Wiro Sableng: a revival of Indonesian martial arts genre?

WS edit
Credit: Eriek Juragan

After being wowed by western superheroes from Marvel and DC universes, Indonesia finally gets its own hero on the big screen.

A film about a local hero clad in all white costume from the 16th century, Wiro Sableng (Crazy Wiro), hit Indonesian theatres on August 30. It will be released in Singapore on October 11 following Malaysia’s release on September 27.

The film mostly received positive reviews from media and audience. Reputable US magazine Variety called the film a breakthrough in Indonesia’s film industry for being the first film backed by Hollywood’s 20th Century Fox.

Despite the hype, Wiro Sableng has left a big question about genre filmmaking in the local cinema industry. Many consider Wiro to be a superhero movie, but from its cinematic elements and style, Wiro Sablengis closer to martial arts or silat genre.

 

What is genre?

Genre is a reference tool for filmmakers and audiences alike. Film professor Barry Keith Grant explains that genre classify commercial feature films that “tell familiar stories with familiar characters in familiar situations”. These references are useful for both filmmakers and audience to provide a pool of cinematic elements that they can work on as points of departure for film consumption, as well as for promotional purposes, so both sides know what to expect from a film.

The genre convention also refers to culture and social contexts surrounding the movies. It is very common that a genre can disappear or getting significant revisions in its elements when the culture supporting it is no longer dominant. One example is western genre. Once this genre dominated the screen worldwide from the 1950s to the 1970s, but now it has been revised to cope with new society’s values.

 

Wiro Sableng’s case

Since its production, many consider that Wiro Sableng is a superhero movie. Some websites even speculate that Wiro will join the Avengers, a franchise from Marvel Cinematic Universe, whose parent company, Disney, owns 20th Century Fox. The appearance of Wiro in Deadpool 2trailer, one of Marvel Studio’s films, also strengthens this speculation.

Wiro Sableng’ in ‘Deadpool 2’ trailer.

The assumption that Wiro Sableng is similar to Hollywood superhero movie is inevitable. This is because there have been no reference in Indonesian films whose main characters have superhuman abilities.

Local martial arts genre

From its cinematic elements and style, Wiro Sableng is closer to martial arts or silat genre. Indonesian silat genre is akin to wuxia genre in Hong Kong cinema. Both genres have historical settings with corresponding costumes, properties and architecture. Important elements in this genre are the characters’ ability to do choreographed fighting with “high-kicks” and “flying swords”. Sometimes superhuman abilities are featured to add entertainment values.

Indonesian silat genre dominated the screen in the 1980s. Jaka Sembung series (The Warrior) – the third top earner film in 1982 according to Film Indonesia website – and Si Buta dari Gua Hantu series (The Blind Swordsman) are among the successful ones. After that, the genre fell into obscurity. The Jaka Sembung and Si Buta series are now circulated in low quality VCD format, and have lost their appeal to a new generation of filmgoers.

Attempts to revive silat genre occurred in 2014 with the production of Pendekar Tongkat Emas (Golden Cane Warrior, but to no avail. The film flopped and received bad reviews, with one saying the film lacked fresh ideas.

The superhero genre has not been produced for a while in Indonesiawhile the martial arts genre, which once dominated the screen, has also all but disappeared. No wonder, then, that people associate Wiro Sableng with the Hollywood superhero genre, which has dominated the global film industry.

Technology for silat genre revival

Technological development in moviemaking has opened many possibilities for featuring superhuman abilities on screen. This has become a new standard in the film industry. Any films laden with special effects to portray superhuman abilities always bring with them the expectation of an enjoyable watching experience.

Chinese films in the Wuxia genre have undergone an upgrade. We can see how visual effects play its magic in Ang Lee’s films such as Crouching Tiger Hidden Dragon (2000) or Hero (2002). The special effects has helped these films create better film narratives for audiences in the new century.

Indonesia’s success story with visual effects can be found in the remake of a classic horror film, Pengabdi Setan (Satan’s Slave, 1982) into the 2017 version.

Film critic Hikmat Darmawan has praised Wiro Sableng for its “luxury special effects against the benchmark of Indonesian fantasy pictures”. He also says Wiro Sableng belongs to the silat genre, hinting at the possibility of the genre’s revival in the local film industry. But again, the revival of silat genre will depend on creating convincing special effects that can woo millennials who have grown up on the slick special effects of Hollywood superhero movies.

 

https://theconversation.com/wiro-sableng-a-revival-of-indonesian-martial-arts-genre-101692

 

Tentang ekosistem bagi produk pinggiran

img-20160612-wa0007.jpg

Catatan Sheffield 6

Mengapa ada delegasi Indonesia di Sheffield Documentary Film Festival 2016, sedangkan tidak ada film Indonesia yang diputar di sini, maupun ikut menjajagi pendanaan*?

Saya, Amanda Marahimin, Suryani Liauw, dan Alia Damaihati berangkat dengan dana gabungan. British Council membayari untuk penginapan dan allowance. dan Bekraf memberi Mandy, Suryani dan Alia biaya perjalanan, dan saya membeli tiket kereta sendiri.

Selain kami, ada Levina Wirawan dari British Council yang bertugas memfasilitasi kami selama di Sheffield, dan dua orang dari Badan Ekonomi Kreatif Fajar Hutomo (Deputi Akses Pendanaan) dan Hanifah Makarim (Kepala Sub Direktorat Dana Masyarakat).

Sependek ingatan saya, rasanya baru pertamakali ada rombongan Indonesia datang ke sebuah festival film dokumenter dalam jumlah sebesar ini sebagai satu rombongan, tanpa ada film yang diputar ataupun masuk dalam pitching forum. Mandy membenarkan hal itu. Para pelaku film dokumenter biasanya berkeliling festival secara pribadi, dengan dana hasil pencarian sana sini.

Lalu mengapa British Council mau membayari sebagian perjalanan ini?

Jane Showell dari British Council di London mengatakan bahwa keputusan itu diambil sesudah mendengarkan masukan mengenai posisi film dokumenter yang selama ini berada di pinggiran. Mengingat film dokumenter termasuk dalam bidang yang tercantum pula di dalam nota kesepahaman antara Pemerintah Inggris dan Indonesia, maka ia merasa perlu mendukung kegiatan terkait film dokumenter.

Selain itu, British Council sendiri memiliki agenda yang ia lihat sangat cocok dengan festival di Sheffield ini. Jane menyebut perhatian utama terhadap tema perkembangan teknologi digital, akses bagi kaum difabel, dan keterlibatan kaum muda sebagai prioritasnya dan ia melihat kuatnya beberapa proyek yang dipajang di Alternate Reality di Sheffield 2016 sangat tepat untuk kebutuhan itu. Secara khusus ia menyebut proyek virtual reality berjudul Note on Blindness (tentang perjalanan seorang secara pelan-pelan menuju kebutaan) dan In My Shoes (tentang pengalaman seorang pengidap epilepsi). Ia melihat kemungkinan membawa kedua proyek itu ke Jakarta untuk ditampilkan. Jane berharap akan muncul proyek yang berkaitan dengan penggunaan teknologi digital dan terkait akses terhadap difabel dari kunjungan ke Sheffield ini.

image

Sedangkan Fajar Hutomo dari Bekraf menyatakan keberangkatan mereka yang utama adalah untuk mempelajari sistem pendanaan film dokumenter, dan sejauh yang ia jelaskan pada saya, ia mengaku mempelajari bagaimana membangun ekosistem untuk film dokumenter.

“Sejauh ini yang terpenting adalah membangun ekosistem. Jika ada dana dari pemerintah, itu akan menjadi seed capital agar ini tumbuh bisa menjadi industry. Bagaimana agar pasokan talent terjamin, terus ada dan terus meningkat kualitasnya, juga mereka bisa bertemu dengan pasar. Juga eksebisinya. Itu yang perlu kita bangun agar bisa menghidupi diri sendiri,” kata Fajar.

Fajar sendiri mengaku bahwa Bekraf siap untuk memberikan dukungan lebih besar. Ini diperlihatkan dengan keterlibatan mereka di festival ini, serta dukungan dana perjalanan bagi anggota delegasi dari Indonesia. Sedangkan untuk membantu mengerahkan pihak yang akan terlibat dalam ajang seperti pitching forum film dokumenter, Bekraf akan segera bisa melakukannya tahin ini.

“Bagaimana suasana yang ada di sini bisa ditangkap di Indonesia. Ada pitching, mentoring, master class, itu akan sangat membantu,” kata Fajar.

Menanggapi pernyataan Bekraf, produser film dokumenter Suryani Liauw menyatakan bahwa sebagai pekerja film dokumenter ia merasa sudah mengerjakan tugasnya.

“Kami di Indocs membuat program Dare to Dream untuk memilih filmmaker dan mendatangkan mentor untuk produksi dan pendanaan. Sekarang tinggal menunggu Bekraf menjalankan peran untuk mendatangkan para pendana ikut dalam pitching forum di kegiatan kami,” kata Suryani.

Mandy Marahimin mengakui inisiatif dari Bekraf ini penting dan patut dihargai. Namun ia mengingatkan bahwa masalah film dokumenter di Indonesia sangat rumit. Film yang bisa diproduksi dengan baik belum tentu bisa mendapat distribusi dan apresiasi yang memadai.

“Padahal itu penting agar filmmaker bisa membuat film lagi tanpa tergantung akses yang disediakan pemerintah terus menerus,” katanya.

Terlebih lagi, Mandy mengungkapkan penonton Indonesia yang tidak terlatih menonton film dokumenter.

“Jangankan untuk menonton film dokumenter seperti yang ditayangkan di Sheffield, bahkan untuk film fiksi saja, mereka mungkin akan kesulitan lantaran kebiasaan terpapar tontonan di televisi Indonesia yang bahasa visualnya terlalu kasar.”

“Banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan,” ujar Mandy.

———
*) Proyek Daniel Ziv yang berjudul Hijab Nation terpilih secara resmi untuk dijajakan di meatmarket untuk mencari pendana. Dan ia berangkat dengan dana sendiri untuk keperluan ini.

Catatan kemungkinan konflik kepentingan: British Council membayar untuk hotel dan memberi allowance selama saya di Sheffield. Selain itu, saya adalah salah satu anggota board of directors In-Docs yang tidak terlibat dalam operasional langsung, tetapi turut memberi masukan terhadap program In-Docs.

Where to Invade Next?

wheretoinvade
Ini film Michael Moore yang paling saya suka (image credit: comingsoon.net)
Catatan dari Sheffield 5
Film Michael Moore sudah seperti sub-genre tersendiri dalam film dockmenter. Genre mengandalkan pada keakraban elemen tertentu, dan ini membentuk antisipasi. Maka melihat apa yang ada dalam film Michael Moore sebelumnya, penonton akan bisa berhadap pada munculnya pembuat film berbadan tambun yang sangat self-centred dan berlagak jadi pahlawan ini. Dan ini tidak selalu berarti buruk.
Where to Invade Next serupa belaka dengan film Moore sebelumnya, tetapi dengan kelokan yang tak terduga. Di film ini, Moore “mengambil alih” tongkat komando dari tangan militer Amerika yang perkasa, karena, seperti digambarkannya, segala intervensi mereka justru membuat Amerika semakin keblangsak. Akhirnya mereka menyerahkan kepada Moore, dan ini seperti jadi puncak self-centred dan self-importance Michael Moore, dalam skala jauh lebih besar dibandingkan film-film sebelumnya.
Namun di sinilah film berkelok menjadi kisah yang ironik dan simpatik. Moore sengaja menginvasi negara-negara “dunia pertama” di Eropa (plus Tunisia) untuk mengambil hal-hal bermanfaat dari negeri itu untuk diterapkan di Amerika. Maka ia berkeliling dunia, mulai dari Italia, Prancis, Norwegia, Jerman, Slovenia hingga Tunisia.
Moore bermain dalam dua tataran. Di tataran pertama, tentu saja ia bermain stereotype pada masing-masing negara itu. Dijadikannya stereotype itu bahan humor yang ringan dan menekankan bahwa political correctness bukan segalanya, dan kita masih punya ruang untuk bercanda soal stereotype dengan nada yang positif.
Tataran kedua, ia lebih serius. Moore mengambil satu dua karakter dan kebijakan negara itu yang membuatnya mencolok dan membandingkannya dengan keadaan di Amerika. Untuk Italia, ia melihat betapa murah hatinya perusahaan di Italia memberi cuti berbayar bagi karyawannya. Ia mewawancara pekerja dan pemilik perusahaan soal ini dan terkaget-kaget betapa mereka sama-sama menganggap liburan demikian penting demi kesejahteraan dan kemajuan bersama.
Tentu ia membandingkan dengan Amerika, dimana perusahaan tidak memberi sama sekali cuti berbayar untuk liburan. Apabila bisa dapat cuti liburan dua minggu setahun, itu sudah istimewa. Dan orang-orang Italia yang ia ceritakan terbengong-bengong menerima fakta sedemikian. Liburan bagi mereka adalah pembentuk kebahagian, maka jika itu dicabut, hilanglah kebahagiaan dan makna hidup mereka.
Dari Norwegia ia mengambil sistem penjara yang amat longgar dan demikian manusiawi. Bahkan untuk penjara dengan tingkat keamanan maksimum, Norwegia membiarkan para penghuninya memegang sendiri kunci kamar mereka dan bekerja dengan bebas di dapur termasuk memegang pisau dan sebagainya.
“Ini pisau untuk memasak, bukan senjata,” kata salah seorang penghuni penjara membecandai Moore ketika ia bertanya kenapa mereka dibolehkan memegang pisau sementara di penjara Amerika hal itu sama sekali mustahil.

Lalu satu demi satu ia menjelajahi negeri-negeri itu dan memberi gambaran rinci kebijakan mereka yang tergolong luar biasa bagi ukuran Amerika. Dua hal penting ikut ia ceritakan. Pertama, itu semua tidak terjadi begitu saja, melainkan dari proses politik yang tidak selalu mudah. Tunisia, misalnya. Di negeri itu, perempuan bukan cuma punya hak politik penting, tetapi mereka memiliki hak untuk mendapatkan aborsi yang disubsidi oleh pemerintah. Alasan untuk itu, dengan pilihan aborsi, perempuan bisa lebih baik mengendalikan tubuhnya sendiri dan mendapatkan dukungan negara untuk itu. Dengan demikian, perempuan bisa mengejar aspirasinya dan tidak hanya jadi pelengkap bagi keluarga, karena perempuan sudah lengkap sebagai manusia dengan sendirinya.

Where to Invade
Michael Moore menjawab pertanyaan dalam screening di Sheffield Documentary Festival. Seorang penonton bertanya: kenapa tidak memasarkan film ini sebagai “film feminis” karena kenyataannya film ini demikian. Moore menjawab, ia tak ingin begitu karena wacana seorang mendapat privileged dari dunia yang patriarkis, ketika ia mengambil “posisi korban” orang akan cenderung melihat itu sebagai strategi marketing yang tidak substansial. Biar saja penonton yang langsung menilai seperti itu.
Moore menggambarkan bahwa proses politik yang membuat Tunisia mencapai hal itu bukan sesuatu yang mudah. Sesudah revolusi Tunisia yang dipicu oleh pembakaran diri Mohamed Bouazizi dan tumbangnya pemerintahan otoriter, ada upaya kelompok konservatif mendominasi politik dan mendomestikasi perempuan. Kaum perempuan lalu turun ke jalan dan melakukan protes keras besar-besaran. Ini membuat kelompok konservatif yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin memutuskan untuk mengundurkan diri, dan ini jadi kunci perubahan politik yang lebih terlembaga di Tunisia. Sesudah itu, kaum perempuan mendapat tempat yang terhormat dalam politik dan masyarakat Tunisia.
Kedua, Moore juga memperlihatkan bahwa Amerika sedikit banyak punya andil dalam hal-hal positif di masing-masing negara. Misalnya, untuk penjara yang demikian longgar di Norwegia, sang kepala penjara mengatakan mereka mengambil idenya dari konstitusi Amerika. Jelas ditulis di sana. Lantas untuk pengejaran dan pemenjaraan terhadap para bankir yang menyebabkan krisis di Finlandia, mereka mempekerjakan seorang konsultan Amerika untuk itu. Semua yang ditemui Moore mengakui bahwa Amerika bangsa yang besar dan mereka banyak belajar dari Amerika. Dan mereka bingung kenapa Amerika tidak mau belajar dari diri mereka sendiri.
Maka film ini adalah gambaran ketaklukan dan kerendahhatian Amerika – dan Michael Moore. Tentu saja apa yang digambarkannya hanya yang postif belaka dan tidak memperlihatkan kompleksitas persoalan masing-masing negara yang pasti jauh dari gambaran karikatural yang dihadirkannya. Namun Moore tahu ia bicara kepada siapa. Ia bicara kepada bangsa Amerika yang begitu mudah berpuas diri, merasa diri paling besar dan hebat, padahal dilihat dari luar, bangsa itu sedang menuju kebangkrutannya dan membuang sendiri cita-cita besar mereka.
Film ini pun jadi sangat positif dan tergolong rendah hati. Yang juga mengejutkan adalah film ini sangat feminin, bahkan mungkin feminis. Para perempuan di film ini bukan hanya digambarkan sebagai mandiri, tetapi juga menjadi pemimpin yang memimpin dengan sensibilitas jauh lebih besar ketimbang laki-laki. Salah seorang tokoh dalam film ini mengatakan: jika perempuan hanya ada satu, itu hanya token untuk kepentingan maskulin yang agresif, jika ada dua mereka minortas, tetapi ketika mereka tiga atau lebih, di situlah peran perempuan yang sesungguhnya.
Maka bagi saya, inilah film terbaik Michael Moore, setidaknya yang paling saya nikmati. Film ini mungkin dimaksudkan untuk bicara dengan keras kepada orang Amerika. Moore menggambarkan para penontonnya di Amerika menonton film ini dengan mulut menganga karena kaget dan tak tahu semua fakta-fakta sederhana itu. Film ini mungkin berhasil memerangi sikap abai orang Amerika.
Sekalipun demikian, saya berpendapat film ini bisa memerangi sikap abai dimana saja, dan mempromosikan perilaku dan sikap yang masuk akal yang sederhana dan bisa dilakukan siapa saja, dimana saja tanpa peduli latar belakang mereka. Moore dengan jitu memperlihatkan hilangnya hal itu dari Amerika dan betapa penting dan mendesak upaya untuk mengembalikannya.
———–
Catatan kemungkinan konflik kepentingan: perjalanan saya ke Sheffield Doc Fest yang memutar film ini dibiayai oleh British Council Indonesia

Tak ada wilayah abu-abu untuk political filmmaking?

Talk Sheffield
Diskusi Viva La Revolucion! Citizen Journalism and Political Filmmaking di Sheffield Docs
Catatan Sheffield 4
Judul diskusi Viva La Revolucion! Citizen Journalism and Political Filmmaking, dan pembukaan dari moderator mengenai diskusi ini cukup tegas: Ini diskusi tentang political filmmaking, maka tidak ada wilayah abu-abu, kata moderator Steve Presence dari Radical Film Network (radicalfilmnetwork.com). Yang dimaksudkannya, perbincangan dalam diskusi ini diharapkan bicara mengenai film yang dibuat untuk kepentingan politik, maka implikasinya adalah: beropini, berpolitik, bahkan berpropaganda adalah bagiannya.
Salah seorang pembicara, Shaun Dey dari Reel News berkata dengan tegas bahwa kelompoknya adalah organisasi politik yang menggunakan film sebagai bagian dari perjuangan. Ia menerima ‘pesanan’ dari berbagai kelompok sosial politik yang berjuang untuk mengkampanyekan kepentingan politik mereka, terutama dalam keadaan konflik. Maka, sebagaimana dalam hidup, ketika kita menghadapi konflik maka kita harus memilih dengan tegas dan jika perlu melupakan subtlety.
“Misalnya ketika membuat film untuk serikat pekerja bangunan, kami memperlihatkan hasil kerja mereka yang masih bagus dan kokoh, sekalipun kami tahu banyak pekerjaan mereka yang tidak begitu. Tapi untuk apa itu digambarkan. Ini kan propaganda,” kata Shaun yang sangat tidak apologetik sama sekali mengenai posisinya.
Aris Chatzistefanou dari Infowar (www.info-war.gr) punya posisi serupa, tetapi dengan Bahasa yang lebih halus. Film-filmnya menggambarkan mengenai krisis di negerinya, Yunani, sebagai wakil dari gambaran lebih luas ketimpangan struktural yang sedang terjadi di dunia kontemporer ini, terutama Uni Eropa yang ia anggap tak punya minat memakmurkan negara anggotanya. Ia ingin filmnya menjadi semacam explainer, alat penjelas lebih luas mengenai persoalan-persoalan ekonomi dunia yang disebabkan oleh korporasi dan politisi.
Film-film kelompok Infowar dibuat dengan kualitas tinggi, karena umumnya para pegiat di sana tadinya adalah para profesional yang bekerja di media-media besar semisal BBC World Service, Al Jazeera dan sebagainya. Namun krisis besar yang menghantam negeri itu membuat mereka kehilangan pekerjaan. Para wartawan yang punya pengetahuan mendalam mengenai persoalan dan ketrampilan teknis yang memadai ini kemudian merasa perlu berbuat melawan apa yang mereka anggap kesewenang-wenangan struktural itu dengan membuat film-film dokumenter, dibantu oleh mereka yang masih bekerja. Akibatnya, semakin banyak dari mereka yang berhenti bekerja dan mendedikasikan diri sepenuhnya pada kegiatan ini.
Cassie Quarless dan Usayd Uonys berbeda. Mereka berkolaborasi untuk mendokumetasikan gerakan perlawanan kaum muda kulit hitam di London dalam film berjudul Generation Revolution (www.genrevfilm.com). Gerakan perlawanan ini adalah gerakan perlawanan jalanan yang berdemonstrasi dan mengungkapkan pandangan mereka dengan cara konfrontatif. Bentrok dengan polisi sering terjadi, dan umumnya menekankan pada masih adanya institutional racism di Inggris Raya serta ketimpangan ekonomi yang makin menganga di ibukota.
Satu pembicara lagi adalah Alisa Lebow dari University of Sussex. Ia membuat sebuah ‘meta-documentary’ tentang revolusi di Mesir. Proyek berjudul Filming Revolution (www.filmingrevolution.org) ini berbasis situs web, berisi wawancara dengan puluhan pegiat demokrasi di Mesir yang merekam pengakuan dan berbagai proses politik yang terjadi di Mesir. Proyek Alisa sendiri lebih mirip dengan pembuatan arsip digital tentang revolusi Mesir. Secara format, apa yang dibuatnya belakangan masuk dalam kategori ‘interactive documentary’ yang sepenuhnya berisi database dengan platform berupa situs web dengan menggunakan desktop komputer.
Alisa lebih halus dalam sikap politik dan sebagai seorang akademisi, ia tidak setegas Shaun dalam mengungkapkan posisi politiknya, sekalipun ia tidak menyembunyikan keberpihakannya pada para pegiat ini – sebagian dari mereka adalah kolaboratornya. Ia sempat menyebutkan kemungkinan bahaya yang bisa saja menimpa mereka mengingat database ini juga berarti posisi mereka yang terbuka untuk diketahui pihak berwenang Mesir dan bisa digunakan untuk melawan mereka ketika keadaan berubah.
Dari para pembicara berlatarbelakang seperti ini, diskusi mengarah pada dua pokok utama yang saling berkait: penonton dan pendanaan. Sejauh apa penonton penting bagi karya mereka, dan bagaimana dengan aspek pendanaan: apakah terkait dengan penonton atau tidak.
Shaun menyebutkan baginya, yang terpenting adalah penonton yang tepat. Bisa saja filmnya Cuma mendapat 4000-an hit di YouTube, tetapi jika sebagian besar mereka adalah orang yang terlibat langsung (misalnya anggota serikat buruh bangunan), maka film itu akan bermanfaat bagi mereka untuk ikut aksi semisal pemogokan dan sebagainya. Belum lagi ketika film itu dibawa keliling dan dipertontonkan secara langsung. Ratusan orang bisa terlibat. Dari pengakuan Shaun, dari salah satu kegiatan nonton bareng di Australia yag dilakuan oleh serikat buruh bangunan di sana, terkumpul dana sumbangan hampir £8.000 sebagai bentuk solidaritas terhadap perjauangan buruh bangunan di Inggris Raya. Inilah penonton yang berarti bagi Shaun.
Aris menyebutkan 6,5 juta view untuk film-film karya Infowar, dan ini belum termasuk siaran di TV dan nonton bareng yang dilakukan di seluruh Yunani. Aris sendiri menganut prinsip yang agak heroik. Katanya, “Film-film ini dibuat oleh manusia. Dan saya percaya, apa yang dibuat oleh manusia, harus gratis bagi manusia,” katanya yang disambut tepuk tangan pengunjung diskusi.
Soal pendanaan? Baik Aris dan GenRev berangkat dari crowd funding. Bagi GenRev, crowd funding efektif untuk dua tujuan. Selain memelihara independensi dalam muatan, crowd funding juga berarti memperluas diskusi sebelum mediumnya sendiri jadi dan siap diedarkan. Dengan demikian, gagasan yang dibawa sudah bisa lebih dulu keliling dan jadi bahan pembicaraan sebelum akhirnya benar-benar terwujud.
Crowd funding adalah perwujudan semangat kolektif, bagi Aris. Selain metode pengumpulan uang sebagaimana crowd funding umumnya, Infowar juga mengandalkan tenaga para professional yang bersedia bekerja tidak dibayar untuk proyek-proyek mereka.
Alisa mendapatkan dana dari funding akademis. Dengan dana itu, ia mempekerjakan asisten dan bisa memberi imbalan bagi kolaboratornya di Mesir. Ia melakukan pengumpulan data dan pembuatan situs webnya selama dua tahun dan diharapkan akan menghasilkan sebuah buku dari proyek ini.
Shaun secara tegas menyebut organisasinya, sebagaimana organisasi politik, mengandalkan sumbangan dari anggota. Sumbangan mereka berbeda besarnya, mulai dari £3 hingga yang jauh lebih besar, karena sifatnya yang sukarela sebagaimana organisasi politik lainnya. Maka semua pekerjaan pembuatan filmnya relatif dilakukan secara sukarela untuk kepentingan politik mereka.
Tentu pertanyaan mengenai dilemma antara ‘kebenaran’ dan ‘propaganda’ muncul, sekalipun ini dijawab dengan jelas oleh Shaun mengenai keberpihakan. Ia menyatakan kebenaran yang dianutnya fungsional, karena sebagian besar filmnya memang dibuat dalam kondisi konfrontasi, dimana kelompok yang ia dukung sedang menghadapi organisasi yang lebih besar dan mapan seperti pemerintahan atau korporasi raksasa. Maka itulah Shaun mengibaratkan film dokumenter sebagai hidup itu sendiri: pilihan harus dibuat.

Alternate Reality

VR - In My Shoes
In My Shoes: Dancing with Myself (Jane Gaunlett), proyek virtual reality yang menghadirkan sudut pandang orang yang mengalami langsung serangan epilepsi ketika ia sedang duduk di restoran bersama seorang temannya. Sebuah potensi besar VR untuk membangkitkan empati.
Catatan Sheffield 3
Alternate Reality merupakan sebuah seksi di Sheffield Doc Fest, yang berkaitan dengan format baru proyek dokumenter yang berkembang bersama perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi hanya dalam hal produksi dan sirkulasi, melainkan juga medium yang digunakan, platform penyajian dan akhirnya turut pula mempengaruhi definisi medium itu sendiri.
Di Sheffield 2016, Alternate Reality bukan hanya memajang proyek menggunakan teknologi terbaru seperti penggunaan platform ipad dan virtual reality seperti Oculus Rift, tetapi juga adanya ajang pertemuan seperti pitching ide, market, distribusi dan sebagainya untuk para pelaku (kreator, produser, pendana) yang mirip dengan film dokumenter konvensional.
Apakah ajang pertemuan untuk format baru ini serupa dengan market untuk dokumenter konvensional? Saya sempat menanyakannya kepada Karolina Lidin dalam sesi mentoring delegasi Indonesia dengan tokoh yang bertanggungjawab mengembangkan market di Sheffield ini menjadi salah satu yang paling penting di Eropa. Ia menyatakan market untuk teknologi baru ini (interactive documentary, virtual reality dan sebagainya) masih baru dan masih belum menemukan bentuk. Perbincangan utama di kalangan pelaku adalah: apakah bentuk baru ini sebaiknya digabung saja dengan bentuk dokumenter konvensional di bawah naungan istilah “content”, ataukah keduanya dibiarkan terpisah dan punya logika masing-masing? Yang jelas, Google hadir di market untuk model baru ini, sekalipun saya tidak mengikuti secara persis apa yang berkembang di sana.
Lantas bagaimana dengan soal estetika proyek-proyek dokumenter Alternate Reality yang dipertontonkan di Sheffield ini?
Saya sempat menonton 3 karya yang dibuat dengan virtual reality, dan mengikuti satu bentuk interaktif yang dibuat tablet.
John Lennon: Bermuda Tapes adalah proyek yang dibuat untuk tablet. Ia memanfaatkan rekaman yang dibuat oleh John Lennon dalam perjalanan ke Bermuda ketika ia mendapat inspirasi untuk albumnya, Double Fantasy. Berdasarkan rekaman itu, dibuatlah proyek interaktif tentang John Lennon di Bermuda. Sebagaimana situs web tradisional, proyek ini bisa dinikmati secara linear, tetapi bisa juga tidak. Pengguna bisa melompat-lompat antar kategori, bahkan ikut serta menanam pohon di taman virtual yang ada di proyek itu.

Proyek interaktif ini seperti perwujudan cabaran Lev Manovich (1998) tentang database sebagai bentuk simbolis dalam medium kontemporer dimana data didahulukan ketimbang aspek naratif. Dalam gagasan ini penonton (atau pengguna?) membentuk naratif sendiri berdasarkan algoritma yang tersedia.

VR - Easter Rising
VR dan dokumenter tampak sangat akrab. Apakah lantaran pengalaman yang dihadirkan oleh dokumenter dasarnya bukan ilusi tetapi aktualitas sehingga penonton lebih mempercayai kredibilitasnya?
Inilah beda utama dengan tiga karya virtual reality (VR) yang saya lihat. Pada tiga karya VR ini, elemen naratif disediakan oleh pembuat film, tetapi dengan tingkat interaktivitas yang lumayan, terutama karena penggunaan kamera 360 derajat. Dengan kemampuan menangkap gambar yang memenuhi seluruh ruang pandang kita, maka tengokan ke kanan-kiri-atas-bawah bisa dimanfaatkan untuk mendukung elemen naratif itu.
Proyek berjudul Invisible (Darren Emerson), menggunakan ruang virtual untuk menceritakan kisah para tahanan imigrasi di Inggris Raya. Emerson menghadirkan aula tahanan yang luas, dan posisi kita sebagai salah seorang yang dikelilingi oleh para tahanan yang seakan bertanya tentang posisi mereka sebagai orang-orang yang tercabut haknya – akibat kebijakan pemerintah Inggris yang tak menetapkan batas waktu penahanan migran di sana. Beberapa di antara para migran itu tak selamat dalam perjalanan, terutama ketika menyebrang laut, dan Emerson menggunakan kedalaman (kita harus mendongak untuk melihat “permukaan” laut) di atas kepala dan melihat “tubuh-tubuh” yang tenggelam ke dasar laut.
Mayoritas gambar di Invisible adalah live action, tetapi dengan skala yang raksasa bagi ukuran yang biasa kita lihat. Hasilnya adalah situasi yang terasa serba menekan karena skala yang tak lazim itu membuat kita kehilangan orientasi karena ukuran yang serba raksasa.
Proyek kedua yang saya tonton, Easter Rising: Voice of a Rebel (Oscar Raby), juga linear. Kisahnya mengenai pemberontakan orang Irlandia terhadap Inggris Raya di tahun 1916, dari pengalaman Willie McNieve. Cerita berpusat pada perang lima hari dalam pengambilalihan kantor pos (GPO) yang menjadi pusat komunikasi Inggris Raya saat itu. Dibuat dengan animasi dengan imaji digital tiga dimenasi yang agak kasar, proyek ini penuh dengan upaya memasukkan kita ke dalam suasana saat itu, termasuk dengan narasi yang memberi arahan kemana sebaiknya kita memandang. Bagi saya, karya ini tak terlalu istimewa, kecuali di beberapa bagian kita seakan diminta melihat ke balik tembok, dan lalu sadar tak ada apa-apa di sana.
Karya ketiga yang saya tonton, In My Shoes: Dancing with Myself, menjadi pengalaman paling menarik dalam Sheffield Doc Fest sampai sejauh ini. Karya Jane Gaunlett ini mengisahkan tentang dirinya yang mengidap epilepsi sesudah mengalami kecelakaan sepeda. Proyek ini ditampilkan di sebuah co-working space yang disewa untuk diubah menjadi seperti restoran kecil. Sebelum duduk, kita disodori menu, sekalipun tak ada yang bisa dipesan dari menu itu.
Narasi bercerita tentang serangan epilepsi yang dialami Jane dalam peristiwa yang sangat sehari-hari ketika ia bertemu dengan temannya di sebuah restoran di London. Cerita berjalan sangat biasa, tetapi kita bisa mengikuti beberapa keganjilan. Misalnya dari perbedaan antara suara-suara di dalam kepala Jane dengan apa yang ia katakan, menceritakan kelelahan mentalnya menghadapi situasi yang harus ia hadapi.
Beberapa kali ia memejamkan mata (sambil menarik napas panjang untuk menenangkan diri) ketika sedang bercakap-cakap. Sampai ketika layar gelap, lalu terang lagi dan ia sudah dikelilingi orang-orang yang memandanginya dengan cemas. Selama 20 menit ia tak sadarkan diri dan tak bisa mengingat apa yang terjadi. Proyek ini berhasil menghadirkan pengalaman dari tangan pertama penderita epilepsi – yang bagi saya membuka kemungkinan menarik untuk mentransfer pengalaman-pengalaman mental yang tak biasa.
Yang mungkin paling menarik dari Alternate Reality ini justru adalah akrabnya medium dan platform baru ini dengan film dokumenter ketimbang film fiksi. Bagi saya, salah satu penjelasannya adalah klaim film dokumenter terhadap ‘kebenaran’. Dokumenter adalah proyek yang berangkat – seperti kata pelopor dokumenter John Grierson – dari ‘actuality’ dan diperlakukan secara kreatif. Maka perangkat baru ini adalah bagian dari kreativitas tersebut.
Dengan klaim terhadap aktualitas, dokumenter memiliki keunggulan di hadapan penonton karena mereka mengharapkan mendapatkan semacam ‘kebenaran’ ketika menonton, dan bukan manipulasi terhadap emosi. Maka kisah yang menceritakan pengalaman semacam In My Shoes – yang mungkin sudah bertaburan di dalam film fiksi – mendapat pemaknaan berbeda karena itu semua dihadirkan bukan sebagai ilusi.

Penulis yang tidak “continuity”

Author-The-JT-LeRoy-Story_poster_goldposter_com_2-539x800
Bagaimana seorang penulis bisa menjadi selebritas? Apakah fabrikasi yang terjadi memang ‘alamiah’ atau berdasar sebuah mesin yang dirancang dan dijalankan dengan rumit? Lantas, apakah buku yang ditulisnya memang punya kualitas yang layak menjadikannya tokoh yang sebegitu banyak dibicarakan? (image credit: goldposter.com)

Catatan dari Sheffield 2

Saya termasuk yang tidak banyak piknik di dunia susastra sehingga tidak paham kabar yang beredar begitu luas mengenai JT LeRoy, seorang penulis yang berbagi panggung dan mendapat rekomendasi dari megabintang seperti Bono, atau Courtney Love.

Bukunya juga dibuat film – diperankan oleh Asia Argento – dan ia punya kredit menulis skenario film Elephant karya Gus Van Sant yang mendapat penghargaan Palem Emas – film terbaik – di festival film Cannes tahun 2003.

Maka ketika menonton film berjudul Author: JT LeRoy Story di Sheffield Doc Fest ini saya melongo beberapa kali. Kisah LeRoy ini punya kompleksitas luar biasa. Saya tak akan menceritakan rinciannya karena hal itu akan amat mengganggu jika Anda berniat menonton film ini. Saya juga tak menyarankan Anda meng-Google nama itu – jika belum pernah mendengarnya dan berniat menonton film ini. Pengungkapan misteri LeRoy memang menjadi bagian utama yang membuat film dokumenter ini menarik.

Pengungkapan itu dilakukan dengan cara yang unik. Film dokumenter ini dibagi ke dalam tiga babak. Tiga babak itu tetap mengikuti aturan: pembuka, tengah dan penutup, tetapi dengan shot, adegan – dan terutama editing – yang tidak sama dengan aturan tiga babak Hollywood yang dasarnya pemeliharaan kesatuan ruang-waktu. Jika Anda pembaca buku penulisan skenario karya Syd Field, maka film dokumenter ini jauh sekali dari bangunan adegan berlandas motivasi ala buku itu.

Mengingat kompleksitas kisah ini dalam kehidupan nyata, tampak ada kesengajaan dari sutradara Jeff Feuerzig untuk memberi kita pijakan untuk bisa memisahkan fakta yang sudah difabrikasi dengan apa yang “sesungguhnya terjadi”. Pilihan yang mungkin sengaja dibuat agar penonton yang tak tahu kisah tentang LeRoy bisa mengikuti apa yang sebenarnya terjadi.

Yang menarik bagi saya sebenarnya justru adalah bagaimana fabrikasi itu sendiri terjadi. Feuerzig tidak memperlihatkannya. Penjelasan yang dibuatnya sangat sederhana dan satu arah saja, dari perspektif tokoh utama dan itulah yang jadi “kebenaran” di film ini. Padahal menarik sekali melihat bagaimana kultisme terhadap seorang penulis bisa terbangun hingga ke tingkat yang tak terbayangkan sedemikian rupa.

Mungkin kenaifan itu disengaja. Karena di sisi lain, Feuerzig tampak sibuk dengan aspek artistik film itu, dan menurut saya ini penting. Ia menghadirkan percakapan telepon yang direkam dalam kaset – mungkin sebagai penanda zaman ketika persoalan berkembang – tetapi juga sebagai bantahan terhadap teknik editing continuity. Tokoh utama film ini sempat berkata bahwa “JT LeRoy bukanlah continuity”, dan menurut saya berdasarkan itulah Feuerzig menyusun kisah LeRoy.

Sebagaimana dikenal dalam film dokumenter, editing yang dipakai sama sekali bukan berdasar continuity editing (yang utamanya bertujuan memelihara kesatuan ruang dan waktu) melainkan editing secara tematis.

Cerita dibagi dalam tema-tema yang agak bersifat kronologis, dengan wawancara dari tokoh utama film menjadi jangkar cerita. Lalu Feuerzig mengisinya dengan berbagai ilustrasi untuk menjelaskan plot. Ia mengambil dari berbagai sumber, mulai dari rekaman wawancara kaset seperti yang bilang di atas, animasi, potongan film, kliping dan sebagainya. Hasilnya adalah kolase medium tentang JT LeRoy yang berhasil membangun cerita secara kronologis.

Saya termasuk orang yang gemar pada film dokumenter yang bisa memperlihatkan bahwa kebenaran itu penuh komplikasi dan upaya menghadirkannya lewat film dokumenter justru menambah komplikasi itu. Dengan pendekatan yang dilakukan Feuerzig dalam menghadirkan simplifikasi masalah dan kurangnya self-reflectivity dalam film dokumenter ini sendiri, saya merasa ada sesuatu yang kurang. Namun di luar itu semua, sebagai cerita dan dengan pendekatan artistiknya di atas, film dokumenter ini termasuk menarik diikuti.

———

Pernyataan kemungkinan konflik kepentingan: perjalanan saya ke Sheffield Doc Fest yang menjadi ajang diputarnya film ini, didanai oleh British Council Indonesia.

Catatan dari Sheffield 1

Kit
Buku katalog industri (212 halaman dicetak tebal) dan perlengkapan untuk berfestival. Saya hadir sebagai salah seorang anggota board of director In-Docs, Jakarta.

Dengan menumpang kereta selama sekitar 40 menit dari Nottingham, saya tiba di Sheffield, sebuah kota yang terletak antara kawasan Midlands dan Yorkshire, untuk menghadiri Sheffield Documentary Film Festival atau Sheffield Doc Fest. Festival film dokumenter ini merupakan yang terbesar di Inggris Raya dan merupakan yang salah satu yang terbesar di dunia. Diselenggarakan sejak tahun 1994, festival ini diadakan pada bulan Juni, dihadiri oleh sekitar 20-27 ribu orang. Sebanyak 160 film dokumenter panjang diputar dan puluhan acara diskusi sepanjang penyelenggaraan. Tahun ini festival dibuka dengan film terbaru Michael Moore, Where to Invade Next? dan sang sutradara yang  kontroversial itu datang menghadiri pembukaan.

Saya datang kemari disponsori oleh British Council Indonesia, bersama dengan anggota delegasi Indonesia lainnya. Mereka adalah Amanda Marahimin (produser), Suryani Liauw (programmer dan produser film), Levina Wirawan (British Council) dan Alia Damaihati (Festival Film Dokumenter Yogyakarta). Dua orang dari Badan Ekonomi Kreatif juga hadir, Fajar Hutomo, deputi akses permodalan Bekraf dan ibu Hanifah.

Open Air
Menonton film dokumenter di ruang terbuka di tepi jalan menuju kampus Sheffield Hallam University. Film yang diputar The Spirit of ’45 (Ken Loach, 2013).

Festival dibuka tanggal 10 Juni 2016, pada malam hari di City Hall. Namun sejak pagi kegiatan sudah mulai tampak. Festival dipusatkan di Showroom Cinema, sebuah bioskop independen di kota Sheffield. Bioskop itu juga berdekatan dengan kawasan Sheffield Hallam University, universitas utama di kota Sheffield. Kawasan ini hanya berjarak 3 menit berjalan kaki dari stasiun kereta Sheffield.

Maka, bukan hanya mudah ditemukan, para delegasi yang datang khusus ke Sheffield untuk menghadiri acara akan dengan merasa bahwa festival ini amat terasa kehadirannya di kota itu dengan umbul-umbul di sepanjang jalan, serta papan reklame raksasa di beberapa tempat strategis yang memajang gambar festival. Yang menarik dari gambar reklame itu adalah: mereka memajang wajah para tokoh film dokumenter. Terlihat wajah sutradara kondang Michael Moore, artis Tilda Swinton (akan menghadiri penutupan festival) berjajar bersama nama yang tidak terlalu seperti Reggie Yates (ia sedang naik daun karena program-programnya di BBC Three) dan Professor Green (penyanyi rap yang membawakan program-program dokumenter untuk orang muda, juga di BBC Three).

Tentu sebagaimana festival film lain, atau bahkan film itu sendiri, perlu ada nama besar dan bintang yang relatif dikenal publik agar kegiatan kebudayaan seperti ini bisa terhubung dengan banyak orang. Namun wajah orang-orang ini mengisi ruang publik yang mencolok itu juga menjadi tanda pertumbuhan para bintang dan personality film dokumenter untuk menjadi tambatan aspirasi publik.

Poster
Poster film yang akan diputar dipajang di ruang tiket untuk delegasi. Selain Where to Invade Next (Michael Moore), saya juga ingin menonton film dokumenter tentang Ken Loach, berjudul Versus: The Life and Films of Ken Loach.

Tak bisa dilupakan bahwa festival ini diadakan di Inggris, negeri yang punya David Attenborough, pembuat film dokumenter yang terpilih untuk menjadi ikon Inggris Raya, mengalahkan mahabintang seperti David Beckham atau The Beatles. Film dokumenter sudah lama menjadi bagian dari pendidikan, kesadaran dan elemen pembangun indetitas Inggris Raya. Bukan hanya BBC (terutama BBC Two dan BBC Four) yang rutin menyiarkan film dokumenter, saluran lain seperti Channel 4 dan ITV juga berlimpah dengan program dokumenter. Ketiga lembaga penyiaran besar itu berlomba tampil di Sheffield Doc Fest, seakan ingin menegaskan bahwa film dokumenter masih jauh dari musim paceklik.

Pada edisi ke 23 ini, Sheffield Doc Fest menghadirkan 29 world premiere (pertamakali diputar), 14 international premiere (pertamakali diputar di luar negara produksi) dan 20 European premiere (pertamakali diputar di Eropa). Catatan saja, premiere ini biasanya dijadikan dasar ukuran kelas sebuah festival – tentu disamping para tamu dan kegiatan-kegiatan sampingannya. Tahun ini dua pembuat film dijadikan fokus: Ken Loach – sutradara sosialis Inggris – dan almarhum Chantal Akerman yang meninggal dunia tahun ini.

Di hari pertama, belum banyak yang saya lakukan. Selain menonton film Ken Loach, The Spirit of ’45 (2012) yang diputar di ruang terbuka (diberi nama Beijing Screen on Howard Street), saya sempat melihat Author: The JT LeRoy Story (Jeff Feuerzig, 2016). Film Ken Loach bercerita tentang kebangkitan Inggris sebagai negara sosial democrat sesudah Perang Dunia Kedua, melalui rangkaian nasionalisasi, hingga keruntuhannya di bawah Margaret Tatcher yang melakukan privatisasi terhadap berbagai lembaga ekonomi dan pelayanan publik. Sedangkan JT LeRoy menceritakan kisah kompleksnya sebuah pseudonym yang berkelindan dengan publikasi dan dunia selebritas. Saya akan menulis kesan menonton film ini secara terpisah.

Sejauh ini, saya sudah memesan tiket untuk beberapa pertunjukan, serta meniatkan diri menghadiri beberapa perbincangan, termasuk yang bertajuk Viva La Revolucion: Video Activism and Citizen Journalism yang akan membicarakan video-activism, documenter panjang dan format interaktif yang tersebar dari Inggris Raya, Mesir dan Yunani.