumenter justru menambah komplikasi itu. Dengan pendekatan yang dilakukan Feuerzig dalam menghadirkan simplifikasi masalah dan kurangnya self-reflectivity dalam film dokumenter ini sendiri, saya merasa ada sesuatu yang kurang. Namun di luar itu semua, sebagai cerita dan dengan pendekatan artistiknya di atas, film dokumenter ini termasuk menarik diikuti.

———

Pernyataan kemungkinan konflik kepentingan: perjalanan saya ke Sheffield Doc Fest yang menjadi ajang diputarnya film ini, didanai oleh British Council Indonesia.

Catatan dari Sheffield 1

Kit
Buku katalog industri (212 halaman dicetak tebal) dan perlengkapan untuk berfestival. Saya hadir sebagai salah seorang anggota board of director In-Docs, Jakarta.

Dengan menumpang kereta selama sekitar 40 menit dari Nottingham, saya tiba di Sheffield, sebuah kota yang terletak antara kawasan Midlands dan Yorkshire, untuk menghadiri Sheffield Documentary Film Festival atau Sheffield Doc Fest. Festival film dokumenter ini merupakan yang terbesar di Inggris Raya dan merupakan yang salah satu yang terbesar di dunia. Diselenggarakan sejak tahun 1994, festival ini diadakan pada bulan Juni, dihadiri oleh sekitar 20-27 ribu orang. Sebanyak 160 film dokumenter panjang diputar dan puluhan acara diskusi sepanjang penyelenggaraan. Tahun ini festival dibuka dengan film terbaru Michael Moore, Where to Invade Next? dan sang sutradara yang  kontroversial itu datang menghadiri pembukaan.

Saya datang kemari disponsori oleh British Council Indonesia, bersama dengan anggota delegasi Indonesia lainnya. Mereka adalah Amanda Marahimin (produser), Suryani Liauw (programmer dan produser film), Levina Wirawan (British Council) dan Alia Damaihati (Festival Film Dokumenter Yogyakarta). Dua orang dari Badan Ekonomi Kreatif juga hadir, Fajar Hutomo, deputi akses permodalan Bekraf dan ibu Hanifah.

Open Air
Menonton film dokumenter di ruang terbuka di tepi jalan menuju kampus Sheffield Hallam University. Film yang diputar The Spirit of ’45 (Ken Loach, 2013).

Festival dibuka tanggal 10 Juni 2016, pada malam hari di City Hall. Namun sejak pagi kegiatan sudah mulai tampak. Festival dipusatkan di Showroom Cinema, sebuah bioskop independen di kota Sheffield. Bioskop itu juga berdekatan dengan kawasan Sheffield Hallam University, universitas utama di kota Sheffield. Kawasan ini hanya berjarak 3 menit berjalan kaki dari stasiun kereta Sheffield.

Maka, bukan hanya mudah ditemukan, para delegasi yang datang khusus ke Sheffield untuk menghadiri acara akan dengan merasa bahwa festival ini amat terasa kehadirannya di kota itu dengan umbul-umbul di sepanjang jalan, serta papan reklame raksasa di beberapa tempat strategis yang memajang gambar festival. Yang menarik dari gambar reklame itu adalah: mereka memajang wajah para tokoh film dokumenter. Terlihat wajah sutradara kondang Michael Moore, artis Tilda Swinton (akan menghadiri penutupan festival) berjajar bersama nama yang tidak terlalu seperti Reggie Yates (ia sedang naik daun karena program-programnya di BBC Three) dan Professor Green (penyanyi rap yang membawakan program-program dokumenter untuk orang muda, juga di BBC Three).

Tentu sebagaimana festival film lain, atau bahkan film itu sendiri, perlu ada nama besar dan bintang yang relatif dikenal publik agar kegiatan kebudayaan seperti ini bisa terhubung dengan banyak orang. Namun wajah orang-orang ini mengisi ruang publik yang mencolok itu juga menjadi tanda pertumbuhan para bintang dan personality film dokumenter untuk menjadi tambatan aspirasi publik.

Poster
Poster film yang akan diputar dipajang di ruang tiket untuk delegasi. Selain Where to Invade Next (Michael Moore), saya juga ingin menonton film dokumenter tentang Ken Loach, berjudul Versus: The Life and Films of Ken Loach.

Tak bisa dilupakan bahwa festival ini diadakan di Inggris, negeri yang punya David Attenborough, pembuat film dokumenter yang terpilih untuk menjadi ikon Inggris Raya, mengalahkan mahabintang seperti David Beckham atau The Beatles. Film dokumenter sudah lama menjadi bagian dari pendidikan, kesadaran dan elemen pembangun indetitas Inggris Raya. Bukan hanya BBC (terutama BBC Two dan BBC Four) yang rutin menyiarkan film dokumenter, saluran lain seperti Channel 4 dan ITV juga berlimpah dengan program dokumenter. Ketiga lembaga penyiaran besar itu berlomba tampil di Sheffield Doc Fest, seakan ingin menegaskan bahwa film dokumenter masih jauh dari musim paceklik.

Pada edisi ke 23 ini, Sheffield Doc Fest menghadirkan 29 world premiere (pertamakali diputar), 14 international premiere (pertamakali diputar di luar negara produksi) dan 20 European premiere (pertamakali diputar di Eropa). Catatan saja, premiere ini biasanya dijadikan dasar ukuran kelas sebuah festival – tentu disamping para tamu dan kegiatan-kegiatan sampingannya. Tahun ini dua pembuat film dijadikan fokus: Ken Loach – sutradara sosialis Inggris – dan almarhum Chantal Akerman yang meninggal dunia tahun ini.

Di hari pertama, belum banyak yang saya lakukan. Selain menonton film Ken Loach, The Spirit of ’45 (2012) yang diputar di ruang terbuka (diberi nama Beijing Screen on Howard Street), saya sempat melihat Author: The JT LeRoy Story (Jeff Feuerzig, 2016). Film Ken Loach bercerita tentang kebangkitan Inggris sebagai negara sosial democrat sesudah Perang Dunia Kedua, melalui rangkaian nasionalisasi, hingga keruntuhannya di bawah Margaret Tatcher yang melakukan privatisasi terhadap berbagai lembaga ekonomi dan pelayanan publik. Sedangkan JT LeRoy menceritakan kisah kompleksnya sebuah pseudonym yang berkelindan dengan publikasi dan dunia selebritas. Saya akan menulis kesan menonton film ini secara terpisah.

Sejauh ini, saya sudah memesan tiket untuk beberapa pertunjukan, serta meniatkan diri menghadiri beberapa perbincangan, termasuk yang bertajuk Viva La Revolucion: Video Activism and Citizen Journalism yang akan membicarakan video-activism, documenter panjang dan format interaktif yang tersebar dari Inggris Raya, Mesir dan Yunani.

Ekonomi kreatif dan film dokumenter

 

 

Bekraf Vaizey
Ketua Bekraf Triawan Munaf (kiri) dan Menteri Culture, Media and Sport Inggris Ed Vaezey (kanan) bertukar cendera mata dan sedikit gagasan mengenai ekonomi kreatif di kedua negara. Vaezey diberi radio kayu (yang berfungsi penuh layaknya radio) dan Vaezey memberi buku tentang Alfred Hitchcock.

Dari kunjungan Presiden Joko Widodo ke Inggris April 2016

Dalam kunjungan Presiden Joko Widodo ke Inggris beberapa waktu lalu, ia menyaksikan penandatanganan dalam beberapa bidang, termasuk ekonomi kreatif yang merupakan amandemen dari dari MoU yang sebelumnya ditandatangani oleh Kemenparekraf tahun 2012. Sejak masa kampanye, Jokowi memang menjanjikan sektor ini akan menjadi salah satu yang ia unggulkan. Maka, nota kesepahaman ini menjadi perwujudannya, karena Inggris termasuk negara yang paling awal memiliki kesadaran pengembangan ekonomi kreatif dan merancang ekonomi kreatif sebagai satu sektor yang direncanakan dan dikembangkan secara khusus.

Maka dalam kunjungan ini Jokowi membawa rombongan dari Badan Ekonomi Kreatif alias Bekraf untuk turut serta membicarakan rencana aksi sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman tersebut. Dalam rombongan ini, Bekraf melibatkan beberapa pelaku industri kreatif seperti Amelia Hapsari dari In-Docs dan Diajeng Lestari dari hijup.com. Saya yang kebetulan belajar di London diikutsertakan dalam rombongan. Kerjasama yang akan dibangun kedua negara akan dikordinasi oleh Bekraf dengan Department of Culture, Media and Sports (CMS), melalui pengembangan co-branding bernama UK-ID, seperti yang diusulkan oleh British Council, dengan bidang meliputi film dokumenter, seni pertunjukan, musik dan ethical fashion.

Dokumenter

Dalam soal film dokumenter, bidang ini memang mendapat perhatian bersama dengan sub-bidang film, dan secara khusus sudah ada program yang sedang berjalan: Britdoc dengan Indocs. Britdoc bersama Indocs sedang menjalankan program Good Pitch, dan Triawan berserta rombongan Bekraf menyempatkan diri datang ke kantor Britdoc di kawasan Soho untuk menjelaskan program ini sekaligus juga mendapat gambaran peran Britdoc dalam mengembangkan film dokumenter, bukan hanya sebagai bagian dari ekonomi kreatif, tetapi posisi penting secara sosial budaya dan politik.

Hal lain yang juga penting dalam soal film dokumenter adalah undangan untuk syuting dan co-production. Tim Bekraf sengaja bertemu dengan BBC Media Action – organisasi di bawah BBC yang biasanya melakukan kegiatan sosial yang masih berkaitan dengan media – untuk bekerjasama dalam co-production dan capacity building.

Tentu saja perhatian terhadap film dokumenter ini mengejutkan setidaknya bagi saya, karena selama ini kita paham bagaimana posisi film dokumenter selalu berada di pinggiran. Namun kejutan ini tidak sepenuhnya kejutan yang menggembirakan lantaran persoalan film dokumenter di Indonesia tidak sederhana. Setidaknya dari soal co-production dan ajakan syuting, saya membayangkan beberapa kesulitan.

Pertama, film dokumenter di stasiun TV Inggris (dan yang beredar di bioskop) selama ini tentang Indonesia umumnya berpusar pada soal: kemiskinan, eksotisme kehidupan suku terpencil yang hidup dengan standar kehidupan pramodern, ketiadaan perlindungan keanekaragaman hayati, kerusakan alam akibat pembangunan ekonomi yang serakah dan korupsi dan hal-hal semacam itu. The Act of Killing dan The Look of Silence tentu contoh terbaik bagaimana kegagalan demokrasi dan merebaknya budaya impunitas di Indonesia dijadikan topik film dokumenter. Saya mengakui peran penting kedua film dokumenter itu dalam turut mempengaruhi pembicaraan mengenai 1965 di Indonesia dan saya gembira karenanya.

Britdoc
Triawan Munaf dan rombongan Bekraf sempat mendatangi kantor Britdoc (http://britdoc.org) untuk mendengarkan presentasi dari Beadie Finzi, salah seorang direktur Britdoc mengenai peran film dokumenter dalam kehidupan politik, budaya dan ekonomi Inggris sekaligus diperkenalkan pada proyek Good Pitch yang merupakan kolaborasi antara Britdoc dengan Indocs.

Atau contoh yang lebih baru ada di film dokumenter dengan pembawa acara Reggie Yates tentang pakaian mewah orang-orang kaya yang belum lama ini diputar. Reggie ke Indonesia, tepatnya Cirebon, untuk melihat penangkapan ular untuk dijual kulitnya sebagai bahan tas. Di sana ia melihat orang menangkap ular piton dengan tangan telanjang, menguliti ular pada saat masih hidup dan sebagainya. Dibandingkan dengan perjalanan Reggie ke Siberia dan tempat-tempat lain ketika melihat industri bulu binatang, terlihat jelas bahwa Indonesia seakan sebuah negara yang berada di abad pertengahan dan perwujudan dari manusia-manusia liar tanpa belas kasihan.

Tema seperti di atas bukan satu-satunya, mengingat keanekaragaman hayati Indonesia tetap bisa jadi perhatian para dokumentaris besar, tetapi topik seperti ini tak urung akan membawa tantangan sendiri dalam soal representasi Indonesia di media internasional.

Kedua, masih banyak sikap yang tidak mendukung produksi film dokumenter sebagai bagian dari kegiatan jurnalistik dan kreatif. Ini bisa dilihat dari kasus ditangkap dan dipenjarakannya pembuat film dokumenter asal Inggris ketika melakukan pembuatan film tanpa ijin, dengan dasar UU Film plus UU Keimigrasian. Sependek ingatan saya, ini adalah preseden baru bagi pekerja media karena biasanya ‘kesalahan’ seperti itu hanya berujung pada deportasi dan bukan kriminalisasi. Bagaimana mau mengundang pembuat film dokumenter untuk syuting di Indonesia kalau perlakuan yang ada seperti itu?

Bekraf sendiri, dalam pernyataannya, sudah meminta agar surat edaran mendagri yang menjadi dasar perijinan berlapis ini untuk dicabut, tetapi tampaknya persoalan ini tidak akan selesai dalam waktu cepat mengingat kebebasan berekspresi secara umum sedang berada dalam tekanan. Selain kedua pembuat film dokumenter itu, ingat pula kisah eksil 1965 Tom Iljas yang dideportasi dengan tuduhan mebuat film dokumenter padahal niat utamanya mendokumentasikan kunjungan ziarah ke makam orangtuanya. Contoh terakhir soal ini adalah tekanan hingga pelarangan terhadap film dokumenter Pulau Buru Tanah Air Beta karya Rahung Nasution.

Ketiga, undangan syuting dan co-production berasal dari asumsi bahwa kegiatan tersebut akan mendatangkan uang dan pekerjaan di Indonesia, seperti indikator pencapaian ekonomi kreatif yang dipakai Bekraf (sumbangan terhadap GDP, persentase dari nilai ekspor dan daya serap tenaga kerja). Ini menurut saya punya kekeliruan dua tingkat. Tingkat pertama, belum tentu syuting film dokumenter di Indonesia meningkatkan pencapaian indikator-indikator tadi. Jauh sekali rasanya, bahkan eksternality budaya yang terjadi adalah menguatnya pandangan Indonesia sebagai sebuah negara nasional yang jauh (baik secara budaya dan lokasi) dan seakan diliputi kabut pramodern yang misterius dan orang masih berkeliaran di jalan tak diaspal dengan kaki telanjang.

Tingkat kedua, jika pun harus dihitung sumbangan ekonomi, maka sumbangan film dokumenter tidak akan bersifat langsung. Para pekerja dan pegiat film dokumenter bisa mengajukan argumen mengenai sokongan film dokumenter terhadap hal-hal abstrak seperti demokratisasi, akuntabilitas publik, kebebasan berekspresi dan hal-hal kualitatif semacam itu yang bisa kita asumsikan akan menyehatkan perekonomian dan membantu pencapaian keadilan dan kesejahteraan. Namun seandainya sekalipun indikator abstrak itu tercapai, film dokumenter tidak mungkin mendaku bahwa itu adalah pencapaian yang dilakukannya sendirian. Justru posisi film dokumenter mirip-mirip penggembira yang penting: mengangkat hal-hal yang tadinya biasa saja atau disembunyikan menjadi sesuatu yang dibicarakan orang banyak.

Maka ukuran bagi film dokumenter tidak bisa semata ukuran finansial seperti itu, dan harus diletakkan dalam kerangka yang lebih besar. Film dokumenter punya peran dalam menciptakan “publicness” atau membuat yang tersembunyi jadi bersifat terbuka, dibicarakan sebagai bagian dari keterlibatan politik yang diharapkan bisa mempengaruhi kebijakan sosial, politik dan budaya, atau setidaknya mengubah kepedulian orang banyak terhadap suatu persoalan. Film dokumenter seperti halnya bidang seni dan kebudayaan lain, merupakan bagian dari upaya pembentukan opini, pertukaran gagasan dan eksplorasi estetika sendiri.

Jika film dokumenter berposisi serupa belaka dengan seni dan kebudayaan lainnya, sesungguhnya pertanyaan untuk strategi ekonomi kreatif ini lebih besar lagi: mungkin indikator-indikator ekonomi makro itu tidak sepenuhnya tepat. Namun biarlah itu untuk porsi pembahasan lain.

Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Seks

The FoxSeksualitas tak habisnya jadi bahan utama dalam film. Terkadang sebagai sumber sensasi, tapi bisa untuk hal yang lebih substansial, atau bahkan jadi semacam alat analisa bagi kritikus dan akademisi. Di sini saya ingin melihat tiga film pendek yang menjadikan urusan seks dan seksualitas sebagai substansi, alias sajian utama mereka.

Ketiga film ini diproduksi oleh Babibuta Film bekerjasama dengan HIVOS, dan termasuk punya prestasi penting bagi film Indonesia belakangan ini, termasuk salah satu di antaranya, The Fox Exploits the Tiger’s Might karya Lucky Kuswandi diputar di seksi Pekan Kritikus di festival film yang termasuk paling bergengsi di dunia, Festival Film Cannes.

Berkut adalah pembahasan saya mengenai mengenai seks dan seksualitas di tiga film ini,Sendiri Diana Sendiri (sutradara Kamila Andini), Kisah Cinta yang Asu (Yosef Aggi Noen) dan The Fox Exploit the Tiger’s Might (Lucky Kuswandi).

 

Sendiri Diana Sendiri (Kamila Andini)

Film pendek ini bercerita tentang Diana (Raihaanun), seorang ibu rumah tangga keluarga kelas menengah yang sehari-hari mengasuh anaknya di rumah. Tiada angin tiada hujan, sang suami tiba-tiba memberitahu bahwa ia akan mengambil istri kedua. Penolakan Diana, yang dilakukan tanpa bentuk kemarahan yang eksplisit, sia-sia belaka. Diana sempat meminta keluarga besar mereka untuk membantunya membujuk sang suami untuk mengurungkan niat, tapi gagal. Malah ia yang dianggap ‘kurang pandai’ dalam membahagiakan suami.

Diana akhirnya mencoba menerima kenyataan bahwa ia harus hidup dalam poligami. Ia mulai berupaya untuk keluar dari ketergantungan finansial dengan kembali bekerja. Secara emosional, ia juga mulai membayangkan dirinya hidup tanpa sang suami (yang tak sulit lantaran sang suami sering tak di rumah juga). Sampai akhirnya sang suami marah kepadanya karena tekanan-tekanan yang datang sesudah ia beristri dua.

Di sini, soal seksualitas dibicarakan dalam dua tingkatan. Pertama, seksualitas dibincangkan sebagai persoalan hubungan intim yang secara umum disalurkan dalam bentuk pernikahan monogamis. Melalui sudut pandang Diana sepenuhnya, film ini melihat bahwa perempuan berada dalam posisi amat rentan dan tak punya perlindungan sama sekali dalam institusi ini.

Sendiri-Diana-Sendiri-Watermarkin
Diana sendiri, Diana mandiri? Ia digambarkan membangun kemandirian ekonominya dengan bekerja, tapi bagaimana dengan seksualitasnya? Apakah upaya perempuan untuk keluar dari situasi yang dianggap tak menguntungkan berarti harus menunda urusan seksnya, setidaknya sampai durasi film berakhir? (foto: Babibuta Films)

Di tingkat kedua, seksualitas itu meluas menjadi hubungan-hubungan sosial ketika Diana dan suaminya, Ari, membawa masalah mereka ke keluarga besar. Sekalipun poligami dipandang sebagai sesuatu yang negative secara sosial, posisi perempuan masih sama rentannya. Kamila Andini menggambarkan dengan baik kerentanan ini ketika Diana malah disudutkan oleh inisiatif yang tidak adil itu. Ia malahan disalahkan dan diperlakukan seakan tidak menjalankan tugasnya dengan baik.

Kedua tingkat perbincangan ini dipakai Kamila Andini untuk memperlihatkan posisi perempuan yang dizalimi dalam poligami. Di ruang intim ia diperlakukan tidak adil, demikian pula di ruang sosial. Ia sedikit berdaya di ruang domestik, yang menjadi ruang yang berada di antara ruang intim dan sosial, tetapi ruang domestik itupun dianggap tidak bermakna, atau setidaknya apa yang sudah dilakukan Diana (mengurus anak dan rumah tangga) tidak dianggap sebagai sebuah sumbangan serius dalam hubungan pasangan suami istri itu, Namun berangkat dari ruang domestik itulah Diana melakukan perlawanan dengan caranya. Kata “sendiri” dalam judul film menjadi penting karena selain mengimplikasikan posisinya yang mandiri, tanpa bantuan orang lain (kecuali mungkin anaknya yang memberi sokongan emosional). Kesendirian yang bisa bermakna bencana diubah menjadi sikap mandiri.

Cerita seperti ini sama sekali tidak baru dalam film Indonesia. Sejak film seperti Di Balik Kelambu (sutradara Teguh Karya, 1983), posisi ruang domestik yang berada di antara ruang intim dan ruang sosial telah jadi bahan diskusi yang panjang dalam melakukan rumusan-rumusan seksualitas yang paling tepat. Di ruang ini, banyak film mengambil peran-peran seksual dan peran sosial laki-laki dan perempuan untuk dipentaskan sebagai drama yang menjadi cermin bagi politik seksualitas dalam masyarakat Indonesia. PosisiSendiri Diana Sendiri sebetulnya serupa dengan Berbagi Suami (Nia Dinata, 2005) yang menempatkan kemandirian perempuan sebagai semacam pemecahan masalah sekalipun ia harus kehilangan keintiman yang seharusnya ia dapat dari pernikahan. Perempuan, sekalipun mandiri, harus kalah secara seksual dalam pergulatan semacam ini.

Bedanya dengan Berbagi Suami, terutama pada segmen Rieke Diah Pitaloka dan Shanty, kemandirian itu tidak harus selalu berarti kehilangan keintiman karena mereka memutuskan untuk keluar dari poligami dan mengikuti hasrat seksual mereka yang lain sebagai pasangan lesbian. Maka dibandingkan dengan segmen ini, Sendiri Diana Sendirimasih memisahkan kamandirian dan peran sosial perempuan dengan persoalan keintiman.

 

Kisah Cinta yang Asu (Yosef Anggi Noen)

Dalam film pendek ini, seksualitas diasumsikan sebagai sesuatu yang secara potensial punya makna ideal dan dijalankan dengan sempurna dalam hubungan yang seimbang, adil dan transparan. Dengan basis gagasan seperti itu, Yosef Anggi Noen alias Anggi kemudian memperlihatkan bahwa ketika gagasan ideal itu dingkari, maka terjadilah drama.

Erik King (diperankan sendiri oleh Yosef Anggi Noen), seorang penggangguran yang selalu mengendarai motor Yamaha RX-King (dari sini nama belakangnya didapat) berpacar dua orang, tanpa mereka saling tahu. Yang seorang adalah pekerja seks komersial yang bekerja dengan memenuhi pesanan pelanggan untuk bermain peran (sebagai pelajar SMA, sebagai ‘tarzan’ dan sebagainya) sementara pacar satunya lagi seorang pencatat skor di rumah biliar murahan. Kedua pacarnya itu tak saling mengetahui bahwa Erik memiliki pacar lain, dan mereka menjadi penyedia banyak hal bagi si laki-laki, mulai dari seks hingga keuangan.

Kisah-Cinta-Yang-Asu-Watermarkin
Maskulinitas Erik King adalah maskulinitas yang membutuhkan alat bantu, yaitu sepeda motor Yamaha RX-King nya itu. Bahkan ini menjadi bagian dari identitasnya ketika namanya sudah menyatu dengan perangkat pendefinsi maskulinitas tersebut. Maka pemberontakan terhadap dunia maskulin ini dilakukan dengan menghancurkan alat bantu tersebut. (foto: Babibuta Films)

Dengan gaya cerita yang tidak linier, Anggi menempatkan seksualitas sebagai persoalan ketegangan antara ruang privat dan ruang publik. Di sini, Anggi tidak ragu-ragu memperlihatkan bahwa hidup para tokohnya dipenuhi oleh hasrat seks yang terpendam dan disalurkan dalam berbagai bentuk di ruang publik. Yang paling jelas tentu saja transaksi seks komersil, karena kegiatan ini pada dasarnya harus bermula di ruang publik sebelum memasuki transaksi sesungguhnya di ruang privat seperti kamar hotel dan tempat-tempat rahasia lain. Namun penyaluran seks di ruang publik bisa juga terjadi seperti yang dialami oleh si pencatat skor di rumah biliar yang digoda secara cabul oleh para konsumen di depan banyak orang. Inilah ketegangan abadi seksualitas: antara dilakukan di ruang privat dan dipentaskan di ruang publik.

Yang justru menarik dari ketegangan abadi ini justru adalah posisi kelas para tokohnya. Mereka adalah kelas pekerja yang secara finansial sangat tidak aman, dan bergantung pada pendapatan dari hari ke hari, terutama para tokoh perempuan di sini. Lagi-lagi posisi perempuan digambarkan teramat rentan, baik dalam ruang privat maupun publik. Di ruang privat yang tertutup dari mata publik, laki-laki seperti Erik bisa mengeksploitasi mereka terutama lewat pemberian keintiman (inilah yang paling utama yang ditampilkan di film ini) dan beroleh imbalan berupa keintiman serupa, plus sokongan finansial dan lain sebagainya, termasuk pemanjaan terhadap egonya – yang disimbolkan oleh sepeda motor RX King itu.

Kerentanan juga ada ketika para perempuan ini menjalankan peran seksualitas mereka di ruang publik. Mereka harus memasuki pekerjaan berisiko sebagai pekerja seks komersial tanpa jaminan keamanan dan kesehatan, bahkan secara tak resmi menjual jasa seks dengan harga teramat murah dan diperlakukan dengan “tidak sopan” oleh para laki-laki. Jelas sekali tergambar posisi laki-laki yang seakan superior secara moral sehingga bisa menghina perempuan penjual jasa seks, tanpa sadar bahwa mereka adalah pengguna jasa tersebut, yang artinya tak ada landasan moral bagi mereka bersikap demikian. Istilah “kemunafikan masyarakat” dalam soal seks ditohok di sini.

Dengan posisi perempuan seperti ini, maka makna ‘cinta’ dalam film ini ditempatkan sebagai “asu”, anjing, bukan sebagai binatang, tapi sebagai kata makian yang menempatkannya jauh dari kondisi ideal. Namun bagi saya inilah justru persoalan film ini: ia mengasumsikan adanya cinta ideal kemudian menyatakan yang ‘asu’ sebagai basis drama. Dan yang ‘asu’ di sini jelas posisi laki-laki, baik di ruang privat maupun di ruang publik. Namun asumsi itu lagi-lagi bisa berjalan dengan penempatan perempuan dalam posisi serba rentan, serba korban. Secara faktual hal itu memang bisa terjadi, tapi pilihan untuk menggambarkan seksualitas perempuan berada dalam satu bentuk dan satu arah saja (kepada laki-laki dalam hubungan yang selalu monogamis) adalah sebuah bentuk yang membuat perempuan terkurung dalam persepsi seperti itu terus menerus, sekalipun si perempuan itu kemudian melakukan tindakan balas dendam. Ingatlah bahwa film-film horor Indonesia dekade 1980-an dipenuhi oleh penggambaran perempuan yang menjadi sasaran eksploitasi laki-laki di ruang privat dan ruang publik dan kemudian membalas dendam ketika mereka menjadi hantu yang memiliki kekuatan supernatural.

Film Bumi Makin Panas (Ali Shahab, 1973) atau Pembalasan Ratu Pantai Selatan (Tjut Djalil, 1989) bahkan lebih berani menempatkan perempuan sebagai penentu mandiri terhadap tubuh dan seksualitas mereka tanpa harus diposisikan sebagai “korban” yang kemudian melawan dengan tindakan balas dendam. Perempuan di film ini memilih menjadikan seks dan sekualitas sebagai alat perlawanan, baik di ruang privat mapun – dan ini yang terpenting – di ruang publik, setidaknya semi publik. Tidak terlalu mengherankan jika film-film ini diprotes dan dihujat, dianggap sebagai film bejat karena mengganggu kemapanan pandangan seksualitas yang mapan dan semua “ada tempatnya”. Maka Kisah Cinta yang Asu ini masih menempatkan cinta dan seksualitas “ada tempatnya” masing-masing dalam struktur masyarakat yang dominan, tanpa memeriksa struktur itu lagi.

Persoalan lain dalam film ini adalah cara berceritanya yang bagi saya “tidak asu”. Jika kata makian asu dianggap sebagai sebuah bentuk yang tanpa kompromi dan terus terang apa adanya dan jadi cermin makian rendahan, maka film ini tidak bercerita dengan cara seperti itu. Anggi memilih untuk membuat cerita tidak linear, suara yang tidak sinkron dengan gambar dan penyusunan sekuens yang tidak kronologis. Ia memang ingin menangkap nuansa dan kehalusan alias subtlety dalam hubungan-hubungan ketiga tokoh utama, tapi ia seperti lupa bahwa ketiga tokohnya adalah kelas pekerja sedangkan cara ia bercerita mungkin lebih akrab dengan kelas menengah yang punya literasi sinema yang memadai.

Pertanyaannya: apakah kisah kelas pekerja harus selalu diceritakan dengan cara kelas pekerja? Sutradara Inggris Ken Loach penuh dengan contoh seperti itu dengan film-filmnya yang kemudian berkembang menjadi apa yang akrab disebut kitchen sink cinema. Bahkan Derek Jarman pernah bercerita dengan gaya yang sangat anarkis (tanpa adanya pusat cerita) untuk mengisahkan cerita kaum punk yang memuja anarkisme dalam filmJubilee. Mungkin kesejajaran cara bercerita dengan posisi sosial subyek seperti bukan tujuan tunggal, atau yang paling ideal. Namun secara moral, pilihan seperti itu lebih mudah dipertanggungjawabkan karena tidak mengeksotisasi subyek film tersebut, membuat mereka semata jadi bahan pembicaraan saja.

Mungkin bisa dibandingkan dengan film Anggi lain, Lady Caddy Who Never See Hole in One, yang sangat baik mendekati persoalan ini. Dengan cara bercerita yang sangat sederhana, film pendek Lady Caddy ini menggambarkan penolakan masyarakat agraris terhadap modernisasi yang berjalin dengan persoalan seksualitas (kecemburuan) dengan sangat efektif dan penuh energi. Kiasan dibuat dengan sederhana dan langsung mengarah para pokok persoalan tetapi sama sekali tidak menyederhanakan kompleksitas hubungan intim suami istri di film itu, kelas sosial mereka dan persoalan kebijakan politik yang lebih besar.

 

A Fox Exploit the Tiger’s Might (Lucky Kuswandi)

Film pendek ini menjadi yang paling mampu menggambarkan betapa seksualitas kontemporer itu punya kompleksitas yang tiada taranya. Mengisahkan dua orang remaja laki-laki usia SMP, Aseng dan David, yang bersahabat baik dengan setting waktu awal 1990-an, film ini mendadarkan persoalan seksualitas itu punya lapis-lapis teramat rumit yang jalin menjalin satu sama lain. Saya gambarkan satu demi satu di sini.

Pertama, seksualitas terkait dengan persoalan pubertas. Hal ini jelas dengan penggunaan dua tokoh remaja ini, tetapi amat menarik bagaimana mereka menggunakan berbagai macam token sebagai pengganti bagi penyaluran hasrat seks mereka. Mereka melakukan masturbasi (sendiri maupun bersama) sambil menggunakan beragam medium: foto perempuan (anonim) berpakaian minim yang diambil dari majalah, foto tokoh idola 80-90-an (Eva Arnaz), video game (Street Fighter II, yang popular hingga awal 1990-an) hingga imajinasi mereka yang tak terduga.

The-Fox-Exploits-The-Tigers-Might-Watermarkin
Apakah cairnya seksualitas berkaitan dengan situasi coming of age saja? Mungkin demikian dan ini penting apabila dijadikan metafor tentang negara bernama Indonesia. Dalam pertumbuhannya, seksualitas yang cair itu direpresi dengan dua perangkat penting: bahasa dan senjata. Dengan bahasa, penyimpangan didefinisikan dan dimasukkan ke dalam kategori yang terasing dan tak boleh muncul ke permukaan. Apabila tetap ngotot, maka senjata yang akan bicara. Maka urusan seksualitas adalah urusan kekuasaan dan kekerasan. (Foto: Babibuta Films).

Kedua, imajinasi yang tak terduga itu adalah penggambaran mengenai cairnya seksualitas. Alih-alih menggambarkan seksualitas hanya bisa bermakna pilihan biner (laki-laki atau perempuan, heteroseksual atau homoseksual), film ini menggambarkan bahwa seksualitas itu cair dan bisa berubah bentuk tergantung keadaan. Para tokohnya, terutama Aseng, bisa terangsang baik oleh gambar perempuan telanjang, maupun oleh tentara yang sedang berlatih baris-berbaris. Bahkan Aseng bisa bermasturbasi sambil membayangkan hubungan threesome antara dirinya, sahabatnya David dan Eva Arnaz sambil ia sendiri membayangkan David (ketimbang Eva Arnaz). Seksualitas di sini sepenuhnya seperti yang digambarkan filsuf Judith Butler menjadi tindakan performatif, sebuah identitas yang bisa beralih dari satu kesempatan ke kesempatan lain dan dievaluasi lagi berdasarkan penampilan tersebut, dan terus menerus berada dalam perumusan yang tak pernah selesai.

Ketiga, seksualitas juga mengimplikasikan identitas yang luas, bukan sekadar urusan jenis dan alat kelamin. Aseng adalah seorang anak etnis Cina dan orangtuanya harus berjualan minuman keras ilegal. Sedangkan David adalah anak seorang pejabat militer yang mudah saja pergi ke Singapura untuk mengecek kesehatan. Ayah David, melalui ajudannya, secara rutin meminta uang preman kepada orangtua Aseng (yang sebenarnya merupakan pengusaha kecil) dan menggunakan kekerasan yang dijalankan dengan sangat halus lewat kata-kata penuh eufimisme tapi jika tak dituruti punya implikasi besar. Maka Aseng harus hidup sebagai bully yang sebenarnya ditindas oleh David dan keluarganya.

Seksualitas Aseng menjadi bagian dari seksulitas manusia yang direpresi, ditekan, disembunyikan dan diperlakukan tidak adil. Maka ketika Aseng memberontak dari ketidakadilan itu, pemberontakan itu punya makna ganda. Ia adalah pemberontakan terhadap tekanan seksual sekaligus pada saat yang sama terhadap tekanan politik. Bahkan pemberontakan itu juga adalah pemberontakan adolescent yang khas remaja, ketika seorang korban bullying merampas senjata sang bully dan membalikkan ejek-ejeken rasis yang selama ini harus ia telan.

Adegan pemberontakan ini menurut saya bisa jadi salah satu adegan paling istimewa dalam sejarah film Indonesia karena beberapa hal. Pemaknaan ganda berlapis-lapis yang saya bahas di atas saja sudah sangat istimewa, terlebih lagi ia juga ditampilkan dengan simbolisasi luar biasa ketika Aseng memaksa David memasukkan pistol berpeluru ke dalam mulutnya sambil membayangkan bahwa David sedang melakukan oral seks terhadapnya. Kekuasaan yang berjalin bersama kekerasan sama artinya dengan kepuasan seks! Rasanya belum pernah ada simbolisasi sejelas dan setegas ini dalam sejarah film Indonesia, yang bisa jadi merupakan sesuatu yang diketahui dengan luas tapi tak pernah dibicarakan. Jika Nia Dinata lewat film Berbagi Suami mengkritik poligami sebagaiunderground privilege, alias keistimewaan hak yang tak dibicarakan secara terbuka, maka Lucky Kuswandi membongkar lebih jauh lagi lewat adegan sederhana ini: rezim militer penuh kekerasan adalah penindasan seksual dan finansial yang tiada taranya! Inilah yang tidak dibicarakan ketika kita membicarakan seks!

Inilah makna keempat seksualitas di film ini: hubungan kekuasaan yang terimplikasikan lewat seksualitas bukan semata soal keintiman atau soal ketegangan privat-publik. Hubungan seksualitas dan kekuasaan adalah persoalan kebangsaan dan sistem politik. Perhatikan bagaimana perdagangan gelap minuman keras (atau pelanggaran hukum lain) dijalankan dan dilindungi oleh tentara, dan bagaimana hubungan kekuasaan itu berjalan. Selalu ada posisi ajudan sebagai calo yang selalu membawa nama “bapak” dengan nada ancaman, tetapi juga mengambil keuntungan bagi dirinya pribadi. Bahkan ketika sang calon korban melawan dengan lihai, ia mengubah sasarannya menjadi pengambilan keuntungan dengan perilaku yang amat murahan. Terus terang, adegan sang ajudan yang akan ‘memperkosa’ ibu Aseng yang sudah jauh lewat usia paruh baya itu dan tanpa daya tarik seksual itu membuat saya bergidik membayangkan bahwa hasrat seks dan kekuasaan ternyata tak membutuhkan obyek yang sepadan dan hanya perlu penyaluran satu arah saja tanpa memandang korban.

Sedikit banyak penggambaran ini memperlihatkan hal penting dalam cara pandang Lucky dalam melihat politik Indonesia. Saya ingin melihat posisi uang kertas Rp50.000 bergambar Soeharto sebagai sebuah simbolisasi yang jenius dalam hal ini. Selain dengan mudah menggambarkan periode waktu (1990-an) uang kertas ini juga mengingatkan posisi sang “maha bapak” dalam politik Indonesia ketika itu. Kita ingat dengan adanya sosok “bapak” yang hadir lewat jabatan dan atribut negara resmi, tetapi tak hadir secara fisik itu. Dengan itu, represi bisa bejalan berjenjang dan di puncak piramida ini bercokollah si bapak. Dengan menghadirkan gambar bapak pada uang itu, kita diingatkan akan pengalaman politik ketika kekuasaan bisa berlangsung omnipresen dan terinternalisasi sedemikian rupa.

Satu hal lagi yang istimewa dari penggambaran pemberontakan Aseng terhadap David itu adalah: ternyata itu bukan pemberontakan. Adegan itu elusive, tidak menegaskan adanya pengakhiran hubungan, melainkan sebuah pertukaran posisi antara yang di-bully dan mem-bully yang menggambarkan bahwa posisi-posisi itu juga tidak stabil dan tidak tetap sepanjang sejarah. Mereka kemudian tampak bersama lagi (sekalipun tidak jelas-jelas apakah ini dinyatakan terjadi secara kronologis) mengindikasikan bahwa kebersamaan bully dan korbannya dalam satu lingkungan fisik adalah semacam keniscayaan yang harus dijalani. Jika memang ada yang berubah dalam kebersamaan itu, seharusnya adalah pengetahuan akan posisi masing-masing sebagai pihak yang punya hak istimewa (atau diistimewakan oleh sistem politik) dan pihak yang dinomerduakan posisinya oleh sistem yang sama.

Film memang dibiarkan berakhir terbuka oleh Lucky, dan ia tak lebih jauh membahas soal-soal mengenai entitlement, privilege, ketidakadilan atau distribusi dan sebagainya yang justru menjadi pekerjaan rumah publik film ini. Namun film ini sudah membicarakan sesuatu yang penting yang tergolong jarang disinggung oleh film-film Indonesia lain, bahkan yang mengaku film politik atau film sejarah: posisi-posisi kelas sosial-politik dan segala kompleksitas yang membentuknya. Dengan basis seksualitas yang cair, posisi politik/kekerasan yang bisa bertukar serta pembentukan identitas yang luas, dan keterkaitan semua itu, The Fox tergolong salah satu film Indonesia yang istimewa belakangan ini. Ia sama sekali tidak mengesensialisasi kriteria-kriteria itu, melainkan menempatkannya sebagai hasil dari situasi dan hubungan yang kompleks dan bisa terus berubah.

 

Penutup

Rangkaian pembicaraan seksualitas dalam ketiga film pendek ini membuat ketiga film ini, terutama The Fox, menjadi penting dalam semesta film Indonesia. Selain Berbagi Suami(dan A Lovely Man dan Something in The Way karya Teddy Soeriaatmadja) mungkin soal seksualitas hanya dijadikan sebagai hiburan atau sampiran, bukan sebagai subyek pembicaraan utama dalam film Indonesia. Dengan simbolisasi yang mengganggu pandangan mapan kita tentang seks, ketiganya tak harus vulgar bahkan sama sekali tidak eksplisit. Bahkan The Fox (juga pada Something in The Way yang tak dibicarakan di sini) membicarakannya dengan ungkapan yang kita akrabi dalam kehidupan sehari-hari, membuat kita jengah karena seks hadir sebagai bagian dari pengalaman, bukan tontonan dan hiburan malu-malu yang kita nikmati diam-diam secara pribadi tapi kita kutuk di hadapan publik, sebagaimana yang biasa kita lihat dalam film-film komedi/horor seks di Indonesia umumnya.

Akhirnya penerimaan terhadap ketiga film pendek ini bisa menjadi bagian pula dari sikap publik Indonesia terhadap seks. Yaitu membicarakan substansinya secara terbuka dan dewasa, bukan seperti anak kecil melakukannya dengan bersembunyi dari otoritas (orang tua) tapi melakukannya tanpa tanggungjawab. Hingga kini, ketiganya sudah bertemu publik terbatas lewat pemutaran di berbagai festival dan pemutaran inisiatif komunitas. Bagi saya, publik luas perlu menontonnya dan menjadikan apa yang dibicarakan oleh film ini menjadi bahan pembicaraan utama ketika berbicara soal seks, kekuasaan dan negara.

 

Resensi ini pertamakali muncul di majalah Kinescope: http://kinescopemagz.com/eric-sasono-yang-tidak-dibicarakan-ketika-membicarakan-seks/

Pakansi yang intim dan estetika lainnya

Poster-film-The-Floating-ChopinEropa dan Indonesia terhubung dengan cara aneh dalam film Wregas Bhanuteja ini. Bukan aneh, tepatnya intim. Keintiman itu mungkin jadi tak biasa ketika dihadapkan dengan kategori-kategori yang terlanjur hidup dan dipercaya manjur ketika membicarakan budaya dalam skala global. Eropa menjadi semacam pusat bagi acuan estetik, sebagaimanapun upaya Indonesia atau wilayah lain non-Eropa untuk mencari ke dalam diri sendiri, selalu bertemu dengan Eropa ini dalam hal perumusan dan pementasan. Non-Eropa seperti tak percaya diri ketika harus merumuskan dan mementaskan sendiri, dan terus mencari jalan untuk berada atau bersinggungan dalam trayek sejarah Eropa dalam soal estetika.

Wregas memulai filmnya dengan sebuah pernyataan penting tentang perjalanan wisata, tentang pakansi: sebuah laku serius bagi orang Eropa dalam penemuan dan perumusan estetika mereka ini. Saya bicara soal Grand Tour abad ketujuhbelas hingga kesembilanbelas dimana para bangsawan dari kawasan metropolis kapitalisme industrial bepergian ke wilayah lain Eropa sebagai bagian ritus pendewasaan dan penemuan akar kebudayaan mereka pada artefak antik maupun pada seni era Renaissance. Turisme semacam ini terus menjadikan Eropa sebagai pusat, dimana perjalanan wisata selalu dikaitkan dengan ritus pasasi, pencicipan kebebasan dan pengalaman otentik bertemu dengan Liyan dan peneraan jejak pada trayek yang memandang Eropa sebagai pusat dan wilayah lain sebagai pinggiran yang perlu dieksplorasi. Sebuah perjalanan sekuler yang menegaskan tentang keberdayaan dan keberbudayaan.

Di sinilah Wregas memulai filmnya dengan berkomentar soal Bali yang sudah menjadi bagian dari trayek semacam itu. Dan ia mencoba kembali pada “kemurnian” dan “kesunyian” Gunung Kidul sebagai ritus pasasinya sendiri bersama pacarnya Ersya Ruswandono. Sebuah sketsa klise yang memungkinannya jatuh pada opsisi biner ‘kemurnian’ versus ‘ketercemaran’.

Di tengah oposisi biner ini, Wregas bicara tentang Eropa sebagai bagian dari trayek pribadinya. Dalam percakapan yang intim dengan kekasihnya Ersya, Wregas menceritakan ziarahnya ke makam-makam di Paris. Ia secara relijius mengunjungi dan merekam makam Frederic Chopin, Jim Morrison dan George Melies sebagai semacam tanda khidmat terhadap estetika Eropa, budaya pop dan sinema. Eropa tidak sekuler dimata Wregas. Yang spiritual selalu bercampur dengan fisik yang profan dan pemaknaan selalu bisa keluar dari kanon yang dibentuk satu arah oleh para cendekiawan, dan Wregas sedang bermain menuju ke sana.

Di sinilah Chopin Larung karya Guruh Soekarnoputra menjadi semacam perangkat penting bagi Wregas untuk merumuskan trayeknya sendiri. Musik Guruh itu membuka jalan baginya: Chopin sudah pernah mengalami “pribumisasi” oleh Guruh. Istilah pribumisasi ini berasal dari saya sendiri yang bisa terasa kelewatan, tetapi Guruh bicara mengenai Chopin sebagai wakil Eropa yang –dalam lirik lagu Guruh- dianggap membawa kerusakan budaya juga dan melupakan Tuhan. Eropa menjadi sekuler, tercemar dan tidak murni di mata Guruh. Sekalipun Chopin di lagu ini menjadi synecdoche, menjadi wakil dari keseluruhan Eropa, tetapi saya paham bahwa ini berasal dari pengalaman Guruh pribadi, berasal dari nostalgia tentang hilangnya masa-masa Bali yang murni dan belum ‘tercemar’. Terjadi esensialisasi Eropa dalam komposisi Guruh yang sepenuhnya bersandar pada oposisi biner murni versus cemar, alias Bali versus Eropa. Dan sampai di sini kita kembali pada premis di awal film yang bicara soal komentar Wregas terhadap Bali sebagai sebuah lokasi turisme yang tercemar tadi.

Lalu bagaimana dengan sikap Wregas sendiri? Ia punya trayeknya sendiri dan sudah tiga perempat jalan dibahas di sini. Sisa terakhir adalah penafsirannya terhadap Chopin itu sendiri. Apakah ia kembali pada oposisi biner seperti halnya Guruh Soekarnoputra? Ia berangkat dari posisi biner itu dengan kemurnian dan kesunyian Gunung Kidul agar bisa bicara dengan intim mengenai penafsirannya sendiri tentang Chopin. Kemana arah penafsiran Wregas? Saya rasa pembahasan dihentikan di sini saja, karena tulisan ini berpeluang jadi spoiler kalau diteruskan, sekalipun Anda mungkin bisa menerka kemana Wregas menuju.

Saran saya, silakan tonton filmnya.