The Raiding Dutchmen: Colonial Stereotypes, Identity and Islam in Indonesian B-movies

This paper intends to examine the portrayal of Dutch colonialism in Indonesian B-movies, which were prevalent in Indonesian screens in the 1970s and the 1980s. The portrayal is full of stereotype, in which the Dutch officials, as the colonial authority, are portrayed as “immoral” and unjust Westerners who have insatiable appetite for financial accumulation. This portrayal is always coupled with the depiction of the films’ arch-protagonists as heroes who fight colonialism, and are equipped with religious justification and self-righteousness that enable them to acquire superhuman strength.

The stereotyping of the Dutch in these films should be seen in relation to two main reasons. First, this modern-day stereotype should be seen in postcolonial discourse as an effort to popularize Indonesian national identity. Secondly, it is not a coincidence that the portrayal of Indonesian heroism in the colonial resistance movements is done in conjunction with national and religious (particularly Islamic) identity since there has been an overlap between national and Islamic identity in the development of postcolonial discourse in Indonesia. In the light of examination of popular narratives in Indonesian B-movies, especially the “colonial actions film genre,” this paper will provide insights into the formation of national identity, religious tension, and postcolonial situation.
Keywords: post-colonial, stereotype, Islam and cinema, b-movies, Indonesia, identity formation

Read More »

Film-film yang berkesan buat saya di tahun 2014

image

13. Mood Indigo (Michel Gondry)
Sepintas, film ini seperti sedang menggunakan meriam besar untuk membunuh nyamuk: untuk apa memakai pemain seperti Audrey Tatou dan segala property film yang amat rumit itu untuk bercerita tentang kisah cinta yang berbau cinta monyet seperti ini? Namun bagi saya, inilah film yang memohon dengan rendah hati kepada para penonton untuk berpikiran terbuka ketika menonton film, dan tak perlu memenuhi kepala dengan segala praduga. Cerita dalam film ini demikian linier dan sederhana tetapi diiringi dengan visualisasi yang istimewa dari berbagai properti yang tampak tidak cocok dengan dunia yang kita kenali sekarang. Inilah sebuah kisah fantasi yang begitu polos dan tak berminat macam-macam kecuali mengajak kita menikmati perubahan demi perubahan suasana sepanjang menonton film. Sebuah tamasya visual dan mood yang amat berbeda, tapi jangan-jangan sebaik In the Mood for Love (Wong Kar-Wai, 2000).

12. At Berkeley (Frederick Wiseman)
Frederick Wiseman sudah puluhan tahun membuat film dan ia masih setia pada tema dan gayanya. Ia selalu melakukan pemeriksaan yang amat menyeluruh terhadap institusi sosial dan politik yang mapan di masyarakat, karena dari situ, manusia bisa dilongok sikap diri, bahkan mungkin pedalaman hatinya. Lewat film-filmnya kita melihat bagaimana manusia menjadi “institutionalized” alias melembaga, yaitu ketika sikap hidup dan perilaku individu tak bisa lagi dipisahkan dari lembaga sosial dimana mereka hidup; ini juga berlaku sebaliknya.
Kini ia melakukannya pada University of California at Berkeley, salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia. Gaya yang ia pakai masih sama dengan gaya pada film pertamanya, Titicut Follies (1967), yang bertumpu pada gaya observational tanpa voice over maupun ilustrasi musik, bertumpu pada adegan-adegan yang amat intensif menggambarkan intisari dari lembaga yang sedang direkamnya. Maka film ini terasa cukup menuntut kesabaran penontonnya.
Yang menarik dari film dokumenter ini adalah keberhasilan Wiseman menghadirkan gambaran kontradiksi yang amat dalam dan luas tentang posisi lembaga pendidikan dalam kondisi kapitalisme kontemporer. Dari film dokumenter ini, ketika kita menganggap lembaga pendidikan adalah jalan keluar dari masalah-masalah kontemporer, Wiseman justru memperlihatkan bahwa mereka dibelit masalah serupa belaka.

11. Blue Ruin (Jeremy Saulnier)
Buat saya, film ini seperti gabungan antara kisah seorang lelaki yang tak ingin ‘naik kelas’ (atau katakanlah tak ingin move on) karena dendam seperti Crossing Guard (Sean Penn, 1996) dengan seorang lelaki kelas menengah sensitif yang disudutkan, hingga terpaksa melakukan kekerasan tak terhingga Straw Dog (Sam Peckinpah, 1975). Maka kemunculan kelelakian (man-up) adalah sebuah konstruksi yang liar dan tak terkendali, melampaui hal seperti kepatutan sosial politik khas milik kelas menengah. Ini bagaikan sebuah perjalanan menuju tempat terasing dan ketika tiba di sana, sisi lain dari diri kita yang tak pernah kita kenali kemudian muncul dan mengambil alih jati diri kita, entah apakah untuk selamanya.
Sama seperti kedua film yang saya acu, kekerasan dalam film ini bukan untuk dirayakan, melainkan menjadi semacam cermin muram bagi diri manusia-manusia yang terpaksa dan tak kunjung rela. Kekerasan jangan-jangan memang katarsis dari situasi-situasi yang sepenuhnya tak pernah bisa sepenuhnya dikendalikan oleh manusia.

10. Locke (Steven Knight)
Menonton film ini, saya teringat pada Rear Window (1954), sebuah mahakarya Alfred Hitchcock yang bercerita secara lengkap tentang sebuah peristiwa dari satu sudut pandang saja. Bukan sekadar sudut pandang tokoh, tetapi juga menggambarkan peristiwa dari satu kamar dan apa yang bisa dipandang dari jendela kamar tersebut. Sebagaimana Rear Window, Locke serupa dalam membangun struktur cerita dari sudut pandang dan rentang waktu terbatas. Kisah dalam film ini diceritakan lewat satu peristiwa saja yang terjadi di dalam sebuah mobil yang sedang berada dalam perjalanan dari Manchester menuju London. Satu-satunya tokoh yang tampak di layar adalah John Locke (Tom Hardy) dan film ini jadi sebuah etalase bagi penampilan tunggal yang amat istimewa. Hardy tak hanya menjadi pusat bagi para tokoh lain yang hanya terdengar suaranya dalam percakapan telepon, tapi dari situ ia juga menjadi jangkar bagi cerita yang cukup kompleks dan penuh suspens. Sebuah film kecil dengan pencapaian amat besar.

9. Sacro GRA (Gianfranco Rossi)
Manusia mungkin mempengaruhi lingkungan fisik mereka, tapi film dokumenter yang lebih mirip film esei ini ingin menyatakan sebaliknya. GRA di sini adalah Grande Raccordo Anulare atau jalan lingkar utama yang mengelilingi kota Roma. Rossi memperlihatkan seakan jalan itu punya kualitas suci sehingga manusia-manusia yang hidup di sekitarnya patut untuk direkam dan disajikan kepada penonton ketika mereka menjalani kehidupan sehari-hari.
Namun keseharian orang itu bukan semata bunga rampai yang acak. Untuk subyek-subyeknya, Rosi seperti sedang membuka toko pakaian dan memilih manekin-manekin yang amat sangat tidak biasa untuk ia pajang di etalase. Orang-orang yang direkamnya adalah: seorang nelayan belut yang ngomel-ngomel dengan sebuah liputan koran tentang penangkapan belut, seorang petugas ambulan yang ibunya mulai pikun, penari erotis di rumah minum remang-remang pinggir jalan, penghuni rumah susun yang ingin jadi DJ, dan, yang paling unik buat saya: seorang perekam suara larva serangga di pohon palem. Orang-orang ini direkam ketika melakukan kegiatan keseharian mereka, tapi karena keunikan mereka, Rosi seperti sedang menyajikan sebuah karnaval dengan para peserta yang memakai kostum beraneka ragam.
Inilah narasi yang tidak sedang mengarahkan penonton untuk mengidentifikasi diri dengan drama dan karakter di dalamnya. Juga tidak usaha untuk memberi perspektif atau pemahaman tentang apa dan bagaimana dunia yang ada pada orang-orang itu (dan karenanya juga dunia kita ini) bekerja. Jika ada yang ingin diwakili oleh film ini, tampaknya Rosi ingin menghadirkan kota Roma dari wajah yang lain sama sekali dari apa yang digambarkan dalam banyak sinema tentangnya. Berbeda dengan gambaran kota Roma di The Great Beauty (Sorrentino, 2013) bahkan juga berbeda dari Roma, Open City (Rosselini, 1945), ibukota Italia ini tampil sebagai sebuah daerah pinggiran yang identitasnya tampak tak terdefinsikan.
Saya sendiri tak kelewat berminat melihat film ini sebagai bagian dari usaha merepresentasi wajah lain kota Roma. Saya merasa bahwa film ini mirip sebuah lamunan panjang tentang kenyataan-kenyataan dan orang-orang yang sulit dipahami secara selintas, tapi pada saat yang sama juga terasa akrab pada momen-momen tertentu. Bagi saya ajakan melamun yang dibawa oleh film semacam ini amat menarik, sekalipun saya tak ingin terlalu lama berada dalam keadaan seperti ini.

8. Ida (Pawel Pasilowksi)
Ida adalah seorang perempuan muda yang tinggal di biara dan relatif bahagia, sampai ia diberitahu bahwa orangtuanya yang selama ini ia kenal ternyata bukan orangtuanya sendiri. Pergilah Ida dari biara itu dengan satu misi pribadi, yaitu untuk memahami asal-usulnya. Ia pun melacaknya lewat kerabatnya yang masih tersisa yaitu bibinya, seorang politisi yang pernah menjadi pusat perhatian nasional.
Perjalanan kedua perempuan beda generasi dan kontras latar belakang ini kemudian menjadi semacam perjalanan yang unik, menggabungkan antara imaji politik, kebangsaan yang diguncang-guncang oleh segudang pertanyaan soal spiritualitas. Tak disangka tak dinyana, kisah yang nyaris tanpa konflik ini berujung pada sebuah pertanyaan amat mendalam dan tragis tentang jati diri yang tak pernah dipertanyakan sebelumnya.

7. The Reunion (Anna Olson)
Anna Olson adalah seorang seniman yang dirisak ketika semasa sekolah. Selama sembilan tahun bersama teman-teman sekelasanya, ia selalu dikucilkan dan dijadikan bahan olok-olok sampai batas yang nyaris tak tertahankan. Sampai tibalah sebuah reuni, dan Anna menyatakan ingin berbicara di depan teman-temannya itu, mengkonfrontasi pengalaman masa kecilnya itu saat mereka justru sedagn mengenang masa kecil yang mereka anggap polos dan menyenangkan. Maka Anna menjadi gangguan yang serius dalam pesta itu. Seseorang dari mereka sampai menangis. Bahkan celakanya Anna tak mau diam sekalipun sudah didorong dan terjatuh, sampai harus diangkat beramai-ramai dan dilontarkan ke dalam taksi.
Namun kejutan sesungguhnya justru terjadi di bagian kedua film ini ketika kita dibawa kepada tema konfrontasi sesungguhnya. Dengan metode penceritaan film ini, The Reunion seperti sedang memperlihatkan bahwa kebenaran memang bisa amat bergantung pada ingatan dan terutama pengalaman masing-masing orang. Dan jika memang kita memilih untuk percaya seperti itu, bersiaplah bahwa jangan-jangan kebenaranya sesungguhnya hanya proyek yag sedang dipersiapkan saja oleh orang lain untuk kita.

6. Snowpiercer (Bong Joon-Ho)
Diadaptasi dari komik Le Transperceneige karya Jacques Lob, Benjamin Legrand and Jean-Marc Rochette, film ini mengingatkan pada Heart of Darkness, novel pendek karya Joseph Conrad yang menjadi sumber film Apocalypse Now karya Francis Ford Coppola. Bedanya perjalanan menyusuri sungai pada film/novel itu diganti dengan menyusuri sebuah kereta cepat yang terus bergerak dalam situasi pasca-kiamat, demi menghindari kepunahan abadi manusia. Di luar, cuaca sudah berubah karena musim dingin abadi menguasai bumi dan peradaban manusia hanya tersisa di kereta api cepat yang bergerak dengan mesin perpetual-motion, yang bertentangan dengan hukum termodinamika, untuk menegaskan sifat utopis film ini.
Sepintas, film ini seperti sebuah etalase bagi kekerasan dan perpanjangan bagi adegan perkelahian dengan martil pada Old Boy. Namun sutradara asal Korea, Bong Joon-Ho, sedang menyajikan sebuah komentar amat pahit tentang elemen-elemen paling dasar dari peradaban itu sendiri, dimana sebuah sistem yang kompleks dan mengeksploitasi manusia satu sama lain tak terhindarkan untuk terbangun juga, bahkan ketika umat manusia sedang berada dalam sebuah kondisi survival. Inilah dongeng Dewaruci masyarakat liberal modern, ketika pencarian diri yang panjang dan melelahkan tak akan pernah bisa lepas dari pertemuan struktur sosial dan politik yang amat memaksa.

5. Citizen Four (Laura Poitras)
Sutradara Laura Poitras berada di tengah-tengah pusat badai untuk melaporkan apa yang kemudian dikenal sebagai sebuah tornado besar bernama skandal penyadapan oleh NSA terhadap warganya sendiri, serta beberapa pemimpin negara sahabat Amerika. Ia memfilmkan saat-saat wartawan Glenn Greenwald baru saja mendapat bocoran dari Edward Snowden, pegawai kontrakan NSA yang kemudian menjadi seorang whistle blower paling terkenal hingga saat ini. Maka film documenter ini bagaikan sebuah political thriller, yang lintas batas, dari Hongkong, Rio de Janeiro, Washington DC, London hingga Berlin.
Dua hal segera terungkap lewat film ini. Pertama, kultur paranoid yang ada dalam teori konspirasi ternyata benar adanya. Kedua, documenter ini seperti mengingatkan sebuah garis depan baru seputar hak politik warga negara. Kebebasan sudah berganti nama menjadi privasi, karena negara modern dalam war on terror memang sudah berubah karena dalam kondisi ini berlaku prinsip: semua orang dinyatakan bersalah, kecuali apabila terbukti berbeda.

4. Under The Skin (Jonathan Glazer)
Pendaratan makhluk angkasa luar jangan-jangan sudah terjadi secara diam-diam tanpa lampu berkilauan yang turun dari langit, dan terjadi di kota yang agak jauh dari pusat perhatian dunia seperti kota Glasgow. Maka, tak ada gambar sekelompok orang berpakain putih-putih dan steril yang menegaskan figur “ilmuwan” (seperti di film E.T) yang meneliti makhluk angkasa luar itu, juga tak ada adegan penghancuran Gedung Putih (Independence Day atau parody Mars Attack). Mendarat dan hidupnya alien di tengah kita adalah semacam peristiwa kecil ketika seorang perempuan cantik (diperankan Scarlet Johansson) tiba-tiba menunjukkan minat seksualnya kepada orang-orang bertampang biasa (atau bahkan buruk rupa) di tepi-tepi jalan.
Melalui kisah alien ini, Jonathan Glazer sedang merenung tentang manusia dan ketiadaan “pusat” dalam peradaban manusia, sebuah antitesis dari gagasan antroposentrisme dan kegagalan saintifik manusia ketika sedang mencari kehidupan di dunia lain dan memahami makhluk lain. Ternyata jangan-jangan pusat itu adalah anonimitas tubuh individu-individu yang dipilih secara acak, maka masih bisakah itu disebut sebagai pusat?

3. Gone Girl (David Fincher)
Sesudah Se7en dan Zodiac, buat saya inilah film David Fincher terbaik. Diadaptasi dari buku berjudul sama karya Gillian Flynn, film ini bagi saya bukan hanya berkisah tentang – mengutip seorang teman –ironi ketidaktulusan institusi pernikahan pada abad keduapuluh satu, tetapi juga tentang berkelindannya bangunan narasi antara yang individu dan yang sosial. Ketidaktulusan itu jangan-jangan bisa menjelaskan motivasi individu-individu yang ada dalam film ini, tapi bagaimana mereka niat itu dijalankan, ada pemahaman yang amat baik mengenai srategi dan taktik menjalankan hal tersebut. Strategi berkaitan dengan pemahaman bagaimana dunia sosial bekerja, yaitu mengandalkan pada prasangka, asumsi, stereotip dan segala hal yang menjadi landasan bagi hubungan-hubungan yang lebih kecil dalam hidup sehari-hari. Di situlah taktik bekerja, yaitu ketika hal-hal praktis diakali dalam detil demi detil guna mencapai efek yang diinginkan.
Buat saya, film ini bisa jadi sebuah komentar bagi dunia baru kita, bukan sekadar sebuah dunia dimana yang privat dan yang publik sama sekali tak bisa dipandang terpisah, tetapi juga sekaligus dipengaruhi oleh narasi dan kontra-narasi (dan mungkin kontra-kontra narasi) yang, tak bisa tidak, menjadi bagian dari cara kita memahami dunia. Dan pada akhirnya pencarian terhadap kebenaran hanya akan membuat kita tiba versi demi versi dari “mana yang paling benar”, demikian terus bagai siklus tak terputus. Ya, dunia kita sekarang memang amatlah kompleksnya.

2. A Story of Children in Film (Mark Cousin)
Film esei ini sebenarnya merupakan sebuah pengantar bagi program sebuah festival film yang menayangkan penggambaran anak-anak di dalam film. Namun apa yang dibuat oleh kritikus sekaligus pembuat film Mark Cousin ini amat luar biasa. Ia menggunakan potongan-potongan film dari berbagai film tentang anak-anak untuk mengungkapkan sebuah renungan panjang tentang film, anak-anak dan perkembangan dirinya sendiri.
Kekuatan film ini ada dua. Pertama, pemilihan film-film untuk (untuk dijadikan montage dan juga ditayangkan di festival itu sendiri) ini luar biasa, mulai dari yang amat terkenal seperti E.T (Steven Spielberg, USA, 1982), 400 Blows (Francois Truffaut, Prancis, 1959) hingga harta terpendam seperti Tomka and His Friends (Xhafinze Keko, Albania, 1977). Saya menyimpulkan pilihan semacam ini hanya bisa dihasilkan oleh pembuat film dan kritikus seperti Mark Cousin, tidak yang lain. Kedua, kecintaan Cousin terhadap sinema terasa sekali meluap-luap dan ia membagikannya kepada penonton penuh gairah dan renungan sekaligus, membuktikan kekuatan utama sinema sebagai seni yang mampu membuat penontonnya tersesat di dalamya, bagai ungkapan kritikus terkenal mendiang Pauline Kael.

1. The Iron Ministry (J.P. Sniadecki)
Berangkat dari tradisi yang sama dengan Sensory Ethnography Lab, Universitas Harvard, film dokumenter juga mengandalkan pada efek persepsi sensori dan tema yang bersifat sehari-hari. Namun The Iron Ministry tampaknya tidak menginginkan kata ‘konsisten’ menjadi bagian dari formula yang dipakai dalam menyusun film ini, karena terasa sekali film ini begitu eklektik, campur aduk, baik secara naratif maupun dalam pengambilan dan penyusunan gambar-gambarnya. Terkadang film ini bagai pengamatan yang dalam tanpa dialog, tetapi kadang merekam percakapan yang anekdotal, bahkan sesekali si filmmaker (orang Amerika yang fasih berbahasa Cina) bertanya kepada subyek dalam filmnya bagai seorang wartawan.
Film ini menceritakan perjalanan dengan kereta api di Cina, dibuat dalam waktu 3 tahun dalam berbagai macam kereta dan perjalanan, mulai dari kereta yang kumuh dimana penumpang tidur di lantai hingga kereta mewah dengan penumpang berpakaian mentereng. Snediacki memulai dengan pengambilan gambar berlama-lama (long take), tapi ia seperti tidak sabar sendiri. Kameranya mulai bergerak dan menyapu sekitar, tiba pada benda-benda yang ‘penting’ dalam konteks cerita di atas kereta, seperti daging dan lemak binatang yang dibawa masuk ke dalam kereta, anak kecil yang meniru pengumuman kereta dengan gaya bicara formal (tapi isinya ngawur), hingga percakapan antara penumpang beragama Islam dengan penumpang lain tentang kerukunan beragama di Cina(!). Snediacki ikut serta di dalam narasi sebagai seorang yang mengamati dan bertanya-tanya, seperti sedang mengisi waktu ketika sedang melakukan perjalanan bersama dan merasa bosan karena panjangnya waktu perjalanan. Problem kelas dan komentar sosial politik muncul juga dalam berbagai adegan semisal penggambaran kereta mewah, perbandingan gerbong restorasi, dan juga percakapan para pemuda tentang reformasi di Cina dan keinginan untuk beremigrasi karena problem lingkungan hidup yang parah.
Dengan gaya yang sulit terumuskan ini, Sniadecki seperti sedang merumuskan ulang esensi mengenai apa yang dianggap “sinematik” dalam film dokumenter. Ia tak seperti Flaherty yang berlaku sebagai seorang petualang mengunjungi bangsa terpencil, eksotis dan menyajikannya dengan cara mengklaim bahwa yang direkamnya adalah faktual. Ia juga tidak mengusahakan representasi lengkap tentang Cina kontemporer lewat filmnya. Bagi saya, ia sedang memperlihatkan bahwa proses perekaman dan penyuntingan pada film dokumenter mungkin hanya bisa mencapai pemahaman yang bersifat keseharian dan hanya bisa dipersepsikan secara terbatas. Serupa belaka dengan pengalaman seorang penumpang kereta juga terbatas dan tidak konsisten.

Film Dokumenter 2014: The Life Itself (Steve James)

Life ItselfInilah sebuah kisah yang tergolong memiliki narasi ideal film dokumenter Hollywood. Narasinya mirip-mirip dengan narasi neo-klasik yang berdasar pada: cerita tiga babak, motivational shot, editing menurut kesatuan ruang dan waktu serta tokoh utama model ideal (archetypal) yang hidupnya berjalan mirip seperti kisah from zero to hero. Ditambah dengan dedikasi dan rasa cinta sebagai pembicaraan utama, jadilah ini film yang sering diistilahkan sebagai heartwarming, film yang memberi rasa sendu dan damai di hati sesudah menontonnya.

Cinta dan dedikasi dalam film dokumenter ini kepada sinema, medium yang mungkin paling penting dan mencapai puncak kematangannya di abad keduapuluh yang baru lalu. Lewat tokoh kritikus film dari Koran Chicago Sun Times, Roger Ebert, medium itu diberi wajah personal dan kecintaan yang menggelora dan intelek pada saat yang sama. Ebert adalah salah seorang yang berada di garis paling depan dalam mencari dan merumuskan peran medium itu di dalam masyarakat. Bukan sekadar pencarian ‘nilai sosial’ atau ‘nilai kultural’ di luar makna hiburan, tapi justru dengan menegaskan bahwa hiburan itu punya nilai sosial dan kultural yang begitu penting pada saat transisi pergantian abad lalu menuju abad ini. Medium film yang dicurigai oleh orang-orang seperti pemikir aliran Frankfurt, Theodor Adorno, justru kemudian direngkuh ke dalam pelukan orang banyak, berkat orang seperti Ebert yang turut memberi makna penting bagi medium itu.

Mungkin lewat film dokumenter ini kita diajak melihat bahwa kecintaan terhadap medium itu memang begitu alamiah dan menjadi bagian sehari-hari yang tak terhindarkan. Karena di atas medium film, cinta Ebert pada film hanya bisa ditandingi oleh kecintaannya terhadap kehidupan itu sendiri.

Top 10 Documentary Films of 2013

2013 - the act of killing

 

 

10. Hava Nagila: The Movie (Roberta Grossman)
This documentary tells a story of a Jewish popular song, Hava Nagila, starting from its obscurity until reaching spotlight as a pop culture icon and a type-casting tool, due to help of film and television programmes. This documentary is an example of an effort to understand comprehensively an obscure object, but this can be more than that: how to dissect a complex work of a machinery that turn a ritual artifact – and its religious connotation – into a tool to simplify a challenging idea of identity in daily life. With a smart sense of humor, this documentary is mocking our casual satisfaction to stereotype.

 

9. Pussy Riot: A Punk Prayer (Mike Lerner, Maxim Pozdorovkin)
The story revolves around the court trial of members of Pussy Riot, arguably the most controversial band in the early twenty first century. It reveals a story about resistance against some institutions that may perpetually dominate our world. Feminism might be the spearhead of this struggle but imagine these determined young women protesting the establishment called The Patriarch and Vladimir Putin, which may be the strongest symbols of the patriarchal and misogynistic society. These young women shout loudly inside the society’s most sacred site to uncover the unruly affairs between religion and politics. The subject is more than worth to tell.

 

8. Flaneurs #3 (Aryo Danusiri)
This short documentary tells a story about the followers of a religious group called Jamaah Rasulullah (The Prophet Muhammad Congregation), recorded after a sermon at Merdeka Square, Jakarta, Indonesia. They still gather in front of the stage, fetching bottled water (and maybe blessings) from the preachers, who claim to have a lineage from the Prophet Muhammad himself. The filmmaker, Aryo Danusiri records the new relation of these followers to the preacher thusly redefines the twofold phases of piety to Islam in Indonesia, a country with biggest Muslim population. Firstly, these followers have influenced the city-scape as they regularly stroll around the city to and from the sermons. Secondly, the followers’ cell phone camera (and most likely its digital technology) creates connected-ness which consequently affects and redefines piety and cultism.
To me, the “human swarm” in Aryo’s depiction of this congregation is tantalizing an increasingly important myth: the fear of zombie that has been escalating in post 9-11 liberal democratic world. These followers are people and their existence has been affecting our world. Should they be zombified just because they are pious?
See the short documentary in the link below (password: aryo123)
http://vimeo.com/59735371

 

7. Room 237 (Rodney Ascher)
People and cinema have created a relationship defined as cultism, a term to explain an unreasonable worship to particular objects. The filmmaker records this “madness” and brings us to linger upon this notion, neither to understand why the worship happened at the first place nor whether the object is worthy. Bringing worship on Stanley Kubrick’s The Shining, deemed as a film full with encrypted secret codes by its worshipers, Rodney Ascher challenges our perception on what can be resulted from a process of cinema watching. This brings us into the core of cinema, fetishism, that is when something regarded more than its intrinsic values. This can also be the reverse: there is nothing intrinsic in cinema. This film brings the essence of cinema, which is inter-relation of a work and its audience.

 

6. The Road: A Story of Life and Death (Marc Isaacs)
The road in this documentary is the oldest road in the UK. It is a geographical site that has been a silent witness of human being’s migration to the pulsating centre of civilization and this has been occurring dated back to the Roman Empire. Marc Isaacs takes us to that very street in London and makes us stop to see those people on the move, to understand why and how they began and end their journeys. Isaacs seems to be loyal to his credo ‘to give voice to the voiceless’. Without him making this documentary, those people would be forgotten. They can just die in their flat without anyone being aware for three days. Isaacs is outstanding in his effort: he never use his subjects just to carry his own personal agenda, rather he turns them into a complete human being with their own life and death.

 

5. Seeking Asian Female (Debbie Lum)
This is a documentary that makes both the subjects and the filmmaker challenged their perception on people that they type-casted. Rather than just ‘othering’ her subjects, the filmmakers invades the private area of “the monster” in her effort to understand him as a multi-dimensional human being, exorbitant of being stereotypically caged. This resulted in a depiction of failures, not only of the American man’s objectification of the exotic Asian women, but also of the Chinese woman’s idyllic American Dream. Also this brings another inevitable point of documentary film: the filmmaker’s intervention by recording the subjects is equally co-influencing both ends of the course of life.

 

4. Stories We Tell (Sarah Polley)
Sarah Polley is tracing her story as an extramarital child. She collects video documentation produced by her family members and mix it with reenactment of her parents, Diana and Michael Polley. Revolving around the story of young Polley couple, Sarah contradicts memory and perceptions of other family members on her parents and constructs a story about herself. This complex reconstruction become a mysterious self-searching journey through a room full of mirrors to reflect back along the way. Reality becomes entangled with memory and perception, which are impossible to be filtered out from facts. This even goes further: facts are actually memories and perceptions objectified through recording process when utterance are said and recorded and then perceived by the audience.
http://www.youtube.com/watch?v=ytq4VZ2Nyxg

 

3. Cutie and The Boxer (Zachary Heinzerling)
The documentary tells the story of a Japanese artist, Ushio Shinohara and his wife, Noriko, who live in New York and have been married for 40 years. Noriko met him when she was 19. She was an aspiring art student at that time. Noriko abandoned her career and decided to become a wife and an assistant to Ushio, an unruly artist who punch the canvass with paint for making his art. Timidly, Noriko have been creating her own work, a graphic story of ‘Cutie’, who is married to ‘Bullie’. Taken from her own marriage life, Noriko’s work become a serious contender to Ushio’s, not only artistically but also on her suggestion on how their relationship should work. It is about her tiredness of being taken for granted and about his jealousy towards his wife. Span across four decades, this documentary reveals a struggle of a couple to put meanings and legacy into their aging process.

 

2. Leviathan (Julien Castaing-Taylor and Verena Paravel)
This film is a serious contender to push the envelope further on contemporary cinema storytelling. The filmmakers’ courage to alienate the subjects/objects in their films has triggered questions to the function of cinema as a tool to construct our perception of reality and to convey story from it. A nod to the Herman Melville’s Moby Dick in this film has also provides an insight into relationship between men and their work. Fishermen might be a profession that has been taken for granted in our mundane life but by estranging it to audience, this documentary is able to raise questions on how humans’ work can lead to an imagery of an apocalyptical condition or a situation where life, massively, is in peril.

 

1. The Act of Killing (Joshua Oppenheimer, Christine Cynn and Anonymous)
Werner Herzog is exaggerating when he said this documentary has no precedent in the history of cinema. Depictions of murderers to reenact their actions have been done in Jean Rouch’s Moi Un Noir and Rithy Panh’s S21: Khmer Rouge Killing Machine. However, Herzog has a point on another thing: making the reenactment of a genocide as a nation-wide festival has never been depicted in cinema before. Therefore, this film is a question to a collectivity called nation-state, which happened to be Indonesia. But that’s not all. This question, put in global context, turns into something deeper with twofold consequences. Firstly, how far do we question the pretext for justifying the collateral for our current civilization without shaking its foundation? Secondly, do we dare to share empathy with a mass murderer to admit that there is maybe something inherent in human beings that enable us to tolerate (or even to participate) in a genocide? This film treats answer to these questions as prerequisites for enabling us, human being, to avoid similar thing from happening again in the future.

Out of the list: Undisputed Truth (Spike Lee), Blackfish (Gabriela Copperwhaite), Pervert Guide to Ideology (Slavoj Zizek dan Sophie Fiennes), The Great Hip Hop Hoax (Jeanie Finlay), Oxyana (Sean Dunne), Sound City (Dave Grohl), More than Honey (Markus Imhoof), The Crash Reel (Lucy Walker).

Missed it in 2013, anticipated for 2014: At Berkeley (Frederick Wiseman), Manakamana (Stephanie Spray dan Pacho Velez), The Square (Jehane Neoujaim), The Last of the Unjust (Claude Lanzmann).

10 Film Favorit Saya Tahun 2013

Ini daftar 10 film favorit saya sepanjang tahun 2013 ini. Silakan:

2013 - Stranger_by_the_Lake10. Strangers by the Lake (Alain Guiraudie)

Kerja kamera begitu santai, seperti tak berniat mengungkapkan drama apapun. Namun danau yang besar dan indah di musim panas pastilah sebuah lokasi penting bagi peristiwa yang mampu mengguncang persepsi kita. Di tepi danau itu, para lelaki homoseksual mencari pasangan. Konvensi tentang seks berjalan begitu tak lazim di tepi danau itu. Berganti pasangan atau tetap dengan satu pasangan saja, amat bergantung pada masing-masing orang. Kehidupan seks promiskuis, kesetiaan dan kecabulan berjalan beriring. Semua itu dilakukan oleh Alain Guiraudie tanpa sensasionalisasi. Ia memang sedang menggunakan sinema sebagai pelanggar tabu, dengan memperlihatkan adegan seks dan alat kelamin laki-laki yang tampak jelas di layar. Lewat kisah pembunuhan dan gelora seks, akhirnya film ini tak hanya mempertanyakan mengapa para tokohnya yang mengambil keputusan mengherankan dalam film, tapi juga kita sendiri tentang apa yang dianggap wajar dan tidak seputar soal konvensi tentang seks.

2013 - Frances-Ha9. Frances Ha (Noach Baumbach)

Di pertengahan usia 20-an, Frances tak tahu persis apa yang diinginkannya. Bahkan ia mungkin tak mengerti apa yang tak diinginkannya. Namun Frances tetap penuh mimpi dan angan-angan, sampai akhirnya ia harus kompromi terhadap keterbatasan yang dihadapinya. Inilah kisah bagaimana keterbatasan-keterbatasan membentuk mimpi dan aspirasi, hingga akhirnya orang harus realistis dengan apa yang mampu diraihnya. Dalam fotografi hitam putih dan editing yang tak mulus, Noach Baumbach seperti sedang mencoba menyajikan gambaran kebingungan kelas menengah Amerika ketika individu di dalamnya sedang mencoba masuk ke dalam lingkaran itu. Bisa jadi orang seperti Frances adalah diri kita sendiri, atau malah bukan orang yang ingin kita jadikan sahabat jika kita temui dalam hidup sehari-hari, tapi kita tahu bahwa lewat orang seperti Frances kita bisa mengerti hal-hal yang enggan kita akrabi.

2013 - stories we tell8. Stories We Tell (Sarah Polley)

Sarah Polley mencoba melacak sejarah dirinya sendiri sebagai seorang anak yang lahir dari hubungan di luar pernikahan. Ia mengumpulkan rekaman dokumentasi film keluarganya dan menyusunnya dengan peragaan ulang ibunya, Diana Polley dan ayahnya Michael Polley. Berpusar pada kehidupan mereka sewaktu muda, Sarah mencoba mengkonfrontir kenangan dan pandangan orang tentang asal-usul dirinya sendiri. Lewat rekonstruksi yang rumit ini, saya merasa diajak memasuki sebuah wilayah pencarian jati diri yang penuh dengan cermin untuk memantulkan refleksi diri sendiri. Kenyataan jadi rumit karena berpadu dengan kenangan dan persepsi yang tak mungkin ditapis dari fakta, bahkan mungkin fakta tidak pernah benar-benar merupakan fakta karena ia adalah kenangan dan persepsi yang diobyektifikasi: dinyatakan dan direkam dan terlepas dari pembicaranya.

2013 post tenebras lux7. Post Tenebras Lux (Carlos Reygadas)

Koherensi memang bukan departemen yang diutamakan dalam cerita film ini, dan hal itu kerap menjadi salah satu ciri film buatan sutradara asal Spanyol, Carlos Reygadas. Dengan menggunakan idiom-idiom agama, Reygadas biasanya bercerita tentang pedalaman hidup manusia yang berkaitan erat dengan soal seks, kematian dan penebusan dosa demi mencapai kesejatian hidup manusia. Kali ini terasa bahwa tema itu jauh lebih longgar, dan Reygadas mendahulukan fragmen-fragmen tak beraturan dan tak berurutan dengan visualisasi yang kuat. Menonton film ini akhirnya seperti memandangi lukisan ekspresionis yang menimbulkan kesan pada tarikan garis kuat dan warna serta motif yang tegas, ketimbang narasi yang muncul dari soal-soal konvensional film semisal plausibility dan koherensi plot.

2013 - fruitvale station6. Fruitvale Station (Ryan Coogler)

Buat saya film ini amat mengingatkan pada Elephant (2003, Gus Van Sant) yang berkisah mengenai penembakan Columbine. Persamaannya adalah pada kamera dan penceritaan yang amat santai tentang keseharian tokoh utamanya sampai cerita berpuncak pada momen dramatis yang tak ada bandingannya. Ini terjadi karena dua hal. Pertama, momen itu bersumber dari kisah nyata yang memang amat dramatis. Kedua, momen itu sudah menjadi bagian keseharian orang Amerika karena besarnya perhatian orang dan media terhadapnya, termasuk representasi peristiwa itu sendiri di dunia maya. Akhirnya struktur penceritaan semacam ini mengingatkan bahwa kehidupan nyata itu pada dasarnya sudah amat dramatis adanya.

2013 - beyond the hills5. Beyond the Hills (Christian Mingui)

Mempertanyakan peran agama di abad keduapuluh satu, ketika Eropa sedang terjangkit problem besar bernama migrasi penduduknya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Alina baru saja kembali dari Jerman, menemui teman dekatnya, mungkin pacarnya, Voichita yang sudah tinggal di biara khusus perempuan. Di biara Kristen Orthodox itu, Alina segera menjadi persoalan karena ia hanya berpikir dengan cara maju ke depan; tak bisa melingkar atau bercabang. Segera benturan demi benturan terjadi hingga ke titik ekstrem yang mengakibatkan akhir yang tragis. Dengan alur penceritaan yang begitu natural dan akting istimewa, film seperti ini seperti mengingatkan bahwa fungsi sinema untuk mempertanyakan hal-hal besar sambil mau tak mau membuat film yang disajikan oleh pusat industri terkemuka berubah jadi semacam industri kalengan dengan formula basi yang diulang-ulang.

2013 - Upstream Color4. Upstream Color (Shane Carruth)

Jika film ini disebut sebagai terpengaruh Terrence Malick – dalam pengertian positif – rasanya tak berlebihan sekalipun ambisi Shane Carruth terasa sedikit berbeda. Jejak Malick jelas terasa pada gambaran waktu yang melingkar, ketimbang linear, terutama dalam hubungan antara dua tokoh utama dalam film ini. Kita tak terlalu bisa membedakan (dan rasanya juga tak kelewat peduli) apakah mereka sedang mengalami masa kini, masa lalu atau masa depan. Lanskap luas sebagai latar yang mempengaruhi perkembangan individu juga bisa dilacak ke Malick. Namun tema fiksi ilmiah dalam Upstream Color menjadikannya lebih dari sekadar peniru (lihat misalnya Ain’t Them Bodies Saint) karena dengan penceritaanya yang elusif Carruth berhasil mempertahankan filmnya menjadi sesuatu yang mempesona dan indah. Gambar dan warna dalam film ini jadi terasa visceral, seakan membangkitkan indra penglihatan untuk menjadi lebih aktif menikmati elemen-elemen dasar sinema itu. Pengalaman memuaskan dan menakjubkan.
2013 - leviathan3. Leviathan (Lucien Castaing-Taylor dan Verena Paravel)

Saya sudah beberapa kali membahas film ini sebagai salah satu penantang bagi penceritaan dalam sinema. Bisa jadi ia terpengaruh, bisa jadi mempengaruhi apa yang perkembangan sinema terakhir yang bersandar pada kapasitas indrawi manusia untuk mencapai pengalaman sinematik yang optimal. Saya merasa menemukan pengalaman itu dalam penceritaan tentang keseharian kehidupan nelayan yang menakjubkan sekaligus mengerikan ini.

2. The Great Beauty (Paolo Sorrentino)2013 - The_Great_Beauty

Apa sesungguhnya keindahan? Penulis Jep Gambardella pernah menulis satu buku yang menjadi karya klasik, tapi ia belum menulis karya apapun sesudah itu. Dari situ ia berhasil masuk ke lingkaran kaum jet set kota Roma. Hidupnya penuh dengan pesta mewah tiap malam, begitu mewah hingga tampak hampa, memalukan sekaligus tak nyata. Inilah sebuah komentar yang mampu menangkap suasana jaman Italia pada era Berlusconi. Lewat sikap anti klerik dan satir yang diajukannya, Sorrentino akhirnya mengkontraskan hidup yang innocent dan penuh gairah usia muda sebagai sebuah antitesis bagi masyarakat kontemporer yang digambarkannya hampa itu.
2013 - the act of killing1. The Act of Killing (JoshuaOppenheimer, Christine Cynn and Anonymous)

Jika Werner Herzog berkata bahwa film ini tidak punya preseden sebelumnya dalam sejarah sinema, ia agak berlebihan karena film seperti Moi Un Noir atau S 21: Khmer Rouge Killing Machine sudah memperlihatkan peragaan ulang yang dilakukan oleh para pelaku pembunuhan. Namun Herzog ada benarnya dalam hal lain: menjadikan peragaan itu sebagai festival yang dirayakan bersama oleh satu bangsa memang belum pernah muncul secara terbuka. Maka film ini merupakan pertanyaan kepada kolektivitas bernama bangsa, kebetulan saja Indonesia. Diletakkan dalam kerangka global, pertanyaan itu jadi meluas sekaligus bercabang terhadap peradaban manusia sekarang ini: pertama, sedalam apa kita mempertanyakan argumen yang dipakai sebagai pembenaran bagi jatuhnya para korban ketika kita membangun peradaban kita; kedua, sampai dimana kita mau berempati pada pembunuh massal untuk bisa mengakui bahwa ada soal inheren dalam diri manusia yang bisa memaklumi (atau bahkan berpartispasi dalam) pembunuhan massal agar hal semacam itu tak terulangi lagi dalam kehidupan manusia sekarang ini?

Keluar daftar: Gravity (Alfonso Cuaron), Nobody’s Daughter Haewon (Hong Sang-Soo), The Selfish Giant (Clio Barnard), Before Midnight (Richard Linklater), Cutie and the Boxer (Zachary Heinzerling), Blue Jasmine (Woody Allen).

Nonton Bola di Inggris

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Bisa lihat spanduk Arsenal Indonesia di Emirates?

Sebagai seorang penggemar sepakbola, ketika akan berangkat untuk bersekolah di Inggris, saya membayangkan bahwa saya akan banyak menonton olahraga ini di Inggris. Tentu secara khusus saya rutin menonton pertandingan-pertandingan liga Inggris di stasiun TV swasta ketika saya di Jakarta. Saya membayangkan selain menonton di TV, saya akan sesekali menonton pertandingan-pertandingan itu secara langsung di stadion.

Ternyata tidak semudah itu, baik untuk menonton di TV, apalagi menonton pertandingan langsung di lapangan. Menonton sepakbola di televisi di Inggris bukan perkara mudah dan murah. Pertama, untuk menonton TV saja, kita harus membayar iuran TV. Untuk TV berwarna besarnya iuran sekitar £145 setahun. Saya mendapat warisan sebuah TV 20” dari seorang eks warga negara Indonesia yang tinggal di Nottingham ini. Beliau pindah ke Cina sehingga banyak barangnya yang diwariskan, termasuk TV Samsung model lama dengan punggung menonjol besar dan berat. Kalau saya harus membelinya, TV seperti ini bisa saya dapatkan seharga £20 di toko yang menjual barang bekas untuk keperluan amal, milik British Heart Foundation. Namun untuk membawanya ke rumah, saya akan membutuhkan ongkos kirim £20 atau ongkos taxi sekitar £12. Maka TV warisan itu lumayan juga.

Namun sesudah ada TV, bukan berarti saya bisa langsung menonton. Tentu saya membayar iuran TV karena datang surat dari City Council mengingatkan bahwa alamat tempat tinggal saya tak terdaftar sebagai pembayar iuran TV. Kalau sampai saya tertangkap punya TV tapi tak membayar iuran, maka saya berpeluang kena denda yang jumlahnya bias mencapai £1,000. Resikonya terlalu besar, maka jumlah £145 itu pun saya bayarkan dengan skema bulanan.

Iuran TV sudah dibayar, tapi hanya berlaku untuk saluran-saluran gratis, atau yang dikenal dengan freeview. Tahun lalu ketika saya baru datang, saluran untuk menonton liga Inggris dimonopoli oleh Sky TV. Sejak tahun 1999 mereka memonopoli siaran sepakbola di Inggris, baik Barclays Premiere League maupun liga-liga di bawah Football League seperti Championship maupun League One. Untuk League Two, tak ada siaran langsung kecuali lewat saluran radio BBC lokal karena peminatnya kelewat sedikit.

Untuk berlangganan Sky Sport 1 & 2 (plus ESPN) yang menyiarkan BPL dan Championship, setidaknya harus membayar paket sekitar £42 per bulan dengan kontrak minimal 18 bulan, total menjadi £756. Jumlah ini belum ditambah dengan biaya sewa jalur broadband sekitar £14,5 per bulan. Jadi total £1,017 harus keluar untuk urusan menonton BPL di TV. Kesimpulannya, menonton BPL di TV jadi barang mewah.

Cara lain untuk menonton adalah pergi ke pub atau rumah judi dan menumpang menonton di sana. Celakanya saya bukan orang yang akrab dengan budaya minum atau judi, sehingga saya jengah pergi ke tempat-tempat itu. Sesekali saya berkunjung ke pub, tapi hanya mungkin apabila bersama teman. Maka cara ini tak bisa diandalkan untuk menonton rutin.

MOTDAkhirnya untuk urusan menonton siaran langsung sepakbola di TV, saya mengandalkan pada streaming online (sssttt.. ini sebetulnya ilegal). Kapasitas streaming mereka umumnya 200-an Kbps, maka gambarnya pecah-pecah dan terkadang macet. Yang akhirnya lebih saya andalkan adalah ulasan mingguan BPL bertajuk Match of The Day di BBC One. Selain itu ada juga Football League di BBC One yang membahas Championship, League One dan League Two. Tahun lalu Yahoo UK juga membuat rangkuman pertandingan mingguan BPL yang cukup bagus, tapi sejak hak siaran berpindah ke BT Sport, acara itu tak ada lagi.

Pada musim ini, siaran langsung sepakbola BPL pindah ke BT Sport. Mereka berhasil memenangkan tender siaran langsung dengan harga £1.2 miliar. Angka ini adalah rekor baru dalam sejarah liga Inggris dan dampaknya benar-benar menghebohkan. Klub yang berada di BPL kebagian jumlah amat besar dari nilai kontrak ini sehingga mereka bisa belanja pemain gila-gilaan. Untuk pertamakalinya pada musim ini klub-klub semacam Southampton atau Norwich City memecahkan rekor mereka dalam nilai transfer. Southampton mendatangkan Danny Osvaldo dari Roma (£12.8 juta) dan The Canaries merekrut Ricky Van Wolfwinkel dari FC Porto (€10 juta). Pemasukan dari siaran TV ini (belum lagi iklan dan harga tiket dan sebagainya dan sebagainya) membuat klub di divisi Championship ngebet untuk ikutan ke BPL.

Dampak perpindahan dari Sky ke BT Sport bagi saya? Tak ada lantaran saya tak menjadikan BT sebagai penyedia jasa sambungan internet. Saya terlanjur terikat kontrak dengan Virgin Media, dan tak bisa pindah begitu saja kecuali bayar denda yang nilainya nyaris sama saja dengan meneruskan kontraknya. Padahal BT menjanjikan siaran gratis lewat saluran pita lebar bagi pelanggan mereka. Nilainya Antara £10 sampai £18 per bulan. Tak buruk sebetulnya, tapi saya sementara ini saya harus menunggu sampai kontrak Virgin Media saya selesai sebelum pindah ke mereka.

Bagaimana dengan cita-cita saya menonton langsung pertandingan sepakbola di stadion?

Saya sudah menduga bahwa prosesnya tak akan mudah dan murah, tetapi ternyata lebih sulit daripada yang saya duga.

10 Ian Holloway 2
Ian Holloway ketika masih menangani Crystal Palace, bertanding melawan Nottingham Forest di City Ground, markas Forest

Di kota tempat saya tinggal, ada dua klub sepakbola yaitu Nottingham Forest dan Notts County. Keduanya lumayan istimewa. Nottingham Forest pernah menjadi juara Eropa dua kali berturut-turut tahun 1979-1980 ketika dipimpin manajer Brian Clough. Fragmen hidup Clough pernah difilmkan dengan judul The Damned United. Film ini mengambil momen ketika Clough menangani Leeds United (yang dianggap titik terendah karir Clough sebelum akhirnya ia berhasil membahwa Forest juara Eropa). Film ini tak terlalu disukai oleh penggemar Nottingham Forest karena amat mengecilkan arti Forest dengan menyebutnya sebagai “klub kampung” (provincial club) di penghujung film. Nottingham Forest kini berkompetisi di Championship, satu kasta di bawah Premiere League.

Sosok Brian Clough sendiri dijadikan pahlawan di Nottingham. Ia dianggap memberi kebanggaan besar kepada kota Nottingham dengan piala Eropa itu, sehingga patungnya didirikan di pusat kota Nottingham, lengkap dengan kutipan kata-katanya yang terkenal. Selain itu, di Waterstone di Nottingham, ada satu rak khusus yang isinya hanya buku biografi Brian Clough saja.

Sedangkan Notts County tidak seterkenal Forest. Tetapi jika orang membicarakan sejarah sepakbola Inggris tentu akan menyebut nama klub ini karena inilah klub sepakbola tertua di Inggris. Notts County berkompetisi di League One, dua kasta di bawah Premiere League. Klub ini adalah klub yng punya hubungan dengan Juventus. Seragam mereka serupa dengan Juventus, dan seorang pendukung Juventus asal Indonesia yang sedang belajar di Inggris dengan sengaja niat berkunjung ke Nottingham untuk menonton Notts County bertanding.

Dengan kedua klub itu, saya memutuskan untuk menonton Nottingham Forest secara berkala. Tidak kelewat reguler karena selain harga tiketnya lumayan, juga ada tugas-tugas kuliah. Harga tiket lepasan mereka musim lalu adalah £25-30 per pertandingan. Harga ini jelas lebih mahal ketimbang tiket terusan satu musim yang berkisar antara £300-600, yang bisa mencakup seluruh pertandingan sepanjang musim itu. Namun karena saya tak bisa membuat komitmen untuk satu musim, saya membeli tiket lepasan saja, dengan syarat harus menjadi anggota kelompok pendukung klub. Pendaftarannya gratis, paling banter kita dikirimi email atau surat promosi klub, dan saya tak keberatan akan hal itu.

Bagaimana dengan pertandingan klub-klub BPL? Tentu sejak awal saya mengincar pertandingan mereka, terutama klub besar dengan seragam merah, seperti Manchester United dan Arsenal (oh, saya bukan pendukung Liverpool, sekalipun tak keberatan juga menonton mereka). Namun untuk bisa menonton mereka langsung di lapangan bukan perkara mudah. Pertama, harga tiket mereka mahal. Arsenal dan ManUtd menjual tiket lepasan dengan harga £40-70. Untuk bisa membelinya, kita harus mendaftar jadi anggota klub suporter, dengan biaya pendaftaran £40 (Arsenal) atau £30 (ManUtd). Jika mau membeli tiket tanpa harus menjadi anggota, bisa saja membeli tiket yang namanya Match Day hospitality. Harganya? Paling murah  £199, sekalipun ini ditambah dengan jamuan makan siang ditemani legenda-legenda klub.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAHarga-harga itu membuat saya kesal dengan klub-klub besar itu. Namun saya berpikir ini kesempatan sekali seumur hidup, maka saya memaksakan diri merogoh tabungan untuk menjadi anggota, demi untuk bisa membeli tiket. Saya akhirnya bisa membeli tiket menonton Arsenal langsung di Emirates musim lalu (mereka mengalahkan Aston Villa 2-1). Untuk mendapatkannya bukan perkara mudah, karena sebagai anggota biasa (bukan anggota premium), saya harus menunggu giliran penjualan tiket lepasan yang tersisa. Loket online dibuka tepat jam 10 pagi, dan biasanya para penggemar sepakbola sudah mengawasinya sejak jauh hari, sehingga dalam 15-30 menit biasanya seluruh tiket terjual. Tepat pada waktu loket dibuka, saya segera membeli 2 tiket (untuk saya dan anak saya, Hatta) dan akhirnya berhasil mendapatkannya.

Sedangkan untuk mendapatkan tiket klub Setan Merah jauh lebih sulit, bahkan nyaris mustahil sekalipun sudah mendaftar jadi anggota biasa. Mereka klub global dengan pemegang tiket terusan BPL di seluruh dunia, dan ditonton sebagai semacam atraksi turisme. Maka untuk bisa mendapatkan tiket BPL, persaingannya adalah persaingan global. Menurut seorang teman, bisa juga mencari tiket ManUtd dngan cara mencari informasi tiket terusan yang tak dipakai. Biasanya pemegang tiket semacam ini tak bisa selalu datang menonton langsung dan menjual jatahnya di pasar sekunder. Namun informasi ini beredar di klub-klub dan kalangan terbatas saja, sehingga saya tak berhasil mendapatkannya.

Namun niat menonton ManUtd tetap kesampaian, sekalipun bukan pertandingan BPL mereka, melainkan pertandingan FA Cup putaran kelima musim lalu. Mereka bertanding melawan Chelsea (seri 2-2).

Satu hal yang saya rasakan ketika menonton klub besar bertanding: sepanjang pertandingan para suporter tak berhenti bernyanyi-nyanyi mendukung klub mereka. Ini berbeda dengan klub-klub yang lebih kecil.

Stadiun Loftus Road, markas QPR
Stadiun Loftus Road, markas QPR

Musim ini saya sempat menonton Aston Villa melawan Newcastle United (skor akhir 1-2), dan tak merasakan atmosfir serupa. Tadinya saya pikir orang-orang Birmingham akan bersorak riuh rendah lebih berisik ketimbang orang-orang London atau Manchester. Ternyata keliru. Mereka menonton dengan tenang, dan hanya berteriak apabila ada aksi yang agak seru. Celakanya para pemain juga memperlihatkan permainan yang buruk dan tak menggairahkan. Klub seperti QPR (saya menonton langsung musim lalu, putaran keempat FA Cup melawan West Bromwich Albion) juga serupa, tak terlalu bergairah. Akhirnya memang itu yang membedakan: klub besar ternyata lebih bergairah ketimbang klub kecil.

Namun saya sudah terlanjur patah arang dengan klub-klub besar itu lantaran urusan membeli tiket tadi. Untuk klub seperti Aston Villa, saya bisa mendapat tiket mereka dengan harga £17 lewat situs viagogo yang jadi situs resmi penjualan tiket mereka. Terkadang situs itu jadi pasar sekunder, sehingga harganya bisa jatuh sampai £10. Lewat situs klub, harga termurah biasanya sekitar £23 untuk pertandingan dengan klub kecil lain. Namun untuk pertandingan dengan klub besar, harga bisa melambung. Saya sempat mengincar pertandingan Fulham vs ManUtd di markas Fulham, Craven Cottage. Lewat situs viagogo, harga tiket mereka jadi £99, padahal harga sesungguhnya mungkin separuhnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Hatta di Emirates. Dia menjadi pendukung Arsenal musim ini.

Jadi untuk bisa mendapatkan tiket untuk menonton pertandingan langsung klub besar itu bagai mendapat lotere bahkan bagi orang Inggris sekalipun. Saya ingat seorang teman yang sempat putus dengan pacarnya lantaran si pacar memaksakan diri menonton pertandingan Arsenal padahal ia sudah janji untuk datang menemani teman saya untuk membuat tugas akhir kuliahnya. Kata teman saya, pacarnya bilang, “ini tiket Arsenal. Kapan lagi bisa dapat tiket Arsenal?”. Teman saya mengerti betul bahwa  memang sulit untuk dapat tiket Arsenal, maka ia mengijinkan. Namun sesungguhnya ia tak rela, maka mereka bertengkar hebat sesudahnya; dan mereka pun berpisah.

Behind the ban of “Prison and Paradise”

 

Towards the end of last year, I learnt that Daniel Rudi Haryanto’s “Penjara dan Nirwana” (Prison and Paradise, 2010) did not get a Censorship Certificate (STLS) from the Indonesian Film Censorship Board (LSF). It means that the film is banned from public viewing under the jurisdiction of Indonesia.

After the massive political changes in 1998 that succeeded in removing President Soeharto, this is the second time that a movie did not get the censorship certificate in Indonesia. Previously, “Dendam Pocong” (2006), directed by Monty Tiwa also had the same problem. The reason behind the ban of “Dendam Pocong”, according to Monty Tiwa in a phone call, was that there was a concern that the film had the potential to open an “old wound”.

“Dendam Pocong” depicts violence against the Chinese during the riots in 1998. As a result, “Pocong 2” became one of the most unique films in Indonesia, as the film is not a sequel from the first film. The truth is that “Pocong 1” was never publicly released.

Prison and Paradise suffered a similar problem as “Dendam Pocong”. Without the censorship certificate, the film cannot be played theatrically. The reasons of the ban were stated in the rejection letter No: 26/DVD/TLK/LSF.XII/2011, dated December 9, 2011. I got a copy of the letter from Daniel Rudi Haryanto (aka Rudi Gajahmada) and the reasons for the ban are below in italics:

“The film is filled with dialogue reflecting a misleading propaganda, so that it will give a negative influence on the Islamic younger generation in Indonesia. Therefore, the documenatary film does not fit with the criteria of censorship and religious aspects, thus cannot be circulated or distributed in the Republic of Indonesia.”

The “religious aspects” referred to actually relates to the censorship rules created during the New Order, Government Regulation (PP) No. 6 in 1994, of the Film Censorship Board. On the religious question, a film may be denied from screening within the jurisdiction of Indonesia with following religious reasons (I quote these from Article 2 of the government regulation):

“(2) The elements assessed in terms of religion are:

a. a film which gives an impression of anti-God and anti-religion in all its forms and manifestations;

b. a film which can damage the inter-religious harmony in Indonesia; or;

c. insults one of the recognised religions in Indonesia.”

In fact, the Film Censorship Board is still working under regulations that were written during the New Order with the intention to control film content. Until now, there has been no censorship regulation to substitute this previous regulation.

It is interesting to note that the rejection letter given to Prison and Paradise coincided with the judging process at the Festival Film Indonesia (FFI) in 2011, when the film was selected as one of the nominees for Best Documentary.

As a result of this letter, the Executive Committee of FFI stated that the nomination should be cancelled because, according to the Guidelines for FFI, all films registered in the FFI must have a censorship certificate.

Prison and Paradise (and many short films and other documentaries) actually do not have censorship certificates when they were submitted to FFI. The FFI executive committee, according to its chairman Abduh Aziz, planned to register all films with the LSF (Lembaga Sensor Film or Film Censorship Board) in order to meet the requirements of their guidelines.

But instead of being approved by the board, Prison and Paradise was rejected, and consequently, its nomination revoked. Even the roadshow, originally planned by the FFI Committee for November 15 to 23 2011, was cancelled. Not only that, Daniel Rudi Haryanto’s roadshow to introduce his film to 37 cities, was stopped at the 17th city. Based on his statements, Rudi was often visited by the police who asked for the film censorship certificate, during his tour to various cities.

Abduh Aziz had said that he got the information of Prison and Paradise’s rejection from Totot Indrarto, one of the judges in the FFI committee, who said that it was rejected at the plenary level of LSF. When I contacted Totot, he only said that the information he received from LSF staff was not clear, though they implied that a rejection was given at the plenary level.

Then I contacted Akhlis Suryapati, a journalist and director, who is now a member of LSF. He explained how the LSF works. Every day, members of LSF are working in groups and they have a schedule to censor films. They decide which films will pass or not pass, and then the group will create a letter to be signed by the Chairman of the LSF. If there is a movie that cannot be decided at the committee level, the film is usually discussed at the executive level. Beyond this level, is the final plenary level, where all members of the LSF, about 45 people, will be invited to talk about it.

Akhlis Suryapati said that he was never invited to the plenary meeting to discuss the film, Prison and Paradise. So it is most likely that Prison and Paradise was rejected at the committee level. Akhlis advised me to contact the Chairman of the LSF, Mukhlis Paeni and LSF’s secretary, Pudji Rahaju. Mukhlis Paeni said he did not have time to answer my interview request, as he was busy with teaching. He also did not have the data on the film and suggested that I contact Pudji Rahayu.

From Pudji Rahayu, I received confirmation that Prison and Paradise failed to pass the censorship process at the first group level. But Rahayu Pudji said that she was in a rush and wanted to end the conversation as soon as possible.

2

I watched Prison and Paradise when the film was screened in the competition section of the Documentary Film Festival 2010 in Yogyakarta. I was a jury member. Prison and Paradise tells us about the Bali bombers. Rudi successfully interviewed Mukhlas, Imam Samudra and Amrozi in prison. They were given the opportunity by Rudi to express their in-depth views about Islam, jihad and the bombings. In addition to them, Rudi also interviewed Noor Huda Ismail, a former journalist and now an activist in the Inscription Peace Foundation, who was once a roommate of one of the bombers when they were together studying in a boarding school, Al Mukmin, Ngruki, a boarding school led by Abubakar Ba’asyir.

Rudi’s coverage on Noor Huda is somewhat overdone, in my opinion, and even includes a meeting with Noor Huda and the bomber’s family and Noor Huda’s trip to Bali to see the Ground Zero Monument of the bombing. It was Rudi’s effort to show Noor Huda’s reflections rather than just present the facts and the opinions about the bombing. This section is an effort to neutralize the views of the bombers and to provide an overview that there can be two completely different intersections on the same road, as both Noor Huda and the bomber came from the same Al Mukmin, Ngruki pesantren (Islamic school) in Central Java.

But the statements of the bombers were considered by the LSF as propaganda speeches. As we know, most of the bombers (such as Amrozi and Imam Samudra) never regretted their actions and assumed that what they had done is a sacred path desired by Islam. This was considered as misleading propaganda by the LSF.

Of course, the sentences are likely to be misleading when they are used out of context. However, don’t you think that almost every movie has a potential to mislead when there are sentences that are removed from context? I feel that this movie has to be seen in full, as I believe that the audience is capable enough to sort out which information is credible and which ones are not.

In addition, it must be remembered that the standard LSF censorship still depends on regulations made under the New Order. Censorship regulation for a film should be the government’s responsibility. Until now, there is NO new regulation, and Indonesian filmmakers are still treated with suspicion, as they were during the New Order.

3
Actually, before the film was rejected by LSF, Prison and Paradise already invited protests. The Embassy of Indonesia in the United Arab Emirates questioned the participation of Prison and Paradise at the Dubai International Film Festival in December 2010. The film, as the embassy claimed, had internationally maligned Indonesia, as well as complicated the Indonesian government’s efforts in tourism promotion. The protest was delivered by the Embassy in Dubai to the Ministry of Tourism and Culture (the name of the ministry at the time), and this protest influenced Syamsul Lussa, the Director of Film, an institution under the Directorate General of Cultural Art and Film, at the ministry,  to call Daniel Rudi Haryanto to the Sapta Pesona Building, the office of the Minister. In early 2011, Rudi attended the meeting.

On that occasion, Rudi met Syamsul Lussa and several officials at the Ministry, such as the head of the Bureau of Law and a few others. According to Rudi, he was reprimanded for screening a film that had not passed censorship and gave a bad name to Indonesia in the eyes of the world. Rudi had to meet Syamsul Lussa a second time later that year in Malang, East Java. The film had been banned by LSF by this time. Rudi tried to explain the film’s importance as various festivals had selected it and it even won the New Asian Currents Award at the Yamagata International Documentary Film Festival, one of the most prestigious documentary film festivals in the world. But according to Syamsul Lussa, it was not relevant. Prison and Paradise had made the Ministry of Tourism and Culture receive an unwanted protest from the Embassy of Indonesia in Dubai (United Arab Emirates).
Later I spoke to Syamsul Lussa about this meeting. He said that Rudi was reckless with his film on two points. First, the film was released without a censorship certificate, and second – this surprised me – Rudi never registered his film with the Minister of Culture before production, as in the Film Act of 2009 (article 17 paragraph 1) regarding the obligation to register a film, in order to protect the film from plagiarism in the title and story (as stated in Article 17 paragraph 3). I can certainly understand the point concerning the absence of the censorship letter (though I do not agree with the letter and the reprimand), but if he was blamed for not registering his film to the Minister of Culture, I think that rule is being used wrongfully.

The registration of films is one of the problematic rules in the Film Act. Will we keep using this law to admonish filmmakers who have a different viewpoint from the government?
Syamsul Lussa refused to acknowledge that what he did was an effort to control what has been made by filmmakers. He said that what happened to Rudi and Prison and Paradise is an attempt to guide the filmmaker. Hmm, I did not expect us to go back to a time when the Ministry of Information would give  us “coaching”.

 

4

Daniel Rudi Haryanto was worried about speaking too strongly in defending the film, Prison and Paradise, when he was finishing his second film. As he said, if he resisted, there was a chance that the film could have difficulties passing censorship in the future. It seems that the country has not yet succeeded in eliminating fears about creativity and in many cases, these fears have increased.

The LSF continues to operate in a nebulous bureaucracy, whether they are under the Ministry of Tourism and the Creative Economy or within the Ministry of Education and Culture?

The stewardship of LSF led by Mukhlis Paeni will expire in 2012. There are many issues that need change. For example, two important changes would be:

–        the transparency in the election of 17 members of the LSF (no longer 45 as it is not in accordance to the Film Act 2009)

–        and the transparency decision-making mechanisms within the institution.

 

Translated from Bahasa Indonesia by Philip Cheah. Thanks Philip!

Ciutan tentang Room 237

Room237

Hubungan manusia dan sinema itu memang tak terduga. Tak selalu ada sensibilitas, dan kita girang karenanya ‪#room237

Tak adanya sensibilitas ini menimbulkan istilah cultism, sebuah upaya memahami obsesi yg meminggirkan reason ‪#room237

Posisi cultism jadi pinggiran krn ada konotasi pra-reason, obsesif dan emosional, argumen yg dibangun arbitrary sekali ‪#room237

‪#room237 dipenuhi obsesi dan argumen berdasar inferensi, memaksakan kaitan antara 2 hal yg kecil sekali kemungkinan hubungannya

‪#room237 seperti merayakan obsesi itu seperti sebuah pornografi, ada fetisisme dari sang filmmaker thd argumen2 yg tak masuk akal..

Sampai di situ, tiba2 ‪#room237 mengingatkan saya terhadap The Act of Killing. Beda dlm subyek dan cara pandang, tapi punya kesamaan..

‪#room237 dan The Act of Killing sama2 lingering terhadap absennya sensibilitas. Keduanya sama berpusar pada sinema dlm menyajikan subyeknya

‪#room237 dan TAoK sama dlm melihat sinema: medium itu dipakai dlm usaha make sense thd kehidupan, terutama thd obsesi dan “kegilaan”

Dokumenter macam ‪#room237 dan TAoK jd tanda epos baru sinema: intertextuality, self-referential, mediatized experience utk memahami dunia

 

INDONÉSIE • “Les Versets de l’amour” enflamment les salles obscures

Comment imaginer un film d’amour à la sauce islam ? En reprenant les ficelles classiques du trio amoureux musulman. Les jeunes urbains et la classe moyenne attachée à la religion sont séduits.

 

La dernière œuvre du réalisateur Hanung Bramantyo, Les Versets de l’amour [Ayat-Ayat Cinta], est un phénomène nouveau dans le cinéma indonésien [le film a fait plus de 3 millions d’entrées depuis sa sortie, il y a deux mois]. Elle est le signe d’une transformation toute récente du discours sur l’islam en Indonésie car, jusque-là, les films à coloration musulmane ne prenaient pas l’amour pour thème principal.

Dans les années 1990, la création de l’Association indonésienne des intellectuels musulmans (ICMI) avait marqué l’entrée de la communauté musulmane dans le débat citoyen. A cette même époque, l’apparition de téléfilms à coloration religieuse et de groupes de musique islamique à succès comme Opick et Hadad Alwi indiquait la percée d’une culture musulmane dans le grand public. Et, de fait, les nouveaux réseaux de communication et le développement de produits culturels ont alors favorisé la pénétration des enseignements de l’islam dans de nouvelles strates de la société. S’imposa alors la nécessité d’adapter les enseignements de l’islam aux besoins du marché. Un simple exemple : à ses débuts, la musique nasyid [chant musulman a cappella] refusait l’emploi de tout instrument, mais, dans les années 2000, des groupes nasyid ont introduit certains instruments, à commencer par des percussions. On note là une certaine habileté a épouser son époque.

Tout cela explique l’actuel succès, phénoménal, du long-métrage Les Versets de l’amour. Le réalisateur, Hanung Bramantyo, n’est pourtant pas connu pour être un cinéaste spécialisé dans la culture pop islamique. Il a tourné une série de films d’amours adolescentes, d’horreur ou des comédies légères.

Un nouveau genre est né : le film conformiste islamique

Les Versets de l’amour prouvent qu’une œuvre produite sans intention de ­propagande religieuse est accueillie triomphalement par le public. Par tous les publics. Lorsque je suis allé voir ce film, j’étais assis dans la salle entre un groupe de femmes voilées qui sortaient d’une rencontre de lecture du Coran et des lycéennes en short. Et, de chaque côté, certaines spectatrices avaient les larmes aux yeux à la fin de la projection.

Fahri, le héros de l’intrigue, étudie à l’université Al-Azhar [Le Caire], mais, dans le film, on ne le voit jamais absorbé dans ses études. Son professeur de théologie n’est là que pour le conseiller dans ses affaires amoureuses car l’étudiant n’arrête pas de recevoir des lettres de jeunes femmes qui lui déclarent leur passion. Un jour, dans le train, Fahri défend une Occidentale maltraitée par un Egyptien. Son intervention se prolonge en un débat sur la religion, proche d’un prêche à la mosquée. A la suite de cette diatribe, il rencontre Aisha, qu’il épouse rapidement. Dans le même temps, le jeune homme se lie d’amitié avec Maria Girgis, une Copte, et leur relation se transforme vite en histoire d’amour. SelonLes Versets de l’amour, une relation amicale entre un homme et une femme ne peut exister sans relation sexuelle. C’est là, alors que Fahri décide de choisir la polygamie, que le mélodrame amoureux et les valeurs de l’islam se rencontrent. Dans le roman qui inspire le film, il n’est pas raconté que Fahri, Aisha et Maria vivent ensemble sous le même toit. Mais, dans le film, les scènes de vie commune à trois exposent la souffrance d’Aisha et provoquent soit la compassion, soit la colère des spectateurs, selon la façon dont ils considèrent la polygamie et le “sacrifice de la femme”.

Malgré les apparences, Fahri ressemble à Si Boy, le héros archétypal du cinéma indonésien des années 1980 et du début des années 1990. Tous deux sont aimés par plusieurs femmes, et tous deux étudient à l’étranger, Fahri en Egypte, Si Boy en Amérique. Le lieu des études représente l’inclination idéo­logique de deux générations ­différentes. Ce qui les rapproche néanmoins est leur passivité face aux problèmes sociaux et politiques de leur pays. Si Boy est né des feuilletons diffusés par la radio Prambors, qui étaient très écoutés par les ados des années 1980, Fahri a grandi, lui, en lisant les récits publiés dans Republika,le quotidien qui relaie les voix de la communauté musulmane urbaine et orthodoxe. Tous deux sont nés d’une culture marginale qui devient populaire et même emblématique de la jeunesse indonésienne. Dans les années 1980, Si Boy est apparu alors que l’“ordre nouveau” [doctrine du régime Suharto] réprimait les mouvements étudiants et tentait de brider la société civile en imposant une idéologie uniforme.

Fahri, lui, n’a pas connu ce genre de problème. Il est né dans un contexte de liberté d’expression. Toutefois, il ne s’implique dans aucune cause de son pays. L’Egypte représente un sanctuaire destiné précisément à le tenir à l’écart de tous les problèmes sociaux et politiques qu’il devrait immanquablement affronter s’il se trouvait en Indonésie.
Si, sous l’ordre nouveau, c’était le pouvoir totalitaire qui forçait les cinéastes à faire des compromis, aujourd’hui c’est la toute-puissance du marché qui dicte sa loi. Il faut s’attendre, vu le succès des Versets de l’amour, à ce que nos cinémas soient inondés ­pro­chainement par ce genre de films conformistes à coloration islamique.

http://www.courrierinternational.com/article/2008/04/17/les-versets-de-l-amour-enflamment-les-salles-obscures (accessed 23 Jan 2013)