Film Dokumenter 2014: The Look of Silence (Joshua Oppenheimer)

TloSSulit untuk melihat film ini terlepas dari film sebelumnya, The Act of Killing, bukan hanya lantaran film ini seperti melengkapi cerita peristiwa 65-66 dengan sudut pandang keluarga korban yang sedang mencari keadilan, tapi saya ingin melihatnya dari sudut pandang lain: posisi Joshua Oppenheimer. Jika pada The Act of Killing Joshua berlaku seperti anak kecil pada cerita HC Andersen, The Emperor New Clothes, yang sedang memberi tahu seluruh bangsa Indonesia bahwa kita sedang tidak pakai baju, maka di sini ia mengambil posisi yang lebih rentan terhadap kesenjangan pengetahuan itu. Maka bagi saya film dokumenter ini jadi terasa lebih berpeluang untuk menempatkan Joshua sebagai sang pencari ketimbang semata menyodorkan wacana bahwa ia adalah anak kecil yang innocent dan jujur adanya.

Perhatikan bagaimana para subyeknya berkata, “kalau tahu gini, saya tak mau Josh!” yang merupakan kekesalan karena Joshua mempertemukannya dengan Adi Rukun. Ini bagi saya memperlihatkan bahwa campur tangan filmmaker dalam film dokumenter ini tak kelewat disembunyikan, dan karena itulah konfrontasi Adi dengan para pelaku terjadi. Joshua lah yang melempar batu ke mayapada semula film (putative reality) agar terjadi gelombang cerita di dalam dunia film dokumenter (pro-filmic reality) ini. Hal ini tak ia tampakkan pada The Act of Killing karena jika hal itu muncul, implikasi etis dari film itu amat sangat besarnya, seperti pertanyaan ilmuwan Australia Robert Cribb (yang sudah puluhan tahun meneliti soal pembantaian massal terhadap PKI dan simpatisannya) ketika membahas film itu. Dari kedua film ini, ketimbang semata mengatakan bahwa Joshua ekspoitatif terhadap subyeknya, saya lebih suka melihatnya sebagai sebuah usulan penting berkaitan dengan film dokumenter: definisi film dokumenter tak akan pernah lepas dari problem etiknya sejak semula.

Dengan begini, film dokumenter ini bagi saya menjadi lebih menarik ketimbang The Act of Killing, sekalipun tanggapan terhadapnya tak mungkin ecstatic seperti film sebelumnya. Padahal film ini adalah tentang konfrontasi, tentang sebuah upaya untuk membuat sesuatu yang dianggap alamiah menjadi tidak alamiah lagi dan berubah selamanya. Kemudian di atas cara pandang baru terhadap dunia itu diharapkan seharusnya terbentuk sesuatu yang sama sekali baru untuk dibangun bersama. Karena jika tidak, yang ada adalah suasana sunyi senyap, dimana yang bertanya dan yang ditanya sama-sama tidak bisa mengeluarkan jawaban apa-apa terhadap konfrontasi yang terjadi. Bayangkan seandainya Einstein merumuskan teori relativitas kemudian tak ada apapun yang dihasilkan dari situ.

Maka jika The Look of Silence ingin dilihat sebagai miniatur dari bangsa Indonesia dan keadaan dunia kontemporer kita, maka sesungguhnya ada sebuah ajakan serius dari film ini – bersama-sama The Act of Killing – untuk melakukan denaturalisasi terhadap kekerasan-kekerasan berbasis ideologi dan kemudian memepertanyakan kesertaan, kediaman bahkan kerjasama kita di dalam soal-soal besar seperti itu. Jika tidak, maka kemanusiaan akan berhadapan dengan situasi sunyi senyap yang maha canggung seperti yang digambarkan pada beberapa momen penting di dalam film ini.

Film Dokumenter 2014: The Himalayan Boy and the TV Set (Thomas Balmes)

Sepintas film ini mengingatkan pada The Cup (2006), sebuah film tentang sekelompok biarawan muda di Tibet yang ngebet menyaksikan pertandingan putaran final Piala Dunia sehingga mengusahakan segala macam cara untuk menonton TV. Film ini akan mudah disimpulkan untuk masuk pada trope film seperti itu, terutama dengan latar belakang pegunungan Himalaya yang amat indah secara sinematis dan TV sebagai wakil modernisasi. Namun film ini tak sedang membuat perayaan seperti The Cup. Film dokumenter ini tidak ingin berada dalam posisi naif yang beranggapan bahwa teknologi bersifat polos tanpa dosa di tengah perayaan yang gegap gempita. Namun ada jebakan di ekstrem lain yaitu ketika teknologi digambarkan seperti mesin besar bernama Moloch, seperti pada film Metropolis (Fritz Lang, 1929) yang memakan kemanusiaan dan ketidakberdosaan anak pegununungan.

Maka untuk tak terjebak pada kedua ekstrem itu, Balmes mengajukan semacam sub judul pada film dokumenternya: Happiness alias kebahagiaan. Ia sedang mengajukan tema besar ini dalam keseharian, karena itulah pemaknaan perangkat seperti pesawat televisi dan segala kemajuan peradaban. Apakah memang kebahagiaan dibawa oleh mereka, atau kita yang terus menerus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi tanpa sungguh-sungguh bisa menikmatinya. Akhirnya dengan tema pencarian kebahagiaan ini, film dokumenter ini mengubah persoalan besar tarik menarik antara modernitas dan tradisi dalam bentuk sehari-hari berupa anak-anak yang bermain tanpa arah tanpa tujuan di padang yang luas atau atap rumah.

Film Dokumenter 2014: Citizen Four (Laura Poitras)

Citizen FourAda perubahan besar dalam politik kontemporer kita, yaitu ketika kata kebebasan, freedom atau padanannya liberty, telah berganti nama menjadi privasi. Hak politik warga negara sudah berubah karenanya. Politik sudah mengalami personalisasi karena dalam keadaan seperti ini, berlaku sebuah asumsi umum: negara menganggap semua warganya patut dicurigai, kecuali apabila terbukti lain. Sutradara Laura Poitras berada di garis depan perjuangan politik kontemporer itu ketika ia berada di tengah-tengah pusat badai untuk melaporkan apa yang kemudian dikenal sebagai tornado besar bernama skandal penyadapan negara Amerika Serikat terhadap warganya sendiri.

Laura memfilmkan saat-saat wartawan The Guardian, Glenn Greenwald baru saja mendapat bocoran dari Edward Snowden, pegawai kontrakan NSA yang kemudian menjadi seorang whistle blower paling terkenal abad ini. Maka film dokumenter ini bagaikan sebuah political thriller, yang lintas batas, dari Hongkong, Rio de Janeiro, Washington DC, London hingga Berlin.

Tentu Laura tak bisa menceritakan semua kisah itu secara utuh karena Snowden kemudian menjadi besar dan berkembang menjadi semacam ikon yang penting, termasuk ketika tokoh seperti Julian Assange yang selama ini berada di garis depan, ikutan di dalamnya. Jangkauan kamera Laura terbatas, dan ia sendiri berada dalam keadaan tak aman sehingga harus mengungsi ke Berlin dan berhubungan dengan Snowden dan Greenwald melalui bahasa kode dan mencari-cari saluran yang aman. Maka film ini jadi seperti menjadi kesaksian seorang letnan yang berada di garis depan, menemani sang jenderal dan kolonel yang sedang mengatur pasukan di sebuah era peperangan yang baru. Ketika menyimak baik-baik dokumenter ini, saya merasakan sensasi yang sama serunya dengan menonton trilogi Jason Bourne.

Film Dokumenter 2014: 112 Weddings (Doug Black)

112 weddingsDoug Black adalah pembuat film dokumenter yang memiliki pekerjaan sampingan membuat video pernikahan. Bertahun ia mengerjakannya, tak terasa sudah 112 pesta pernikahan ia dokumentasikan. Lalu muncullah ide untuk meminta para kliennya mengisahkan cerita mereka, bertahun sesudah pernikahan itu. Maka jadilah film dokumenter ini sebagai usaha memasuki sebuah misteri terbesar manusia bernama perkawinan. Doug menyajikan bunga rampai meriah tentang apa makna pernikahan dari pasangan-pasangan itu (termasuk di antara mereka yang sedang dalam proses bercerai), dan ia juga tiba pertanyaan: mengapa orang memutuskan untuk menikah.

112 Weddings menegaskan bahwa hubungan dua orang manusia itu unik. Meskipun jutaan pernikahan sudah dijalani, lewat film dokumenter ini kita disodorkan sebuah premis: buat orang yang sedang mengalaminya, apa yang terjadi pada mereka itu tak ada duanya dalam sejarah manusia. Maka ini adalah sebuah film dokumenter yang mentransfer pengalaman orang ke dalam sebuah bentuk narasi audio visual yang terorganisir dan terstruktur dengan baik. Celakanya, atau untungnya, kita paham bahwa pengalaman manusia, apalagi pengalaman dari pasangan yang menikah dan hidup, tak akan pernah bisa direka ulang lewat medium audio visual. Terlalu banyak yang tertangkap kamera tapi tak terungkap secara lisan oleh para pasangan itu. Perhatikan misalnya ketika Janice bersenandung kecil ‘du du du du’ karena tak bisa menjawab ketika Doug meminta konfirmasi atas jawaban suaminya. Juga misalnya dimana istri David Bromberg yang sama sekali tak tampil dalam film ini, dan kita cuma mendengar cerita satu pihak? Dan lewat anekdot-anekdot kecil seperti inilah film dokumenter 112 Weddings menjadi sebuah pengalaman menonton yang mengasyikkan.

Film dokumenter favorit 2014: A Story of Children in Film (Mark Cousin)

Story of ChildrenFilm esei ini sebenarnya merupakan sebuah pengantar bagi program sebuah festival film yang menayangkan penggambaran anak-anak di dalam film. Namun apa yang dibuat oleh kritikus sekaligus pembuat film Mark Cousin ini amat luar biasa. Ia menggunakan potongan-potongan film dari berbagai film tentang anak-anak untuk mengungkapkan sebuah renungan panjang tentang film, anak-anak dan perkembangan dirinya sendiri.

Kekuatan film ini ada dua. Pertama, pemilihan film-film untuk (untuk dijadikan montage dan juga ditayangkan di festival itu sendiri) ini luar biasa, mulai dari yang amat terkenal seperti E.T (Steven Spielberg, USA, 1982), 400 Blows (Francois Truffaut, Prancis, 1959) hingga harta terpendam seperti Tomka and His Friends (Xhafinze Keko, Albania, 1977). Saya menyimpulkan pilihan semacam ini hanya bisa dihasilkan oleh Cousin, tidak yang lain.

Kedua, kecintaan Cousin terhadap sinema terasa sekali meluap-luap dan ia membagikannya kepada penonton penuh gairah dan renungan sekaligus, membuktikan kekuatan utama sinema sebagai seni yang mampu membuat penontonnya tersesat di dalamya, bagai ungkapan kritikus terkenal mendiang Pauline Kael. Sejauh ini, inilah film terbaik saya tahun 2014.

https://www.youtube.com/watch?v=ANkKOs6zMOc

Film dokumenter favorit 2014: Dangerous Act: Starring Unstable Elements of Belarus (Madeleine Sackler)

Dangerous_Acts_Dogwoof_Documentary_Poster_375_250_s_c1Belarusia dijuluki sebagai “negara kediktatoran terakhir di Eropa”. Film dokumenter ini menceritakan sebuah titik kulminasi penting, ketika hasil pemilu tidak diterima dan perlawanan terhadap kediktatoran itu mendapatkan momentum dan tokoh baru. Film ini secara khusus merekam proses perlawanan itu melalui sebuah kelompok teater bernama Belarus Free Theatre, yang terus memperjuangkan perlawanan lewat pertunjukan-pertunjukan bawah tanah mereka. Dengan mengambil kisah tragis para anggota kelompok teater ini, cerita yang berkembang menjadi paduan dari kisah sedih orang-orang di dalamnya dan perlawanan politik mereka.

Namun film ini amat terbatas dalam membangun argumen, dengan pusat pada Belarus Free Theatre dan elit politik yang mereka bela. Tanpa mengurangi pentingnya perlawanan politik yang digambarkan di sini, tetap terasa ada nuansa elitis pada pada argumen yang diajukan film dokumenter ini.

https://www.youtube.com/watch?v=LGALySJ3O24

Film dokumenter favorit 2014: The Square (Jehane Noujaim)

The SquareFilm ini mengisahkan persahabatan yang harus berpisah jalan dalam sebuah situasi politik yang riuh rendah: revolusi Mesir pada awal 2012. Ketika memiliki musuh bersama bernama Husni Mubarak, mereka bergandeng tangan menjatuhkannya. Namun ketika militer ikut serta dan mengambil, mereka berpisah jalan. Satu sisi adalah jalan Ikhwanul Muslimin, jalan lain adalah jalan perubahan yang lebih sekuler.

Perkembangan karakter dan plot dalam dokumenter ini sebenarnya mengambil archetype neo-klasik Hollywood yang agak mudah diduga. Namun tak bisa dipungkiri bahwa inilah salah satu documenter paling kuat dalam mengabadikan salah satu perubahan sosial politik dalam skala paling luas dan dalam di abad keduapuluh satu. Semangat film ini adalah merekam perubahan itu dari sudut pandang manusiawi, mencoba menawarkan penonton untuk melakukan identifikasi diri pada karakter di dalamnya dengan cara menemukan nilai-nilai universal guna membangun narasi kepahlawanan. Sekalipun terduga, tak bisa dipungkiri film dokumenter ini punya cerita yang amat sangat kuat, sehingga ia bisa masuk ke dalam daftar ini.

https://www.youtube.com/watch?v=4hPmpfsAWFc

Film dokumenter favorit 2014: The Missing Pictures (Rithy Pann)

The missing picturesRithy Pann menggantikan gambar-gambar yang hilang dari Kamboja pada masa pemerintahan Komunis dengan menggunakan shot-shot terhadap boneka yang ia rekam seakan fragmen-fragmen film. Boneka itu dibuat satu demi satu untuk keperluan adegan-adegan yang mungkin dianggap “tabu” dalam wacana genosida a la Claude Lanzmann (Shoah) karena meng-obyektifikasi pengalaman tak terperi berkaitan dengan pemusnahan massal manusia. Namun buat saya, strategi Pann menghadirkan boneka tanpa gerak ini luar biasa. Di satu sisi, ia membiarkan para boneka itu menjadi obyek tak bergerak (unanimated), maka pada saat yang sama penonton mengisi emosi dan gerakan mereka dalam benak. Proses menonton jadi sebuah kegiatan aktif mengisi dan membayangkan, bahkan menghidupkan (animated), figur-figur kecil itu. Proses simbolisasi kegerian terjadi di dalam kepala, bukan pada layar.

Tapi melalui teater boneka ini Rithy Pann sedang melakukan transformasi penggambaran itu, tak semata eksploitasi terhadap sensasi, tapi juga terhadap kenangan yang tampak polos tanpa dosa dan kengerian yang bertumpuk jadi satu. Karya ini, bagi saya,  jadi semacam ledekan juga bagi kegandrungan teknologi motion-capture yang menganimasi makhluk yang sudah hidup.

https://www.youtube.com/watch?v=3tZL5S5thvs

Film dokumenter favorit 2014: At Berkeley (Frederick Wiseman)

at berkeleyFrederick Wiseman masih setia pada tema dan gayanya. Ia selalu melakukan pemeriksaan yang amat menyeluruh (scrutiny) institusi sosial dan politik yang mapan di masyarakat, karena dari situ, manusia bisa dilongok pedalaman hatinya. Lewat film-filmnya kita melihat bagaimana manusia mendapat predikat “institutionalized” alias melembaga, yaitu ketika sikap hidup dan perilaku individu tak bisa lagi dipisahkan dari lembaga sosial dimana mereka hidup; ini juga berlaku sebaliknya.

Kini ia melakukannya pada University of California at Berkeley, salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia. Gaya yang ia pakai masih sama dengan gaya pada film pertamanya, Titicut Follies (1967), yang bertumpu pada gaya observational tanpa voice over maupun ilustrasi musik, bertumpu pada adegan-adegan yang amat intensif menggambarkan intisari dari lembaga yang sedang direkamnya. Maka film ini terasa cukup menuntut penontonnya.

Yang menarik dari film dokumenter ini adalah keberhasilan Wiseman menghadirkan gambaran kontradiksi yang amat dalam dan luas tentang posisi lembaga pendidikan dalam kondisi kapitalisme kontemporer. Dari film dokumenter ini, ketika kita menganggap lembaga pendidikan adalah jalan keluar dari masalah-masalah kontemporer, Wiseman justru memperlihatkan bahwa mereka dibelit masalah serupa belaka.

https://www.youtube.com/watch?v=3L2_yLBrQsM

Film dokumenter favorit 2014: Jodorowksy’s Dune (Frank Pavich)

Jodorowsky's DuneNama sutradara asal Chile Alejandro Jodorowksy mungkin hanya dikenal di kalangan terbatas untuk film-filmnya seperti El Topo dan Holy Mountain yang dipuja dengan kecintaan luar biasa karena keunikannya. Tak banyak yang tahu bahwa ia pernah berambisi mengadaptasi Dune, sebuah buku fiksi ilmiah karya Frans Herbert. Ambisi Jodorowksy demikian besar untuk menghasilkan sebuah mahakarya, tetapi hingga kini proyek ini tak pernah terwujud, serupa seperti niatan Stanley Kubrick untuk memfilmkan Napoleon dan ambisi Terry Gilliam mengadaptasi Don Quixote.

Film ini adalah kisah tentang ambisi yang amat besar, yang memang biasanya dimiliki oleh sutradara, sebuah profesi yang punya karakter ketuhanan: menciptakan sebuah dunia yang utuh. Bersama film seperti Burden of Dreams (tentang pembuatan Fitzcarraldo oleh werner Herzog), Heart of the Darkness: Filmmaker Apocalypse (Apocalypse Now! – Francis Ford Coppola) dan Lost in La Mancha (Don Quixote – Terry Gilliam), Jodorowsky’s Dune ini menjadi deretan film dokumenter yang mengabadikan mitos pembuat film yang hidup dengan cita-cita menyamai Tuhan – menciptakan sebuah dunia – atau setidaknya sebagai salah satu profesi dengan ambisi terbesar di dunia.

https://www.youtube.com/watch?v=4WWu1kclNDA