Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Free As A Bird (Dessy Darmayanti)

“Satu!”, berkali-kali si Q-Bong mengulang signposting ini dan tidak beralih ke angka “dua!”, pertanda ada yang keliru dengan cara kerja otaknya. Ia sedang mabuk, dan mewawancara orang mabuk bukanlah sebuah standar kerja jurnalisme yang baik. Dalam standar kerja wartawan, narasumber harus sadar, sehingga apa yang dikatakannya (jika punya implikasi hukum) bisa ia pertanggungjawabkan. Dengan cepat kita sadar beda terbesar antara sebuah film (atau video) dokumenter dengan kerja jurnalistik pada karya Dessy Darmayanti ini. Karya Dessy sama sekali tak memerlukan verifikasi dan tak juga berkeinginan menjadi cermin bagi keadaan masyarakat. Kerja film dokumenter paling dasar adalah ini: merekam!

Apa yang direkam oleh Dessy adalah sebuah peristiwa sehari-hari dan “biasa”. Tak diperlihatkan sama sekali kenapa Q-Bong harus direkam dan rekaman itu disajikan kepada kita, penonton.Penyajian Q-Bong bukan untuk mencapai keterwakilan masyarakat.  Ia ditampilkan lebih mirip dengan ilustrasi. Ilustrasi apa? Gaya hidup? Sebuah sub-kultur? Saya memilih untuk tak repot-repot menjelaskannya, lebih suka apabila melihat bagaiman Dessy melakukan perekaman.

Bagi saya, karya ini adalah sebuah penghampiran tanpa pretensi yang asyik dan menyenangkan. Dessy tidak menyembunyikan dirinya sebagai ‘orang luar’ yang datang ke “komunitas” penongkrongan di depan Circle K itu dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan dasar tentang “budaya minum minuman keras” yang biasa dilakukan oleh Q-Bong dan teman-temannya. Tidak ada teori yang rumit atau pendalaman psikologis atau mantra-mantra lain semacam itu. Ini adalah sebuah penghampiran sederhana terhadap apa yang dilihat di tepi jalan dengan rasa penasaran dan ingin tahu yang akhirnya membuat seseorang mengambil kamera dan merekam yang ada di sekitarnya. Sebuah sikap yang pernah direkam oleh sebuah cerita pendek Lupus berjudul “Things are Better Left Unsaid“.

Terus terang saja, dengan kekuatan utama perekaman yang nyaris spontan seperti ini, tak ada kedalaman, tak ada pemahaman terlalu jauh. Karya ini sketsa saja, berisi pernyataan-pernyataan yang performatif, tak bisa pula diujikan: apa benar Q-Bong tak main drugs, misalnya? Bisa saja video dokumenter ini jadi menarik lantaran sifat curiosity cabinet alias keantikan tokoh Q-Bong dalam memberikan jawaban-jawaban. Bisa jadi kita masih menertawakan sesuatu yang “asing” dalam karya ini.

Namun sikap tulus Dessy dalam merekam membuat kita paham bahwa menertawakan keasingan tak selalu dosa. Dunia ini terlalu rumit untuk dipahami dengan satu cara saja dan memang ada cara lain untuk memahaminya. Tak perlulah kita ngotot mengubahnya, bahkan tak perlu juga berkeras bahwa kita akan selalu paham cara hidup orang lain, karena jangan-jangan kemampuan kita memahami juga punya batas. Maka ketulusan sikap seperti yang ditampilkan seperti video ini saja jangan-jangan sudah bisa menyelamatkan banyak nyawa dalam keadaan kehidupan bersama kita sekarang ini.

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Everything’s OK (Tintin Wulia)

Diantara pembuat film pendek generasi 2000-an, Tintin Wulia adalah salah seorang dari yang percaya bahwa film pendek adalah sebuah karya sendiri yang perlu ditekuni sungguh-sungguh secara tersendiri, dan bukan jalan masuk untuk membuat film panjang. Dengan komunitas Minikino yang ia bentuk di Bali, Tintin mempromosikan film pendek sebagai sebuah cara untuk “detox” dari konsumsi medium audio visual yang tak perlu. Kini ia lebih suka disebut sebagai seorang “seniman” ketimbang pembuat film pendek, karena karyanya meluas, tak terbatas pada medium film (atau video) pendek saja.


Dalam Everything’s OKini, Tintin menggambarkan salah satu masalah klasik yang begitu mudah ditemui di berbagai negara: urbanisasi dan pertumbuhan kota yang menurunkan kualitas lingkungan hidup secara drastis serta dominasi ruang oleh bangunan-bangunan besar. Penggunaan bahan-bahan sederhana pada film ini menimbulkan kesan figuratif: sebuah penceritaan yang universal dan mudah ditangkap siapa saja. Namun karya ini sama sekali tidak naïf. Judul film pendek ini memperlihatkan ironi yang ingin digambarkan oleh Tintin dan ironi yang diniatkan begini hanya bisa muncul dari kecerdasan, tidak dari kenaifan.

Selain grafis animasi yang istimewa dari kesederhanaan itu, karya ini kuat pula dari ironi yang dihasilkannya. Ironi ini bisa berarti sikap Tintin untuk menertawai diri sendiri (sebagaimana Voltaire menggunakan figure l’ingeunue untuk menertawai kebodohan prang-orang seperti dirinya) atau justru sebagai sindiran bagi kemapanan yang dihasilkan oleh sebuah “mesin besar”. Tintin mengimplikasikan ironi itu sebagai sebuah sindiran terhadap “mesin besar” tersebut sekalipun ia tak mendefinisikan apa atau siapa atau bagaimana rupa si mesin besar itu. Ia hanya menggambarkan perilaku: sesuatu yang bisa melekat pada siapa saja dalam posisi sosial politik yang bagaimana saja.

Maka Everthing’s OK adalah sebuah kerja kebudayaan, kerja seni, yaitu ketika seniman memotret perilaku secara figurative dan membiarkan penafsiran terhadap siapa pelaku itu berada di tangan penonton sepenuhnya. Terus terang saja, tak banyak seniman kita yang mampu berada pada posisi seperti ini, bisa jadi karena kenaifan mereka, bisa jadi karena memang tak ada posisi yang mereka pijak sebagai tempat memandang persoalan.

Lihat video Everything’s OK di sini: Everything’s OK (Tintin Wulia)

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Alam: Syuhada (@Hanifrancajale)

Inilah sebuah film dokumenter yang berangkat dari permainan makna ketimbang dari usaha untuk merekam sebuah realitas. Siapa anak bernama Alam ini yang tampak dipilih secara acak dan tak bisa kita anggap sebagai anak yang mewakili orang-orang segenerasinya? Apa pula usaha si pembuat film yang hanya merekamnya dalam satu kesempatan di sebuah angkot dan membiarkan anak itu bicara semaunya tanpa diberi konteks? Mengapa gambar-gambar jalan raya tampil begitu saja di film ini tanpa ada landasan estetika? Ini karya apa?

Namun kurator dan seniman Hafiz Rancajale cukup paham bahwa permainan makna ini akan menyebabkan munculnya “pembacaan”, termasuk dari orang-orang seperti saya. Bayangkan pernyataan bahwa anak seperti Alam ini bercita-cita mati syahid, karenanya ia ingin menjadi tentara. Bukankah ini perayaan tautan-tautan makna ketimbang sebuah representasi kenyataan? Bagaimana mungkin Tentara Nasional Indonesia (atau ABRI pada masa lalu) bisa diidentikkan dengan makna “mati syahid”? Bukankah bagi para pengejar “mati syahid” di Indonesia, TNI justru bermakna “thogut” yang patut diperangi dengan kekerasan?

Pembacaan-pembacaan macam ini tak urung akan muncul melihat Alam: Syuhada, yang bisa membuat karya ini berjalan-jalan cukup jauh ke berbagai festival. Bagaimanapun, karya ini lahir dalam sebuah konteks bernama Indonesia, sebuah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, dan lokasi terjadinya salah satu peristiwa terorisme internasional terbesar sesudah penabrakan menara kembar di New York, Amerika Serikat. Maka ke-syahidan Alam dan segala akan tertaut pada fakta-fakta itu. Dengan kecerdasan pentautan makna, Hafiz tak perlu jauh-jauh ke pelosok dan repot mengikuti hidup orang lain. Ia cukup bermain-main dengan makna dan sebuah karya terbentuk karenanya.

Saya tak akan merayakan pentautan makna semacam ini sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang mengejar fakta. Bagi saya, ada peluang untuk melihat karya semacam ini sebagai sarana memperlihatkan kemampuan manusia sebagai makhluk simbolis. Bukan hanya pada subyek yang direkam, tetapi lebih kepada si perekam, Hafiz, yang perlu juga dipandang sebagai makhluk yang sedang bermain-main dengan simbol itu. Perhatikan baik-baik bagaimana Alam menjawab pertanyaan Hafiz di angkutan umum itu. Apakah anda yakin bahwa Alam tidak sedang mempermainkan Hafiz dengan jawaban-jawabannya? Ketika yang penting hanya tautan-tautan makna, maka bisa saja kita membacanya demikian, bukan?

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Help (Firman Widyasmara, @firmanwijasmara)

Perhatikan penjelasan terhadap film animasi ini di laman Youtube ini. Kata “experimental” di sini saya rasa lebih dekat jika diganti dengan “coba-coba iseng berhadiah” ketimbang sebuah pernyataan untuk lawan kata “mapan” atau “arusutama”. Bukan saya meremehkan karya ini, tetapi kesederhanaan metode produksi animasi ini seperti menegaskan betul bahwa kebanyakan film pendek dibuat dengan semangat mencoba, tanpa beban besar. Namun menurut saya kesederhanaan karya ini bicara lebih jauh dari sekadar “iseng berhadiah”.

Bukan lantaran Help memenangkan Grand Prize pada Hellomotion jilid 2 pada tahun 2005, tapi animasi ini mampu memperlihatkan banyak hal terutama kekuatan ide dan efektivitas penceritaan. Perhatikan bagaimana cuaca berubah sesudah senyum si pemancing mengembang begitu lebar? Ini sebuah drama kecil yang asyik. Namun yang paling saya sukai adalah sikap bermain-main ketika “tangan tuhan” ikut masuk ke dalam layar dan menjadi penyelesaian masalah.

Jika ada yang berkata bahwa Help adalah sebuah karya yang berangkat dari keisengan dan tak perlu dianggap serius, saya tak terlalu ambil pusing pernyataan semacam itu. Saya lebih suka melihat karya semacam ini sebagai sebuah usaha untuk berkarya dan mencoba dengan apa yang ada: sebuah sikap kreatif yang akan selalu menemukan jalan. Maka sebelum animasi semisal “Bajaj Transformer” atau kesertaan animator Indonesia di “Sing to The Dawn” banyak dibicarakan di dunia kreatif, saya merasa salam takzim perlu diberikan pada karya seperti Help ini.

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Renita Renita (Tonny Trimarsanto)

Potret kehidupan waria di Jakarta ini mungkin bisa menjadi potret lebih besar mengenai hak asasi manusia di Indonesia. Bahwa keterpinggiran itu pahit dan memuakkan..

Renita Renita

Film ini  memandang persoalan dari perspektif sederhana, mungkin naïf, tentang satu kelompok orang-orang yang terpinggirkan. Tak ada komplikasi pandangan yang memperlihatkan waria sebagai salah satu bentuk perjuangan identitas multi-jender, bagian dari warna warni pilihan seksualitas atau eksistensi. Setidaknya, hal itu tidak dijadikan titik tolak yang dibahas berkepanjangan. Film ini lebih banyak membahas apa implikasi pergulatan identitas itu dalam kisah-kisah yang pahit. Tentu ada romantisasi dalam pembahasan film ini, juga cara pandang yang mengeksploitasi “nama siang” dan “nama malam” yang agak kekanak-kanakan.

Tapi lihatlah film ini sebagai sebuah film yang bercerita tentang bagaimana peminggiran itu terjadi. Apa yang namanya pergulatan identitas itu bisa sangat kongkret akibatnya. Perhatikan baik-baik cerita Renita alias Muhammad Zein Pundagau ini. Persoalan mereka kongkret: dicambuk anggota keluarga yang tak menerima mereka, diusir, sulit mencari nafkah, dipukuli tanpa alasan bahkan ditusuk pisau dan tidak semata kebingungan pendefinisian identitas mereka. Spektrum pergumulan identitas memang bisa keras dan mematikan seperti ini, dan Renita, Renita melakukan pencatatan dari sudut pandang pertama.

Bisa jadi film ini tampak naif dari sudut pandang multi-jender maupun sudut pandang kecanggihan teknis film dokumenter, tapi bagi saya persoalan tergambar dengan sempurna dalam potret sederhana ini. Termasuk ketika Renita bersaksi bahwa “penggerebekan di jaman Soeharto lebih enak daripada jaman sekarang”. Dari detil yang diceritakannya, kita paham bahwa masalah-masalah yang berasal dari peminggiran terhadap sekelompok liyan ini sedang terus meningkat, bukan hanya berasal dari ideologi radikal atau fundamentalisme yang kita cemaskan, tapi juga dari mesin birokrasi yang tak mampu bekerja dengan baik.

Saya sendiri merasa bahwa film dokumenter ini adalah semacam pembuka atau bahkan teaser dari sebuah film dokumenter panjang tentang Renita. Saya bayangkan bahwa Renita bisa bercerita lebih banyak dan lebih dalam tentang dirinya: perjalanannya pulang kampung, misalnya, untuk menemui ayahnya yang mengharap ia pulang bersama anak dan istri? Bisa jadi saya memilih mencatat Renita, Renita dengan bayangan cerita sekuat itu di benak saya.

 

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Iqra (Ari Satria Darma)

Ketika Hutan Kata Digunduli

Kota adalah hutan kata, kata Goenawan Mohammad dalam salah satu eseinya di kumpulan Catatan Pinggir. Kota selalu riuh rendah, sekalipun bisa demikian sunyi bagi para penghuninya. Riuh rendahnya kota kerap begitu impersonal, dingin dan faktual. Berbagai macam tanda hadir tanpa diminta. Penghindaran adalah sia-sia, karena ruang tak memungkinkan adanya wahana steril bagi individu. Bahkan untuk sebuah tidur nyenyak saja, seorang pendatang baru di Jakarta bisa dibangunkan di pagi buta oleh azan subuh lewat pengeras suara yang tak pernah dimintanya.

Kota memberikan banyak pilihan, mungkin tepatnya undangan. Lewat berbagai cara kota menawarkan bujuk rayu dalam berbagai cara. Mulai dari azan subuh sakral yang menjanjikan kebahagiaan surgawi, hingga perempuan cantik setengah atau sepertiga telanjang untuk berjualan sebatang sabun mandi.

Juga kata: kota dipenuhi oleh kata. Kata bertebaran di sekeliling kota, tak peduli dimana saja. Cobalah keluar ruangan, dan tengok di sekitar kita. Mulai dari reklame nyaris sebesar lapangan bola hingga tulisan Bu Gito dan nomer telepon ditempel pokok pohon. Kota tak pernah bebas dari hal semacam itu. Maka kota adalah hutan kata. Dan ketika bicara Jakarta, hutan itu adalah hutan perawan yang tak tersentuh.

Selama sekitar dua menit sepuluh detik, Ari Satria Darma menghadirkan hutan kata itu dalam film pendeknya, Iqra. Ia mewakilkan pada jalan Bendungan Hilir, sebuah ruas jalan yang mungkin paling eksotis yang mewakili Jakarta. Eksotisme Bendungan Hilir bukan berasal dari gambaran perpaduan sisa-sisa kolonialisme dengan perkembangan jalan modern seperti jalan-jalan di daerah kota. Ia juga bukan jalan yang mewakili kemiskinan akut persoalan-persoalan populasi semisal jalan di kawasan Galur, Jakarta Pusat. Bendungan Hilir adalah sebuah jalan yang mewakili eksotisme lain: setiap kota besar punya ketiaknya.

Jalan Bendungan Hilir muncul di film Eliana, eliana (Riri Riza, 2002) sebagai sebuah dareah persinggahan tempat Bunda dan Eliana makan malam. Di jalan itu, Bunda ditawari majalah oleh pedagang dengan setengah memaksa. Jalan Bendungan Hilir pada malam hari adalah jalan ketika emperan jalan ditutup dan para pedagang mengambil alih. Di siang hari, ia adalah sebuah tempat di mana para pekerja kantoran di sepanjang jalan jenderal Sudirman memenuhi kebutuhan makan siang mereka. Tak mungkin Jakarta bisa bertahan tanpa jalan semacam Bendungan Hilir.

Eksotisme jalan itu hadir dalam film pendek ini dalam bentuk demikian banyak dan beragamnya reklame di jalan itu dalam berbagai bentuk. Mulai dari papan nama toko alat elektronik yang berukuran raksasa, hingga tulisan di gerobak dorong milik pedagang-pedagang kecil. Semuanya adalah wakil riuh rendah yang eksotis dan berjarak itu.

Yang paling menarik dari eksotisme Ari adalah bahwa ia tak berhenti di situ. Ia melihat semua ini dengan jarak yang diperlukan dan kemudian melakukan subversi terhadapnya. Ia menggunduli satu demi satu huruf-huruf beraneka jenis dan bermacam ukuran itu. Satu demi satu huruf-huruf itu rontok dari tempatnya. Mereka tak berbekas. Hilang. Hutan kata itu pun gundul.

Subversi ini dilakukan oleh Ari dengan indah. Teknik animasi yang digunakannya demikian halus, dan ia mampu menciptakan dramatisasi dari penggundulan itu. Ia mulai dengan tulisan-tulisan yang relatif besar sebelum akhirnya ia juga menggunduli tulisan-tulisan yang lebih kecil. Lihat juga bagaimana ikan-ikan berubah “hidup”. Benar-benar sebuah animasi yang sesungguhnya: menghidupkan sesuatu dari yang mati.

Ia tak berhenti pada simbol-simbol kapitalisme seperti yang terawakili oleh merek-merek besar barang elektronik atau studio foto, tapi ia meneruskannya ke gerobak pedagang soto. Ia memang tak sedang meromantisir subversinya ini menjadi perlawanan terhadap simbolisasi. Karena jika demikian, ia akan jatuh pada simbolisasi baru yang bisa jadi sama sia-sianya. Ini hanya sebuah usulan. Kenapa tak memenangkan keheningan barang sejenak?

Setelah hutan kata gundul di kota seperti Jakarta, maka: bacalah!

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – A Very Slow Breakfast (Edwin, @babibutafilm)

Sebelum Edwin menjadi seorang sutradara yang diperhitungkan sejajar dengan nama-nama besar seperti Zhang Yimou, Billy Bob Thornton atau Miguel Gomes di seksi kompetisi Berlinale 2012 tahun ini, bakat besarnya sudah tampak pada film pendek pertamanya ini. Karya ini tergolong nyentrik dan amat kuat secara visual memperlihatkan bahwa Edwin memang seorang sutradara yang lahir dari sebuah generasi audio visual, ketimbang generasi tekstual. Elemen naratif yang dibangunnya berangkat dari premis visual demi premis visual yang ia rendengkan ketimbang premis tekstual yang cenderung untuk bercerita apatah lagi berniat menjelaskan persoalan.

Edwin memanfaatkan layar dengan sangat baik, mengatur komposisi sedemikian rupa untuk menghasilkan posisi-posisi para tokoh yang tampak “terpaksa” berada dalam posisi membungkuk untuk menegaskan bahwa filmnya adalah sebuah cara pandang menyimpang terhadap apa yang sehari-hari kita terima. Lihat pula bagaimana hubungan-hubungan antar tokoh dalam film dihadirkan secara visual. Interaksi mereka sudah salah sejak semula. Mereka seperti berada dalam satu ruangan karena kebetulan harus demikian, karena -dari suara musik senam di TV- kita tahu bahwa masing-masing punya dunia yang terpisah satu sama lain. Alangkah berhasilnya Edwin memanfaatkan perbedaan suara dalam film ini sebagai pemisah ruang mental antar tokoh-tokohnya, yang tidak kebetulan adalah anggota-anggota satu keluarga. Ia memang ingin bicara tentang keterpisahan dunia anggota keluarga yang demikian jauh, lebih dari sekadar apa yang diakui dipermukaan.

Pada A Very Slow Breakfast ini Edwin, seperti pada film-filmnya yang lain, membahas keluarga atau menjadikan keluarga sebagai lokus pembahasan tema-tema yang diangkatnya. Seperti sempat saya singgung dalam lema sebelumnya yang membahas empat film pendek Edwin, A Very Slow Breakfast ini seperti sedang membagikan sebuah kenangan pedih tentang keluarga dan akhirnya muncul semacam penjelasan kenapa Edwin seperti tidak percaya sama sekali pada keluarga. Kegiatan sarapan sebagai rutinitas yang diasumsikan penuh keceriaan dan matahari pagi, justru ditampilkan sebagai sebuah kegiatan penuh tekanan dan muram.

Hingga kini, saya merasa A Very Slow Breakfast sebagai film Edwin yang paling kuat, paling ekspresif dan paling dalam bicara tentang dirinya dan pengalamannya. Apa yang disajikannya pada Babi Buta sudah tampak di sini: elemen visual sebagai pengganggu kenyamanan penonton. Lihat bagaimana ia memanfaatkan ketombe, extreme close up terhadap rokok yang dinyalakan dan pengambilan gambar dari selangkangan sebagai upayanya mengganggu cara pandang mapan kita dalam menikmati karya audio visual. Memang ada novelty atau kebaruan yang patut dianggap penting dalam film ini, tetapi bagi saya A Very Slow Breakfast tidak berhenti di situ: belum pernah saya melihat sebuah keluarga digambarkan dengan satir sepahit (dan seefektif) ini dalam sebuah film Indonesia.

Film Pendek Indonesia Hingga Kini – Peronika (@bowo_leksono)

Sedikitnya dua hal penting terkandung dalam film berbahasa Banyumas ini. Pertama, film ini tak termasuk dalam “Kabayan troupe” alias rombongan film Kabayan yang dibuat dalam bahasa lokal guna kebutuhan bahan olok-olok bagi orang Jakarta. Dalam Kabayan troupe ini, “daerah” adalah sesuatu yang asing dan karenanya eksotik bagi orang “pusat”. Jelas hal ini merupakan sebuah jualan murahan bagi keragaman negeri bernama Indonesia. “Daerah” dan “pusat” sudah harus dianggap tak berlaku lagi, kecuali apabila Jakarta dianggap sebagai salah satu “daerah” saja di Indonesia. Dalam konteks yang sudah berubah ini Peronika Aladdin sebuah bentuk ungkapan bahwa lokalitas seperti Banyumas sepenuhnya adalah ekspresi yang sah dalam dirinya sendiri.

Kedua, dan sama pentingnya dengan yang pertama, inilah film yang paling kuat dalam mencatat dengan gegap gempita sebuah gegar budaya  (apapun pengertian sendiri tentang frasa ini) berkembangnya teknologi komunikasi  di Indonesia. Cerita dalam film ini sudah menjadi klasik: perkembangan teknologi komunikasi tidak membuat orang semakin pandai atau mudah berkomunikasi, alih-alih malah makin memudahkan terjadinya salah paham.

Usia film Peronika ini belum sampai sepuluh tahun tapi kita merasa bahwa apa yang dibicarakannya sudah menjadi sejarah yang sudah lama sekali berlalu;  seakan berasal dari abad lalu. Dunia memang berubah cepat, dan pencatatan seakan cepat sekali menjadi anakronistik, alias salah waktu. Namun Peronika memperlihatkan bahwa perubahan terjadi dalam momentum-momentum kecil dan banyak yang terpengaruh oleh momentum itu.

Di sisi lain, kemunculan Peronika sendiri bisa dibilang menjadi semacam wakil bagi seriusnya tentangan terhadap Jakarta dalam hal dunia audio visual. Jakarta yang selama beberapa dekade menerima berkah sentralisasi Orde Baru memang perlu dilawan dengan sengaja dan Peronika ini bisa jadi semacam wakil dari perlawanan tersebut. Patut diingat bahwa Peronika lahir dalam sebuah konteks perkembangan dunia audio visual di Purbalingga, sebuah kabupaten di Jawa Tengah bagian Barat, dimana budaya audio visual begitu berkembang hingga mereka bisa mengadakan festival film sendiri, termasuk di dalamnya mengadakan kompetisi bagi video kawinan yang diproduksi secara lokal. Menonton Peronika, terbaca juga sayup-sayup perlawanan ini yang terus berjalan hingga kini dengan santai dan dengan dinamikanya sendiri.

Film Pendek Indonesia Hingga Kini, El Meler (@OmDennis)

Saya ingin mencatat film-film pendek Indonesia yang muncul sesudah perubahan politik besar tahun 1998. Bisakah film-film pendek ini, seperti halnya film panjang, menghadirkan juga gambaran mengenai situasi Indonesia, atau manusianya atau apapun, ketika dibaca sekarang ini?

Saya ingin membukanya dengan El Meler karya Dennis Adhiswara (2001)

Mudah dilihat bahwa film ini dpengaruhi semangat “rebel without a crew” dari Roberto Rodriguez, dan judul El Meler juga mirip pelesetan El Marriachi, film Rodriguez yang legendaris lantaran dibuat dengan anggaran 7.500 dolar. Film ini dihasilkan oleh Dennis Adhiswara, yang terkenal akibat perannya sebagai Mamet di Ada Apa dengan Cinta. Namun Dennis juga lebih dulu terkenal di kalangan anak-anak sekolah yang gemar membuat film pendek di akhir dekade 1990-an berkat perannya di film “Hampir Jam 5, Kita Harus Pulang!” yang merupakan film pemenang festival film independen yang diselenggarakan oleh Yayasan Konfiden.

El Meler benar-benar bersemangat El Marriachi (perhatikan ilustrasi musiknya yang diisi gitar petik gaya Spanyol) dan tembak-tembakan dengan pistol air sebagai ganti senjata api sungguhan. Semua itu disajikan oleh Dennis sebagai sebuah parodi habis-habisan terhadap film-film bergenre gangster, seperti halnya dilakukan oleh Rodriguez di El Marriachi. Perhatikan selera humor Dennis dalam mengajukan parodi dengan adegan Adoel meremas gelas air minum plastik ketika mendengar kabar tentang perlawanan terhadap geng yang dipimpinnya. Ini dihasilkan dari referensi audio visual yang cukup baik dari Dennis.

El Meler bagaimanapun sebuah penanda penting dari sebuah generasi pembuat film Indonesia yang pada awal 2000-an sedang dilanda semangat gerilya dan termakan kampanye “membuat film itu gampang” semata untuk demitologisasi situasi perfilman Indonesia yang ketika itu memang sedang vakum di satu sisi, dan semangat gerilya di sisi lain. Ingat bahwa  4 sutradara Kuldesak juga mengambil semangat itu dan seperti halnya Dennis, juga terinspirasi dari Rodriguez. Bahkan Dennis seperti meneruskan semangat itu dengan semacam “janji” bahwa ia akan menyajikan film-film formulaik (laga dan kelahi) dalam bentuk-bentuk parodi. Janji itu sempat ia tunaikan dengan membuat film panjang pertamanya, Kwalitet 2, yang sayangnya gagal total di pasaran sekalipun sudah menghadirkan olahragawan taekwondo Lamting sebagai cameo di film itu (yang sayangnya tak berhasil jadi gimmick lantaran penonton Kwalitet 2 tak kenal siapa Lamting! Eh, Anda kenal?)

Lantas film Indonesia kemudian berkembang setelah ditarik film lokomotif Jelangkung (horor), Petualangan Sherina (musikal untuk semua umur), dan Ada Apa dengan Cinta (drama remaja). Justru Jelangkung yang berhasil menghadirkan film formulaik, yaitu horor, yang sebenarnya sudah relatif dikenal oleh penonton film Indonesia. Parodi atau pembengkokan terhadap genre seperti yang dimulai oleh Dennis itu tidak muncul, sampai Joko Anwar membuat Kala (2007) yang teramat canggih dengan kekayaan referensi visual yang — sama seperti El Meler — berasal dari khazanah film dunia, alih-alih dari khazanah film formulaik Indonesia sendiri.

Bagi saya, apa yang diajukan oleh Dennis pada El Meler ini masih terbuka karena belum digarap dengan sungguh-sungguh. Pernah muncul Film Horor yang ditulis oleh wartawan Yan Wijaya sebagai parodi terhadap film formulaik horor di Indonesia, dengan mengacu pada Scary Movie dan segala rombongan film Wayan bersaudara itu. Namun film itu tak berhasil di pasaran dan lewat begitu saja, bisa jadi karena penggarapannya yang terkesan murahan.